Makna Natal dalam krisis
Babak I
Narator : Di pagi hari yang cerah keluarga Bapak Santoso sedang duduk-duduk sambil menonton acara TV……jeda…… acara yang mereka saksikan mengenai bencana yang melanda akan Negeri ini.
Bapak Santoso : Wah sekarang ini banyak sekali bencana yang melanda Negeri kita ya bu?
Ibu Santoso : Iya pak, bukan hanya bencana alam yang yang membuat kita mengalami krisis sekarang ini. Yang kita hadapi sekarang ini juga semakin meluas, baik itu moral, ekonomi, rohani, dan masih banyak lagi…
Bapak Santoso : Iya makanya kita harus tetap waspada, walaupun dalam kondisi seperti ini kita harus tetap mendekatkan diri dengan Tuhan.
Ibu Santoso : Iya pak,… eh ayo sana berangkat kerja nanti kesiangan, kasian kan Anton bisa terlambat ke sekolah.
Bapak Santoso : Oiya… ayo 'ton kita berangkat…. Bu kami pergi dulu ya?
Ibu Santoso : Hati-hati di jalan ya?
Babak II
Narator : Sementara itu keadaan rumah dari keluarga bapak Alex.
Bapak Alex : Bu, ayo bu cepetan, nanti orang yang kita mau tagih hutangnya keburu pergi…
Ibu Alex : Iya..iya… sabar kenapa, ibu kan tadi lagi dandan
(Dalam perjalanan yang sulit, di mana mereka harus menyusuri perkampungan yang asing bagi mereka. Di tengah jalan mereka dicegat dan dirampok, bahkan dipukuli sampai pingsan.)
--jeda--
(Setelah pingsan sekian lama, merekapun sadar oleh tetesan hujan yang menguyur tubuh mereka. Setelah itu, merekapun bangun dan mencari tempat untuk berteduh)
Babak III
--jeda--
(Suasana: malam, hujan angin>> sebaiknya gunakan back sound yg mendukung seperti suara angin, hujan dan petir)
Ibu Santoso : Puji Tuhan, tahun ini natal datang lagi. (diam sejenak sambil mengamat-amati pemandangan di luar rumah). Wuih, hawa di luar begitu dingin (mendekap tubuhnya sendiri karena kedinginan dan tidak pakai jaket). Kasihan Bapak, pasti dia kedinginan dan kehujanan. Kalau saja kami punya rejeki lebih, pasti aku bisa membelikan bapak jaket baru. Kasihan jaketnya sudah pada robek dan sudah usang.
(jeda)
Ibu Santoso : Aduh angin dan hujannya kok semakin kencang. Semoga waktu bapak pulang kerja, hujan sudah reda. (sesekali melihat keluar rumah, karena menunggu suaminya pulang)
--jeda--
Ibu Santoso : Sebaiknya aku siapkan segelas kopi untuk bapak. Kalau-kalau dia pulang, setidaknya ada yang bisa menghangatkan badan.
(Maka masuklah Ibu Santoso ke dalam untuk menyiapkan segelas kopi buat suami tercintanya. )
Ibu Santoso : Aduh kopi dan gulanya tinggal sekali tuang saja. Besok bapak sudah tidak bisa minum kopi lagi nih! (menuang kopi) Semoga hari ini bapak bawa uang, sehingga besok bisa belanja…
(kedatangan 2 orang tamu, yg kehujanan dan kedinginan)
Bapak Alex : Permisi…permisi…
Ibu Santoso : (melihat keluar), Oh… selamat malam pak. Ada yang bisa saya bantu?
Bapak Alex : Maaf, malam-malam saya menggangu. Saya dan istri saya tersesat dan kehujanan. (tampak istrinya sedang kedinginan)
Ibu Santoso : Silahkan masuk… Aduh nampaknya istri bapak kedinginan. Mari…mari silahkan duduk, saya ambilkan handuk dulu. (masuk dan keluar lagi sambil membawa handuk)
Ibu Alex : (sambil menggigil menerima handuk) Terima kasih bu.
Ibu Santoso : Sebenarnya bapak dan ibu ini mau kemana?
Bapak Alex : Kami sedang mencari seseorang di desa Sukoharjo, tapi saat kami di perjalanan kami dirampok. Tas dan dompet kami di bawa kabur perampok. Sedangkan alamat orang tersebut ada di dalamnya.
Ibu Santoso : Aduh kasihan sekali…
Bapak Alex : Bolehkah kami menumpang berteduh di sini sampai hujan reda.
Ibu Santoso : Tentu saja. Tapi maaf kalau saya tidak bisa menyuguhkan apa-apa, kecuali secangkir kopi ini. Lumayan bisa menghangatkan badan.
Ibu Alex : Terima kasih bu, maafkan kami kalau kami sudah merepotkan ibu.
Bapak Alex : Iya, pertolongan ibu ini sangat membantu kami.
Ibu Santoso : Ah tidak perlu sungkan.
Bapak Alex : Apa ibu tinggal sendirian?
Ibu Santoso : Saya tinggal bersama suami dan seorang anak saya.
