Tahun ini, tepat tigapuluh tahun saya dan teman-teman satu angkatan memulai kuliah kami di Seksi Arkeologi, Jurusan Ilmu-ilmu Sejarah, Fakultas Sastra Universitas Indonesia (FSUI). Itulah nama bagian dari Universitas Indonesia (UI) yang kami pilih dan kami masuki pada 1979.
Sebagaimana biasanya, tahun masuk dijadikan tahun angkatan, maka kami pun resmi dikelompokkan dalam Angkatan ’79 Arkeologi Universitas Indonesia. Dalam perkembangannya, bidang arkeologi menjadi jurusan sendiri dan bernama Jurusan Arkeologi FSUI.
Kampus kami adalah di kawasan Rawamangun, Jakarta Timur, yang kini menjadi Kampus Universitas Negeri Jakarta, setelah UI pindah ke Depok. Dalam perkembangannya kemudian, arkeologi bahkan menjadi departemen tersendiri, dan kini bernama Departemen Arkeologi. Nama FSUI pun saat ini telah berubah menjadi Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya (FIB) UI.
Jadi, bila dihitung-hitung, tahun ini adalah peringatan 30 tahun kami mengawali kuliah di Arkeologi UI. Tak ada perayaan besar-besaran, hanya keinginan sejumlah teman untuk bertemu kembali. Pilihannya adalah di Museum Nasional di Jalan Medan Merdeka Barat, Jakarta Pusat.
Setidaknya ada tiga alasan yang membuat kami sepakat memilih bertemu di Museum Nasional yang juga dijuluki Museum Gajah itu. Pertama, tempat itu merupakan salah satu tempat kenangan sewaktu kuliah. Baik untuk kuliah karena sang dosen ada di sana, melihat langsung benda-benda tinggalan arkeologis yang merupakan koleksi Museum Nasional, sampai mencari data-data tertulis dari Perpustakaan Nasional.
Sebelum pindah ke Jalan Salemba Raya, Jakarta Pusat, Perpustakaan Nasional memang sempat lama berada di salah satu ruangan di Museum Nasional tersebut. Banyak buku-buku dan data tertulis lainnya yang amat penting bagi studi arkeologi, tersimpan di Perpustakaan Nasional. Jadi, mahasiswa yang ingin mencari dan mengumpulkan data-data tersebut, haruslah ke Perpustakaan Nasional.
Kedua, alasan lain yang lebih untuk praktisnya saja, karena Museum Nasional terletak di tengah dan di pusat kota. Jadi, kami memilih tempat itu agar siapa pun tak merasa dia lebih jauh ke sana dibandingkan teman lainnya. Ketiga, karena paling tidak ada teman kami sesama Angkatan ’79 Arkeologi UI yang kini bekerja di sana.
Begitulah, pada 4 Desember 2009, yang belakangan kami tahu juga merupakan Hari Ulang Tahun FSUI, kami pun sepakat berkumpul di Museum Nasional. Namun karena masing-masing sibuk, akhirnya kami baru benar-benar berkumpul setelah lewat pukul 18.30 WIB. Apalagi saat itu pada sore harinya hujan lumayan deras mengguyur Jakarta. Jadilah, kami harus menunggu sampai teman-teman semuanya hadir. Itu pun tak semua bisa hadir, karena sebagian telah tinggal di luar kota bahkan luar negeri, ada yang sedang bertugas di tempat lain, dan ada pula yang belum dapat kami lacak lagi keberadaannya.
Tentu saja, karena sudah malam, maka Museum Nasional pun sudah tutup. Namun itu tak mengurangi keinginan kami untuk bertemu. Kami pun berkumpul di halaman Museum Nasional, di tempat teater terbuka yang ada tempat-tempat duduk berbentuk tangga dengan panggung di bagian bawah, yang menurut saya bentuknya seperti Colloseum di Roma, Italia.
Jadilah kami berkumpul sambil mengenang kembali masa-masa lalu yang indah sewaktu kuliah. Lengkap dengan kelucuan, kebodohan, keusilan, dan sebagainya dalam acara yang bisa juga disebut sebagai “Night at the Museum”.
Foto: Sejumlah (mantan) mahasiswa Angkatan ’79 Arkeologi UI bergaya di depan Museum Nasional, Jakarta.