Seni kontemporer memang menarik untuk dikaji. Terkadang tidak terselami keinginan sang perupa, tetapi toh kita bebas untuk menterjemahkan kisahnya. Judul di atas adalah hasil dari perjalanan saya menelusuri gedung Arca di dalam kompleks Museum Nasional. Saya beruntung karena bisa bertemu dengan Iriantine Karnaya yang sedang mengadakan pameran tunggalnya di Museum Nasional. Dari kisah Ibu Tine, serta dari terjemahan bebas saya sebagai pengunjung lahirlah judul di atas. Pameran tunggal ke V dari Iriantine Karnaya adalah "Menu Hari Ini". Pameran ini sudah menarik perhatian pengunjung pembukaan gedung baru museum karena tampilan balon-balon jamur yang seakan ingin terbang ke angkasa. Ada apa dengan jamur? Apakah jamur punya keterkaitan dengan Majapahit? Ini yang muncul di benak undangan acara pada saat memasuki halaman museum.
Ternyata jamur-jamur ini adalah bagian dari perjalanan penciptaan karya Iriantine, bagian dari perenungan dirinya sebagai warga yang prihatin terhadap beratnya hidup dan perjuangan kita melewati kesulitan yang datang bagai bertubi-tubi. Pameran ini seperti sebuah pelengkap terhadap pidato pembukaan museum dari presiden. Sayang sekali bapak presiden tidak dijadwalkan untuk menengok salah satu sisi dari gedung yang baru saja diresmikannya ini.
Jamur dan kecepatan mereka bertumbuh dan menyebar merupakan metafora terhadap gejala "era serba cepat" (dan mungkin instan) saat ini. Berita tersebar ke seluruh dunia dengan sangat cepat. Bagi sang perupa Menu Hari Ini adalah penggambarannya atas situasi kritis yang sedang dialami oleh bangsa Indonesia.
Bagi sebagian orang, mereka tidak tahu besok mereka akan makan apa (mungkin bahkan untuk menu hari ini pun belum tahu, penulis). Tidak semua yang tampil mengkilat dan menarik itu adalah emas, sama seperti jamur-jamur yang disajikan sang perupa dalam rangkaian makanan menu hari ini, indah tapi tidak nyata.
Keprihatinanannya pada kondisi bangsa tergambarkan oleh mata yang menangis dalam Vision 1 dan Vision 2. Karya ini sudah lahir dari tahun 2003, tangisan atas perang, dimana keprihatinan sang perupa membuat dia hanya sanggup menghasilkan tiga karya dalam satu tahun.
Kehadiran jamur bersifat universal. Jamur bisa ditemukan dimana-mana, tetapi bagaimana mengolah dan menggunakannya menjadi keunikan setiap budaya. Dalam era yang semakin menyatukan manusia sebagai bagian dari masyarakat global maka kehadiran media massa bukan lagi sekedar pembawa berita atau pendokumentasian berita. Pembaca yang memilih media massa yang ingin ingin dibacanya karena sebenarnya berita nyata bagi sebuah media massa belum menjadi kebenaran berita itu sendiri dari sudut pandang yang berbeda. Kurator pameran Wicaksono Adi dalam kata pengantarnya mencontohkan berita Osama Bin Laden dan almarhum Saddam Hussein sebagai sebuah perbedaan antara yang "nyata" dan yang "benar". Betapa sudut pandang yang berbeda akan menghasilkan klasifikasi yang berbeda.
Dalam karya "Mencari Peluang" sang perupa ingin menggambarkan diorama kehidupan yang sedang dialami masa dan rakyat Indonesia yang terjebak antara hidup atau mati. Masyarakat yang berjuang untuk kehidupan yang lebih baik tapi dalam prosesnya terkontaminasi oleh sistem. Sang perupa tampaknya ingin mengajak masyarakat untuk menyadari ini, betapa persaingan yang tidak memikirkan solidaritas dengan sesama ini tidak normal. Saya pribadi melihatnya dalam konteks judul di atas. Kalau tidak pusing akan makan apa hari ini, maka yang ada adalah pertanyaan makan siapa hari ini. Suatu kenyataan menyedihkan yang menggerus bila kita hanya bertolak dari sudut pandang ekonomi serta materialisme dan konsumerisme yang semakin erat memeluk kehidupan kita.
Iriantine Karnaya masih terus percaya pada kemurnian cinta Ibu dan Anak yang saling menyayangi dan bertransformasi dari dua mahluk berbeda yang saling melekat menjadi bersatu dalam satu warna yang siap terbang dalam Bias. Tapi "kenyataan" yang ada di media adalah semakin tipisnya kekekalan hubungan ini, peristiwa kriminal maupub kekerasan yang menodai kehidupan yang seharusnya memang memiliki satu kedalaman dalam kesucian yang ingin terus berjuang untuk kehidupan yang lebih baik.
Perjumpaan dengan sang perupa sendiri banyak membukakan mata saya terhadap hal-hal yang ingin disampaikannya, betapa lingkungan hidup yang alami sebenarnya jauh lebih indah dari pada kehidupan indah yang semu. Tapi seperti pesan sang perupa, nikmatilah seni kontemporer dengan kebebasan untuk menciptakan persepsi dari penangkapan visualmu!
Sebagai informasi tambahan, aka nada acara khusus untuk anak-anak dalam mengeksplorasi tanah liat dan bentuk-bentuk jamur dalam workshop bersama Iriantine Karnaya di Museum Nasional pada hari Minggu 24 Juni 2007 pukul 11.00 sampai dengan pukul 17.00. Bukan sekedar workshop lho, akan disediakan sertifikat bagi sang anak. Untuk keterangan lebih lanjut hubungi Diana Anggraini di HP 0817 081 0013 atau 0815 1445 7513.