Kepada teman-teman, aku sering mengatakan bahwa Jogja itu bukan hanya kota gudeg. Aneka masakan Nusantara lengkap tersedia di kota ini. Mulai dari Papeda yang berasal dari Tanah Papua sampai Kopi Telur Kocok yang berasal dari Aceh, semua tersedia di Jogja. Mungkin hanya Jakarta yang bisa menyaingi Jogja soal kelengkapan masakan Nusantara.
Hal ini terjadi karena Jogja adalah kota tempat berkumpulnya pelajar/mahasiswa dari berbagai pelosok Nusantara. Lalu sebagian dari mereka yang mempunyai keahlian memasak, coba-coba bikin warung makan dengan menu khas daerah. Konsumen utama ya teman-teman sendiri yang rindu dengan masakan daerah asal. Tentu ada yang berhasil dengan warung makannya, ada sebagian lagi yang gulung tikar.
Kali ini aku mau berbagi soal masakan dari Aceh yaitu Mie Aceh.
Sepengamatanku, masakan mie Aceh mulai muncul di Jogja, kira-kira 5 tahun yang lalu. Waktu itu masih sedikit penjual mie Aceh ini. Tetapi sekarang, masakan mie Aceh dapat mudah kita temui di Jogja, terutama di sepanjang jalan Kaliurang, yang membelah UGM. Ada 2-3 warung mie Aceh di situ.
Tetapi dari semua yang pernah kucoba, tempat menyantap mie Aceh favoritku adalah rumah makan Bungong Jeumpa, yang berada di belakang Borobudur Plaza, atau tepatnya di ujung jalan RM Monginsidi. Sekarang memang berbentuk rumah makan, namun 3-4 tahun yang lalu sebenarnya masih berupa warung di jalan HOS Cokroaminoto. Dulu aku sempat berkenalan dengan salah satu pengelola warung ini. Salah satunya adalah mahasiswa Hubungan Internasional Universitas Muhammadiyah Yogyakarta. Sambil kuliah, mereka mencari uang. Entah mereka sekarang sudah lulus atau tidak, yang jelas warung mie Aceh yang kecil itu, sekarang sudah berubah menjadi warung makan yang ramai.
Menunya apa? Tentu saja mie Aceh. Ada pilihan-pilihan lainnya adalah nasi goreng, nasi gurih, ikan bakar dll. Tetapi jangan lewatkan mencicipi mie Aceh ini!
Mie Aceh menurutku sama seperti mie-mie dari daerah lain, menggunakan bahan dasar mie kuning yang gede-gede. Bedanya adalah di bumbu penyedap dan pernak-pernik makanan pendampingnya. Mie Aceh ini ada beberapa pilihan memasaknya, seperti digoreng, direbus, ditumis, dll, tetapi soal rasa adalah sama yaitu penuh dengan nano-nano rempah-rempah asli Nusantara. Pedas jelas, karena mrica maupun bahan rempah-rempah lain yang khas Aceh. Sebagai teman mengudap mie Aceh, biasanya disajikan emping, potongan bawang merah yang sudah dimasak, kacang dan timun. Berbeda dengan masakan Padang. Menurut orang asli Padang, masakan Padang di Jogja dengan di daerah aslinya sudah beda rasa. Di Jogja, masakan Padang lebih manis dari pada aslinya di Sumatera Barat. Mungkin menyesuaikan dengan lidah wong Jowo yang suka manis-manis. Tetapi mie Aceh yang disajikan di Bungong Jeumpa ini menurutku sama persis dengan mie Aceh yang dijual di Banda Aceh, ketika aku mendapat kesempatan ke sana.Rasanya mantap, kata orang Medan. Harganya pun ekonomis untuk kantong mahasiswa, yiatu Rp 5.000,00/porsi. Kalau mau tambah sajian dengan udang, sea food, dll juga bisa, tentu harganya bertambah.
Menu lain yang menjadi favoritku adalah adalah roti cane, teh tarik dan kopi kocok telur.
Roti cane semacam kulit martabak tanpa isi yang terbuat dari tepung terigu. Mirip patta dari India. Biasanya roti cane digoreng begitu saja, lalu ditambahkan taburan gula di atas dan langsung disantap. Tapi rumah makan ini, tersedia aneka topping roti cane, mulai dari tambahan keju, susu, coklat, dll.
Teh Tarik konon adalah minuman khas Melayu. Di Malaysia, teh tarik menjadi ikon pemikat pariwisata di sana, seolah ini minuman khas Malaysia. Padahal di Sumatera, dari Aceh sampai Riau , teh tarik ini banyak dijumpai. Teh ini diberi susu kental manis yang dituangkan dari satu gelas ke gelas lainnya (ditarik), hingga tercampur rata dan aromanya keluar
Kopi telur kocok. “Wueekkk! Apa ndak amis?” Begitulah umumnya reaksi spontan wong Jowo kalau aku beritahu ada kopi yang dicampur telur di warung mie Aceh. Tapi biasanya yang berani mencoba, akhirnya mau mencoba lagi….lagi ….dan lagi…..
Kopi telur kocok ini sama sekali tidak amis. Pembuatannya telur ayam mentah dicampurkan dengan kopi (kopi Aceh), lalu dikocok sedemikian rupa hingga mencapai kekentalan tertentu. Setelah selesai dikocok, lalu dituang air panas dan siap diminum. Rasanya? Seperti minum cappucino di café. Ada busa lembut di atasnya, kopinya terasa seperti menggunakan krim.
Berani mencoba?