Renggg..renggg...
Di pagi ini aku terbangun oleh suara raungan motor ceper milik ayahku.Ayahku adalah seorang pecinta motor ceper.Dari tangannya yang lusuh sudah banyak dihasilkan karya-karya modifikasi motor ceper yang karyanya beberapa dijual kepada teman-temannya, uangnya digunakan untuk membiayai aku sekolah dan membayar hutang-hutang kepada yang empunya kontrakan dan kontrakan rumah yang lama.
Ayahku sudah lama bercerai dengan ibuku sejak aku berumur 2 tahun,dan sekarang ibuku sudah menikah lagi dengan pengusaha kaya, sedangkan ayah masih saja bergelut dengan kegiatan modifikasi motor cepernya.
Hari ini aku sedang bersiap-siap untuk ikut lomba menggambar bebas di sebuah pusat perbelanjaan di daerah Bekasi. Ya,aku berharap sekali aku bisa menang. Banyak yang bilang kalau ayahku tidak bisa mendidik anaknya dengan baik, karena memang dari penampilan ayahku yang sedikit nyentrik. Dimulai dari rambut yang sengaja dibuat gimbal (dan menghabiskan banyak shampoo anti ketombe..), dan juga tattoo yang tergambar hampir di seluruh tubuhnya yang kurus, belum lagi tindikan di hidung, dan anting-anting yang memenuhi kupingnya. Serta baju yang sengaja dikecilin dan terlihat sangat ketat, dan rantai-rantai yang digantung di celananya, tak ketinggalan sepatu boot tinggi yang semakin memberikan kesan kalau ayahku seperti preman.
Dari luar ayah memanggilku untuk segera mandi dan sarapan karena ternyata ayahku sudah sengaja pagi-pagi buta membuatkan aku sarapan omelet telur plus saos tomat dan nasi hangat kesukaanku.
Jam menunujukkan pukul 8 pagi saat aku bersiap-siap untuk berangkat lomba, tapi tiba-tiba ayah ku menghentikan langkahnya,dan memandang erat kepadaku..
Ia berkata...
"Anakku yang cantik, maafkan ayahmu..,ayah sudah terlalu sering membuat kamu malu dengan penampilan ayah. Karena ayah tahu banyak yang tidak suka dengan penampilan ayah dan menganggap remeh ayah. Saat lomba nanti, kamu tidak usah memikirkan menang atau kalah, karena buat ayah 2 hal itu hanya sebuah predikat yang bernilai sementara dan kemenangan yang sesungguhanya adalah di saat kamu bisa melawan rasa takutmu sendiri. Di hati ayah.. kamu adalah juara dari segalanya..ayah sayang kamu..".
Lalu ia memelukku erat, dalam hati aku berkata .."aku juga sayang ayah..."
Ketika sampai di tempat lomba, banyak orang yang memandang sinis ke arah kami..tapi kami tidak peduli toh yang penting kami ikut serta dan bisa memberikan hasil yang terbaik.
Ketika lomba berlangsung, aku lihat dari jauh ayah terus mendukungku. Dengan berbekal pensil warna yang didapat dari hasil ayah menjual karyanya, aku semangat sekali menggambar, sambil sesekali aku istirahat dan meminta minum kepada ayah.
Akhirnya selesai juga karyaku dan kuberikan kepada ayah agar segera dapat dikumpulkan kepada panitia.
Deg deg..deg..deg..
Waktu pengumuman tiba, dengan memeluk ayah aku berdoa dalam hati agar aku bisa menang dalam lomba kali ini. Karena aku ingin membuat ayahku bangga dengan apa yang aku peroleh kali ini.
Duhh,juara ke 2 sudah dibacakan .. aku mulai pesimis, karena aku melihat yang memperoleh juara 2, hasil gambarnya sangat bagus.Ketika tiba dibacakan hasil untuk juara 1 dan juara favorit "Nur Layla"..hah...aku tersentak kaget dan terharu. Ayah lalu memelukku sambil menangis dia membisikkan kepadaku.."Kamu berhasil anakku..".
Dengan berlari kecil aku melangkah ke panggung. Sambil ditemani ayahku aku mengangkat pialaku dan meminta ayahku untuk menafsirkan bahasaku. Aku memang terlahir bisu dan hanya ayahku yang menjadi perantaraku berbicara selama ini.
Inilah yang aku inginkan, berdiri di sebuah panggung sambil mengangkat piala dan ada Ayah di sampingku. Kulihat ayah tersenyum bangga dan matanya berkaca-kaca. Dalam hati aku berkata, "Ibu,bila kau melihatku, aku ingin kau tahu bahwa ayah tak seseram yang dibilang orang, tak sehina yang orang pandang, aku bangga bu, menjadi anak ayahku, bagaimanapun ibu adalah orang yang melahirkanku,tetapi ayah yang membesarkanku...aku juga sayang Ibu.."
Aku pulang dengan menggandeng erat tangan ayahku. Kulihat kebahagiaan terpancar begitu kuat dari matanya, aku senang sekali bisa membuat ayahku bangga, dan tetangga yang tadinya hanya bisa menilai kami sebelah mata kini berbalik menghargai kami.
Terima Kasih Tuhan..
Kau begitu baik terhadap kami,sayangilah kami,sayangi ayahku,buatlah dia bahagia dengan segala keunikannya.
Amin