Tempo memang 'suka bikin gara-gara'. Tulisannya yang tajam dan berbasis data dan fakta, sering membuat pihak-pihak yang diberitakan mati kutu. Ini berkat tradisi liputan investigasi yang cukup lama dan sulit ditandingi media lain.
Di awal minggu ini, mestinya majalah Tempo terbit dan sudah dapat dibaca masyarakat. Namun yang terjadi di Jakarta, kali ini tiba-tiba majalah Tempo menghilang alias sulit ditemukan. Bukan tidak terbit, tetapi begitu selesai dicetak, langsung habis diborong habis oleh orang-orang yang tak teridentifikasi. Diduga, tindakan memborong habis majalah ini , ya supaya masyarakat tidak membaca isi beritanya.
Apa pasal? Majalah Tempo edisi ini memuat berita utamanya adalah rekening tidak wajar dari beberapa jenderal dan perwira polisi. Seorang perwira tinggi Polri bisa memiliki uang sampai milyaran rupiah, sementara gaji sebagai abdi negara tidaklah sebesar itu. Sebagian isi dari majalah ini masih bisa dilihat versi online : http://tempointeraktif.com/hg/hukum/2010/06/29/brk,20100629-259301,id.html
Penasaran dengan isi majalah ini, kemarin aku mencoba mencari di salah satu distributor majalah di Jakarta Selatan. Kali-kali aja dapat. Tetapi kata pemiliknya sudah tidak ada. “Apakah tidak dikirim ke sini?”tanyaku. “Kalau dikirimnya sih pasti dikirim, itu kan kewajiban mesti dikirim ke sini. Tetapi sesudah itu…,”ucapnya tidak dituntaskan sambil tersenyum penuh arti. Buat distributor itu, diborong habis atau tidak, bukan masalah, karena toh pemasukannya sama. Mereka yang dirugikan adalah para pengecer yang tidak mendapat untung . Pembaca juga lebih dirugikan lagi,karena tidak bisa membaca secara utuh. Untungnya sekarang ada versi onlinenya. Jadi bisa mengintip siapa saja jenderal-jenderal yang tajir itu. Kali-kali bisa dimintai sumbangan….;-)
Namun begitu, pihak Tempo pun tidak kekurangan akal. Kemarin cetak ulang dan didistribusikan lagi ke pasar. Tapi karena berita-berita tadi, maka majalah ini jadi mahal. Tadi siang, aku menemukan majalah Tempo di salah satu lapak, biasanya harganya Rp 27.000,00. Sekarang harganya ? “Harganya gila-gilaan. Ini saya jual Rp 50.000,00…”kata penjual itu.
Yaah….ini namanya bagi-bagi rejeki. Para jenderal itu sudah kaya , punya banyak duit. Karena rekeningnya terdeteksi Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi, maka majalah Tempo pun kecipratan rezeki dari naiknya oplah. Pengasong pun mendapat rembesannya juga dengan mahalnya harga majalah….tinggal pembacanya yang tersenyum masam….