Abdullah Ibnu Ahmad

Stop Program Infotainment Jadi Racun Otak Kita, Sekarang!

Jumat, 16-07-2010 08:44:56 oleh: Abdullah Ibnu Ahmad
Kanal: Opini

Cukup sudah kita sebagai pemirsa diperdaya oleh televisi. Kegemaran jahat mendengarkan – dan kemudian membicarakannya – aib dan keburukan orang lain, menjadi modal dasar bagi televisi membuat program paling buruk dan memberikan dampak buruk: INFOTAINMENT!

Dengan program infotainment stasiun televisi bertambah kaya karena iklan-iklan membludak, sedangkan pemirsa semakin tidak terdidik, anak-anak dan remaja mencontoh perilaku buruk selebritis idola mereka, dan kita semakin terbiasa membicarakan aib orang lain, sehingga secara tidak sadar menumpuk dosa.

Dampak langsung dari membicarakan aib atau keburukan orang lain (ghibah) adalah terlena dan merasa benar sendiri, melupakan kesalahan yang sudah kita lakukan, untuk kemudian melakukan kesalahan-kesalahan lainnya dengan ringan hati. Program infotainment telah meracuni otak dan pikiran kita, secara perlahan dan terjadi di alam bawah sadar kita. 

Dalam wawancara terpisah kompas.com dengan dosen dan peneliti sastra dan media culture (budaya media) di Indonesia dari Universiteit Leiden, Belanda, Suryadi, Ketua Komisi Nasional Perlindungan Anak Seto Mulyadi, dan pakar komunikasi yang baru-baru ini penelitiannya untuk disertasi di Universitas Indonesia tentang Studi Budaya Televisi pada Program Infotainment, Mulharnetti Syas, disimpulkan bahwa perlu penyensoran program televisi infotainment dan reality show sebelum penayangannya karena program yang tidak mendidik tersebut materinya hanya gosip selebritas, dan opini-opini murahan. Penyesoran dimaksudkan agar program tersebut menjadi bermanfaat bagi pemirsanya, terutama bagi anak-anak dan remaja.

Hal tersebut berkaitan dengan kesepakatan tiga institusi, yakni Dewan Perwakilan Rakyat, Dewan Pers, dan Komisi Penyiaran Indonesia, untuk menyensor program infotainment dan reality show di televisi. Hal itu sebagai konsekuensi diklasifikasikannya program infotainment dan sejenisnya sebagai bukan siaran factual, tetapi nonfactual (Kompas , 15/7/2010).

Menurut Suryadi, praktisi pertelevisian kita sepertinya masih jauh dari dewasa untuk menyadari pekerjaannya sebagai bagian dari upaya mencerdaskan bangsa. Orientasinya ke profit saja. Kebanyakan program infotainment dan reality show tidak mengandung nilai pendidikan kepada para pemirsa televisi kita yang, malangnya, juga terseret kepada yang dibuat oleh media.

Media kita, khususnya melalui program-program infotainment, menurut dia, cenderung telah dengan semena-mena memasuki wilayah domestik warga negara, yang semestinya tidak boleh menjadi konsumsi publik. Hal ini potensial untuk mengacaukan kehidupan kita, baik sebagai warga negara maupun sebagai individu.

Seto Mulyadi mendukung penyensoran program infotainment dan reality show karena televisi adalah sahabat bagi anak-anak yang selalu menemani mereka dari pagi hingga malam hari. Pengaruh negatif dari kedua acara tersebut, seperti seksualitas, kekerasan, mistik dan gosip akan mudah mempengaruhi pikiran dan jiwa anak-anak tanpa kita mampu menghindarinya. (kompas.com, 15/7/2010).

Sekarang sudah jelas dampak buruk program infotainment. Selain mengganggu urusan pribadi karena memasuki dengan semena-mena wilayah domestik warna negara dan menjadikannya konsumsi publik, program infotainment juga berdampak buruk bagi jiwa dan pikiran kita serta anak-anak dan remaja.  Masa, sih, anak kecil lebih fasih bicara soal siapa tidur dengan siapa daripada cara berhitung! Kebangetan!

Pokoknya, jangan hanya disensor, tapi stop saja penayangan program infotainment di televisi-televisi kita. Sekarang!

