Abdullah Ibnu Ahmad

Kontroversi Sejarah, R.A.Kartini Pahlawan Wanita Bikinan Belanda

Kamis, 22-04-2010 17:58:32 oleh: Abdullah Ibnu Ahmad
Kanal: Opini

Tulisan ini tidak bermaksud mengecilkan jasa-jasa seorang R.A. Kartini yang turut membangkitkan semangat kaum wanita Indonesia untuk maju. Juga tidak merendahkan penghargaan gelar pahlawan kepada beliau oleh pemerintah. Tapi hanya ingin menyadarkan kita bahwa tidak sepenuhnya sejarah itu mutlak benar, dan apa-apa yang kita yakini kebenarannya saat ini bisa saja sebuah kekeliruan yang harus dikoreksi.

Bermula di tahun 1970-an, ketika itu guru besar Universitas Indonesia (UI), Prof. Dr. Harsja W. Bachtiar mengkritik “pengkultusan” R.A. Kartini sebagai pahlawan nasional Indonesia. Dalam buku Satu Abad Kartini (1879-1979), (Jakarta Pustaka Sinar Harapan, 1990 cetakan ke-4), Harsja W. Bachtiar menulis sebuah artikel berjudul: Kartini dan Peranan Wanita dalam Masyarakat Kita. Tulisan ini bernada gugatan terhadap penokohan Kartini. Kita mengambil alih Kartini sebagai lambang emansipasi wanita di Indonesia dari orang-orang Belanda. Kita tidak mencipta sendiri lambang budaya ini, meskipun kemudian kitalah yang mengembangkannya lebih lanjut; tulis Harsja W. Bachtiar, yang menamatkan doktor sosiologisnya di Harvard University. 

Harsja juga menggugat dengan halus, kenapa harus Kartini yang dijadikan sebagai simbol kemajuan wanita Indonesia. Ia menunjuk dua sosok wanita yang hebat dalam sejarah Indonesia. Pertama, Sultanah Seri Ratu Tajul Alam Safiatuddin Johan Berdaulat dari Aceh dan kedua, Siti Aisyah We Tenriolle dari Sulawesi Selatan. Anehnya, tulis Harsja, dua wanita itu tidak masuk dalam buku Sejarah Setengah Abad Pergerakan Wanita Indonesia (Jakarta: Balai Pustaka, 1978), terbitan resmi Kongres Wanita Indonesia (Kowani).  Tentu saja Kartini masuk dalam buku tersebut. Padahal, papar Harsja, kehebatan dua wanita itu sangat luar biasa. Sultanah Safiatudin dikenal sebagai sosok yang sangat pintar dan aktif mengembangkan ilmu pengetahuan. Selain bahasa Aceh dan Melayu, dia menguasai bahasa Arab, Persia, Spanyol dan Urdu. Di masa pemerintahannya, ilmu dan kesusastraan berkembang pesat. Ketika itulah lahir karya-karya besar dari Nurudddin ar-Raniry, Hamzah Fansuri, dan Abdur Rauf. Ia juga berhasil menampik usaha-usaha Belanda untuk menempatkan diri di daerah Aceh. VOC pun tidak berhasil memperoleh monopoli atas perdagangan timah dan komoditi lainnya. Sultanah memerintah Aceh cukup lama, yaitu tahun 1644-1675. Ia dikenal sangat memajukan pendidikan, baik untuk pria maupun wanita.

Tokoh wanita kedua yang disebut Harsja Bachtiar adalah Siti Aisyah We Tenriolle. Wanita ini bukan hanya dikenal ahli dalam pemerintahan, tetapi juga mahir dalam kesusastraan. B.F. Matthes, orang Belanda yang ahli sejarah Sulawesi Selatan, mengaku mendapat manfaat besar dari sebuah epos La-Galigo, yang mencakup lebih dari 7.000 halaman folio. Ikhtisar epos besar itu dibuat sendiri oleh We Tenriolle. Pada tahun 1908, wanita ini mendirikan sekolah pertama di Tanette, tempat pendidikan modern pertama yang dibuka baik untuk anak-anak pria maupun wanita.

Penelusuran Prof. Harsja W. Bachtiar terhadap penokohan Kartini akhirnya menemukan kenyataan, bahwa Kartini memang dipilih oleh orang Belanda untuk ditampilkan ke depan sebagai pendekar kemajuan wanita pribumi di Indonesia. Mula-mula Kartini bergaul dengan Asisten-Residen Ovink suami-istri. Adalah Cristiaan Snouck Hurgronje, penasehat pemerintah Hindia Belanda, yang mendorong J.H. Abendanon, Direktur Departemen Pendidikan, Agama dan Kerajinan, agar memberikan perhatian pada Kartini tiga bersaudara.

Harsja menulis tentang kisah ini. Abendanon mengunjungi Kartini tiga bersaudara dan kemudian menjadi sponsor bagi Kartini. Kartini berkenalan dengan Hilda de Booy-Boissevain, istri ajudan Gubernur Jendral Belanda, pada suatu resepsi di Istana Bogor, suatu pertemuan yang sangat mengesankan kedua belah pihak. Ringkasnya, Kartini kemudian berkenalan dengan Estella Zeehandelaar, seorang wanita aktivis gerakan Sociaal Democratische Arbeiderspartij (SDAP). Wanita Belanda ini kemudian mengenalkan Kartini pada berbagai ide modern, terutama mengenai perjuangan wanita dan sosialisme. Tokoh sosialisme H.H. Van Kol dan penganjur Haluan Etika, C.Th. Van Deventer adalah orang-orang yang menampilkan Kartini sebagai pendekar wanita Indonesia.