Ibu Alex : Lo…… suami ibu kemana?
Ibu Santoso : Suami saya sedang bekerja. Biasanya jam segini dia sudah pulang, mungkin karena hujan dia berteduh dulu. (melihat keluar rumah, sambil sedikit cemas). Kasihan suami saya, jaketnya sudah pada robek lagi, pasti dia juga sedang kedinginan.
Bapak Alex : Oh begitu ya bu. Kenapa tidak beli yang baru?
Ibu Santoso : Ya semoga suatu saat kami diberi Tuhan rezeki lebih supaya bapak bisa beli jaket.
walau kami ini miskin, dan tidak berlebih dalam materi, tapi kami bersyukur Tuhan selalu mencukupkan kami.
Bapak Alex : Saya masih bingung, dimana baiknya Tuhan kalau untuk sebuah jaket baru saja ibu tidak mampu membelinya. Semestinya kalau Tuhan itu baik, pasti ibu sudah bisa membeli jaket baru buat suami ibu, dan tidak tinggal di rumah seperti ini.
Ibu Santoso : Lho Tuhan itu baik, lho pak! Kami sekeluarga sudah diberi kesehatan, saya diberi suami yang baik, anak yang rajin dan pintar yang paling penting kami sekeluarga merasakan kedamaian. Kalau harta berlebih tapi hati gak damai juga percuma to pak. Kita tidak bisa menikmati hidup. (tersenyum)
Ibu Alex : Ibu ini luar biasa, selama ini kami pikir dengan harta yang melimpah dan kekuasaan kami dapat memperoleh kedamaian. Tapi sampai sekarang kami belum pernah merasakan kedamaian tersebut.
Bapak Alex : Kalau boleh tahu, bagaimana cara ibu mendapatkan damai itu.
Ibu Santoso : Gimana ya pak….? Selama ini yang kami lakukan hanya bersyukur untuk segala hal yang Tuhan berikan kepada kami dan bersandar pada Tuhan Yesus. Sekarang ini banyak sekali Krisis yang melanda, bukan hanya di negeri kita melainkan juga masyarakatnya; baik itu krisis moral, krisis Rohani, krisis ekonomi, dsb. Dengan selalu bersyukur, seberat apa pun cobaan hidup, akan terasa ringan. (jeda). Eh saya sampai lupa, silahkan diminum kopinya, nanti keburu dingin.
Bapak Alex : (sambil meneguk kopi) Betul yang ibu katakan. Kami memang tidak pernah bersyukur. Yang ada kami Cuma bisa mengeluh dan mengeluh saja.
Sungguh beruntung kami bisa bertemu ibu, ibu memberikan kami pelajaran hidup yang berharga malam ini.
Ibu Alex : Pak, hujannya sedikit reda. Bagaimana kalau kita pulang sekarang?
Ibu Santoso : Lho kok buru-buru, apakah bapak dan ibu mau meneruskan mencari rumah teman kalian? Sebaiknya menunggu suami saya saja, barangkali dia bisa antar kalian.
Bapak Alex : Tidak perlu repot bu, kami akan kembali pulang saja. Keburu malam, kami takut di terminal nanti kami tidak dapat mobil ke kota…
Ibu Santoso : Baiklah kalau begitu hati-hati di jalan.
Ibu Alex : Terima kasih banyak atas bantuan ibu kepada kami. Semoga Tuhan membalas kebaikan ibu, kami permisi dulu…
Ibu Santoso : Oh ya, selamat jalan, lain kali mampir lagi kesini jika mau ke rumah teman.
Bapak Alex : Oh, pasti…
Demikianlah pertemuan Ibu Santoso dan kedua tamunya.
Anton : Bu Bapak Mana? Kok belum pulang?
Ibu Santoso : Mungkin bapak beteduh dulu, sudah sana kamu tidur duluan, biar ibu yang nunggu bapak pulang. (nyanyi Malam Sunyi senyap)
Tidak berselang lama setelah kepergian kedua tamunya, pulanglah Bapak Santoso
Bapak Santoso : Bu, bapak pulang!...
Ibu Santoso : Eh bapak, capek pak? Ibu tadi cemas, kenapa bapak tidak pulang-pulang.
Bapak Santoso : Iya tadi bapak berteduh dulu.
Ibu Santoso : Sebentar, ibu buatkan kopi dulu ya pak!
(sementara Ibu Santoso membuat kopi, pak santoso merebahkan dirinya di kursi untuk melepas penatnya)
Ibu Santoso : Nah, ini pak kopi natalnya sudah datang…(tersenyum manis kepada suaminya sambil menyuguhkan kopi).
Bapak Santoso : Ibu ini ada-ada saja, apa maksudnya kopi natal. Apa karena ini malam natal?
Ibu Santoso : Bukan begitu pak. Begini lho ceritanya… tadi ada 2 orang tamu yang numpang berteduh disini, mereka tersesat waktu mencari rumah saudaranya, nah karena ibu tidak punya apa-apa untuk disuguhkan, terpaksa kopi yang sebenarnya ibu buat untuk bapak, ibu berikan kepada mereka. Dan karena itu kopi dan gula yang terakhir dari persediaan kita, maka ampas kopi dari tamu tadi ibu beri air panas lagi, walau sudah tidak manis, setidaknya aroma kopinya masih ada. Makanya ibu namakan kopi natal.