Bookmark and Share

Tag/Label televisi, program, infotainment, gosip, dampak buruk, anak-anak, remaja, opini
Penilaian anda

Warta terkait
Kirim ke Teman
* Email Teman:
Pisahkan tiap email dengan titik koma.
Contoh: bill@microsoft.com; steve@apple.com
* Email anda:
26 komentar pada warta ini
Sabtu, 17-07-2010 19:35:28 oleh: Mang Kelke

Saya selalu tidak sependapat dengan mereka yang secara gampang menyalahkan acara TV, apapun itu.
Lha wong untuk menghindarinya segampang memencet tombol Remote control, atau mau lebih gampang lagi matikan TV nya.
Apalagi sekarang ini banyak sekali kanal Televisi, ada yang hampir full berita seperti TV One dan Metro TV, disamping juga yang siarannya lebih beragam seperti TransTV, RCTI, Indosiar dll.
Belum lagi TV lokal yang pertumbuhannya sekarang bak cendawan di musim hujan.
Khusus buat anak-anak ada Space toon (Mungkin di Jakarta saja), ada yang muatan acaranya benar-benar menghindari segala sesuatu yang bersifat "tidak mendidik" seperti DAAI TV.
Di Saluran TV 'umum' pun ada berbagai macam acara yang bisa dipilih untuk ditonton, jadi mengapa harus meributkan 1 atau 2 jenis acara saja ?

Yang tidak boleh dilupakan adalah bahwa tanggung jawab untuk mendidik pemirsa - apalagi anak-anak- bukan semata-mata tanggung jawab Station TV, namun peranan masyarakat (baca :orang tua) justru jauh lebih besar.
Kalau memang TV dianggap sebagai 'ancaman' untuk perkembangan kepribadian anak Anda, maka Anda betul-betul harus full concern agar supaya keberadaan Anda lebih menarik bagi anak Anda ketimbang Televisi.

Saya kira, kalau ada anak kecil yang seperti Anda katakan 'lebih fasih bicara soal siapa tidur dengan siapa daripada cara berhitung" yang jelas-jelas paling bersalah adalah orang tuanya, tidak diragukan lagi.




Sabtu, 17-07-2010 20:42:11 oleh: wawan

Solusi 1: infotainmen dilarang, atau setidaknya disensor.
Solusi 2: infotainmen dipindah jam tayangnya menjadi menjadi tengah malam.

Tapi persoalannya adalah segitiga: tuntutan laba industri siaran - keinginan pemirsa - daya tarik selebritis. Jika salah satu dari ketiganya bisa ditekan sampai minimal, saya kira dampak negatif infotainmen bisa ditekan juga.




Sabtu, 17-07-2010 22:08:43 oleh: vani

@Mang Kelke

he he he Mang Kelke pengangguran, ya, sampai bisa mengawasi dan memilihkan acara teve buat anak-anaknya 7 hari dalam seminggu 24 jam dalam sehari

kalau tevenya dijual sekalipun mereka masih bisa nonton ke tetangga he he he

Argumentasinya lemah ...




Sabtu, 17-07-2010 23:57:08 oleh: Mang Kelke

@Vani

Saya kira hanya orang tua bodoh yang terlalu ketakutan dengan TV lah yang musti menjaga dan memilihkan acara TV buat anaknya sampai 24 jam sehari, 7 hari seminggu, lantas kalau ngga bisa melakukan hal tersebut menyalahkan TV nya :)

Ngontrol anak ya nggak musti harus nongkrongin terus 24 jam sehari, tidak terlalu sulit untuk mengontrol dan mengarahkan mereka kalau kita mengenal dengan baik anak kita, termasuk mengetahui acara TV yang menjadi tontonan favorit mereka.




Minggu, 18-07-2010 00:44:58 oleh: vani

@Mang Kelke

Mang ni gimana sih, yang komen: "Lha wong untuk menghindarinya segampang memencet tombol Remote control, atau mau lebih gampang lagi matikan TV nya", khan Mang sendiri.

Artinya khan sama saja tuk memencet tombol remote atau matikan tv itu harus nungguin setiap kali anak nonton teve. Kalau ga ditungguin siapa yg mencetin tombol remote atau matiin tevenya ketika dia memilih chanel yg ga sesuai umurnya, hayo?





Minggu, 18-07-2010 05:51:05 oleh: Mang Kelke

@ Vani
Wah...kok jadi debat kusir gini sih.
Ya sudah, ngikuti bahasa Anda aja.
Emangnya anak kecil nggak bisa mencet remote control ?
Anak saya bisa sih, nggak tau kalau anak Anda....




Minggu, 18-07-2010 09:40:06 oleh: vani

@Mank Kelke

Bukan debat kusir mas. yang jadi masalah: mas yakin anak mas mencet tombol remote ke channel yg mas kehendaki kalau mas ga ada?

Di antara 100, 1 anak mungkin mas bisa diyakini, tapi belum tentu 99 anak-anak lain yg sekarang nonton teve di kamar sendirian. Jadi ketentuan itu dibuat secara umum, mas, bukan secara khusus, artinya ketentuan itu universal.