Lebih dari enam tahun setelah Kartini wafat pada umur 25 tahun, pada tahun 1911, Abendanon menerbitkan kumpulan surat-surat Kartini dengan judul Door Duisternis tot Lich. Kemudian terbit juga edisi bahasa Inggrisnya dengan judul Letters of a Javaness Princess. Beberapa tahun kemudian, terbut terjemahan dalam bahasa Indonesia dengan judul Habis Gelap Terbitlah Terang: Boeah Pikiran (1922, terjemahan Empat Saudara). Dua tahun setelah penerbitan buku Kartini, Hilda de Booy-Boissevain mengadakan prakarsa pengumpulan dana yang memungkinkan pembiayaan sejumlah sekolah di Jawa Tengah. Tanggal 27 Juni 1913, didirikan Komite Kartini Fonds, yang diketuai C. Th. Van Deventer. Usaha pengumpulan dana ini lebih memperkenalkan nama Kartini, serta ide-idenya pada orang-orang Belanda. Harsja Bachtiar kemudian mencatat; Orang-orang Indonesia di luar lingkungan terbatas Kartini sendiri, dalam masa kehidupan Kartini hampir tidak mengenal Kartini dan mungkin tidak akan mengenal Kartini bilamana orang-orang Belanda ini tidak menampilkan Kartini ke depan dalam tulisan-tulisan, percakapan-percakapan maupun tindakan-tindakan mereka. (docs.google.com)

 

J.H. Abendanon, Menteri yang menulis buku

J.H. Abendanon (1852-1925) adalah Menteri Kebudayaan, Agama, dan Kerajinan Hindia Belanda dari tahun 1900-1905. Ia datang ke Hindia-Belanda pada tahun 1900 dan ditugaskan oleh Belanda untuk melaksanakan Politik Etis.  Karena baru di Hindia-Belanda, Abendanon tidak mengetahui keadaan masyarakat Hindia-Belanda dan tidak paham bagaimana dan dari mana ia memulai programnya. Untuk keperluan itu, Abendanon banyak meminta nasihat dari teman sehaluan politiknya, Snouck Hurgronje, seorang orientalis yang terkenal sebagai arsitek perancang kemenangan Hindia-Belanda dalam Perang Aceh.

Di bawah Abendanon, sejak tahun 1900 mulai berdiri sekolah-sekolah baik untuk kaum priyayi maupun rakyat biasa yang hampir merata di daerah-daerah. Pada tahun ini sekolah Hoofdenscholen (sekolah para kepala) yang lama diubah menjadi sekolah yang direncanakan untuk menghasilkan pegawai-pegawai pemerintahan dan diberi nama baru OSVIA (Opleiding School Voor Inlandsche Ambtenaren).

J.H. Abendanon kemudian dikenal sebagai salah satu teman koresponden Kartini dan dialah yang menulis buku berjudul Door Duisternis tot Licht yang diterjemahkan oleh Armyn Pane menjadi Habis Gelap Terbitlah Terang. Buku Door Duisternis tot Licht di terbitkan tahun 1911 oleh pemerintah Belanda. Buku ini dicetak sebanyak lima kali, dan anehnya pada cetakan terakhir terdapat tambahan surat Kartini. (Wikipedia)

 

Snouck Hurgronje dan sepak terjangnya

Di atas disebutkan peran Snouck Hurgronje sebagai teman bertukar pikiran J.H. Abendanon dalam menjalankan politik etis. Siapa Cristiaan Snouck Hurgronje pasti pembaca sudah banyak yang mengetahuinya. Christiaan Snouck Hurgronje (1857-1936) adalah seorang pendeta Protestan seperti halnya ayah, kakek, dan kakek buyutnya. Sejak kecilnya Snouck sudah diarahkan pada bidang teologi.  Tamat sekolah menengah, dia melanjutkan ke Universitas Leiden untuk mata kuliah Ilmu Teologi dan Sastra Arab di tahun 1875.  Lima tahun kemudian, dia tamat dengan predikat cum laude dengan disertasi Het Mekaansche Feest (Perayaan di Mekah).  Tak cukup bangga dengan kemampuan bahasa Arabnya, Snouck kemudian melanjutkan pendidikan ke Mekkah tahun 1884.  Di Mekkah, keramahannya dan naluri intelektualnya membuat para ulama tak segan membimbingnya. Dan untuk kian merebut hati ulama Mekkah, Snouck memeluk Islam dan berganti nama menjadi Abdul Ghaffar.

