Dalam rangka ulang tahun Museum Nasional ke 229, pada hari Selasa tanggal 24 April 2007 Museum Nasional bersama Penerbit Gramedia Pustaka Utama menyelenggarakan peluncuran buku Tenun Ikat, Ragam Kain Tradisional Indonesia. Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Bapak Ir. Jero Wacik, SE sekaligus membuka pameran Tenun Ikat Indonesia (akan berlangsung sampai tanggal 30 April 2007).
Buku Tenun Ikat karya Ibu Suwati Kartiwa mengajak kita berpetualang ke daerah-daerah yang menghasilkan tenun ikat di Indonesia. Kain dalam khazanah budaya Indonesia ikut berperan serta sebagai bahasa simbolis. Dari jenis desain, kain, dan warnanya bisa dilihat fungsi kain tersebut, sekaligus juga kedudukan sosial si pemakai kain dalam strata sosial masyarakatnya.
Di Batak ada Ulos sibolang yang berlatar warna biru tua, digunakan dalam upacara berkabung atau upacara yang berhubungan dengan kematian. Pemberian ulos sibolang kepada seorang wanita dalam upacara kematian menandakan statusnya yang menjanda.
Di Tana Toraja, upacara yang berhubungan dengan kematian biasanya menggunakan warna-warna hitam dan kuning. Motif melengkung yang menyerupai anak panah dalam kain tenun ikat Toraja melambangkan dinamika kekuatan hidup, yakni kekuatan positif dan kekuatan negatif.
Sayang sekali dalam pameran yang disalenggarakan di Museum Nasional ini, koleksi yang dipamerkan sangat terbatas. Tidak tampak foto maupun ulos Batak yang cukup banyak dibahas di dalam buku Tenun Ikat ini.
Satu acara menarik yang disajikan setelah acara peluncuran buku adalah diskusi mengenai tenun ikat dengan pembicara Ibu Suwati Kartiwa, Ibu Yo Seda, serta Bapak Harry Dharsono.
Ibu Suwati Kartiwa memberikan gambaran teknis kesulitan pembuatan kain tenun ikat ini. Tingginya tingkat kesulitan dalam pembuatannya membuat waktu pembuatan sebuah kain menjadi sangat lama. Karena itu tidak jarang pada zaman dahulu sebuah kain bisa ditukar dengan seekor kerbau.
Terkadang mempersiapkan sebuah kain pada saat anak sedang dikandung, ikut memberikan nilai emosional yang tinggi terhadap sebuah kain warisan yang diberikan kepada anak pada saat kelahirannya.
Ibu Yo Seda menceritakan mengenai pengaruh sejarah dalam motif desain sebuah kain. Dalam kain Mahang dari Nusa Tenggara Timur, tergambarkan pengaruh masa kolonialisasi Belanda. Pengaruh ini terlihat pada desain kain yang bermotif singha dan mahkota, bahkan ada yang disertai bendera, seperti yang terdapat pada mata uang gulden Belanda.
Menurut Ibu Yo, dengan memberdayakan produksi kain tradisional seperti tenun ikat ini, maka wanita Indonesia dapat meningkatkan penghasilan keluarganya tanpa perlu meninggalkan keluarga merantau.
Kreativitas merupakan topik utama yang diusung Bapak Harry Dharsono. Kretivitas merupakan kunci untuk masuk ke dalam dunia kompetisi global.
Beliau mengatakan bahwa kain adat bisa menjadi komoditi untuk menyejahterakan pengrajin selama orang yang berperan dalam rantai kreativitas ini saling mndukung. Kreativitas pada dasarnya adalah kemampuan untuk mengubah persepsi dan belajar dari kesalahan yang pernah terjadi. Nilai-nilai adat yang diusung sebuah kain tidak boleh berubah, tapi kainnya sendiri perlu berubah. Perlu peningkatan kreativitas desain, menunjukkan nilai-nilai baru dalam desain agar dapat mengajukan Hak Atas Kekayaan Intelektual (HAKI).
Kain adat dapat dilihat dari dua sisi, dari sisi value dan dari sisi volume. Untuk konsumen tertentu yang secara ekonomi mampu akan melihatnya dari sisi value. Sementara bagi kebanyakan orang adanya produksi massal yang memungkinkan harga jual yang ekonomis masih lebih menarik. Dalam menjual sebuah kain berdasarkan nilai (value) dari kain tersebut, maka peran psikologis akan banyak berperan. Berapa mahalpun sebuah kain di balai lelang Christie, akan ada yang meminatinya. Menjual kisah di balik sebuah kain akan membantu meningkatkan nilai kain tersebut. Karena itu sangat disayangkan bahwa proses “labeling” pada kain tradisional yang sudah pernah digulirkan sudah terhenti selama enam belas tahun.
Dengan adanya “label” pada kain, kita bisa mengenal sejarah atau kisah di balik kain tersebut.
Memang alangkah indahnya bila kita juga mampu mengenali kekayaan budaya bangsa kita yang begitu beragam dan indah.