Survey aja buktiin kalo masih banyak anak remaja yg kecebur ke masalah seksual secara dini.

Hidup jangan egois mas, apalagi seperti katak dalam tempurung




Senin, 19-07-2010 17:02:44 oleh: Mang Kelke

@ Vani
Lha kok malah mengatakan saya egois.
Sebetulnya sudah saya sampaikan secara implisit - mungkin Anda nggak nangkap- bahwa apabila Anda mengenal anak dengan baik, mampu mengontrol anak (anak yang terkontrol itu patuh, baik kita ada maupun tidak), maka Anda tidak perlu terlalu khawatir terhadap apapun, apalagi 'cuma' terhadap Televisi.

Apalagi sekarang ini sudah ada lembaga yang namanya KPI yang tugasnya menyusun rambu-rambu dan etika penyiaran, memonitor dan menghukum, bahkan dapat merekomendasikan agar satu station TV dapat dicabut ijin siarannya, atau di hentikan acaranya kalau betul-betul melakukan pelanggaran, contohnya sudah ada, empat mata nya TRANS7 yang lantas bermetamorfosis jadi bukan empat mata, juga headline news (pagi) Metro TV yang dihentikan selama sekian hari.

Melarang 1 atau 2 acara hanya karena kita tidak mampu mengontrol agar anak kita tidak menontonnya justru adalah sikap egois, dan akan membuat Anda jadi seperti katak dalam tempurung.

Sekali lagi, yang saya tekankan adalah tanggung jawab orang tua untuk mengarahkan, mengajari, dan kalau mungkin menemani anak yang kita sayangi itu agar pada akhirnya dapat memilih sendiri acara TV apa yang layak untuk mereka tonton.




Senin, 19-07-2010 18:28:35 oleh: vani

@Mang Kelke

Eh, ternyata anda yg debat kusir he he he

terserah andalah kalau suka nonton acara gosip he he he




Senin, 19-07-2010 21:45:41 oleh: heri_spica

@vani
bukannya yg namanya debat kusir itu membantah tanpa pake logika atau alasan yg jelas? alias cuma pake emosi belaka?

soal apa yg mau ditonton orang itu emang hak mereka, tapi sebaiknya emang sadar mana acara yg berguna n mana yg nggak

anak2 emang perlu dibimbing n diawasi tapi ga perlu diawasin 24 sehari, cukup dikasih pengertian n kepercayaan aja, kalo mereka melanggar maka apa bentuk hukuman efektif tergantung masing2 ortu mereka

orang dewasa? kesadaran n pengertian dari diri sendiri, cuma bisa nahan diri dan selektif pilih acara tv yg bagus dgn yg jelek

heri_spica




Selasa, 20-07-2010 01:02:16 oleh: Mang Kelke

Mbak Vani yang baik,
Saya tidak setuju dengan tulisan Kang Abdul itu bukan berati karena saya suka acara gosip dan sejenisnya.
Sebagaimana bapak-bapak yang lain, Sinetron dan infotainment justru adalah jenis acara TV yang tidak pernah masuk daftar tontonan saya.
Ini saya cuplikkan lagi komentar pertama saya atas tulisan Kang Abdul

<Quote>
"Saya selalu tidak sependapat dengan mereka yang secara gampang menyalahkan acara TV, apapun itu.
<End of quote>

Harap diingat, penguasa terbesar dari sebuah acara TV bukan produsernya, pengisi acaranya atau bahkan pemiliknya, tapi pemirsa di rumah, Anda, kita.
Sebagus apapun seorang produser meng create sebuah acara, pasti akan segera dihapuskan dari daftar acara kalau tidak ada penontonnya, atau jumlah penontonnya tidak sesuai yang diharapkan.

Jadi kalau Anda ingin sebuah acara TV lenyap dari layar kaca Anda, maka Anda jangan nonton dan ajak orang lain untuk tidak nonton, sesederhana itu.




Selasa, 20-07-2010 09:19:59 oleh: vani

@Mang Kelke

quote komen anda: Jadi kalau Anda ingin sebuah acara TV lenyap dari layar kaca Anda, maka Anda jangan nonton dan ajak orang lain untuk tidak nonton, sesederhana itu.

Nah, itulah masalahnya Mas, ternyata tidak sesederhana yg mas kira.

Ternyata acara infotainment masih terus eksis. Artinya banyak penggemarnya, padahal acara yg banyak penggemarnya belum tentu acara yg baik buat anak-anak kita.

Sudah banyak tulisan, termasuk di internet yg mengajak orang utk tidak menonton acara tv yg jelek, tapi ternyata ratingnya naik terus. Berarti ajakan ini tidak berhasil.

