Muhammad Nizar

Wawasan Kebangsaan Kini, Masih Relevankah ?

Senin, 21-05-2007 09:08:26 oleh: Muhammad Nizar
Kanal: Opini

Wawasan Kebangsaan Kini, Masih Relevankah ? Bulan ini bangsa Indonesia selalu memperingati hari Kebangkitan Nasional yang jatuh pada tanggal 20 Mei. Hari yang diperingati sebagai hari Kebangkitan Nasional ini merupakan tanggal berdirinya satu perkumpulan yang bernama Boedi Oetomo. Perkumpulan ini didirikan oleh Dr. Wahidin Sudirohusodo, seorang dokter priyayi Jawa yang merakyat. Tujuan didirikannya organisasi ini seperti yang tercantum dalam buku-buku cetak pelajaran di sekolah antara lain untuk meningkatkan wawasan kebangsaan kaum masyarakat Jawa. Namun masih menjadi pertanyaan hingga kini apakah sebenarnya yang melatarbelakangi pendirian Boedi Oetomo sehingga hari lahirnya layak diangkat sebagai Hari Kebangkitan Nasional?

Saya bukanlah seorang ahli sejarah yang hendak mengupas perjalanan perkumpulan Boedi Oetomo (BO) dari masa berdirinya hingga kini. Yang ingin didiskusikan dalam lembar ini adalah masih layakkah konsep wawasan kebangsaan yang sering didengungkan kembali setiap hari jadi BO dijadikan landasan kebangkitan nasional bagi seluruh bangsa Indonesia yang terdiri dari ribuan suku, 32 provinsi dan berkebudayaan yang berbeda. Wawasan kebangsaan apakah yang dimaksud dalam konteks ini?

Pertanyaan-pertanyaan di atas mengemuka setiap kita melihat kondisi daerah-daerah di Indonesia. Dengan keberagaman yang sangat tinggi maka kandungan wawasan kebangsaan yang terdapat di daerah berbeda-beda sesuai dengan pengalaman empiris daerah tersebut dan pemahaman terhadap apa yang dimaksud dengan wawasan kebangsaan versi Jakarta (pemerintah Pusat). Definisi wawasan kebangsaan saja sampai hari ini tidak jelas bagi penulis mengingat bangsa yang dimaksud dalam wawasan kebangsaan yaitu Indonesia masih berumur sangat muda (berdiri tahun 1945) dan cakupan wilyah yang terus berubah-ubah. Sedangkan daerah-daerah sebelum terbentuknya negara Indonesia sudah mempunyai wawasan kebangsaannya masing-masing walau saat itu belum dikenal dengan sebutan wawasan kebangsaan.

Ada 2 masalah mendasar yang hendak diungkapkan yaitu pertama, wawasan kebangsaan bagaimana yang dimaksudkan setiap kita peringati pada tanggal 20 Mei? Kedua adalah apakah konsep wawasan kebangsaan ini masih relevan tertanam ke dalam sanubari setiap warga negara yang notabene mengantongi KTP Indonesia? Untuk menjawab pertanyaan ini kembali ke hati kita masing-masing. Bukannya hendak menihilkan segala teori-teori tentang keberadaan suatu kebangsaan ataupun  teori-teori tata negara yang berkonsep idealis tetapi hati nurani kita yang merasakan dan menilai perjalanan hidup kita selama berada di Negara Kesatuan Republik Indonesia. Dalam realitas, rasa kebangsaan itu seperti sesuatu yang dapat dirasakan tetapi sulit dipahami.

Marilah kita berandai-andai bahwa Indonesia sebagai suatu Negara telah hadir pada tanggal 20 Mei 1908 tersebut. Umur ini pun masihlah relatif muda jika kita bandingkan dengan keberadaan berbagai suku bangsa yang telah ada di Nusantara sejak ribuan tahun lalu. Juga kita bandingkan dengan negara-negara besar yang ada di dunia seperti Rusia, China, Amerika dan yang lain-lain telah berdiri jauh sebelumnya. Dari berbagai sumber yang ada, Indonesia secara resmi baru berdiri secara de-jure sejak 17 Agustus 1945 tetapi secara de-facto, artinya melihat kepada sudut wilayah kekuasaannya masih belum jelas secara pasti batas-batasnya di mana dan luas wilayahnya. Kemudian melalui perjanjian Linggarjati pada tanggal 25 Maret 1947 disepakati antara pihak Indonesia dan Belanda bahwa wilayah kekuasaan RI meliputi Sumatera, Jawa dan Madura dan selanjutnya RI bersama Belanda akan membentuk Negara Indonesia Serikat dengan nama RIS, yang salah satu Negara bagiannya adalah RI. RIS dan Belanda akan membentuk Uni Indonesia-Belanda dengan Ratu Belanda sebagai ketuanya.