Namun, pertemuan Snouck dengan Habib Abdurrachman Az-Zahir, seorang keturunan Arab yang pernah menjadi wakil pemerintahan Aceh, kemudian berhasil “dibeli” oleh Belanda dan dikirim ke Mekkah, mengubah minatnya.  Atas bantuan Zahir dan Konsul Belanda di Jeddah,  JA Kruyt, dia mulai mempelajari politik kolonial dan upaya untuk memenangi pertempuran di Aceh.  Setelah saran-sarannya  tak ditanggapi Gubernur Belanda di Nusantara, Habib Zahir yang kecewa menyerahkan semua naskah penelitiannya kepada Snouck yang saat itu, tahun 1886, telah menjadi dosen di Leiden.

Snouck seperti mendapat durian runtuh. Naskah itu dia berikan pada kantor Menteri Daerah Jajahan Belanda (Ministerie van Kolonieën). Snouck bahkan secara berani menawarkan diri sebagai tenaga ilmuwan yang akan dapat memberikan gambaran lebih lengkap tentang Aceh.

Pada 1889, dia menginjakkan kaki di pulau Jawa, dan mulai meneliti pranata Islam di masyarakat pribumi Hindia-Belanda, khususnya Aceh. Setelah Aceh dikuasai Belanda, 1905, Snouck mendapat penghargaan yang luar biasa. Setahun kemudian dia kembali ke Leiden, dan sampai wafatnya tanggal 26 Juni 1936, dia tetap menjadi penasehat utama Belanda untuk urusan penaklukan pribumi di Nusantara. (Wikipedia).

Melalui bukunya, Snouck Hurgronje en Islam (Diindonesiakan oleh Giriukti Pusaka, dengan judul Snouck Hurgronje dan Islam tahun 1989) P.Sj. Van Koningsveld memaparkan sosok dan kiprah Snouck Hurgronje dalam upaya membantu penjajah Belanda untuk menaklukan Islam. Untuk mengikuti jejak orientalis Yahudi, Ignaz Goldziher, yang menjadi murid Syekh al-Azhar Kairo, Snouck sampai merasa perlu untuk menyatakan diri sebagai seorang Muslim (1885) dan mengganti nama menjadi Abdul Gaffar seperti disebutkan di atas. Dengan itu dia bisa diterima menjadi murid para ulama Mekkah. Posisi dan pengalamannya ini nantinya memudahkan langkah Snouck dalam menembus daerah-daerah Muslim di berbagai wilayah di Indonesia.

Menurut Van Koningsveld, pemerintah kolonial mengerti benar sepak terjang Snouk dalam penyamarannya sebagai Muslim. Snouck dianggap oleh banyak kaum Muslim di Nusantara ini sebagai ulama. Bahkan ada yang menyebutnya sebagai Mufti Hindia Belanda. Juga ada yang memanggilnya Syaikhul Islam Jawa. Padahal, Snouck sendiri menulis tentang Islam; Sesungguhnya agama ini meskipun cocok untuk membiasakan ketertiban kepada orang-orang biadab, tetapi tidak dapat berdamai dengan peradaban modern, kecuali dengan suatu perubahan radikal, namun tidak sesuatu pun memberi kita hak untuk mengharapkannya (hal 116).

Dalam bukunya, Politik Islam Hindia Belanda (Jakarta, LP3ES, 1985), Dr. Aqib Suminto mengupas panjang lebar pemikiran dan nasehat-nasehat Snouck Hurgronje kepada pemerintah kolonial Belanda. Salah satu strateginya adalah melakukan pembaratan kaum elite pribumi melalui dunia pendidikan, sehingga mereka jauh dari Islam. Sedangkan pengaruh Barat yang mereka miliki akan mempermudah mempertemukannya dengan pemerintahan Eropa. Snouck optimis, rakyat banyak akan mengikuti jejak pemimpin tradisional mereka.

 

Politik Etis, balas budi Belanda atau perlawanan terhadap syiar Islam?

Sebelumnya telah disinggung mengenai Poltik Etis sebagai program pemerintah Belanda yang harus dijalankan oleh J.H. Abendanon sebagai Menteri Kebudayaan, Agama, dan Kerajinan Hindia Belanda.

Politik Etis atau Politik Balas Budi adalah suatu pemikiran yang menyatakan bahwa pemerintah kolonial memegang tanggung jawab moral bagi kesejahteraan pribumi. Pemikiran ini merupakan kritik terhadap politik tanam paksa yang diterapkan sebelumnya. Dengan dipelopori oleh Pieter Brooshooft (wartawan Koran De Locomotief) dan C.Th. van Deventer (seorang politikus), pemikiran ini diterima oleh pemerintah kolonial seperti disebutkan dalam pidato Ratu Wilhelmina pada tanggal 17 September 1901, pada saat baru naik tahta di pembukaan Parlemen Belanda, bahwa pemerintah Belanda mempunyai panggilan moral dan hutang budi (een eerschuld) terhadap bangsa pribumi di Hindia Belanda. Ratu Wilhelmina menuangkan panggilan moral tadi ke dalam kebijakan politik etis, yang terangkum dalam program Trias Politika yang meliputi:

1. Irigasi (pengairan), membangun dan memperbaiki pengairan-pengairan dan bendungan untuk keperluan pertanian

2. Emigrasi yakni mengajak penduduk untuk transmigrasi

3. Memperluas dalam bidang pengajaran dan pendidikan (edukasi).

Namun sayangnya, penjajah tetaplah penjajah, niat baik dari penggagas politik etis ini dimanfaatkan oleh pemerintah kolonial untuk memperkuat cengkeraman kuku-kuku penjajahannya di bumi Nusantara. Kebijakan pertama dan kedua disalahgunakan oleh Pemerintah Belanda dengan membangun irigasi untuk perkebunan-perkebunan Belanda dan transmigrasi dilakukan dengan memindahkan penduduk ke daerah perkebunan Belanda untuk dijadikan pekerja rodi. (Wikipedia)

Hanya pendidikan yang berarti bagi bangsa Indonesia, namun ini pun dilakukan dengan memaksakan pemikiran dan budaya Barat ke dalam jiwa orang pribumi dan mencoba menyingkirkan cara pandang Islam yang sudah terlebih dulu tumbuh di sanubari orang Jawa.

