Yusuf   Iskandar

Jika Harus Naik Ojek Membelah Kemacetan Jakarta

Sabtu, 28-11-2009 07:46:14 oleh: Yusuf Iskandar
Kanal: Gaya Hidup

Jam sudah menunjukkan pukul 18:15 waktu Pondok Indah Jakarta. Kendaraan yang akan mengantarkan saya menuju ke stasiun Gambir masih saja berjalan merayap, bahkan nyaris tidak bergerak. Jalan di depan Wisma Pondok Indah nampak demikian padatnya. Saya mulai gelisah. Pada tiket kereta api Argo Lawu yang akan saya tumpangi kembali ke Jogja malam itu jelas menunjukkan waktu keberangkatan jam 20:00 WIB.

Harus ada jalan keluarnya, kata hati saya. Sebab jika tidak, saya pasti akan ketinggalan kereta. Kalau sampai esok paginya saya belum tiba di Jogja, berarti saya tidak bisa sholat Idul Adha di kampung dan yang lebih saya khawatiri adalah kalau sampai saya gagal menjaga amanah dan komitmen untuk membantu Panitia Qurban di kampung saya.

Akhirnya saya putuskan turun dari kendaraan yang malam itu akan mengantar saya ke stasiun yang masih saja mbegegek (berhenti total) tertahan kemacetan parah. Segera saya menyeberang jalan untuk mencari taksi pada lajur jalan yang berlawanan yang tampak lebih lancar. Berdiri di pinggir jalan hingga lebih 15 menit ternyata tidak juga ketemu taksi kosong. Hati saya semakin gelisah disertai perasaan tegang. Tiba-tiba saya ingat kalau petang itu saya belum membatalkan puasa Arafah yang saya jalani. Saya lalu menuju tukang rokok di pinggir jalan membeli sebotol air mineral sekedar untuk membatalkan puasa saya. Sambil saya minta pendapat penjualnya tentang bagaimana cara tercepat menuju stasiun Gambir. Rupanya kalau perasaan sedang gelisah dan pikiran rada panik, kita sering tidak mampu berpikir jernah. Sampai perlu minta pendapat orang lain, siapapun dia termasuk tukang rokok pinggir jalan.

Solusi tukang rokok ternyata sederhana saja : "Kalau tidak ada taksi mending naik ojek, pak", katanya. Ya, benar juga. Akhirnya usul itu saya setujui. Bapak penjual rokok pun berbaik hati membantu mencarikan ojek. Ketika saya tanya kira-kira berapa ongkosnya, dijawabnya sekitar 35 sampai 40 ribu rupiah. "Tapi ditawar saja, pak", katanya lagi.

Pak tukang ojek meminta ongkos Rp 50.000,- sampai Gambir, setengah jam sampai katanya. Wah boleh juga, pikir saya. Tapi seperti saran tukang rokok tadi, saya pun menawar. Tawar-menawar berjalan rada alot (sudah tahu keadaan terdesak, masih juga gengsi untuk menerima begitu saja tawaran harga tukang ojek). Akhirnya kami sepakat dengan ongkos Rp 40.000,- Perasaan saya mulai agak lega, walau belum sepenuhnya. Ojek belum jalan tapi pikiran saya sudah membayangkan membonceng ojek malam-malam membelah kemacetan Jakarta.

Sebuah sepeda motor butut Suzuki Tornado yang spedo meternya sudah bolong ditutup plastik yang diplester, kedua kaca spion diganti kecil-kecil, lampu depan remang-remang dan suara mesinnya mbeker-mbeker..., segera meluncur menembus malam, menembus kemacetan Jakarta. Saya tidak ingat lagi jalan mana saja yang kami lalui malam itu, karena pandangan mata saya tajam ke depan mengikuti liak-liuknya sepeda motor yang saya boncengi sambil perasaan full tegang. Ya bagaimana tidak tegang, wong terkadang lampu merah diterobos, berpindah lajur asal wesss.... begitu saja, tidak perduli klakson kendaraan lain yang sedang melaju kencang di lajur yang dipotong.

Ketika sampai di kawasan Senayan, kami bertemu dengan kepadatan lalulintas lagi, sepeda motorpun mengendap-endap lalu tiba-tiba menyalip dengan cara menyusup celah sempit di antara dua buah bis yang sedang berjalan tidak terlalu cepat. "Oedan...", kata saya dalam hati. Tiba di bundaran Hotel Indonesia, sepeda motor kembali beraksi dengan menambah kecepatan untuk mendahului bis kota dari sisi kanan dengan mencuri celah sempit di sudut antara moncong bis dengan separator jalan. Wusss.... berhasil, termasuk berhasil merobohkan dua buah traffic cones yang bentuknya menyerupai corongan warna oranye yang berada di ujung separator jalan sebelah kanan. "Huhhh....", kata hati saya.