Nah, seperti kehendak para pakar pada tulisan di atas, yakni:

1.Suryadi, dosen dan peneliti sastra dan media culture (budaya media) di Indonesia dari Universiteit Leiden, Belanda

2.Seto Mulyadi, Ketua Komisi Nasional Perlindungan Anak

3.Mulharnetti Syas, Pakar komunikasi yang baru-baru ini penelitiannya untuk disertasi di Universitas Indonesia tentang Studi Budaya Televisi pada Program Infotainment

4.Dan juga 3 institusi Dewan Perwakilan Rakyat, Dewan Pers, dan Komisi Penyiaran Indonesia.

maka program Infotainment di sensor saja.

Mereka juga menyalahkan tv.

Lihat statement pakar, Suryadi di atas:
"praktisi pertelevisian kita sepertinya masih jauh dari dewasa untuk menyadari pekerjaannya sebagai bagian dari upaya mencerdaskan bangsa. Orientasinya ke profit saja. Kebanyakan program infotainment dan reality show tidak mengandung nilai pendidikan kepada para pemirsa televisi kita yang, malangnya, juga terseret kepada yang dibuat oleh media".

Pendapat anda mungkin berguna utk skala kecil, tapi sudah ga mempan utk skala lebih besar. Pakar aja bilang gitu, mas. Oke?




Kamis, 22-07-2010 17:43:49 oleh: Mang Kelke

Mbak Vani
Pada intinya saya ingin mengajak Anda dan kawan-kawan yang lain untuk tidak mudah menyalahkan 'pihak luar', dalam hal perkembangan anak-anak kita tercinta.
TV hanya satu bagian kecil dari persoalan yang harus kita hadapi seiring dengan anak-anak kita yang kian bertumbuh.
Taruh kata semua program TV yang tidak mendidik berhasil di hentikan penayangannya (meskipun saya sangat tidak yakin hal ini bisa terjadi), namun masih ada DVD, juga internet yang semakin hari semakin mudah dirambah oleh semua kalangan.
Anda tidak akan tahu secara persis apa yang anak Anda lakukan di dalam kamar terkunci, misalnya, atau apa yang akan anak Anda jelajahi waktu main-main internet di rumah, apalagi di Warnet., namun justru karena itulah kita harus meyakinkan diri agar pengaruh kita terhadap anak tidak dibatasi oleh jarak jangkau mata, apalagi tangan.

TV, DVD, Internet dll., hanyalah alat yang disamping sangat membantu kita (dan anak2 kita) menambah wawasan, tapi juga berpotensi merusak, seandainya pola konsumsinya tidak terkontrol, baik dari segi waktu maupun muatan yang dikonsumsi.
Sangat baik apabila kita membekali anak-anak kita (dan diri kita sendiri) dengan ketahanan mental, sehingga tidak gampang tergoda dan terpengaruh oleh apapun yang ditawarkan di 'luar'.

Barangkali betul kata Anda, bahwa pendapat saya hanya berguna dalam skala kecil, yaitu skala rumah tangga, namun bukankah sebuah komunitas besar pun terdiri dari komunitas-komunitas kecil ?

Jadi biarkan saja TV-TV itu membuat acara apapun, asal kita dapat meyakinkan bahwa anak kita tidak menonton, atau kalau menonton pun tidak ketularan yang buruk-buruk, maka saya rasa hidup kita tidak akan dihantui ketakutan berlebihan terhadap hal-hal yang seringkali diluar jangkauan kita untuk mengendalikannya.




Sabtu, 24-07-2010 07:51:59 oleh: vani

@Mang Kelke

Ciuman KD-Raul bukti nyata infotainment perusak anak-bangsa, bukan suami istri sah, berciuman lagi di depan publik ... bobrok bobrok. Masih tidak menyalahkan teve, Mas?

Kalau yang berciuman tidak salah, sekalian aja teve siarkan video mesum Aril-Luna di teve. Tobat-tobat. Orang seperti Mang Kelke ini yang hanya menambah rusak bangsa ini.




Sabtu, 24-07-2010 08:04:21 oleh: EKO

Siapa pun yang tidak mau menyalahkan teve dalam kasus infotainment saat ini, sama saja menjadi pendukung pasif kebejatan moral dan ikut bertanggung jawab kerusakan moral anak bangsa.

