
Kalau Anda pelanggan harian Kompas atau pemerhati dunia telekomunikasi, tentu tahu bahwa di hari Rabu, 25 Nopember 2009, ada promosi Esia yaitu ponsel murah seharga 99 ribu rupiah di Mal EX, Jakarta. Harga ponsel ini sebenarnya 299 ribu rupiah, tetapi untuk promo hari ini saja, dijual 99 ribu rupiah.
Pada pukul 13.00, ketika aku lewat Mal ini, penjualan ponsel ini ternyata belum berlangsung. Ribuan orang terlihat berkerumun di lapangan parkir sepeda motor Mal EX ini. Mereka mengitari 2 mobil box, yang membawa ponsel-ponsel tersebut.
Dari keterangan beberapa orang, ternyata antrian orang untuk mendapatkan ponsel ini sudah sejak pukul 08.00 WIB. Mereka ini semua antri di dalam mal EX. Tetapi entah kenapa tiba-tiba pihak Esia mengalihkan pembagian ponsel ini di lapangan parkir sepeda motor. Akibatnya mereka yang sudah antri sejak pagi di dalam mal, mesti berebut keluar mal dan malah menjadi antrian paling belakang.
Antrian atau lebih tepat kerumuman massa ini sejak awal sudah tidak tertib. Pada siang hari itu tidak banyak aparat kepolisian maupun Satpol PP . Lebih banyak petugas keamanan dari EX. Anehnya di tengah kerumunan massa, yang mirip penonton konser ini, petugas keamananan justru meletakkan pagar berduri di belakang mobil box. Menurutku ini justru membahayakan. Karena massa yang sudah demikian akan cenderung dorong mendorong, yang dapat berakibat fatal buat mereka yang ada di depan pagar berduri ini. Aku coba ingatkan hal ini kepada petugas keamanan dari EX yang sedang mengangkat pagar berduri. Tapi malah aku semprot amarah petugas tadi. Mungkin dia sedang capek dan dikiranya aku salah satu pengantri yang cerewet.

Aku coba maklumi amarah petugas tadi, dan mencari polisi saja. Aku pun ketemu polisi yang berpangkat tamtama. Aku usulin agar polisi memecah kerumunan massa itu jadi 2, agar yang di depan tidak terdesak dan tergencet pagar berduri. Dia pun mengelak dengan mengatakan bilang saja dengan komandan, sambil menunjuk komandannya yang ada di depan kerumunan massa. “Kita anak buah menunggu perintah komandan saja,”katanya. Maksudku kamu yang bilang ke komandanmu , dodol….kataku dalam hati. Akhirnya aku sempat mengusulkan hal di atas pada komandan yang dia tunjuk tadi. Tapi si komandan cuma terdiam saja.
Tak berapa lama , keluar dari kerumunan seorang perempuan yang pingsan karena tergencet massa. Sementara massa yang lain makin berkerumun, karena penjualan ponsel 99 ribu rupiah itu sudah dimulai. Untungnya tidak ada orang yang cedera karena tergencet pagar berduri. Terlebih setelah satu peleton polisi datang ke mal EX ini. Juga nampak serombongan Satpol PP yang datang juga.
Aku tidak menunggu lama, pukul 13.30 lalu meninggalkan Mal EX dan melanjutkan perjalanan sambil mengutuki Esia yang tidak siap dengan membludaknya calon pembeli ini. Ibarat ini konser musik, maka Esia sebagai penyelenggara kurang antisipasi dan bertanggung jawab terhadap kegiatan ini. Aparat keamanan yang disiapkan tidak memadai, cara penjualan yang berubah-ubah. Lalu ada calon pembeli yang sampai pingsan, tidak ada dari panitia yang membantu.
Promosinya sih boleh hebat, ditampilkan di media massa nasional. Sensasinya juga bolehlah, ada ponsel 99 ribu rupiah, bisa facebook dan radio. Bagaimanapun juga yang namanya promosi, adalah menyentuh aspek keserakahan manusia. Pada titik ini, Esia berhasil mengulik hingga segala ‘nafsu serakah’ manusia muncul untuk mengunjungi kegiatan ini.
Tetapi sayangnya, ‘keserakahan’ ini juga menghinggapi penyelenggara, sehingga tidak memperhitungkan berbondong-bondongnya manusia, dengan tidak melengkapi aparat keamanan yang memadai. Seperti celetukan orang di sebelahku, yang ikutan memotret,”Esia ini pelit sih, coba dia bayar polisi agak banyakan, jadinya bisa tertib.”