Sejak sinetron dan acara interaktif merajai ranah hiburan Indonesia 10-15 tahun terakhir, sebuah fenomena terjadi yakni munculnya puluhan artis yang datang dengan bawaannya masing-masing, ada yang wajahnya cantik, tubuh proporsional, suara bagus, pintar, tingkah laku unik, multi talenta..banyak lagi.
Komunitas yang sekonyong-konyong terbentuk itu mendatangkan beragam cerita, salah satunya adalah kisah cinta sepasang artis. Tapi, jika mengamati-kisah yang terjadi nyaris identik hampir di setiap pasangan.
Yuk kita mulai...
Amir adalah anak desa yang punya postur sangat ideal, tinggi 185 cm dan berat badan 78 kg-wajahnya pun lumayan, gantenglah menurut ukuran desanya. Alis tebal, mukanya bersih, jerawatpun selalu pilih tempat untuk hinggap, paling hanya di bawah bibir sebelah kanan atau di atas alis kiri, sesekali di punggung (yang nggak kelihatan). Kulit sawo mateng, seperti umumnya anak desa, kumispun cuma sekerat saja. Almost no hairy..
Amir, kebetulan tertangkap seorang pemandu bakat yang sedang mengikuti shooting sebuah film misteri di desa mereka. Diajaklah Amir, untuk jadi cameo. Sebagai pengendara sepeda yang mau ronda melewati sebuah kuburan tua. Lumayan nongol 4 menit di scene !
Karena dianggap ber-talenta, singkat cerita Amir diboyong ke Jakarta. Hanya dalam waktu setengah tahun, wajah berkarakter dan tubuh atletis itu menghiasi 30% tampilan produk iklan, dan main sudah 2 film serta 3 sinetron stripping. Jadilah Amir ikon baru di industri entertainment. Uangpun menjadi mudah buat Amir, tak kurang Rp 400 juta sudah ada di tabungannya, jadi dia bisa kirim ortunya Rp 5-6 juta tiap bulan, untuk biaya ibu, ayah dan 12 adiknya. Lha !!!
Karir Amir, menanjak..menanjak...semua segmen selalu ada Amir, talk show, fun game, sinetron lepas, sinetron stripping, film, wisata kuliner, jalan-jalan, belum lagi kontrak 15 iklan, dari mulai produk rokok, apparrel, bank, sabun mandi, pisau cukur, obat flu, susu ibu hamil, sampai perusahaan penerbangan, seakan Amir nggak pernah kehabisan penghasilan...Mulailah dia bangun rumah orang tuanya, beli tanah di kampung, bangun rumah sendiri, beli apartemen, motor gede dan beberapa mobil niaga serta satu mobil sport ! The Dream come true..
Kita pindah lokasi..
Citta, cantik, 175 cm tingginya, putri tunggal pengusaha kaya, papa yang bergerak di bidang ekspor CPO dan impor berlian, sementara mama punya 10 toko emas di Jakarta, dan masing-masing 2 di setiap kota besar, belum lagi si papa sudah mulai main-main di bisnis mining, sebagai pemilik konsesi 3 blok minyak di Kalimantan dan 10 blok konsesi batu bara di Sulawesi. Kekayaan ditaksir, lebih dari USD 1 Milyar !
Rumah di kawasan Sentul, luas 8.000 meter persegi, punya 3 kolam renang, dengan satu kolam renang sekelas lintasan Olimpiade, rumah mewah bergaya Mediterrania, dua lantai, asri, karena 1,000 meter lahan dibuat seperti mini-forest (hutan kecil), kontur berbukit, udara segar. Mari kita ke garasinya, ada 4 mobil niaga sekelas MPV, 3 motor gede, 5 sedan 3,500 cc, 2 sepeda mahal, 3 mobil sport dan 3 pasang sepatu roda...Aha !!!
Citta, sekarang sekolah di sekolah internasional-umurnya masih 17 tahun, menguasai 3 bahasa, Inggris, Perancis dan Indonesia tentunya. Cita-citanya Citta, jadi pengusaha seperti ortunya. Namun Citta punya kesenangan akan seni peran cukup tinggi, untuk membunuh waktu dan mencari teman, jadilah dia bintang sebuah sinetron lepas, ceritanya nggak jauh-jauh dari keranda dan kuburan !
Next...ketemulah dia dengan si Amir, wow..Citta benar-benar terpesona, dalam hatinya "lokal banget..., tapi berkarakter". Amir juga punya perasaan yang sama, banyak lawan main yang cantik dihadapinya, tapi tak seterpesona dengan Citta.
Lagi, singkat cerita, Citta makin ketagihan main sinetron dan film, apalagi ada Amir sebagai lawan main. Produser melihat ini-potensial, chemistry cocok, public figure, jadilah mereka sosok profit, ikon bisnis dengan cinta yang juga semakin berkembang di antara keduanya.
Mulailah wartawan gossip mengejar-ngejar mereka, tapi keduanya seperti kompak, menjawab no comment, atau menghindari media sambil menunduk-nunduk, lalu masuk mobil. Atau, manager nya yang menjawab ! Tidak ada pengakuan, tapi sering kepergok bersamaan di sebuah restaurant, atau sedang menuju bioskop. Nyamuk pers ini sebenarnya sudah tahu, tapi belum afdol rasanya kalo tidak mendapat jawaban langsung, atau juga wawancara eksklusif.