Setahun kemudian pada tanggal 17 Januari 1948 ditanda tangani kembali suatu perjanjian yaitu Perjanjian Renville. Dalam perjanjian ini disepakati kembali wilayah kekuasaan RI secara de-facto dan de-jure hanya sekitar daerah Yokyakarta saja. Perjanjian Renville ini ditandatangani oleh Perdana Menteri Mr.Amir Syarifuddin dari Kabinet Amir Syarifuddin disaksikan oleh HA Salim, Dr.Leimena, Mr.Ali Sastroamidjojo (30 Tahun Indonesia Merdeka, 1945-1949, Sekretariat Negara RI, 1986, hal 155,163).

Dengan demikian Indonesia sebagai bangsa yang sangat muda masih perlu mencari jejak atau pondasi yang kuat dalam memahami apa yang disebut wawasan kebangsaan. Paham kebangsaan berkembang dari waktu ke waktu dan berbeda dalam lingkungan masyarakat dengan lingkungan lainnya. Pun jika berbicara masalah geografis, wilayah kekuasaan RI pun senantiasa berubah sewaktu-waktu sesuai dengan keadaan pada zamannya hingga kini terbentuklah wilayah kekuasaan Indonesia dari Sabang hingga Merauke dimana masih belum begitu jelas bagaimana proses penggabungan wilayah-wilayah ini, merujuk pada masa-masa awal berdirinya RI.

Wawasan kebangsaan pada masa Presiden Soeharto diinduksikan ke dalam setiap warga Negara Indonesia pada saat penataran P4 (Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila) yang ditetapkan melalui keputusan TAP MPR no.II tahun 1978 dalam bentuk 36 butir Pancasila. Sejak  SMP hingga masuk perguruan tinggi setiap pelajar harus mengikuti penataran P4 dengan tujuan mulia agar nilai-nilai Pnacasila yang luhur itu dapat diresdapi kemudian diamalkan. Berbagai macam pola penataran dikenal dalam P4 seperti pola 10 jam, pola 100 jam, seminggu atau 2 minggu. Salah satu materi dalam penataran ini adalah memberikan pelajaran agar setiap warga Negara mempunyai paham kebangsaan yang seragam, sebangun dan berasal dari sumber yang sama yaitu pemerintah. Tidak boleh ada tafsir berbeda, bisa-bisa kita dicap pemberontak jika coba-coba menafsirkan berbeda walaupun secara kaidah ilmiah benar. Seingat kami, dalam penataran kita di doktrin untuk mengenal yang namanya Indonesia belaka. Kemajemukan wilayah Indonesia yang terdiri dari berbagai suku bangsa harus lebur dalam satu identitas yaitu hanya Indonesia. Umumnya kita terpengaruh dengan dogma-dogma kebangsaan seperti itu sehingga yakin dan ingin memperkukuh identitas kebangsaan Indonesia dalam praktek kehidupan sehari-hari seperti melupakan pemakaian bahasa daerah dalam percakapan sehari-hari, tidak memasukan unsur kebudayaan lokal dalam kegiatan-kegiatan yang diadakan dan masih banyak lagi yang lain.

Kini setelah era Soeharto berlalu maka sadarlah kita tentang wawasan kebangsaan itu. Kita bisa berdebat apa saja tentang definisi dan makna wawasan kebangsaan. Bahkan kita juga bisa mempertanyakan keabsahan berdirinya BO sebagai organisasi pertama bumi putera karena sebelumnya telah berdiri organisasi bumi putera lainnya yaitu Sarekat Islam. Dari sisi keabsahan ini saja sudah muncul kecurigaan terhadap pusat terhadap apa maksudnya mencantumkan hari lahir BO sebagai rujukan hari Kebangkitan Nasional. Belum lagi kalau kita mendebatkan tentang makna KEBANGSAAN itu sendiri.