Sadarlah wahai kaum fasik




Sabtu, 24-07-2010 08:18:31 oleh: heri_spica

TV cuma alat, benda mati yg dipakai manusia, TV tidak punya kesalahan

yg bersalah adalah org yg menayangkan atau membuat acara TV, yg menonton jg ikut bersalah pada diri sendiri atau orang lain kalau tidak mau atau tidak bisa memilih jenis acara yg baik

berciuman tidak salah, tapi harus lihat tempat dan situasi atau siapa atau apa status orang yg melakukan

heri_spica




Minggu, 25-07-2010 00:46:35 oleh: Mang Kelke

@Vani
Hmm...susah juga kalo diskusi dengan orang yang isi kepalanya penuh emosi.
Sangat jelas tidak ada tulisan saya yang membela infotainment, saya menekankan pada pembinaan mental anak-anak kita sendiri.
Lha kalau karena ide pembinaan mental anak itu lantas saya dianggap sebagai orang yang merusak moral bangsa, saya jadinya bisa menarik kesimpulan bahwa Anda ini termasuk orang tua yang lebih senang memperhatikan dan membina orang lain (baca :TV) daripada memperhatikan dan membina anak sendiri.
Padahal memperhatikan dan membina TV itu adalah tugas KPI, mereka pernah menghentikan penayangan empat mata Trans7, menyetop sementara headline news MetroTV karena meloloskan adegan pornografi, sehingga jelas tayangan Ariel-Luna ya nggak bakalan lolos tertayang mentah-mentah di layar kaca kita.

Oh iya ding, saya jadi pengin tahu, Anda tahu KD-Raul berciuman dari mana ? Nonton infotainment kah ? harap dijawab dengan jujur.

Saya jadi ingat ketika kasus Video Ariel-Luna-Cu Tari itu meledak, hampir semua orang mencaci maki mereka bertiga, lucunya, hampir semua orang yang mencaci maki itu memiliki Videonya, bahkan dalam satu kegiatan diklat yang dilakukan oleh sebuah Institusi keagamaan, hampir setiap peserta (semuanya perempuan) memiliki atau pernah nonton video tersebut di HP atau Komputer dengan alasan masing-masing.
Ini mirip dengan Infotainment, dicaci tapi ditonton.
Memang lebih gampang berteriak, memaki dan menyalahkan orang lain (Reality show, infotainment) daripada memaksa diri (dan keluarga) untuk tidak mengkonsumsi tontonan nggak bermanfaat seperti itu.....




Minggu, 25-07-2010 07:24:42 oleh: La Bima

Pendapat mba Vani dan Mang Kelke tarhadap opini "Stop Program Infotainment" keduanya sama-sama memiliki sisi kebenaran. Bedanya, mba Vani lebih menekankan pada pembatasan program-program TV yang nonedukatif,termasuk infotainment dan acara lainnya tentu. Hal yang dinginkan mba Vani pada kenyataannya sulit terealsir. Sebab batasan kepantasan suatu program untuk direlay TV masih sangat multi tafsir. Diperparah lagi dengan animo masyarakat yang sangat tinggi untuk menonton program tersebut. Ini adalah gambaran bahwa sebagian besar masyarakat kita telah kehilangan insting memilih yang terbaik saat dihadapkan pada beberapa alternati pilihan. Contoh nyata; pemilihan Bupati/Wakil Bupati salah satu daerah di Jawa.....?, yang terpilih justru calon Bupati/Wabup yang berselingkuh.

Berangkat dari kompleksitas di atas, Mang Kelke lebih menekankan pada kontrol ketat pada anak-anak kita, terutama dalam usia SMP/SMA yang masih sangat labil. Hal ini juga sangat susah dilakukan. Kenapa? Realitas sering terjadi perebutan remote TV antara si anak dan si ibu. Si anak ingin nonton film kaltun, sementara sang ibu ingin nonton gosip selebrity. Memang implementasi apa yang diinginkan mba Vani maupun Mang Kelke sangat susah diwujudkan. Paling kata akhir, terpulang kepada masing-masing individu.

Menurut saya,(kalau salah dikoreksi) saatnyalah sekarang untuk menjadikan nilai-nilai agama yang kita anut sebagai benteng petahanan dari gempuran pihak-pihak yang senang melihat anak cucu adam hidup bangga dengan bergelimpangan DOSA




Minggu, 25-07-2010 08:42:39 oleh: vani

@Mang Kelke

Alhamdulillah saya mengetahui berita "ciuman haram" KD dan Raul dari Kompas.com pada berita hari pertama, karena saya di kantor lebih banyak online karena pekerjaan, jd setiap pagi sebelum kerja rutin baca news. Bahkan MUI dan KPI juga sudah mempermasalahkannya di Kompas.

Karena saya berdua kerja, maka saya tidak bisa mengawasi 24 jam penuh anak-anak. Semua anak diberi lampu kuning tentang acara yang boleh dan ga boleh. Tapi saya tetap khawatir dengan 8 jam saya di kantor, terutama ketika mereka pulang sekolah dan remote TV sudah di tangan.

