Bagi sementara ibu-ibu rumah tangga, nama Alfredo berkonotasi tokoh dalam telenovela, tapi bagi orang Timor Timur (Timor Leste), juga tentara Australia di sana berarti pemberontakan, kerikil dalam sepatu. Peristiwa 27 Mei 2006 lalu di Timor Leste bermula dari pemecatan 600 tentara reguler, yang lantas ngambek menanggalkan seragamnya dan lari menaiki gunung yang memang kekayaan Timor. Begitu tentara melakukan desersi, bisa diduga, geng-geng anak muda yang memang pengangguran mulai menjarah dan membakari toko-toko.
Lalu muncul dendam kesumat lama yang sudah mendarah daging sejak jaman nenek moyang, yaitu perang saudara antar kawasan barat dengan timur. Tigapuluh orang tewas dalam huru hara yang mengharu biru ini sehingga Xanana lempar handuk dan bergemalah SOS ke penjuru dunia memasuki lubang telinga sang promotor kemerdekaan, Australia.
Gegeran ini dipicu ulah Mendagri Rogerio Lobato dan Mentri Pertahanan Roque Rodriguez yang memecat tentara, termasuk Alfredo Reinado. Tidak terima di PHK sepihak Alfredo segera mengajak teman-temannya masuk desa, sambil tak lupa membawa 2 truk penuh berisi amunisi dan persenjataan.
Siapa Alfredo sang "Gringo van Dili ini?"
Alfredo Reonado (39) aselinya adalah putra Flores.
Ayah dari tiga anak ini, Jose 11, Donovan 9, Diffany 2 dan istrinya sedang mengandung bayi ini semula adalah marinir yang mengepalai pelabuhan Dili dan kapten kapal perang. Tak lama kemudian setelah referendum, ia ditawari pekerjaan sebagai militer dan membawahi armada patroli di Dili. Cerita mengenai mayor 39 tahun ini agak simpang siur maklum ia dibesarkan oleh intelejen Australia sebagai klandestin sehingga banyak ceritanya yang satu sama lain bertabrakan. Konon di tangannya pula, pembakaran dan kekacauan paska referendum membuat Indonesia diposisi terpojok.
Yang jelas tahun 1975 ia dibawa oleh John pamannya kabur dari Lorosae, lalu sempat tertangkap TNI saat memasuki Timor dan sejak itu ia bekerja sebagai kuli panggul. Cerita perkosaan, pembunuhan yang dinyanyikan Alfredo memang dibeli oleh Australia. Iapun berlatih militer di Australia.
Tahun 1995 ia membawa membawa pelarian politik ke Darwin, lalu pindah ke Perth 1996. Selama di perantauan, ia gandeng-renteng (sohibah) dengan Ramos Horta, mencari dana sambil berkampanye pentingnya memiliki negara sendiri yang makmur, aman dan syukur gemah ripah lohjinawi.
Ia amat mengagumi gurunya Horta yang pernah mengatakan, "Adalah tugas generasi kita menjelaskan mengapa terjadi pembunuhan dengan darah dingin di negeri kita," - atau kalau mau diteruskan gaya pidato pemimpin negeri "Jangan ada darah tumpah lagi..."
Perkara setelah ia memegang jabatan, masih ada perang tanding barat-timur dan pembunuhan itu soal lain.
"Alkatiri itu kriminal, apa perlunya kita berhubungan dengan penjahat," demikian serunya dalam suatu wawancara dari tempat persembunyiannya - mungkin ia merasa didzolimi lantaran saudara-saudara Alkatiri, menjadi piawai pengimpor senjata militer. Tapi gara-gara wawancara itu pula, Alfredo ketar-ketir akan keselamatan keluarganya, lalu minta bantuan Australia mengevakuasi keluarganya ke Perth.
Sementara itu teman-teman yang mengenalnya di Australia pada heran habis. Lantaran sejak menghabiskan waktunya di Australia kelihatannya ia "jinak-jinak" saja. Bakat berontaknya hanya nampak kalau melihat ketidakadilan terjadi, ia sangat sensitif dan berani mempertahankan pendapatnya. Memang setelah pertikaian terjadi yang berujung mundurnya Lobato dari tampuk Mendagri dan Rodriguez dari Menteri Pertahanan, akan tetapi sang dalang yang dinanti-nanti kemundurannya yaitu Perdana Menterinya Mari Alkatiri (Fretilin) masih kokoh disinggasana. Ini yang membuat keamanan di Tim-Tim bak api dalam sekam. Alkatiri sekalipun beragama "lain dari yang lain" sejatinya ia adalah kekiri-kirian sesuai dengan ideologi partainya yang Marxist (masih relevant nggak ya ngomongin ini).