Mau saya tegur, saya khawatir nanti jalannya jadi pelan-pelan padahal saya berkepentingan untuk segera tiba di stasiun Gambir mengejar jadwal kereta Argo Lawu. Adrenain saya meningkat. Entah kenapa saya begitu menikmatinya. Sepeda motor pun kemudian melaju kencang menyusuri Jl. Thamrin ke arah utara menuju kawasan Monas, meski saya tidak sempat lagi memandang tugu itu. Lalu lintas mulai lancar dan tidak lagi merayap. Barangkali seperti itulah rasanya ikut balap road race.    

Tiba di Jl. Medan Merdeka Barat, tiba-tiba tukang ojek mengajak bicara. Katanya : "Kita lurus pak". Saya memang tidak terlalu hafal jalan-jalan di Jakarta. Tapi setahu saya kalau lurus berarti ke arah Kota, sedang stasun Gambir ada di sisi timurnya Monas. Spontan saya berteriak di tengah kebisingan lalu lintas : "Belok kanan, belok kanan....!". Sepeda motor pun spontan memotong ke kanan tanpa tolah-toleh. "Huhhhh, lagi.....".

Mulai feeling saya curiga, jangan-jangan tukang ojek ini tidak tahu dimana letak stasiun Gambir. Lalu saya tanya : "Bang, tahu stasiun Gambir kan?". "Ya, tahu", jawabnya meyakinkan.

Tiba di ujung Jl. Juanda, sepeda motor terus melaju kencang ke arah timur. Saya kembali curiga, tapi saya tepis keraguan saya. Mungkin dia tahu jalan pintas. Akhirnya, dugaan saya ternyata benar. Tukang ojek salah jalan hingga mutar-mutar kehilangan arah hingga ke kawasan Senen. "Wuahhh, modar aku!".

"Bang, sebenarnya lu tahu stasiun Gambir enggak sih?", tanya saya hendak memastikan. Jawabnya : "Tahu pak, tapi jalannya banyak berubah". Sudahlah, hati saya mulai gemas. Ketika akhirnya tukang ojek itu beberapa kali tanya orang mencari arah yang benar, telinga saya mendengar yang ditanyakan bukan ‘stasiun Gambir' melainkan ‘terminal kota'. "Aaahhhh.... Guoblog!", kata saya misuh-misuh..., memaki dalam hati (heran, masih juga saya khawatir menyinggung perasaannya).

Lha kok tiba-tiba berhenti dan bilang : "Bapak turun sini saja lalu menyeberang sana", maksudnya saya disuruh naik taksi. Wooo, wong edan tenan iki (orang gila beneran ini). Langsung saya bentak : "Jalan terus dan ikuti perintah saya!". Kalau urusan tersesat kemudian kembali ke jalan yang benar (maksudnya kesasar) rasa-rasanya saya cukup punya pengalaman dan ini menjadi sebagian dari keahlian saya.

Meskipun saya tidak familiar dengan kawasan itu, entah saya sedang berada di sebelah mananya apa saya pun tidak tahu, tapi yang jelas di kawasan Senen. Setidak-tidaknya saya bisa membaca tulisan petunjuk arah yang berupa rambu berwarna dasar hijau dan berwarna tulisan putih. Akhirnya tukang ojek saya komando dari belakang menemukan jalan yang benar. Puji Tuhan wal-hamdulillah, akhirnya saya sampai ke pintu gerbang keluar stasiun Gambir. Tobat tenan aku! 

Begitu berhenti, tukang ojek yang semula saya pikir orang Jakarte (pakai huruf akhir ‘e') dan saya panggil ‘Abang', ternyata kemudian bilang begini : "Dalane ora ceto, ora koyo nek awan pak (jalannya tidak jelas tidak seperti kalau siang pak)", katanya dalam bahasa Jawa. Spontan saya jawab : "Lha wis ngerti aku nek awan serngengene cedak ngobong sirahmu (lha sudah tahu saya kalau siang mataharinya dekat membakar kepalamu)", kata saya sambil rada jengkel.

Segera uang Rp 50.000,- saya sodorkan sambil saya pesan : "Turahane pek-en nggo tuku bensin (sisanya kamu ambil buat beli bensin)", lalu saya tinggal pergi bergegas menuju ke dalam stasiun. Hitung-hitung saya sudah diberi bonus diajak wisata malam keliling Jakarta.....

Bookmark and Share

Tag/Label kemacetan, jakarta, pondok indah, gambir, argo lawu, ojek, kehidupan
Penilaian anda

Kirim ke Teman
* Email Teman:
Pisahkan tiap email dengan titik koma.
Contoh: bill@microsoft.com; steve@apple.com
* Email anda:
1 komentar pada warta ini
Senin, 30-11-2009 09:19:46 oleh: Melani

seruuu......bacanya serasa ikut merasakan plus kaya film ;) ....welcome to macetnya jakarta pak...