Apakah yang dimaksud dengan bangsa adalah suatu bentuk negara semata? Kalaupun ini kita sepakati kita juga harus ingat hampir seluruh bangsa-bangsa di dunia dibentuk dari berbagai rumpun suku bangsa. Membicarakan bangsa artinya kita juga wajib membicarakan rumpun-rumpun suku bangsa yang ada di dalamnya. Suku bangsa membentuk mozaik negara sehingga tampak indah, bervariasi, saling memperkaya dan melengkapi. Konsekuensi dari membicarakan suku bangsa kita membicarakan nasib suku bangsa itu juga. Apakah suku bangsa tertentu telah hidup layak dalam negara Indonesia yang sudah merdeka selama 61 tahun. Atau jangan-jangan setelah bernaung dalam Negara kesatuan Indonesia dan mendapat kuliah wawasan kebangsaan berhari-hari ternyata kehidupan tidak membaik juga malah cenderung memburuk, ditandai dengan untuk sekedar memenuhi kebutuhan dasar air, listrik, pendidikan dan kesehatan saja tidak mampu.

Pusat umumnya dikenal sebagai daerah pulau Jawa sedangkan "daerah" lebih dikenal sebagai daerah-daerah di luar pulau Jawa. Pembagian sederhana ini hanya berdasarkan persepsi bahwa apa yang terjadi di pulau Jawa terutama di Jakarta dianggap merupakan dinamika yang terjadi di pusat. Berita-berita tentang peristiwa politik di Jawa, bencana di Pulau Jawa, kerusuhan dan sebagainya biasanya akan dianggap sebagai sesuatu yang datang dari pusat. Bagi mereka yang menguasai isu-isu daerah pulau Jawa maka dapat mengklaim dirinya sebagai pengamat nasional, barangkali lantaran pendapat-pendapat mereka dimuat di media nasional. Ini bukanlah upaya mempertentangkan antara pulau Jawa dan pulau lain namun semata-mata membicarakan realita yang berkembang minimal di daerah. Dalam konteks penyebaran informasi  demikian juga yang terjadi. Semua berita-berita dari pulau Jawa dengan mudah mengalir ke daerah-daerah bahkan daerah terpencil sekalipun, memakai parabola misalnya. Perusahaan-perusahaan nasional pun berbasis di pulau Jawa walau mencari makan di daerah. Tidak ketinggalan juga pemerintah pusat tetap mempertahankan kekuasaannya yang mulai di perkecil dalam otonomi daerah, ke tingkat provinsi. Untuk yang satu ini kasus Aceh dapat dijadikan pelajaran dimana Aceh yang sudah berwenang mengatur pemerintahannya sendiri sesuai dengan MoU Helsinki ternyata wewenangnya tetap sama seperti provinsi yang lain. Hal ini terlihat dari draft Peraturan Pemerintah tentang Kewenangan yang disusun oleh mantan Mensesneg Yusril Ihza Mahendra

Namun lihatlah sebaliknya. Berbagai peristiwa politik, bencana, kerusuhan bahkan informasi yang datang dari daerah biasanya akan dianggap sebagai peristiwa "daerah" belaka dan jika ada orang yang menguasai isu-isu ini maka akan disebut sebagai pengamat lokal. Ketimpangan-ketimpangan inilah menjadi salah satu pemicu disharmonisasi antara pusat dan daerah sehingga membuat kita harus merumuskan kembali apa yang dimaksud dengan wawasan kebangsaan.

Wawasan kebangsaan dalam prakteknya seharusnya bersifat setara antara satu daerah dengan daerah lain. Daerah yang juga merupakan penyusun negara ini harus mempunyai kesempatan yang sama untuk berkembang dan mempunyai kemampuan untuk melayani masyarakatnya dengan layak. Kita tentu tidak ingin membuat semua daerah harus mempunyai keadaan atau situasi yang serba sama seperti suatu negara komunis yang sama rata-sama rasa. Minimal jurang yang terbentang antara daerah dan pusat tidak terlalu jauh seperti sekarang ini. Seorang anak bangsa tidak akan nyaman berbicara tentang wawasan kebangsaan jikalau melihat bangsanya sendiri hidup serba keterbatasan padahal di daerah lain yang diklaim sebagai daerah pusat segala fasilitas tersedia. Nikmatkah kita berbicara tentang wawasan kebangsaan pada seorang penduduk kampong yang harus setiap hari menyeberangi sungai dengan rakit padahal di daerah lain ada jembatan yang tidak ada sungai yaitu jalan layang. Padahal sama-sama bangsa Indonesia