Pakar sejarah Melayu, Prof. Naquib Al-Attas sudah lama mengingatkan adanya upaya yang sistematis dari orientalis Belanda untuk memperkecil peran Islam dalam sejarah Kepulauan Nusantara. Dalam bukunya, Islam dalam Sejarah dan Kebudayaan Melayu (Bandung: Mizan, 1990, cet.Ke-4), Prof. Naquib al-Attas menulis tentang masalah ini; Kecenderungan ke arah memperkecil peranan Islam dalam sejarah Kepulauan ini, sudah nyata pula, misalnya dalam tulisan-tulisan Snouck Hurgronje pada akhir abad yang lalu. Kemudian hampir semua sarjana-sarjana yang menulis selepas Hurgronje telah terpengaruh kesan pemikirannya yang meluas dan mendalam di kalangan mereka, sehingga tidak mengherankan sekiranya pengaruh itu masih berlaku sampai dewasa ini.

 

Apa hubungan Kartini dengan Snouck Hugronje?

Dalam sejumlah suratnya kepada Ny. Abendanon, Kartini memang beberapa kali menyebut nama Snouck. Tampaknya, Kartini memandang orientalis-kolonialis Belanda itu sebagai orang hebat yang sangat pakar dalam soal Islam. Dalam suratnya kepada Ny. Abendanon tertanggal 18 Februari 1902, Kartini menulis;

Salam, Bidadariku yang manis dan baik! … Masih ada lagi satu permintaan penting yang hendak saya ajukan kepada Nyonya. Apabila Nyonya bertemu dengan teman Nyonya Dr. Snouck Hurgronje, sudikah Nyonya bertanya kepada beliau tentang hal berikut; Apalah dalam agama Islam juga ada hukum akil balig seperti yang terdapat dalam undang-undang bangsa Barat? Ataukah sebaiknya saya memberanikan diri langsung bertanya kepada beliau? Saya ingin sekali mengetahui sesuatu tentang hak dan kewajiban perempuan Islam serta anak perempuannya. (Buku: Surat-surat kepada Ny. R.M. Abendanon-Mandri dan Suaminya, penerjemah: Sulastin Sutrisno, Jakarta: Penerbit Djambatan, 2000, hal 234-235).

 

Pemahaman agama Islam Kartini yang dangkal

Walaupun kakeknya (ayah ibunya, Kyai Haji Madirono, adalah seorang ulama dan guru agama, ternyata pemahamannya tentang agama Islam masih sangat dangkal. Salah satu sebabnya, seperti diakui sendiri oleh Kartini dalam suratnya kepada nona Zeehandelaar, 6 Nopember 1899, adalah pemahamannya tentang Alquran yang sangat kurang karena tidak mengerti isinya.

Lagi pula, sebenarnya agamaku agama Islam, hanya karena nenek moyangku beragama Islam. Manakah boleh aku cinta akan agamaku, kalau aku tiada kenal, tiada boleh aku mengenalnya? Qur’an terlalu suci, tiada boleh diterjemahkan ke dalam bahasa mana jua pun. Di sini tiada orang yang tahu bahasa Arab. Orang diajar di sini membaca Qur’an, tetapi yang dibacanya itu tiada ia mengerti. Piiranku, pekerjaan gilakah pekerjaan semacam itu, orang diajar di sini membaca, tetapi tidak diajarkan makna yang dibacanya itu. Sama saja engkau mengajar aku membaca kitab bahasa Inggris, aku harus hafal semuanya, sedangkan tiada sepatah kata jua pun yang kau terangkan artinya kepadaku. Sekalipun tiada jadi orang saleh,kan boleh juga orang jadi orang baik hati, bukan Stella?

 

Di bagian lain dari surat itu Kartini menulis:

Ya, Tuhanku, ada kalanya aku berharap, alangkah baiknya jika tidak ada agama itu, karena agama itu, yang sebenarnya harus mempersatukan semua hamba Allah, sejak dari dahulu-dahulu menjadi pangkal perselisihan dan perpecahan, jadi sebab perkelahian berbunuh-bunuhan yang sangat ngeri dan bengisnya.

Keinginan Kartini yang luar biasa untuk bertemu dan berdiskusi dengan Snouck Hurgronje dan kekagumannya dengan sosok orientalis Belanda tersebut, maka tidak tertutup kemungkinan pemikiran Kartini sudah dipengaruhi secara luas oleh pemikiran Snouck yang sebetulnya sangat ingin menjauhkan Islam dari kehidupan orang pribumi. Seperti kebencian Kartini dengan poligami dan lembaga perkawinan, seperti disebutkan pada suratnya kepada nona Zeehandelaar.

