Sejarah perang suci dari perspektif agama Kristen
Agama Kristen lahir dimasa penjajahan Kekaisaran Romawi. Di saat Kaisar Agustus mengadakan sensus penduduk untuk kepentingan administratif. Dengan munculnya bintang di langit menjadi penanda bahwa seseorang istimewa akan lahir. ”Bintang selalu menjadi petunjuk adanya pemimpin baru, ” demikian , misalnya, dikatakan oleh penyair Vergilius (70-19SM) [1].(Jerusalem kesucian, konflik, dan pengadilan akhir, Trias Kuncahyono, Kompas 2008). Pada waktu itulah Yesus lahir dari rahim perawan suci Maria. Masa kecil Yesus dialami dengan perjalanan ke Mesir untuk menghindari pembantaian oleh Raja Herodes Agung. Herodes Agung adalah penguasa lokal yang menjadi jajahan Romawi, yang merasa terancam dengan kelahiran Yesus. Melalui bintang yang terang inilah Yesus diposisikan sebagai seorang penyelamat dan memiliki masa depan. Yang tentu saja dengan mengutip buku Trias Kuncahyono merupakan sebuah ancaman bagi kemutlakan yang ada.
Sekitar tahun 27 M, Yesus telah menampilkan dirinya kepada kaum Yahudi Palestina sebagai Mesiah. Ia memulai dakwahnya dengan pemberitahuan bahwa ”Kerajaan Tuhan sudah dekat!” dan Ia mendesak kaum Yahudi untuk menyiapkan diri bagi kejadian besar ini.[2] (Perang Suci, Karen Armstrong, 2007). Munculnya Yesus sebagai Sang Messiah di tengah bangsa Yahudi membawa kekuatiran bagi kaum Farisi dan Sadhuki. Kedua kelompok ini memiliki alasan yang berbeda dalam menentang Yesus. Kaum Parisi menentang karena Yesus memperbaharui penafsiran tentang makna kesepuluh perintah Allah. Sedangkan kaum Sadhuki, Yesus bisa menimbulkan kesulitan di kemudian hari.[3] (http://media.isnet.org/kristen/Sejarah/Asal-usul). Selain itu dianggap sebagai pengganggu identitas dan tradisi ke-Yahudian. Serta membawa suatu ajaran baru menggeser keyakinan lama, dengan ajarannya yang kontroversial. Dengan licik para tokoh agama, mencari letak kesalahan dari ajaran Yesus untuk dihadapkan pada Gubernur Pontius Pilate. Secara politis ajaran Yesus bagi kekuasaan penjajah Romawi menjadi ancaman tersendiri. Mengapa? Bagi Penjajah Romawi Yesus bisa menggerakkan orang-orang Yahudi untuk memberontak. Ajaran-Nya membawa dampak bagi kelangsungan kekuasaan Romawi di Yerusalem.
Kisah perjalanan dakwah Yesus berakhir di puncak bukit Golgota. Setelah serangkaian panjang pengadilan, dimana Yesus dihadapkan pada para penguasa, misi dan karyanyapun berakhir dengan di Salib. Itulah hukuman paling terhina bagi bangsa Yahudi. Karena Yesus disamakan dengan para penjahat dan perampok yang berada di kanan kiri-Nya. Itulah salib sebagai fokus keimanan bagi dunia Kristen. Salib sebagai tanda penebusan bagi manusia, yang nantinya akan dipenuhi dengan kebangkitan Kristus setelah kematiannya di hari ketiga.