Sekarang saya bertanya, untuk apa polisi menangkap bandar sabu, pengedar video porno, kalau sudah cukup dengan mendidik dan menasehati anak agar tidak memakai sabu atau nonton video porno. Pikir mas. Saya tidak menyalahkan pendapat anda, tapi anda ngotot dengan menyalahkan orang yg menyalahkan stasiun televisi yg membuat acara bobrok.

Semua orang juga menasehati anaknya, tapi semua orang juga ingin televisi tidak lagi membuat acara bobrok. Makanya gaul mas, baca forum-forum di internet. sebagian orang tua yg baik pasti keberatan dgn acara-acara televisi yg merusak.

Masalah orang dewasa menonton video porno itu urusan mereka karena sudah dewasa, kalau melanggar hukum sudah bisa dihukum. Yang saya permasalahkan adalah anak-anak yg menurut UU harus dilindungi dari media yg merusak.

Kepala saya memang penuh emosi, tapi emosi cinta kepada anak-anak dan masa depannya.





Minggu, 25-07-2010 08:49:44 oleh: vani

@La Bima

Terimkasih komentar positifnya. Permasalahan utama adalah sudah ditinggalkannya nilai-nilai agama,baik oleh stasiun televisi maupun sebagian pemirsanya.

Mereka ibadat tapi pro maksiat (zinah, porno, ghibah/menggunjing, dll). Buktinya membiarkan acara tersebut terus tayang artinya sama dengan PRO MAKSIAT.

Naudzubillah min dzalik




Minggu, 25-07-2010 20:42:02 oleh: Mang Kelke

Vani
"Karena saya berdua kerja, maka saya tidak bisa mengawasi 24 jam penuh anak-anak"

Lha Anda yang seharian nggak di rumah kok yang disalahin 'pihak luar' sih ?
Ini yang jadi point saya, jangan menyalahkan pihak lain karena ketidak mampuan kita.

Vani
"Sekarang saya bertanya, untuk apa polisi menangkap bandar sabu, pengedar video porno, kalau sudah cukup dengan mendidik dan menasehati anak agar tidak memakai sabu atau nonton video porno. Pikir mas. Saya tidak menyalahkan pendapat anda, tapi anda ngotot dengan menyalahkan orang yg menyalahkan stasiun televisi yg membuat acara bobrok"

Nggak aple to apple.
Bandar Sabu itu jelas-jelas melanggar hukum.
Apakah TV-TV itu melanggar hukum ? Sudah saya tulis berulang-ulang, kalau mereka (TV-TV) itu memang melanggar rambu-rambu dan etika penyiaran, mereka akan kena sangsi, let's KPI do their jobs.

Anda jelas-jelas menyalahkan pendapat saya, malah mengatakan moral saya bobrok, pembela infotainment, baca aja lagi tulisan-tulisan Anda sebelumnya.
Padahal saya tidak sedang membela TV, tapi saya tidak setuju orang yang gampang menyalahkan TV, hanya karena kedua orang tua bekerja (misalnya) lantas tidak mampu mengawasi anak-anaknya.

Oh iya ding...Anda baca Ciuman KD dari Kompas.com, itu sama aja mbak...cuma beda media saja, yang satu media Audio Visual, yang satu media internet, tapi sama-sama memuat berita gosip yang hanya layak dikonsumsi oleh mereka-mereka yang haus dan suka (berita) gosip.

Pertanyaannya adalah, mengapa Kompas.com melansir berita nggak penting seperti itu ? sebab ada konsumennya, yaitu orang-orang seperti Anda.
Sama juga mengapa TV-TV menayangkan program Infotainment ? sebab ada pemirsanya.




Minggu, 25-07-2010 21:13:21 oleh: Abdullah Ibnu Ahmad

@Mang Kelke

Tulisan saya intinya menyalahkan televisi yg menayangkan program yg melanggar UU dalam hal ini infotainment. Untuk membuat tulisan ini so pasti saya harus menonton infotainmentnya terlebih dulu, kalau tidak ngawur namanya menulis tanpa observasi.

Pasal-pasal UU No.32 Tahun 2002 Tentang Penyiaran yg dilanggar oleh Infotainment:

Pasal 4, Pasal 5, Pasal 36, Pasal 42, Pasal 48.