Meskipun seribu kali orang mengatakan, beristri empat itu bukan dosa menurut hukum Islam, tetapi aku, tetap selama-lamanya aku mengatakan itu dosa. 

Mengertikah engkau sekarang apakah sebabnya maka sesangat itu benar benciku akan perkawinan? Kerja yang serendah-rendahnya maulah aku mengerjakannya dengan berbesar hati dan dengan sungguh-sungguh, asalkan aku tiada kawin, dan aku bebas. Tetapi, tiada suatu jua pun boleh dikerjakan, karena menilik kedudukan Bapak.

 

Keraguan atas surat-surat Kartini

Secara umum surat-surat R.A. Kartini kepada teman-teman korespondensinya hanya diketahui dari buku J.H. Abendanon. J.H. Abendanon dan istrinya mengaku sebagai salah satu teman korespondensi Kartini, dimana beberapa surat Kartini yang ditujukan kepadanya dan istrinya juga turut dipublikasikan di dalam bukunya itu. Namun sampai sekarang, sebagian besar naskah asli surat-surat Kartini yang dijadikan bahan penulisan buku tersebut maupun jejak J.H. Abendanon sendiri sebagai penulis dan keturunannya belum ditemukan, sehingga ada dugaan sebagian surat-surat Kartini atau isinya direkayasa oleh J.H. Abendanon. Kecurigaan ini timbul karena memang buku Kartini terbit saat pemerintahan kolonial Belanda menjalankan politik etis di Hindia Belanda, dan Abendanon termasuk yang berkepentingan dan mendukung politik etis.

 

Layakkah Kartini sebagai pahlawan Indonesia?

Seperti halnya beberapa warisan kolonial Belanda lainnya yang sampai sekarang masih dipertahankan dan dijadikan acuan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara di Indonesia, seperti peraturan perundangan-undangan dan hukum, maka kepahlawanan seorang R.A. Kartini ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab kita sebagai bangsa, apakah akan terus dipertahankan atau dikoreksi keberadaannya. 

Kalau dibaca secara mendalam surat-suratnya itu, maka Kartini adalah seorang wanita yang tertekan dengan budaya Jawa dan keislamannya, dan ingin melarikan diri daripadanya. Penyesalannya terlahir sebagai anak gadis Jawa terekam dalam suratnya kepada Nyonya Ovink-Soer (Awal tahun 1900):

Aduh alangkah pedihnya, sedihnya rasa hatiku. Sangat sengsaranya menjadi seorang anak gadis Jawa, sedang dia ada berperasaan halus. Ibu bapakku, kasihan, kasihan, nasib celaka manakah yang memberikan kami ini kepadanya jadi anaknya?

Bookmark and Share

Tag/Label kartini, pahlawan, wanita, perempuan, emansipasi, kontroversi, opini
Penilaian anda

Kirim ke Teman
* Email Teman:
Pisahkan tiap email dengan titik koma.
Contoh: bill@microsoft.com; steve@apple.com
* Email anda:
21 komentar pada warta ini
Jumat, 23-04-2010 00:24:10 oleh: nanda

Di Jawa Barat juga ada pahlawan pendidikan wanita. Beliau pada zamannya sudah mendirikan sekolah-sekolah (sebagai lembaga) untuk kaum perempuan di jawa barat, namanya sekolah kautamaan istri, mungkin cikal bakal dari sekolah kesejahteraan keluarga di orde baru. Nama pahlawan itu Rd. Dewi Sartika, beliau lahir jauh sebelum RA Kartini lahir.



Jumat, 23-04-2010 06:35:56 oleh: wahyu hananto pribadi

kartini tetap sangat layak jadi pahlawan... esensi yg terkandung dalam perjalanan kartini dg tidak mengurangi kepahlawanan tokoh perempuan yg lain memberi dampak luar biasa bagi loncatan peradaban perempuan indonesia... khususnya jawa sebagai agen peradaban di tanah air.. dari data di atas kami simpulkan.
1. kartini gadis jawa tertekan karena budaya yg dikuasai kaum lelaki.
2. kartini pemeluk islam yg sangat paham bahwa mempelajari makna kitab suci sangat penting dibanding hanya sekedar menghafal. pemahaman luar biasa pada jamannya untuk seorang perempuan.
3.kartini mampu menembus dunia luar melalui surat dan membuka mata dunia tentang peradaban di tanah jawa.. dan indonesia
terimakasih




Jumat, 23-04-2010 09:23:58 oleh: yani prawiro

dihatiku RA Kartini akan selalu jadi inspiring woman, btw artikel di atas menambah wawasan. tapi tolong, memahami pemikiran RA Kartini jangan sepotong sepotong mengambil isi suratnya untuk memberi pembenaran pendapat anda. Kalau benar anda telah membaca bukunya secara utuh, anda akan memahami bahwa endingnya tidak seperti yang anda sangkakan. yang anda ambil hanya salah satu fase dalam tahapan tahapan pemikirannya menuju kedewasaan. ingat beliau meninggal di usia 25. berarti beliau menulis surat-suratnya pada usia yang relatif muda untuk pemikiran yang kritis terhadap kondisi sosial disekelilingnya, di zaman yang minim akses informasi. Saya sangat mendukung penulusuran kembali sejarah mengenai perempuan-perempuan brilliant Indonesia. Hidup Perempuan Indonesia!!! Selamat Hari Kartini



