Semua orang di negeri indah ini, kini sedang dalam kegamangan hidup yang tak terelakan. Kesulitan ekonomi yang melilit, standar moral yang carut-marut, perseteruan para politisi, bencana alam silih berganti, supremasi hukum yang mandul, kemacetan lalu lintas yang semakin parah, korupsi yang tetap menggurita, prostitusi yang semakin marak dan seonggok persoalan lainnya, yang semakin menambah hiruk pikuk kegalauan di Republik ini. Hasilnya, jadilah masyarakat hari ini, masyarakat yang egois, mau menang sendiri, kurang peduli, individualistis, arogan, cenderung pada kekerasan, stress, depresi, stroke, berkepribadian ganda dan akhirnya...GILA. Ya, penyakit-penyakit ini tumbuh dan berkembang dengan pesat belakangan ini.
Rasa kebersamaan, senasib dan sepenanggungan, sirna dibawah ideologi kebendaan, hedonisme, materialistik & kapitalisme. Akhirnya muncul suatu opini "YANG KAYA MAKIN KAYA, YANG MISKIN MAKIN MISKIN". Slogan ini pernah terungkap dalam berita bahwa orang kaya (milyarder) di Indonesia bertambah, sementara orang yang miskin juga semakin banyak. Selain itu pula muncul krisis pembenaran terhadap problematika sosial yang keliru, sehingga menghancurkan reputasi kesadaran akal sehat kita yang mengakibatkan, semakin maraknya bentuk TAWURAN di kalangan masyarakat itu sendiri. Seperti yang telah terjadi pada waktu yang lalu & saat ini tentang TAWURAN antar sekolah, antar kampus, antar kampung atau desa, bahkan antar elit politik.
Selain itu pula kita mesti prihatin, negeri subur yang menyimpan sejuta kekayaan alam ini ditempati oleh insan-insan yang sebagian besar dari mereka kesulitan mencari sebersit kesejahteraan. Rakyat indonesia ini memang seperti pepatah mengatakan ‘bagai ayam mati di lumbung padi'. Jumlah mereka tidak sedikit. para pencari kerja dari berbagai usia, tiap tahun kian bertambah. Kaum pengangguran membludak di mana-mana. Jumlah lapangan kerja yang ada, tidak sesuai dengan banyaknya sumber daya manusia. Sangat miris sekali, kalau kita lihat, orang berbondong-bondong hengkang dari negrinya sendiri, karena sulitnya mendapat pekerjaan. Bahkan di dalam negri sendiri, karena sulitnya mendapat pekerjaan, banyak orang-orang terpelajar, seperti para sarjana. Mereka tak segan-segan menerjuni serendah apapun bidang pekerjaan & karirnya, asalkan halal.
Betapa penyelenggara kekuasaan di Republik ini tak berpihak kepada rakyatnya sendiri yang nota-benenya dihuni oleh mayoritas muslim. Dalam berprilaku dan pelaksanaan hukum, kita telah kehilangan nalar. Hukum yang mestinya jadi panglima, direkayasa mengikuti kepentingan politik, sehingga kehidupan kita dalam berbangsa dan bernegara menjadi ternoda. Selain itu pula problem bangsa ini makin diperparah dengan kehidupan berbudaya dan seni kita sendiri, yang sudah tak mencerminkan nilai & norma-norma dianut mayoritas penduduk negeri ini. Film-film ekstrim dengan bebasnya di tonton, terutama oleh kalangan muda kita, termasuk para ABG dan anak-anak di bawah umur. Impor budaya lewat film, baik di televisi maupun bioskop telah mencekoki hati dan pikiran sebagian besar kaum muda kita.
Setidaknya, itulah catatan penting yang terjadi di republik ini sekarang. Mengeluh dan berkeluh kesah saja, memang tidak akan menyelesaikan persoalan. Kita perlu menginventarisir kembali apa-apa saja yang sudah kita kerjakan, mana yang belum dan apa rencana kita ke depan. Jelas sekali, masih banyak program kita yang terbengkalai. Apapun ceritanya, kita harus bangkit dari kebodohan ini. Jangan pernah kita bangkit dalam keadaan tidur, sebab kalau demikian, apa yang kita lakukan hanyalah mimpi-mimpi belaka.
Percayalah, hari ini dan hari esok adalah milik kita. Marilah kita isi dengan format, formula dan rumus kita sendiri. Jangan pernah kita memakai rumus orang lain. Kembalilah pada jati diri kita sebenarnya. Berjuanglah saudaraKu, demi masa depan kita dan republik yang kita cintai ini.