Ada satu hal menarik tentang paham kebangsaan di antara Bapak pendiri Indonesia. Mohammad Hatta pernah mengatakan bahwa sulit memperoleh kriteria yang tepat apa yang menentukan bangsa. Bangsa bukanlah didasarkan pada kesamaan asal, persamaan bahasa dan persamaan agama. Menurut Hatta kembali, "bangsa ditentukan oleh sebuah keinsyafan sebagai suatu persekutuan yang tersusun jadi satu, yaitu keinsyafan yang terbit karena percaya atas persamaan nasib dan tujuan. Keinsyafan yang bertambah besar oleh karena sama seperuntungan, malang yang sama diderita, mujur yang sama didapat, oleh karena jasa bersama, kesengsaraan bersama, pendeknya karena peringatan kepada riwayat bersama yang tertanam dalam hati dan otak" (Mohammad Hatta; beberapa pokok pikiran; Jakarta UI-Press, 1992). Pemahaman ini terasa pas saat melihat situasi fatual berbagai daerah. Sepertinya Hatta lebih jujur dalam memandang kebangsaan, tidak memanipulasi pikiran dan konsepnya relevan sepanjang masa.

Hari ini banyak pengamat nasional atau ahli wawasan kebangsaan yang mengeluhkan tentang wawasan kebangsaan yang mulai pudar di masyarakat. Banyak anak muda tidak hafal lagu Indonesia Raya, tidak tahu nama-nama pahlawan, suka meminta bantuan kepada bangsa asing, meminta otonomi lebih besar dan lain sebagainya, demikian katanya. Namun ini semua seharusnya sudah dapat ditebak akan terjadi mengingat perlakuan Negara terhadap warga. Merujuk kepada pernyataan bung Hatta bahwa adanya kesamaan nasib antara semua anak bangsa maka kita menyadari bahwa hal ini sudah tidak terdapat lagi di Indonesia. Jika hal ini dapat kita perkecil dan negara dapat melayani warganya sebaik mungkin, mudah-mudahan wawasan kebangsaan akan menguat kembali di hati sanubari. Tetapi bukan dengan cara menyuruh orang menghapalkan ini-itu yang maknanya tidak ada dalam realitas. Semoga..

 

sumber foto : www.indonesianembassy.org.uk

Bookmark and Share

Tag/Label budi utomo, boedi oetomo, kebangkitan nasional, 20 mei, jawa, jakarta, daerah, aceh
Penilaian anda

Kirim ke Teman
* Email Teman:
Pisahkan tiap email dengan titik koma.
Contoh: bill@microsoft.com; steve@apple.com
* Email anda:
14 komentar pada warta ini
Senin, 21-05-2007 15:53:05 oleh: bajoe

Aku kurang tahu persis kapan Hari Kebangkitan Nasional ini ditetapkan, apakah pada era Orde Lama atau Orde Baru? Tapi apapun era-nya setiap penghargaaan maupun keputusan pemerintahan saat itu, pasti ada pertimbangan politik dan kepentingannya.

Aku mau mengajak melihat dari sisi lain, yaitu fakta sejarah. Budi Utomo berdiri 1908 sedangkan Sarikat Islam (SI)yg awalnya bernama Serikat Dagang Islam didirikan Tirtoadisuryo pada 1909. Memang benar, Budi Utomo ini membatasi keanggotaannya hanya pada orang Jawa. Karena pada awalnya kesadaran sebagai sebuah bangsa (sebelumnya penduduk Hindia Belanda, hanya mengenal priyayi/bangsawan dan rakyta biasa) diterjemahkan dlm kebangsaan Jawa.

Namun di organisasi ini berkumpul anak-anak yang muda yang penuh semangat dan progresif, seperti Soetomo, Gunawan, sampai Cipto Mangunkusumo. Pada perkembangannya, berdirinya BO ini mendorong daerah lain, seperti Manado dan Ambon mendirikan organisasi serupa.