Seorang Yahudi bernama Paulus membawa agama Kristen ke dunia non-Yahudi di kekaisaran Romawi dan menjadikannya sebagai iman non-Yahudi. Ia menyakini bahwa Yesus telah menyelamatkan seluruh dunia, tak hanya kaum Yahudi, dan bahwa ketika ia kembali dalam kejayaan untuk membangun kerajaan Surga, maka itu berarti bukan sekedar kemenangan kaum Yahudi. Kematian dan kebangkitan kembali Yesus telah mengakhiri hari-hari misi khusus kaum Yahudi, dan agama Kristen menjadi agama universal. Dalam ajaran Kristen versi Paulus, tak ada lagi kemungkinan prang suci, karena kaum Kristen harus menunjukkan kedermawanan bahkan pada lawan mereka, sebagaimana telah diteladani Yesus.[4] (Perang Suci, Karen Armstrong, 2007)
Setelah Yesus wafat dan bangkit, ajaran-Nya dibawa oleh para rasul ke seluruh penjuru dunia. Kekristenan saat itu berkembang cukup pesat, sehingga menjadi ancaman bagi kekuasaan yang ada. Agama Kristen menjadi ancaman bagi kekuasaan Romawi saat itu, Sehingga pengikut dan pemeluknya dikejar-kejar serta diancam. Maka banyak martir gereja yang mengorbankan hidupnya bagi perkembangan ajaran Kristus. Seperti saya sebutkan di atas Paulus lah yang paling gencar menyebarkan Kekristenan. Pada masa inilah, datang masa-masa kegelapan (192-284), mulai dari Kaisar Commodus hingga Kaisar Diocletian. Pada masa inilah orang-orang masa itu kehilangan kepercayaan terhadap konsep balas jasa langsung yang dianut di Paganisme, sehingga agama Kristen pun semakin diminati. Hingga akhirnya pada tahun 313, Kaisar Konstantinus melegalkan agama Kristen dan bahkan minta untuk dipermandikan, dan 80 tahun setelahnya, Kaisar Theodosius melarang segala bentuk paganisme dan menetapkan agama Kristen sebagai agama negara.[5](http://id.wikipedia.org/wiki/Kekristenan)
Dengan demikian agama Kristen mendapat legitimasi dan angin segar. Maka agama Kristen berkembang di Barat sesuai dengan karakteristiknya yang khas, dan lebih bisa diterima. Dunia Barat yang awalnya merupakan bangsa yang tidak mengenal Kekristenan, membuka pandangan baru dengan tradisi yang berkembang. Kekristenan di dunia Barat banyak merubah tradisi lama, tradisi pagan yang cukup mendarah daging mulai tergeser dengan keyakinan baru ini. Sedangkan perkembangan agama Kristen di Timur berkembang seturut dengan akar budaya dan filsafat timur. Lebih ditegaskan lagi dengan adanya perbedaan teologis antara gereja barat (Katolik Roma) dan gereja timur (Ortodok Timur) yang berpusat di Konstantinopel (Sekarang Istambul/Turki).
Ziarah menggali kesucian tradisi Kristen
Eropa mengalami masa kegelapan karena serbuan tentara barbar pada abad ke 5-6 Masehi. Serangan ini meruntuhkan kekaisaran Romawi barat. Mengapa Romawi barat? Hal ini perlu diingat bahwa kekaisaran Romawi mempunyai teman yang berada di dunia lain yaitu kekaisaran Romawi timur yang beribukota di Konstantinopel (sekarang Istambul) atau lebih dikenal dengan Byzantium. Saat Eropa jatuh, justru dampaknya tidak sampai ke wilayah ini. Rupanya perkembangan agama Kristen di kedua wilayah ini tidaklah sepaham. Cerminan kekristenan digambarkan dalam konsep yang berbeda. Gereja timur memiliki pendekatan pada masalah teologi dan konsep kesucian Tuhan yang tradisinya banyak berbeda dengan yang dikembangkan oleh Gereja Latin di Roma.[6] (Perang Suci, Karen Armstrong, 2007). Selain itu ada perbedaan mendasar mengenai doktrin gereja, yang dirasa oleh Paus bahwa gereja timur memiliki hak untuk masuk ke wilayah doktrin kristen. Sehingga keduanya merasa memiliki hak untuk menguasainya. Perbedaan ini menyebabkan permusuhan selama beberapa abad sampai memasuki periode perang salib.