Jumat, 23-04-2010 10:37:21 oleh: johanes PW

banyak kontroversi tentang pahlawan indonesia, dari sudut mana memandangnya, dari sudut penjajah, dari sudut terjajah, dari sudut keluarga, teman, musuh, darimana penulis melihatnya? yang penting bukti dan saksi (kalau ada) sejarah. banyak kepala banyak pemikiran banyak tujuan dan banyak lagi, itu demokrasi



Jumat, 23-04-2010 11:11:01 oleh: Novi Kusumayanti

Menurut pendapat saya, Kartini dijadikan tokoh emansipasi karena beliau hidup dalam budaya yang sangat mengekang perempuan. Terlebih beliau berasal dari keluarga ningrat yang (menurut pemahaman saya loh) statusnya tidak boleh lebih tinggai dari kaum pria. Paling tidak RA Kartini sudah memperjuangkan agar perempuan bisa mengecap pendidikan. Beda dengan Cut Nyak Dhien, Christina Martha Tiahahu ataupun laksamana Malahayati. Yang karena kondisi pada masanya beliau2 dapat turut berjuang langsung di medan pertempuran tanpa adanya pandangan pantas/tidak pantas dilakukan oleh perempuan. Bagi saya, beliau2 adalah wanita hebat dalam bidangnya masing2 yang menginspirasi perempuan Indonesia untuk lebih maju.



Sabtu, 24-04-2010 19:04:13 oleh: tjahjajun

Surat-surat Kartini bisa diibaratkan Blog pada masa kini. Setiap orang bisa membuat blog yang bagus baik isi maupun tampilannya, tapi belum tentu blog itu mampu menarik minat netter untuk membacanya. Bisa jadi blog si Anu berisi pemikiran cerdas ternyata sepi traffic, sedangkan blog si Una yang hanya berisi kisah jalan-jalan malah ramai pengunjung dan bila dicari di search engine menduduki ranking atas.
Kartini berhubungan dengan orang yang tepat, dlm hal ini Abendanon, sehingga pemikirannya terpublikasikan dengan efektif. Bagaimanapun, Kartini adalah seorang visioner, yang berpikir jauh melampaui jamannya. Tentunya wajar bila pola pikirnya dipengaruhi orang Belanda, karena kepada siapa lagi seorang putri priyayi bisa berdiskusi pada jaman itu.
Adapun ungkapan kekecewaannya kepada bangsa dan agamanya adalah gugatan yang sangat relevan dan cerminan dari kecintaannya kepada masyarakat dan lingkungannya. Jika kita kembalikan kepada diri kita sendiri saat ini, tentunya tidak berlebihan bila kita kecewa bahwa korupsi tanpa ujung membelit bangsa kita, yang mendeklarasikan dirinya sebagai bangsa beragama berketuhanan. Mengutip ungkapan dari Eep SF : bangsa saya yang menyebalkan ; tentunya itupun muncul dari kecintaannya kepada bangsanya.
Seorang visioner yang melampaui jamannya, kiranya itulah Kartini, semoga dia bahagia di alam sana




Sabtu, 24-04-2010 22:48:23 oleh: Retty N. Hakim

Semoga saja kita belajar untuk lebih memperjuangkan pendidikan anak bangsa. Tulisan saya yang dahulu http://www.wikimu.com/News/displaynews.aspx?id=2123



Minggu, 25-04-2010 22:00:26 oleh: bondan

ini bukan masalah layak atau tidak jadi pahlawan mas dul, ini masalah meluaskan spektrum berfikir kita atas makna sejarah dan kesejarahan sebuah persitiwa, korupsi ingatan kita sudah sangat akut, mulai dari zaman belanda sampai pak harto. kita tidak hendak menghardik dan menagih sejarah, yang perlu kita lakukan adalah melengkapi dan memperkaya. bergerak di luar mainstream dan narasi besar akan semakin mendewasakan kita berbangsa...



Sabtu, 10-07-2010 03:19:43 oleh: marcopolo

menurut saya pahlawan itu ditinjau dari hal apa yg telah diperbuat untuk kemerdekaan..melalui darah,kemampuan mengusir penjajah..krn penjajah ngak pernah takut atas namanya pulpen dan kertas..penjajah cuma takut pada perang gerilya dan pedang....