Cipto Mangunkusumo akhirnya mundur dari BO karena tidak sejalan dengan visi organisasi yang terbatas Jawa saja, dan mendirikan Indische Partij (IP) bersama Ki Hajar Dewantara dan Douwes Dekker. Visi IP ini lebih tegas, yaitu menyatukan penduduk yang tinggal di Hindia Belanda sebagai sebuah bangsa.

Organisasi yg merumuskan kebangsaan pertama kali ya IP. Tapi perkembangan IP, sangat dipengaruhi kemunculan organisasi BO 1908, kemudian SI/SDI 1909.

Maka pendapatku wajar bila kelahiran BO dipandang sbg awal nasionalisme Indonesia, karena BO adalah organisasi massa modern yang terbentuk kala itu, yang akhirnya memicu lahirnya organisasi2 yg lain.




Senin, 08-10-2007 07:53:29 oleh: mira nur mutia

saya adalah seorang mahasiswa IPB, kebetulan sedang mengamati wawasan kebangsaan pada anak muda.
saya dan teman-teman saya berniat membuat sebuah club dengan nama CINTA BANGSA CLUB
pada awalnya kami juga ragu dalam membentuk club ini tapi naruni kita terpanggil ketika seseorang berkata " lo cinta ga sama negara lo??"
padahal di antara kami adalah mahasiswa yang boleh dibilang kita malah cinta Inggris dibandingkan Indonesia...

seperti yang dikatakan di atas wawasan kebangsaan Indonesia sudah mulai luntur jangankan indonesia raya Pancasila pun sudah pada lupa.
kami berfikir bahwa sebuah WAWASAN KEBANGSAAN adalah kata-kata yang berat dan tidak menimbulkan minat pada pemuda. begitu juga NASIONALISME kami berfikir bahwa kita perlu menyederhanakan kata-kata di atas sehingga dapat diterima pemuda saat ini yang pemikirannya sudah dipengaruhi budaya luar.dengan metode-metode yang lebih diterima, pengennya sih begitu tapi masih bingung.

kami berkeinginan mas Nizar dapat menghadiri acara pertama kami yang insyaallah diadakan pada tanggal 17 november 2007 atau jika berkenan mas nizar bisa menjadi narasumber,atau sekedar berdiskusi gitu mas, dapatkah kami menghubungi mas???

terima kasih...




Senin, 08-10-2007 11:25:19 oleh: m.nizar

salam mbak Mira..

terima kasih sekali undangannya, cuma sy ragu apa bisa hadir, soalnya saya tinggalnya di Banda Aceh, sebuah negeri dimana wawasan kebangsaan banyak sekali artinya.
sy bangga ada orang2 muda mau duduk membicarakan soal2 kebangsaan, ini suatu hal yang baru belum pernah dengar saya. sy cuma bisa berdoa dari jauh semoga apa yang dicita-citakan dapat jalan dengan baik dan sy siap untuk jadi teman diskusi via email (mnizar.abdurrani@gmail.com).

sukses..




Minggu, 04-05-2008 18:10:24 oleh: zulkarnaen

wah saya sangat tertarik sama cerita diatas, btw dimana saya bisa dapet foto boedi oetomo pada pada masanya dengan resolusi yg cukup besar ya? saya jg penikmat foto sih..



Kamis, 22-05-2008 10:48:04 oleh: agus prasetio

apa gunanya kita peringati hari kebangkitan bangsa jika kita masih tetap berdiam diri tanpa ada usaha untuk lebih baik lagi.saat ini kita makin susah,BBm makin tinggi harganya,kebakaran hutan meraja lela,pembunuhan makin menjadi tiap hari.akankah negara kita akan terus seperti ini??tapi sebagai rakyat kecil apa boleh buat,para pemimpin negeri ini hsnya bisa memikirkan perutnya sendiri tanpa memikirkan nasib rakyat kecil.saya sebagai warga Indonesia berharap agar Indonesia bisa menjadi negara yang lebih baik lagi.Semoga 100 tahun hari kebangkitan nasional menjadi titik balik bagi negara kita untuk lebih baik lagi. Amin.......!!!!!
MAJU TERUS INDONESIA....!!!!!!!!!!
JANGAN MENYERAH...




Kamis, 22-05-2008 11:52:45 oleh: Wahjoe Witjaksono

Padamu negri kami berbakti, Padamu negri kami mengabdi, masih adakah dalam diri kita, apakah tidak sebaliknya justru "kita" hanya memeras apa yang ada di Indonesia, justru "kita" memperkaya diri kita tanpa peduli rakyat indonesia, justru kita menjadikan Indonesia sengsara, menjadikan Indonesia lebih terbelakang. Bagimu negri jiwa raga kami, masih adakah dalam hati kita.