Dalam tradisi Kristen berziarah merupakan sesuatu yang menimbulkan gairah tersendiri. Apalagi mengunjungi tempat-tempat suci yang memiliki nuansa spiritual yang tinggi. Akan tetapi, dalam ideologi ziarah yang diperkenalkan oleh reformasi Cluny, perjalananlah, bukannya kedatangan, yang bermakna penting. Perjalanan suci ini akan menjadi perjalanan menuju pribadi Kristen baru karena, pada saat berjalan menuju tempat ibadah, para peziarah hidup sesuai dengan cita-cita dan praktek hidup para rahib.[7] (Perang Suci, Karen Armstrong, 2007). Maka mendatangi tempat suci (para martir) akan menemukan kedekatan antara Tuhan dengan umat-Nya. Cerita mengenai para martir ini menimbulkan keharuman dan nyanyian sorga bagi yang mengetahuinya. Gairah ziarah melanda Eropa, sehingga berbondong-bondonglah manusia yang mendatangi tempat suci yang berada di Jerusalem. Terutama mengunjungi Gereja Makam Kristus, serasa menjadi kekuatan yang lahir batin bagi siapa saja yang berdoa di dalamnya.
Perang Salib menjadi perang suci
Gagasan perang ini muncul saat Paus Urbanus menyerukan kepada para ksatria Eropa untuk menyelamatkan tanah suci dari orang-orang Islam. Kaisar Alexius dari Byzantium meminta bantuan militer melawan orang-orang Turki muslim pada Urban.[8] (Perang Suci, Karen Armstrong, 2007). Para pemeluk Islam yang baru ini mulai banyak tinggal di Asia, yang secara kebetulan masuk wilayah Kristen. Tentunya membangkitkan gerakan ini butuh dorongan spiritual khusus. Masih belum lewat masa gairah ziarah ke tanah suci begitu menggelora. Artinya bibit untuk bergerak menuju tanah suci dan membebaskannya bisa dilakukan oleh siapapun. Katakanlah semacam ideologi perang salib ini, setidaknya merasuk ke siapa saja, secara khusus baik kaum awam dan para ksatria Eropa. Dalam bukunya perang suci Karen Armstrong menulis bahwa Paus Urban menyebut ekspedisi ini sebagai sebuah ziarah. Dan mengaitkannya dengan gerakan reformasi Cluny . Paus Urban tampaknya juga mengingatkan mereka bahwa Kristus telah mendesak kaum Kristen untuk bersiap mati demi Kristus, sebagaimana seorang Tentara Salib siap melakukannya. Karena perang salib akan menuntut peralihan hidup dan akan menjadi perjalanan dramatis menuju pribadi baru.[9] (Perang Suci, Karen Armstrong, 2007) Rupanya pidato Paus Urban membawa dorongan batin bagi Ksatria Eropa untuk bersatu melawan Islam di timur. Ini semacam penegasan bagi pimpinan tertinggi gereja dalam memenuhi panggilannya sebagai peziarah abadi.
Kekuatan utama perang salib pertama menjadikan iman keagamaan, untuk dapat bertahan dalam perjalanan traumatis menuju tanah suci dan membebaskannya dari tangan kaum Muslim seperti tertulis di buku perang Suci Karen Armstrong. Perang salib sendiri dimulai dari sekitar tahun 1095 sampai beberapa puluh tahun sesudahnya, barulah berakhir dengan kemenangan kaum Muslim.
To be continuous..............
[1] Jerusalem kesucian, konflik, dan pengadilan akhir, kompas 2008: 90
[2]Perang Suci, Karen Armsrtong, Serambi 53: 2007
[3] http://media.isnet.org/kristen/Sejarah/Asal-usul.
[4]Perang Suci, Karen Armsrtong, Serambi 55: 2007
[5] http://id.wikipedia.org/wiki/Kekristenan
[6]Perang Suci, Karen Armsrtong, Serambi 97: 2007
[7]Perang Suci, Karen Armsrtong, Serambi 105: 2007
[8]Perang Suci, Karen Armsrtong, Serambi 120: 2007
[9]Perang Suci, Karen Armsrtong, Serambi 122: 2007
Sumber: Jerusalem kesucian, konflik, dan pengadilan akhir, kompas 2008: 90 Perang Suci, Karen Armsrtong, Serambi 53: 2007 http://media.isnet.org/kristen/Sejarah/Asal-usul. Perang Suci, Karen Armsrtong, Serambi 55: 2007 http://id.wikipedia.org/wiki/Kekristenan Perang Suci, Karen Armsrtong, Serambi 97: 2007 Perang Suci, Karen Armsrtong, Serambi 105: 2007 Perang Suci, Karen Armsrtong, Serambi 120: 2007 Perang Suci, Karen Armsrtong, Serambi 122: 2007