Bapak Santoso : Oalah… ya sudah, bapak minum kopi natalnya ya… (--jeda--) Tapi kalau dipikir-pikir, kita ini masih beruntung lho Bu, di tengah kekurangan kita, kita masih bisa membantu orang lain.
Ibu Santoso : Iya pak, mereka tadi cerita kalau hidup mereka tidak bahagia, katanya mereka tidak pernah merasa damai.
Bapak Santoso : Kasihan ya mereka. Eh, ibu apa engga ngicipi kopi natal ini? (menggoda istrinya)
Ibu Santoso : Ah bapak ini, sudah bapak aja yang minum…Ibu tak pergi ke belakang dulu, mau istirahat dulu. Bapak cepetan tidur, kita besok kan mau ke gereja pagi-pagi.(keluar)
Bapak Santoso : Iya bu, bapak kan masih menikmati kopi natal buatan ibu (tersenyum meledek istrinya)
(menikamati kopinya sambil melamun) Kasihan istriku, setiap kali natal, dia tidak pernah memakai baju baru. Tapi kalau dipikir-pikir, kami sampai hari ini diberi kesehatan saja sudah bersyukur. Ah sudahlah… buat apa mengeluh terus, sebaiknya aku tidur saja, biar besok bisa bangun pagi dan ibadah di gereja bersama istriku tercinta.(keluar)
KHOTBAH
Babak IV
Keesokan harinya, sepulang dari gereja.
(terlihat Anton sangat bahagia sekali sambil membawa hadiah natal yang dia terima dari gereja)
Bapak Santoso : Ibadah natal tadi benar-benar indah ya bu. Di setiap kali natal kita selalu diingatkan akan betapa besarnya kasih Tuhan Yesus kepada kita.
Ibu Santoso : Iya pak. Kalau Tuhan Yesus engga cinta pada kita, mana mau dia susah-susah datang ke dunia. Mana mau dia dilahirkan di kandang hewan seperti itu.
Bapak Santoso : KehadiranNya memang benar-benar membawa damai, Dia datang untuk orang yang berdosa seperti kita. Kalau saja aku ada di antara para gembala yang menyaksikan kelahiranNya, waduh… (belum selesai bicara sudah ada tamu)
Bapak Alex : Permisi…permisi…
Ibu Santoso : Ada tamu pak…, coba ibu lihat dulu!
Bapak Alex : Selamat siang bu… masih ingat dengan saya?
Ibu Santoso : Oh, anda yang semalam tersesat itu to!
Bapak Santoso : (menghampiri istrinya) Siapa bu?
Ibu Alex : Selamat siang pak!
Ibu Santoso : Ini lho pak, mereka yang ibu ceritakan semalam…
Bapak Santoso : Oh… mari silahkan masuk…
Bapak Alex : Terima kasih pak!
Ibu Santoso : Mau ke rumah saudaranya lagi ya?
Ibu Alex : Engga bu, kami memang sengaja kesini untuk menjenguk ibu dan bapak. Dan sekalian kami ingin memberikan bingkisan ini untuk ibu dan bapak, sebagai tanda terima kasih, atas pertolongan ibu semalam.
Bapak Santoso : Waduh kami jadi menyusahkan bapak dan ibu
Bapak Alex : Justru karena bapak dan ibulah, kami mendapatkan berkat yang sangat luar biasa. Karena melihat kehidupan bapak dan ibulah, kami jadi tahu dan bisa merasakan damai. Rasa kedamaian yang tidak pernah kami rasakan sebelumnya.
Bapak Santoso : Bapak kok gak mengerti, ada apa to bu?
Ibu Santoso : (menceritakan tentang percakapan mereka dengan tamu semalam)
Bapak Santoso : Oh begitu…
Ibu Alex : Oh iya, kami juga membawakan jaket buat bapak dan ibu. Semoga bermanfaat. Dan kamipun mengucapkan selamat hari natal. Semoga kedamaian yang telah diberikan Tuhan pada kita, bisa dirasakan oleh semua orang.
Ibu Santoso : Wah terima kasih. Puji Tuhan pak! Akhirnya bapak punya jaket.
Bapak Santoso : Iya bu. Eh bu, ngomong-ngomong, apa tamunya gak dibuatkan kopi natal?
Ibu Santoso : Ah bapak… (menanggapi godaan suaminya)
Bapak & Ibu Alex : Kopi natal...?
Pak&Ibu Santoso : Tertawa bersama-sama.
PS : Amin
Catatan : 1. Buat Bapak Alex & seperti kehujanan, dengan membasahi rambut mereka.
2. Setting ruangan seperti ruang tamu sederhana yang gabung dengan ruang makan. Atau beri meja kecil untuk tempat gula dan kopi + termos. Bisa juga tambahkan bakul nasi kosong, dan 2 piring kosong.