Isi acara infotainment yg menurut para pakar dalam warta di atas (saya bukan pakar tapi mereka), sudah selayaknya disensor:

"Dalam wawancara terpisah kompas.com dengan dosen dan peneliti sastra dan media culture (budaya media) di Indonesia dari Universiteit Leiden, Belanda, Suryadi, Ketua Komisi Nasional Perlindungan Anak Seto Mulyadi, dan pakar komunikasi yang baru-baru ini penelitiannya untuk disertasi di Universitas Indonesia tentang Studi Budaya Televisi pada Program Infotainment, Mulharnetti Syas, disimpulkan bahwa perlu penyensoran program televisi infotainment dan reality show sebelum penayangannya karena program yang tidak mendidik tersebut materinya hanya gosip selebritas, dan opini-opini murahan. Penyesoran dimaksudkan agar program tersebut menjadi bermanfaat bagi pemirsanya, terutama bagi anak-anak dan remaja."

Sampai di sini jelas mereka menyalahkan TV, bukan hanya saya, lho. Kalau anda merasa lebih pintar dari semua pakar dan istitusi di atas, itu terserah anda. Oke?

Kalau saya berpikirnya sederhana saja. Kalau sebagian besar isi infotainment (seperti kata pakar tadi "hanya" gosip selebritas, dan opini-opini murahan) maka selayaknyalah dihentikan. Ngapain disensor kalau akhirnya durasi yg diijinkan dari acara tersebut hanya tersisa beberapa menit karena kebanyakan dipotong.

Silakan saja anda berada pada pendapat anda, yg penting tulisan ini berpegang pada pendapat para pakar dan institusi negara yg lebih dipercaya.





Minggu, 25-07-2010 21:18:34 oleh: Abdullah Ibnu Ahmad

Sedangkan tulisan ini sudah sesuai dgn Pasal 52 Ayat 3 UU tsb:

"Masyarakat sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dapat mengajukan keberatan terhadap program dan/atau isi siaran yang merugikan."

Karena siaran infotaiment merugikan secara moral dan melecehkan syariah agama Islam bagi kami kaum Muslimin, maka tulisan ini dibuat.




Senin, 26-07-2010 07:14:20 oleh: Mang Kelke

@Kang Abdul
"....Penyensoran dimaksudkan agar program tersebut menjadi bermanfaat bagi pemirsanya, terutama bagi anak-anak dan remaja
Sampai di sini jelas mereka menyalahkan TV, bukan hanya saya, lho. Kalau anda merasa lebih pintar dari semua pakar dan istitusi di atas, itu terserah anda. Oke? "

Hmmm...saya jelas bukan pakar, dan saya tidak dalam posisi berbeda pendapat dengan mereka.

Begini, menyensor itu mengatur dan memeriksa dengan seksama sebuah program yang akan ditayangkan di TV agar muatannya tidak bertentangan dengan rambu-rambu dan etika penyiaran.

Untuk Anda ketahui, semua program TV ber genre drama (saat ini) sudah disensor sebelum tayang.
Anda lihat Sinetron-sinetron tidak bermutu, film-film hollywood yang mengumbar syahwat, aurat, darah dan kekerasan, semua lulus sensor dan setelah itu di cap sebagai layak tayang di TV kita.
Sebagian besar sinetron2 itu isinya nggak karu-karuan (kecuali segelintir saja, misalnya Para Pencari Tuhan nya Deddy Mizwar) dan kalau mau ditelaah lebih jauh, pengaruhnya ke pemirsa tidak kalah besar ketimbang Infotainment dan reality show, toh mereka lulus sensor, tayang di berbagai jam termasuk jam utama (prime time) dan sangat potensial ditonton anak-anak.

See...Sensor bukan solusi.
Lantas apakah dilarang saja ?
Give me a break, kita akan kembali ke jaman TVRI.

Jadi saya tetap berpendapat biarkan TV-TV itu membuat program apa saja, kalau mereka melanggar aturan sudah ada KPI, kalau isinya tak bermutu jangan ditonton, kalau takut anak-anak nonton ya kasih pengarahan mereka agar nggak nonton, kalau toh mereka (mungkin) nonton juga, ya bekali dan arahkan mereka agar tidak terseret pengaruh buruknya.

Oh iya ding...soal 'bertentangan dengan syariat Islam' seringkali multitafsir, jadi biar ini jadi wilayah MUI.
Contoh..apakah Program Indonesia Mencari Bakat itu bertentangan dengan syariat Islam karena menayangkan Hudson yang sebentar jadi laki-laki, sebentar jadi perempuan ?
Pastinya Anda akan kes




Jumat, 30-07-2010 11:17:59 oleh: manita

ini dilarang ,itu haram ,yg ini racun, yng itu menyesatkan. . .mending siarin khotbah aja dr pagi ampe malam. . .sapa tau moral bangsa ni bisa berubah. .kalee aja. . .



