Hari ini, 1 Desember 2009 adalah Hari AIDS Sedunia. Informasi yang penulis terima menyebutkan, setiap hari 7.400 kasus baru HIV atau lima orang setiap menitnya, dan 96 persen di antaranya terjadi di negara berkembang. Di Indonesia, menurut situs resmi Hari AIDS Sedunia 2009 (http://www.has2009.com), "Di Indonesia hampir tidak ada provinsi yang dinyatakan bebas dari HIV dan AIDS, bahkan diperkirakan saat ini HIV dan AIDS sudah terdapat di lebih dari separuh Kabupaten/Kota di seluruh Indonesia".
Pernyataan tersebut memang mengkhawatirkan. Tak heran bila Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono dalam pembukaan Kongres AIDS Internasional Kawasan Asia-Pasifik di Bali, Agustus 2009, mengungkapkan antara lain, jika kasus HIV/AIDS tidak tertangani dengan baik, kemungkinan akan terjadi kepunahan generasi atau lost generation di dunia.
Itulah sebabnya, peringatan Hari AIDS Sedunia yang kembali diadakan 1 Desember ini, patut menjadi perhatian kita semua. Kita tentu tak ingin kepunahan generasi itu benar-benar terjadi.
Tahun ini, tema Hari AIDS Sedunia adalah "Akses Universal dan Hak Asasi Manusia", dengan slogan, "Stop AIDS! Akses untuk Semua". Tema dan slogan tersebut pada intinya menekankan bahwa setiap anggota masyarakat, apa pun latar belakang ekonomi, budaya, pendidikan, profesi, tempat tinggal, dan orientasi seksualnya, berhak memperoleh informasi, pencegahan, perawatan, dukungan, dan pengobatan yang berkaitan dengan HIV dan AIDS.
Kesehatan adalah hak asasi setiap manusia. Jadi, semua orang termasuk yang telah terinfeksi HIV, berhak hidup sehat dan memperoleh pelayanan kesehatan yang memadai. Itu berarti, bahwa peringatan Hari AIDS Sedunia harus diperingati lebih dari sekadar upacara atau kegiatan seremonial saja. Diperlukan kebulatan tekad dan aksi nyata semua pihak untuk benar-benar membantu agar semua kasus HIV/AIDS, termasuk pencegahannya, dapat tertangani dengan baik.
Tidak mudah memang. Termasuk bagaimana mensosialisasikan kepada masyarakat luas mengenai HIV dan AIDS, yang terkadang masih menjadi bahan ejekan. Apalagi ada stigma tertentu di kalangan masyarakat, yang membuat orang yang merasa dirinya lebih sehat memilih "menghindar" bila bertemu dengan mereka yang telah terinfeksi HIV. Walaupun sudah berkali-kali dipublikasikan dan disosialisasikan, kecenderungan menghindar dari orang yang merasa lebih sehat terhadap mereka yang terinfeksi HIV, sampai saat ini masih saja terjadi. Tampaknya, akses informasi yang lebih luas, lebih sering, dan lebih mudah diperoleh masyarakat, masih harus dikembangkan lagi.
Seperti penulis katakan, hal itu memang tak mudah. Namun dengan semangat kebersamaan, kita bisa membuat aksi lebih nyata yang berdampak lebih besar. Semoga.