Memang tak salah kalau korupsi dibilang sudah budaya, karena ada di mana-mana dan banyak yang suka.....
Belum lama dalam rangka tugas kerja, saya melewati satu daerah yang sedang ada pembangunan proyek waduk untuk pengairan dan tenaga listrik dengan kontraktor dari Cina. Saat melewati hutan dengan jalan yang sudah rusak parah itu saya lihat sepanjang jalan itu banyak berdiri rumah-rumah baru yang dibangun asal jadi. Ada yang dibangun hanya dari bilik bambu dan ada juga yang menggunakan tembok.
Tiba-tiba supir di sebelah saya nyeletuk, "Pak, itu banyak rumah-rumah hantu! " sambil ia menunjuk ke arah rumah yang ada di pinggir jalan. Pertamanya saya tidak paham, apa itu maksudnya rumah hantu yang sebenarnya. Ternyata rumah-rumah itu memang tidak ada yang huni, jadi sengaja dibangun untuk hantu tinggal. Katanya lagi, malah ada orang dari Jakarta yang modali. Akhirnya saya mengerti, ternyata rumah itu sengaja dibangun sekedar untuk mengharapkan ganti rugi nantinya.
Coba bayangkan, mana ada orang yang begitu bodoh, sudah tahu daerah itu akan dijadikan waduk, ditenggelamkan nantinya lalu ia bangun rumah di situ. Jadi tujuan utamanya adalah kesengajaan untuk mendapatkan ganti rugi. Padahal pembebasan tanahnya sudah berlangsung lama. Pertanyaannya sebodoh itukah orang-orang yang menangani masalah ganti rugi . Bukannya yang sengaja bangun rumah itu mestinya diperkarakan karena melanggar hukum,karena ada unsur kesengajaan dalam hal ini?
Tapi kata teman yang di sebelah, semuanya kan bisa diatur dan kerjasama, hasilnya lalu dibagi sana sini. Kayak tidak tahu saja soal beginian? Malah ada, katanya lagi, setelah dapat ganti rugi dananya buat bangun lagi untuk mendapat ganti rugi kembali. Wah, saya sampai tidak percaya dalam hal ini, luar biasa permainan korupsinya.
Sampai-sampai teman bercanda, kalau sampai KPK turun tangan , mungkin penjaranya tidak muat hehehe. . . . Kan korupsinya berjamaah! Saya juga tidak mau kalah guyon, "Wah, waduknya belum jadi untuk mengairi sawah dan menerangi rumah warga, uangnya sudah banyak yang mengalir dan menerangi kantong teman-teman kita. Jangan-jangan nanti proyeknya tidak selesai-selesai karena uangnya sudah habis duluan. "
Di atas KPK , Polri, dan Kejaksaan pada ribut-ribut , di bawahnya korupsi jalan terus. Soalnya tidak ada yang urus, mungkin para koruptor berharap kalau bisa bukan hanya KPK yang dibubarkan, Polri dan Kejaksaan sekalian bubar, pasti lebih aman. Sekarang sudah ada saja, banyak kasus korupsi di depan mata dibiarkan , mungkin saling menutupi mata karena sudah dapat bagian. Ibarat kata, seguru seilmu, jangan saling mengganggu. Kalau sudah begitu, apa yang bisa kita harapkan lagi? Hanya bisa tersenyum kecut dan merengut! Sambil berdoa, mudah-mudahan saya tidak kepincut....