Sepertinya, media nggak berhenti-berhenti mencocor keduanya. Sementara itu, pada kenyataannya Citta dan Amir sering melalui hari bersama, hanya manager mereka atau penata rias pribadi yang tahu rahasianya.
Penata rias ? Wuih, pasti sosoknya laki-laki, kurus, kukunya terawat, rambut sebahu, rapi, ketawanya renyah, pakai anting sebelah plus tato kupu-kupu di tangan kiri dan bintang di leher. Wanginya naudzubillah...bawaannya happy terus, padahal adik-adiknya di rumah untuk ngelap ingusnya aja pake baju, dan ibunya sudah janda dua kali, yang sekarang duduk nonton teve pake koyo di sekujur wajah dan lehernya !
Keakraban Citta dan Amir, makin nggak terkontrol, terjadilah sesuatu di mereka. Citta hamil. Sementara Amir, punya hobi baru menjaga stamina, dengan ngisap sabu setiap hari.
Dunia seperti meledak !
Mendengar ini, ayah Amir jatuh sakit. Kondisi ususnya sudah semakin parah, karena tifus yang terus menyerang. Ke sininya, Amir makin jarang mengirim uang ke kampung, dia asyik menyeimbangkan dirinya dengan Citta. Ibunya hanya ngandelin warung yang dibuat waktu Amir masih sholeh dan rajin kirim uang, tapi makin lama hasilnya makin minim, karena akhirnya semua kegiatan rumah tangga cuma dari situ sumbernya.
Papa Citta ngamuk nggak kepalang, putri semata wayangnya ternoda ! Sama anak kampung lagi, padahal Citta sudah digadang-gadang akan dijodohkan dengan seorang anak menteri, doktor ekonomi, yang juga pengusaha perminyakan sukses. Byarrrr...semuanya bubar.
Terpaksalah Citta berjodoh dengan Amir, untuk menutupi malu-tak satupun orang tahu mereka hamil kecuali managernya dan penata rias, pesta dilangsungkan besar-besaran di sebuah hotel bintang lima. Pelaminan dan assesoris pesta menghabiskan biaya yang cukup besar, dan press conference bahwa mereka akan vakum dulu sementara untuk istirahat dan berlibur di Eropa selama 6 bulan ! Strategi jitu !
Amir dan Citta, sepi dari media. Manalah ada yang tahu orang-orang di Eropa siapa dua insan ini. Sementara itu, ada kabar mengenaskan, ayah Amir meninggal, dan Amir tidak pulang !
Media di tanah air mulai heboh meliput, bahkan sampai syuting dari liang kubur segala, untuk memancing Amir keluar dari persembunyiannya. Amir bergeming. Walau dia tahu berita itu dari internet. Ibunya ngomong sumpah serapah di media, dan..ini makanan empuk bagi kompetitor mereka, alias artis lain.
Setahun kemudian Amir dan Citta pulang, kondisi sudah jauh berubah. Karena terlalu lama menghilang mereka tidak dipakai lagi dimana-mana, comeback-nya gagal. Sementara hidup penuh biaya, Amir sepi order...dan Citta sudah nggak pede lagi karena badannya terus membengkak akibat pola makan yang tidak teratur, ikut fitness males, olah raga capek, jadilah Citta ibu-ibu gemuk dengan tumpukan lemak dimana-mana.
Papa Citta juga menyetop fasilitasnya buat Citta, ngasih pelajaran katanya ke media. Jadilah Amir pencari nafkah di tengah kehidupan yang glamour, mau usaha kena tipu terus, karena nggak bakat, silaturrahmi ke kampung-orang sudah kadung benci. Konsumsinya ke sabu pun menjadi-jadi, karena stress dan pikiran yang buntu.
Sampai saatnya terjadi.
Citta menjadi sosok mengerikan, pemarah, pemeras suami dan sering menyerapah Amir dengan kalimat-kalimat pahit. Amir makin frustasi, kekayaan makin bodong, dan celakanya..dalam sebuah pesta, Amir tertangkap mengkonsumsi sabu. Tamatlah riwayatnya....
Amir masuk penjara, Citta bukannya menemani, malah minta cerai dan kembali ke ortunya. Bubar semuanya..
Kehidupan yang begitu 'menghentak' bagi Amir, sukses, terkenal, kaya, sekarang 'terjun bebas' menjadi papa dan narapidana pula. Belum lagi tuntutan si penata rias dan manager yang jadi tanggungan Amir karena Citta 'buang badan', tuntutan materi yang nggak kecil, dan akan menuntut Amir sebab penipuan.
Amir dijerat pasal berlapis, total hukumannya jadi 15 tahun penjara, uang habis, sementara Citta tetap saja kaya raya, bahkan sekarang memiliki PH sendiri dan membawahi beberapa perusahaan mamanya plus kedekatan dengan seorang duda yang juga pengusaha sukses.
Enak di Citta..nggak enak di Amir, pesan moralnya : Ingat waktu susahmu, jika datang senangmu. Ingat sakitmu, saat datang sehatmu.