Tambahkan komentar anda
* Nama lengkap:
* Email:
tidak ditampilkan untuk umum
  • Hal-hal yang perlu diperhatikan :
  • - Berilah komentar yang relevan dengan topik warta ini. Bacalah semua dari warta maupun komentar-komentar lain, sebelum memberi komentar.
  • - Tidak membuat komentar yang bernuansa SARA, pornografi, menyerang pribadi, menyebarkan kebencian dan kekerasan maupun pendapat yang melanggar hukum.
  • - Tidak beriklan di kolom komentar ini.
  • - Gunakan bahasa yang santun dan beri respek pada semua pendapat meskipun berbeda pendapat.
  • - Gunakan nama asli dan bila Anda sudah menjadi anggota Wikimu, upayakan login member terlebih dahulu. Bila belum menjadi anggota, email yang Anda cantumkan di kolom email, tidak akan dimunculkan.
* Komentar:  
captcha Silakan tulis kode disamping ini untuk melanjutkan.

PALING BERGUNA (bulan ini)

TERBANYAK DILIHAT (minggu ini)

TERBARU

50 TAG / LABEL TERPOPULER

 

Link Wikimu


Mau pasang link Wikimu di blog/situs Anda? copy link ini

TESTIMONI PRODUK

Minuman Sereal Baru ENERFILL

Jumat, 05-06-2009 18:04:42 oleh: Rina Linda

Bosan dengan yg biasa??? Minuman sereal ENERFILL, di setiap porsinya mengandung kombinasi 8 Vitamin, Protein, Kalsium & mineral lainnya yg dibutuhkan tubuh. Kombinasi rasa yg nikmat dengan sensasi baru BUTIRAN OATS PADAT di dalamnya bikin ENERFILL sebagai minuman penambah energi dengan kenikmatan rasa yang mudah tersaji. Cukup disajikan dgn 150 ml air panas ke dlam gelas, rasakan sensasi rasa baru coklat atau vanilla. ENERFILL, minuman penunda lapar yang lengkap, enak, lebih mengenyangkan & sehat untuk penambah energimu



Testimoniku:
inasa ori sativa: barang apa ini ? tidak bermutu .

Testimoni selengkapnya... (3 komentar)



Testimoniku Terbaru:
ridlo almuiz   pada  motor tossa 100cc
ridlo almuiz   pada  motor tossa 100cc
Kang Kuku   pada  Yakult...Bisa untuk Obat Diare??

SUARA KITA

Simpati Kirim SMS Iklan Seenaknya

Sabtu, 21-02-2009 12:22:33 oleh: Eko Nurhuda
Saya pengguna Simpati sejak pertama kali bisa beli hape di tahun 2002. Sampai sekarang saya masih setia dengan Simpati karena alasan coverage area. Namun belakangan ini kesetiaan saya terganggu karena Simpati suka seenaknya mengirim SMS berisi iklan layanan yang tidak saya butuhkan (dan sering!). Sungguh menyebalkan..!

Suaraku:
syamsul kheir: nambahin opini nya mas eko. saya yangjuga pengguna jasa dari produk telkomsel dah banyak dikecewainnya.contohnya kmaren saya ngenggunain NSP yang katanya gratis cuman ujujng-ujungnya mah saya slalu dapet smsm yg ga perlu dan nyedot pulsa saya. tolong dong telkomsel yg bener

Suara kita selengkapnya... (8 komentar)



Suara Kita Terbaru:
syamsul kheir   pada  Simpati Kirim SMS Iklan Seenaknya
wahyudiansyah   pada  Simpati Kirim SMS Iklan Seenaknya
anda renaco.Simatupang,Amk   pada  Visi Lingkungan Caleg Kita

DARI ADMIN

Rekan-rekan,

Wikimu juga mempunyai PUBLIC PROFILE di Facebook jika anda ingin menjadi Fans silahkan kunjungi kami. Jangan ketinggalan kami mempunyai lomba komentar di Public Profile setiap hari Senin dan Kamis. Nantikan terus artikel yang menjadi topik dalam lomba komentar.

Untuk pertanyaan dan masukkan, silahkan email ke

info@wikimu.com

salam,

21 April 2009

Admin.

Masukan, pertanyaan, kritikan terhadap kami silakan kirim email ke info@wikimu.com atau telp : 021-7222921 Senin-Jumat (08.00 - 17.00 WIB)
COPYRIGHT ©2006 WIKIMU.COM - Jurnalisme Publik (Citizen Journalism). All Rights Reserved | PRIVACY POLICY