Fenomena artis jadi anggota dewan atau pejabat politis – yang aslinya bukan politisi – sudah menjadi berita basi. Tapi fenomena itu sudah terasa keterlaluan ketika bau esek-esek menyeruak ke seantero negeri. Ada apa ini?
Siapa pun di negeri ini berhak untuk ikut memilih atau dipilih dalam kancah perpolitikan. Tapi kalau kemudian banyak orang mempertanyakan para “calon politisi” dari kalangan selebritis yang berbau “syahwat”, koq, ya bisa tampil, mestinya politisi-politisinya yang ditanya. Kemana para kader partai? Apakah mereka sudah keder duluan, dan terpaksa mencari wajah cantik untuk ditampilkan ke depan khalayak pemilih?
Kemana para kader parpol selama ini? Kenapa mereka tidak pernah terlihat batang-hidungnya di tengah rakyat? Ataukah mereka keasyikan menghitung-hitung uang di parpol, sambil menyusun strategi mencari kesempatan ke gedung parlemen, sehingga mereka melupakan rakyat dan turun ke bawah mendengarkan suara rakyat?
Selama ini hampir tidak pernah terdengar kader parpol yang berkarya di tengah masyarakat, apalagi parpolnya. Semua menjadi senyap seketika setelah selesai pemilu atau pemilu kada. Tidak terdengar lagi teriakan lantang seperti di masa kampanye, seakan mereka bersembunyi untuk menghindari tuntutan atas janji-janjinya.
Akhirnya ketika kepercayaan masyarakat mulai luntur terhadap mereka, dan rasa pede itu pun diganti oleh perasaan keder untuk berhadapan dengan rakyat, para politisi itu dengan “cerdas” mengusung-usung paras-paras cantik yang sudah lama dikenal publik, meskipun dikenal karena binal yang penting sudah terkenal.
Sungguh, saya tidak menyalahkan si kuda, tapi si joki bodoh yang salah. Kenapa dia membawa kuda binal ke arena balap karena sama saja dengan mengacaukan acara balapan.