Wawan

Korban Globalisasi

Jumat, 13-11-2009 18:21:32 oleh: Wawan
Kanal: Opini

Bulan Oktober 2009, gereja kami mengadakan kegiatan dalam rangka ulang tahun paroki. Banyak kegiatan yang dilakukan, beberapa di antaranya dilakukan untuk dan oleh kaum muda. Namun sayangnya, kegiatan-kegiatan ini tidak bisa dilaksanakan dengan baik. Dari tiga kegiatan dengan sasaran kaum muda, dua di antaranya sepi peserta. Kegiatan yang dilaksanakan oleh kaum muda pun dinilai tidak berhasil. Padahal dana yang dialokasikan untuk publikasi tidak sedikit jumlahnya.

Mungkin Anda yang berprofesi sebagai pendidik, pernah mengalami hal senada. Rekan-rekan muda yang Anda didik, kurang, bahkan tidak, antusias mengikuti program yang Anda berikan. Padahal pendidikan ini dibiayai oleh orang tua mereka dan ditujukan kepada mereka.

Mungkin inilah tanda-tanda bahwa dampak negatif globalisasi telah menjangkiti kaum muda.

Dampak negatif globalisasi memang sudah menjadi perhatian beberapa pihak. Marija Lugaric dalam laporan berjudul “YOUTH PARTICIPATION IN THE DEMOCRATIC PROCESSES” (www.ipu.org) mengatakan bahwa dalam konteks politik, globalisasi membuat banyak kaum muda menjauh dari realitas kehidupan politik. Sedang menurut situs wikipedia, globalisasi telah mendatangkan budaya populer (pop culture) dan konsumerisme.

Jika kita jeli mengamati, ketiga hal ini (menjauhnya kaum muda dari realitas kehidupan, merebaknya budaya pop dan konsumerisme) sudah mulai terlihat pada kalangan remaja dan kaum muda. Booming facebook adalah salah satu contohnya. Jejaring sosial internet yang kini memiliki populasi sekitar 200 juta orang ini benar-benar populer di kalangan kaum muda. Mereka rela menghabiskan pulsa dan waktu hanya demi meng-up-date status facebook. HP-HP yang terkoneksi internet pun laris manis. Orang tua dibuat kalang kabut dengan todongan ini. HP seakan menjadi kewajiban bagi para remaja. Tak segan mereka mengancam orang tuanya untuk mogok sekolah jika belum dibelikan HP. Demikian juga dengan dunia pendidikan. Bagi kalangan pelajar, pendidikan hanya menjadi tempat untuk mencari teman, mencari status sosial dan untuk menunda pengangguran.

Secara sederhana budaya populer merupakan budaya yang lebih mementingkan unsur penampilan dibanding pemaknaan. Di layar kaca, budaya populer terwujud dalam reality show dan infoteinment yang laku dijual. Hal ini tentu menular pada kalangan kaum muda. Akibatnya kegiatan yang bersifat sosial dan keagamaan pun sepi peminat. Televisi mengalahkan jam belajar dan jam berdoa. Orang lebih suka menonton pertunjukan band dibanding ikut dalam kegiatan bakti sosial. Di lingkungan pendidikan, kegiatan ekstrakurikuler yang kelihatan keren lebih laku dibanding kegiatan yang bersifat intelektual, seperti kelompok karya ilmiah remaja.

Konsumerisme adalah keadaan di mana orang lebih suka membayar dibanding membuat. Dan ini dilakukan dalam frekuensi yang berlebihan. Konsumerisme bisa diturunkan menjadi budaya instan. Asal ada dana, semua bisa dilakukan secara cepat. Maka muncullah apa yang disebut dai cilik, bintang idola dan lainnya yang diangkat hanya karena menang dalam polling. Di kalangan pelajar, konsumerisme muncul dalam bentuk keengganan untuk membeli dan membaca text book yang tebal. Omongan guru menjadi pegangan 100%.

Jika ketiga hal ini dibiarkan terus berkembang, maka ketahanan sosial masyarakat akan runtuh. Satu individu menjadi terasing terhadap tetangga satu kampung. Sikap saling acuh muncul dan bisa menjalar. Akibat lainnya adalah dominannya solidaritas semu. Orang berpikir bahwa satu pencetan tombol sudah cukup untuk menyelamatkan bangsa ini dari ancaman kehancuran. Dunia pendidikan menjadi kehilangan makna, tak lebih dari lembaga yang memproduksi selembar ijazah.

Bagaimana solusinya? Tentu saja dengan melalukan “perlawanan” terhadap globalisasi. “Perlawanan” menggunakan tanda kutip karena globalisasi tidak bisa dibendung lagi, tidak bisa dilawan secara frontal. Yang bisa hanya di arahkan pada sasaran yang tepat. Nilai-nilai yang baik diambil, dan nilai-nilai yang tidak baik diganti dengan kebijaksanaan lokal (local wisdom). Budaya impor harus diimbangi dengan pengenalan secara terus-menerus terhadap budaya lokal. Nilai-nilai duniawi harus diimbangi dengan nilai-nilai keagamaan. Konsumerisme pasar harus dibarengi dengan muatan humanisme dan keadilan sosial. Semua ini harus dilakukan tanpa kenal lelah. Niscaya, kita akan mampu menapaki globalisasi tanpa kehilangan identitas diri dan sosial.