Kamis, 22-05-2008 12:18:41 oleh: Januar

Saya pikir mendirikan bangsa mirip dengan mendirikan rumah. Semakin tingi & luas rumah yang akan kita bangun semakin dalam & luas pondasi yang dibutuhkan.
Kedalaman pondasi mungkin bisa dibayangkan sebagai pengorbanan warga negara sekarang untuk generasi mendatang.
Luas pondasi mungkin bisa dibayangkan sebagai pengorbanan warga kota untuk kota lain, warga kabupaten untuk kabupaten lain, warga propinsi untuk propinsi lain.
Tentu butuh waktu, modal, dan kerja keras untuk menciptakan pondasi yang dalam dan luas.






Kamis, 22-05-2008 14:31:09 oleh: Anwariansyah

Negara Indonesia adalah sebuah perahu.

Ada yang dengan gigih mengayuh agar perahu terus melaju.

Ada yang sibuk menimba air di lantai dasar agar kapal jangan karam.

Ada yang sibuk mengecat dinding kapal agar terlihat bagus.

Tapi ada juga yang sibuk melubangi lantai agar perahu tenggelam karena sudah siap berpindah ke perahu yang lain.

Dan yang lebih parah ada yang sibuk mencopoti satu per satu bagian kapal untuk dijual, padahal nantinya ikut tenggelam bersama yang lain.




Kamis, 22-05-2008 14:40:10 oleh: Januar

analogi yang bagus.

betapa mengerikan dan ganjil menyaksikan kegilaan bunuh diri yang dilakukan oknum-oknum bangsa.





Senin, 15-09-2008 13:57:20 oleh: dyah

jelaskan sebab2nya dgn rinci dumz.........




Sabtu, 13-12-2008 12:36:32 oleh: abdul latif

Wawasan kebangsaan saya kira memang pada saat ini mengalami krisis multidimensi.gejolak tersebut terlihat banyaknya krisis diantaranya krisis ekonomi global,krisis kepercayaan terhadap pemerintahan yang hanya mengobral janji, krisis mengenai norma norma agama yang di kesampingkan demi terwujudnya kepentingan pribadi atau golongan tertentu serta krisis moral terhadap tanggung jawab diantaranta vbanyaknya pejabat yang korupsi demi kepentingan sesaat



Senin, 04-05-2009 13:01:29 oleh: Bambang Priyatna

Dengan adanya media seperti ini tentunya akan sangat berguna bagi bangsa ini untuk dapat menyadari posisi bangsa saat ini, sehingga kita bisa mawas diri dalam bergaul dengan bangsa-bangsa lain. Ada komentar yang mengatakan bangsa Indonesia masih sangat muda, dan benar adanya. Sementara bangsa lain ada yang telah ribuan tahun, bahwakan semenjak ribuan tahun pula mereka telah merencanankan untuk menguasai dunia. Untuk itu mari bersama mengisi kehidupan berbangsa dengan tindakan yang terpuji yang akan membawa bangsa menjadi harum, jaya dan tidak melakukan hal yang sebaliknya korup, menghianati bangsa dlsb.



Kamis, 04-06-2009 23:43:39 oleh: agasa

proses menjadi bangsa tidak akanpernah selesai, sesuatu yang memperihatinkan adalah ketika proklamasi kemerdekaan dianggap titik final dan selesai.
MENGINDONESIA itulah kesadaraN




Rabu, 21-04-2010 00:35:08 oleh: Latif

Saat ini Wawasan Kebangsaan semakin dibutuhkan mengingat masih adanya komplik Suku, Agama, Ras dan golongan dan saling mementingkan kelompok mereka, dengan memehami wawasan kebangsaan secara tidak sadar akan muncul Semangat Kebangsaan, Paham Kebangsaan dan Rasa Kebangsaan pada diri setiap warga negara. . . terima kasih