Untuk mendukung posisinya, ia tak segan mengatakan bahwa dalang kekacauan Timtim adalah Indonesia. Seperti kata sementara pengamat ini adalah contoh negeri yang gagal. Perut bergantung kasihan pihak international, siskamling bergantung polisi luar ala Interfet.
Serunya lagi pengamat politik Osi bilang "Sementara kita garuk-garuk kepala pusing memikirkan Timtim, barangkali orang Jakarta tersenyum lebar" - Lagi lagi Indonesia dibilang nyukurin. (tapi eh iya).
Jauh sebelum wangsa Portugis datang ke bumi yang sekarang disebut Timor Timur ini, negeri ini memang terpecah dalam liurai alias raja kecil. Lalu ketika Portugis datang, maka wilayah Timor dibagi menjadi Timor Loromunu (Timor Barat) dan Timor Lorosae (Timor Timur). Selama masa Portugis, rakyat Timor Timor tidak berubah nasibnya sehingga para Liurai melakukan perlawanan. Sejarah mencatat ketika Fretilin 28 Nopember 1975 memproklamirkan kemerdekaannya. Lalu untuk mendapatkan perhatian, mereka bergabung dengan NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia), banyak sudah sumber daya Indonesia ditumpahkan ke negeri ini, namun kesan makmur masih jauh.
Lalu isu agama mulai ditebar bahwa Timor Leste tidak akan pernah damai kalau dipegang orang "Jawa" yang notabene mayoritas Muslim.
Dengan bantuan Australia yang menyusupkan intel-intelnya ke Timor Leste, warga Timor merdeka pada 20 Mei 1999. Mereka membentuk negara Timor Leste dengan Presiden Xanana Gusmao dan Perdana Menteri Mari Alkatiri.
Melajukah bangsa ini setelah dipegang oleh orang yang "suci, jujur" dan produk dalam negeri?
Mei 2005 terjadi demonstrasi selama 15 hari menentang pelarangan agama diajarkan di sekolah-sekolah. 28 April 2006, terjadi ketidakpuasan antara tentara ex Falintil yang tidak mendapat potongan kue kemerdekaan seperti yang diinginkan. Sebagian Falintil berasal dari bagian barat Timor Loromonu) dengan 13 kabupaten, tetapi kursi (dan rejeki) dipegang orang Lorosae yang cuma terdiri dari 3 kabupaten).
Merasa protes dan keluh kesah tidak ditanggapi, maka 28 April 2006, sebanyak 594 tentara berontak. Kekacauan terjadi. Lalu para pengamat politik Australia enteng mengatakan datangkan tentara asing, ganti Mari Alkatiri dan keadaan pasti berangsur tenang. Toh resep ini salah dan Timor Timor bergolak kembali. Alfredo sempat dipenjara, namun berhasil lolos bahkan berhasil merampas 19 pucuk senapan serbu AK47 beserta amunisinya. Ia diudak-udak oleh tentara Australia, teman berlatih mereka di Perth Australia. Sekarang seguru seilmu saling baku bunuh.
Kolonial Portugis menciptakan dua istilah yaitu Firauco dan Calado. Kelompok pembangkang disebut Firauco, sedangkan massa mengambang disebut Calado. Repotnya istilah ini beranjak menjadi orang Lorosae yang Firauco dan Loromontu kebagian diberi stigma Calado.
Dengan sentimen kesukuan yang tebal ditambah kehidupan ekonomi yang termiskin di dunia, maka siapapun memerintah Timor Leste akan kebagian bola panas. Sekaligus pembuktian bahwa dipegang orang yang beragama samapun tidak merupakan jaminan kekerasan akan sirna seperti yang didengang-dengungkan semasa pra-referendum.
Sekarang pengungsi mulai berdatangan ke Indonesia. Peristiwa ini mirip dengan saat kekacauan pada 1975, akhirnya beberapa kelompok meminta bantuan tentara Indonesia, bak Raden Wijaya berkolaborasi dengan tentara Tartar lalu gantian menghantam Tartar setelah musuhnya berhasil dikalahkan. Bedanya untuk menjadi sebesar Majapahit, nampaknya masih perlu perjuangan jauh.
Kalau sudah begini, mulailah ada suara. Mengapa lebih aman di tangan Indonesia? Mudah-mudahan Indonesia tetap menutup pintu bagi Timor Timur, kalau kita tidak hendak menjadi keledai yang terperosok kedua kali menjadi bangsa Tartar lagi?