 

Wawan S

 

Bookmark and Share

Tag/Label globalisasi, kaum muda, opini
Penilaian anda

Warta terkait
Kirim ke Teman
* Email Teman:
Pisahkan tiap email dengan titik koma.
Contoh: bill@microsoft.com; steve@apple.com
* Email anda:
Tambahkan komentar anda
* Nama lengkap:
* Email:
tidak ditampilkan untuk umum
  • Hal-hal yang perlu diperhatikan :
  • - Berilah komentar yang relevan dengan topik warta ini. Bacalah semua dari warta maupun komentar-komentar lain, sebelum memberi komentar.
  • - Tidak membuat komentar yang bernuansa SARA, pornografi, menyerang pribadi, menyebarkan kebencian dan kekerasan maupun pendapat yang melanggar hukum.
  • - Tidak beriklan di kolom komentar ini.
  • - Gunakan bahasa yang santun dan beri respek pada semua pendapat meskipun berbeda pendapat.
  • - Gunakan nama asli dan bila Anda sudah menjadi anggota Wikimu, upayakan login member terlebih dahulu. Bila belum menjadi anggota, email yang Anda cantumkan di kolom email, tidak akan dimunculkan.
* Komentar:  
captcha Silakan tulis kode disamping ini untuk melanjutkan.

PALING BERGUNA (bulan ini)

TERBANYAK DILIHAT (minggu ini)

TERBARU

50 TAG / LABEL TERPOPULER

 

Link Wikimu


Mau pasang link Wikimu di blog/situs Anda? copy link ini

TESTIMONI PRODUK

Minuman Sereal Baru ENERFILL

Jumat, 05-06-2009 18:04:42 oleh: Rina Linda

Bosan dengan yg biasa??? Minuman sereal ENERFILL, di setiap porsinya mengandung kombinasi 8 Vitamin, Protein, Kalsium & mineral lainnya yg dibutuhkan tubuh. Kombinasi rasa yg nikmat dengan sensasi baru BUTIRAN OATS PADAT di dalamnya bikin ENERFILL sebagai minuman penambah energi dengan kenikmatan rasa yang mudah tersaji. Cukup disajikan dgn 150 ml air panas ke dlam gelas, rasakan sensasi rasa baru coklat atau vanilla. ENERFILL, minuman penunda lapar yang lengkap, enak, lebih mengenyangkan & sehat untuk penambah energimu



Testimoniku:
inasa ori sativa: barang apa ini ? tidak bermutu .

Testimoni selengkapnya... (3 komentar)



Testimoniku Terbaru:
Chely   pada  IM2 Broom Unlimited by Indosat
ria isdianti   pada  Buavita Jus
Denny   pada  Kawasaki Kaze R

SUARA KITA

Simpati Kirim SMS Iklan Seenaknya

Sabtu, 21-02-2009 12:22:33 oleh: Eko Nurhuda
Saya pengguna Simpati sejak pertama kali bisa beli hape di tahun 2002. Sampai sekarang saya masih setia dengan Simpati karena alasan coverage area. Namun belakangan ini kesetiaan saya terganggu karena Simpati suka seenaknya mengirim SMS berisi iklan layanan yang tidak saya butuhkan (dan sering!). Sungguh menyebalkan..!

Suaraku:
syamsul kheir: nambahin opini nya mas eko. saya yangjuga pengguna jasa dari produk telkomsel dah banyak dikecewainnya.contohnya kmaren saya ngenggunain NSP yang katanya gratis cuman ujujng-ujungnya mah saya slalu dapet smsm yg ga perlu dan nyedot pulsa saya. tolong dong telkomsel yg bener

Suara kita selengkapnya... (8 komentar)



Suara Kita Terbaru:
syamsul kheir   pada  Simpati Kirim SMS Iklan Seenaknya
wahyudiansyah   pada  Simpati Kirim SMS Iklan Seenaknya
anda renaco.Simatupang,Amk   pada  Visi Lingkungan Caleg Kita

DARI ADMIN

Rekan-rekan,

Wikimu juga mempunyai PUBLIC PROFILE di Facebook jika anda ingin menjadi Fans silahkan kunjungi kami. Jangan ketinggalan kami mempunyai lomba komentar di Public Profile setiap hari Senin dan Kamis. Nantikan terus artikel yang menjadi topik dalam lomba komentar.

Untuk pertanyaan dan masukkan, silahkan email ke

info@wikimu.com

salam,

21 April 2009

Admin.

Masukan, pertanyaan, kritikan terhadap kami silakan kirim email ke info@wikimu.com atau telp : 021-7222921 Senin-Jumat (08.00 - 17.00 WIB)
COPYRIGHT ©2006 WIKIMU.COM - Jurnalisme Publik (Citizen Journalism). All Rights Reserved | PRIVACY POLICY