Tambahkan komentar anda
* Nama lengkap:
* Email:
tidak ditampilkan untuk umum
  • Hal-hal yang perlu diperhatikan :
  • - Berilah komentar yang relevan dengan topik warta ini. Bacalah semua dari warta maupun komentar-komentar lain, sebelum memberi komentar.
  • - Tidak membuat komentar yang bernuansa SARA, pornografi, menyerang pribadi, menyebarkan kebencian dan kekerasan maupun pendapat yang melanggar hukum.
  • - Tidak beriklan di kolom komentar ini.
  • - Gunakan bahasa yang santun dan beri respek pada semua pendapat meskipun berbeda pendapat.
  • - Gunakan nama asli dan bila Anda sudah menjadi anggota Wikimu, upayakan login member terlebih dahulu. Bila belum menjadi anggota, email yang Anda cantumkan di kolom email, tidak akan dimunculkan.
* Komentar:  
captcha Silakan tulis kode disamping ini untuk melanjutkan.

PALING BERGUNA (bulan ini)

TERBANYAK DILIHAT (minggu ini)

TERBARU

50 TAG / LABEL TERPOPULER

 

Link Wikimu


Mau pasang link Wikimu di blog/situs Anda? copy link ini

TESTIMONI PRODUK

Minuman Sereal Baru ENERFILL

Jumat, 05-06-2009 18:04:42 oleh: Rina Linda

Bosan dengan yg biasa??? Minuman sereal ENERFILL, di setiap porsinya mengandung kombinasi 8 Vitamin, Protein, Kalsium & mineral lainnya yg dibutuhkan tubuh. Kombinasi rasa yg nikmat dengan sensasi baru BUTIRAN OATS PADAT di dalamnya bikin ENERFILL sebagai minuman penambah energi dengan kenikmatan rasa yang mudah tersaji. Cukup disajikan dgn 150 ml air panas ke dlam gelas, rasakan sensasi rasa baru coklat atau vanilla. ENERFILL, minuman penunda lapar yang lengkap, enak, lebih mengenyangkan & sehat untuk penambah energimu



Testimoniku:
Fajar Setyo Hartono: Minum Sereal Baru ENERFILL bila disajikan dalam minuman panas dalam gelas kita dapat merasakan sensasi rasa baru coklat atau vanila dan bisa menambah energi setelah minum .

Testimoni selengkapnya... (4 komentar)



Testimoniku Terbaru:
Sergio   pada  Pocari Sweat
David   pada  Momogi Snack
Latif Nur Hidayah   pada  Yakult...Bisa untuk Obat Diare??

SUARA KITA

Simpati Kirim SMS Iklan Seenaknya

Sabtu, 21-02-2009 12:22:33 oleh: Eko Nurhuda
Saya pengguna Simpati sejak pertama kali bisa beli hape di tahun 2002. Sampai sekarang saya masih setia dengan Simpati karena alasan coverage area. Namun belakangan ini kesetiaan saya terganggu karena Simpati suka seenaknya mengirim SMS berisi iklan layanan yang tidak saya butuhkan (dan sering!). Sungguh menyebalkan..!

Suaraku:
melfa: Saya memakai simpati dari thn 1993 waktu itu blm ada kartu hallo suafu saat saya miggrasi ke hallo sampai 2010 tiba2 diputus sama mereka tanpa alasa,saya mohon aktifkan nmr saya itu kembalia



Suara kita selengkapnya... (18 komentar)



Suara Kita Terbaru:
melfa   pada  Simpati Kirim SMS Iklan Seenaknya
gdwmnv   pada  Hutan Pantai Jakarta Dibangun Pemukiman
pjkhfge   pada  Hutan Pantai Jakarta Dibangun Pemukiman

DARI ADMIN

Rekan-rekan,

Wikimu juga mempunyai PUBLIC PROFILE di Facebook jika anda ingin menjadi Fans silahkan kunjungi kami. Jangan ketinggalan kami mempunyai lomba komentar di Public Profile setiap hari Senin dan Kamis. Nantikan terus artikel yang menjadi topik dalam lomba komentar.

Untuk pertanyaan dan masukkan, silahkan email ke

info@wikimu.com

salam,

21 April 2009

Admin.

Masukan, pertanyaan, kritikan terhadap kami silakan kirim email ke info@wikimu.com atau telp : 021-56165522 Senin-Jumat (08.00 - 17.00 WIB)
COPYRIGHT ©2006 WIKIMU.COM - Jurnalisme Publik (Citizen Journalism). All Rights Reserved | PRIVACY POLICY