Kamis, 08-03-2012 19:44:43 oleh: mang ujang

kok bisa/??????????????????????



Tambahkan komentar anda
* Nama lengkap:
* Email:
tidak ditampilkan untuk umum
  • Hal-hal yang perlu diperhatikan :
  • - Berilah komentar yang relevan dengan topik warta ini. Bacalah semua dari warta maupun komentar-komentar lain, sebelum memberi komentar.
  • - Tidak membuat komentar yang bernuansa SARA, pornografi, menyerang pribadi, menyebarkan kebencian dan kekerasan maupun pendapat yang melanggar hukum.
  • - Tidak beriklan di kolom komentar ini.
  • - Gunakan bahasa yang santun dan beri respek pada semua pendapat meskipun berbeda pendapat.
  • - Gunakan nama asli dan bila Anda sudah menjadi anggota Wikimu, upayakan login member terlebih dahulu. Bila belum menjadi anggota, email yang Anda cantumkan di kolom email, tidak akan dimunculkan.
* Komentar:  
captcha Silakan tulis kode disamping ini untuk melanjutkan.

PALING BERGUNA (bulan ini)

TERBANYAK DILIHAT (minggu ini)

TERBARU

50 TAG / LABEL TERPOPULER

 

Link Wikimu


Mau pasang link Wikimu di blog/situs Anda? copy link ini

TESTIMONI PRODUK

Minuman Sereal Baru ENERFILL

Jumat, 05-06-2009 18:04:42 oleh: Rina Linda

Bosan dengan yg biasa??? Minuman sereal ENERFILL, di setiap porsinya mengandung kombinasi 8 Vitamin, Protein, Kalsium & mineral lainnya yg dibutuhkan tubuh. Kombinasi rasa yg nikmat dengan sensasi baru BUTIRAN OATS PADAT di dalamnya bikin ENERFILL sebagai minuman penambah energi dengan kenikmatan rasa yang mudah tersaji. Cukup disajikan dgn 150 ml air panas ke dlam gelas, rasakan sensasi rasa baru coklat atau vanilla. ENERFILL, minuman penunda lapar yang lengkap, enak, lebih mengenyangkan & sehat untuk penambah energimu



Testimoniku:
Fajar Setyo Hartono: Minum Sereal Baru ENERFILL bila disajikan dalam minuman panas dalam gelas kita dapat merasakan sensasi rasa baru coklat atau vanila dan bisa menambah energi setelah minum .

Testimoni selengkapnya... (4 komentar)



Testimoniku Terbaru:
Sergio   pada  Pocari Sweat
David   pada  Momogi Snack
Latif Nur Hidayah   pada  Yakult...Bisa untuk Obat Diare??

SUARA KITA

Simpati Kirim SMS Iklan Seenaknya

Sabtu, 21-02-2009 12:22:33 oleh: Eko Nurhuda
Saya pengguna Simpati sejak pertama kali bisa beli hape di tahun 2002. Sampai sekarang saya masih setia dengan Simpati karena alasan coverage area. Namun belakangan ini kesetiaan saya terganggu karena Simpati suka seenaknya mengirim SMS berisi iklan layanan yang tidak saya butuhkan (dan sering!). Sungguh menyebalkan..!

Suaraku:
melfa: Saya memakai simpati dari thn 1993 waktu itu blm ada kartu hallo suafu saat saya miggrasi ke hallo sampai 2010 tiba2 diputus sama mereka tanpa alasa,saya mohon aktifkan nmr saya itu kembalia



Suara kita selengkapnya... (18 komentar)



Suara Kita Terbaru:
melfa   pada  Simpati Kirim SMS Iklan Seenaknya
gdwmnv   pada  Hutan Pantai Jakarta Dibangun Pemukiman
pjkhfge   pada  Hutan Pantai Jakarta Dibangun Pemukiman

DARI ADMIN

Rekan-rekan,

Wikimu juga mempunyai PUBLIC PROFILE di Facebook jika anda ingin menjadi Fans silahkan kunjungi kami. Jangan ketinggalan kami mempunyai lomba komentar di Public Profile setiap hari Senin dan Kamis. Nantikan terus artikel yang menjadi topik dalam lomba komentar.

Untuk pertanyaan dan masukkan, silahkan email ke

info@wikimu.com

salam,

21 April 2009

Admin.

Masukan, pertanyaan, kritikan terhadap kami silakan kirim email ke info@wikimu.com atau telp : 021-56165522 Senin-Jumat (08.00 - 17.00 WIB)
COPYRIGHT ©2006 WIKIMU.COM - Jurnalisme Publik (Citizen Journalism). All Rights Reserved | PRIVACY POLICY