Kamis, 21-04-2011 12:42:04 oleh: sasuke

hari kartini ane rasa harus diganti, jadi hari pahlawan wanita....

indonesia luas bung dari sabang sampai merauke, pahlawan wanita emangnya cuma dia doank...

baca nech pahlawan wanita yang perjuangannya lebih berat dari kartini :

http://urangminang.wordpress.com/2008/04/22/rohana-kuddus/

http://rinyyunita.wordpress.com/2008/04/20/rohana-kuddus-dan-paradigma-emansipasi/

http://yulian.firdaus.or.id/2004/12/04/raden-dewi-sartika/

http://serbasejarah.wordpress.com/2009/03/30/cut-nyak-dien-1850-1908-perempuan-aceh-berhati-baja/

http://www.tokohindonesia.com/ensiklopedi/c/cut-nyak-meutia/index.shtml

http://ranahbundo.blogspot.com/

http://id.wikipedia.org/wiki/Martha_Christina_Tiahahu

http://adekrawie.wordpress.com/2008/01/10/laksamana-malahayati-pahlawan-emansipasi-yang-terlupakan/

http://id.wikipedia.org/wiki/Malahayati

http://portalbugis.blogspot.com/2009/12/emmy-saelan_20.html

http://www.makassarterkini.com/index.php?option=com_content&view=article&id=442:sejarah&catid=47:seni&Itemid=71

semoga di masa depan hari kartini di ganti jadi hari pahlawan wanita biar lebih ADIL...




Selasa, 26-04-2011 14:59:13 oleh: raodatul jannah

smoga tulisan tsb menambah wawasan kita dan lbh pada upaya untuk meluruskan sejarah..



Rabu, 06-07-2011 23:27:42 oleh: emanuel sitompul

menurutku sah2 aja sich kalau RA KARTINI jadi pahlawan,harusnya yg mesti kita bahas dan kita luruskan sejarah G 30 S,Betul nggak gan?????




Rabu, 06-07-2011 23:43:24 oleh: pandjaitan

setuju dg bang tompul,Bangsa yang Besar adalah bangsa yang menghargai jasa Pahlawannya.
Untungnya apa membandingkan Kartini dengan Dewi Sartika?Beliau berdua dan pahlawan2 wanita yang lain saya anggap sebagai pahlawan semua pada massanya.jd kita hormati bukan di perdebatkan,yang penting kita do'akan mereka semua tenang di alam sana.




Selasa, 24-04-2012 21:02:56 oleh: YULIS

Memang dari dulu sampai sekarang orang2 barat identik dengan orang hebat,modern dan selalu terdepan....bagaimanapun orang barat selalu memimpin peradapan...tidak hanya kartini atau kekaisaran jepang yang mengakui...banyak tokoh tempo dulu yang mengakui.Jadi apalagi?kalo ingin Indonesia maju harus mengekor amerika,prancis,inggris,rusia dlll.Jepang ,korea selatan,singapura adalah contoh negara asia yang sukses meniru peradapan bangsa barat....



Kamis, 29-11-2012 18:41:27 oleh: morgan sinu

politik pecah belah ketika tidak bermasalah ya tidak usah dipermasalahkan memperkeruhsuasana saja ada sisi positip dan negatif ga usah menimbulkan polemik yang kurang bermanfaat mending buat mikir yang lain yang bersifat membangun bangsa bukan mlah memecah belah toh menurut anda juga masih dugaan ntar jangan jangan ada yang mendebat lagi pernyataan anda habis waktu negara ini buat mkirin gituan mending buat mikirin kemajuan dan pembangunan bangsa ini sudah ketinggalan dengan bangsa lain jangan mlah hbis memikirkan masa lalu songsonglah masa depan dan jaga yang sudah ada kita sudah bisa menikmati emansipasi



Minggu, 07-04-2013 20:23:26 oleh: Iffah

minggu,7 April 2013
yah..memang begitulah fakta sejarah...ada banyak hal yang harus kita kritisi...saya tertegun juga ketika mendengar sebuah hasil penelitian oleh seorang BUya Hamka...bahwa PAttimura nama kecilnya adalah Ahmad Lussy, bukan thomas MAtulessy, karena marga pattimura yang ada di daerah saparua adalah pemeluk islam taat...
artinya tanpa harus berburuk sangka, gunakan daya kritis dan piau analisa secara bijaksana...




Jumat, 19-04-2013 13:57:06 oleh: roy

sejarah milik penguasa. kartini gak ada apa2nya dibanding dewi sartika. ngomong emansipasi tapi mau dijadiin selir. istri keempat pula. lagipula waktu itu kartini bikin sekolah cuma untuk priyayi. dewi sartika bikin sekolah untuk rakyat jelata. bedanya bapak dewi sartika anti belanda, makanya belanda gak suka.



Selasa, 06-08-2013 07:24:01 oleh: mahmud jahya

wah, saya baru mendapat pencerahan, kalo itu memang benar, harus cepat2 diralat ketokohan kartini, ngapain kita agung2kan tapi hanya menjadi alat propangganda pihak penjajah, memang benar juga kita tidak tahun apa benar isi surat2 kartini seperti itu, jangan hanya rekayasa pihak penjajah agar kelihatan mereka berbalas budi ke kita, agar kita semakin simpati ke mereka, walaupun negara kita sudah di keruk habis2an.



Senin, 21-04-2014 12:07:21 oleh: Khaerudin

Menurut ku "Kartini" hanyalah tokoh wanita pahlawan bagi Belanda tetapi bukan untuk kita (orang Indonesia).



Senin, 21-04-2014 16:16:27 oleh: ismed yulianto

Sejarah itu milik rezim yg berkuasa saat itu, pemutar balikan fakta sejarah untuk kepentingan nama baik rezim sering terjadi dan dianggap sah2 saja. Tengok saja kisah Ronggolawe si pahlawan Majapahit yg di cap sbg pemberontak juga Ario Penangsang yang menuntut haknya sbg pewaris tahta Demak yg sah dibunuh dg siasat yg licik. sekarang tergantung dg kita mau meluruskan atau biarkan saja..



Senin, 21-04-2014 19:17:57 oleh: Abdul Wahab

Rasanya tak pantas bila seorang kartini jd inspirator bg wanita indonesia jika dibandingkan dengan dua wanita yg telah disebutkan penulis diatas

sangat mencolok sekali perbedaannya, kedekatan kartini dengan nyonya2 belanda berbeda dengan sulthonah dr aceh yg gigih dlm memerangi belanda di bumi aceh

Hemmm....
KOreksi....
Koreksi......




Tambahkan komentar anda
* Nama lengkap:
* Email:
tidak ditampilkan untuk umum
  • Hal-hal yang perlu diperhatikan :
  • - Berilah komentar yang relevan dengan topik warta ini. Bacalah semua dari warta maupun komentar-komentar lain, sebelum memberi komentar.
  • - Tidak membuat komentar yang bernuansa SARA, pornografi, menyerang pribadi, menyebarkan kebencian dan kekerasan maupun pendapat yang melanggar hukum.
  • - Tidak beriklan di kolom komentar ini.
  • - Gunakan bahasa yang santun dan beri respek pada semua pendapat meskipun berbeda pendapat.
  • - Gunakan nama asli dan bila Anda sudah menjadi anggota Wikimu, upayakan login member terlebih dahulu. Bila belum menjadi anggota, email yang Anda cantumkan di kolom email, tidak akan dimunculkan.
* Komentar:  
captcha Silakan tulis kode disamping ini untuk melanjutkan.

PALING BERGUNA (bulan ini)

TERBANYAK DILIHAT (minggu ini)

TERBARU

50 TAG / LABEL TERPOPULER

 

Link Wikimu


Mau pasang link Wikimu di blog/situs Anda? copy link ini

TESTIMONI PRODUK

Minuman Sereal Baru ENERFILL

Jumat, 05-06-2009 18:04:42 oleh: Rina Linda

Bosan dengan yg biasa??? Minuman sereal ENERFILL, di setiap porsinya mengandung kombinasi 8 Vitamin, Protein, Kalsium & mineral lainnya yg dibutuhkan tubuh. Kombinasi rasa yg nikmat dengan sensasi baru BUTIRAN OATS PADAT di dalamnya bikin ENERFILL sebagai minuman penambah energi dengan kenikmatan rasa yang mudah tersaji. Cukup disajikan dgn 150 ml air panas ke dlam gelas, rasakan sensasi rasa baru coklat atau vanilla. ENERFILL, minuman penunda lapar yang lengkap, enak, lebih mengenyangkan & sehat untuk penambah energimu



Testimoniku:
Fajar Setyo Hartono: Minum Sereal Baru ENERFILL bila disajikan dalam minuman panas dalam gelas kita dapat merasakan sensasi rasa baru coklat atau vanila dan bisa menambah energi setelah minum .

Testimoni selengkapnya... (4 komentar)



Testimoniku Terbaru:
Sergio   pada  Pocari Sweat
David   pada  Momogi Snack
Latif Nur Hidayah   pada  Yakult...Bisa untuk Obat Diare??

SUARA KITA

Simpati Kirim SMS Iklan Seenaknya

Sabtu, 21-02-2009 12:22:33 oleh: Eko Nurhuda
Saya pengguna Simpati sejak pertama kali bisa beli hape di tahun 2002. Sampai sekarang saya masih setia dengan Simpati karena alasan coverage area. Namun belakangan ini kesetiaan saya terganggu karena Simpati suka seenaknya mengirim SMS berisi iklan layanan yang tidak saya butuhkan (dan sering!). Sungguh menyebalkan..!

Suaraku:
melfa: Saya memakai simpati dari thn 1993 waktu itu blm ada kartu hallo suafu saat saya miggrasi ke hallo sampai 2010 tiba2 diputus sama mereka tanpa alasa,saya mohon aktifkan nmr saya itu kembalia



Suara kita selengkapnya... (18 komentar)



Suara Kita Terbaru:
melfa   pada  Simpati Kirim SMS Iklan Seenaknya
gdwmnv   pada  Hutan Pantai Jakarta Dibangun Pemukiman
pjkhfge   pada  Hutan Pantai Jakarta Dibangun Pemukiman

DARI ADMIN

Rekan-rekan,

Wikimu juga mempunyai PUBLIC PROFILE di Facebook jika anda ingin menjadi Fans silahkan kunjungi kami. Jangan ketinggalan kami mempunyai lomba komentar di Public Profile setiap hari Senin dan Kamis. Nantikan terus artikel yang menjadi topik dalam lomba komentar.

Untuk pertanyaan dan masukkan, silahkan email ke

info@wikimu.com

salam,

21 April 2009

Admin.

Masukan, pertanyaan, kritikan terhadap kami silakan kirim email ke info@wikimu.com atau telp : 021-56165522 Senin-Jumat (08.00 - 17.00 WIB)
COPYRIGHT ©2006 WIKIMU.COM - Jurnalisme Publik (Citizen Journalism). All Rights Reserved | PRIVACY POLICY