Bulan Oktober 2009, gereja kami mengadakan kegiatan dalam rangka ulang tahun paroki. Banyak kegiatan yang dilakukan, beberapa di antaranya dilakukan untuk dan oleh kaum muda. Namun sayangnya, kegiatan-kegiatan ini tidak bisa dilaksanakan dengan baik. Dari tiga kegiatan dengan sasaran kaum muda, dua di antaranya sepi peserta. Kegiatan yang dilaksanakan oleh kaum muda pun dinilai tidak berhasil. Padahal dana yang dialokasikan untuk publikasi tidak sedikit jumlahnya.
Mungkin Anda yang berprofesi sebagai pendidik, pernah mengalami hal senada. Rekan-rekan muda yang Anda didik, kurang, bahkan tidak, antusias mengikuti program yang Anda berikan. Padahal pendidikan ini dibiayai oleh orang tua mereka dan ditujukan kepada mereka.
Mungkin inilah tanda-tanda bahwa dampak negatif globalisasi telah menjangkiti kaum muda.
Dampak negatif globalisasi memang sudah menjadi perhatian beberapa pihak. Marija Lugaric dalam laporan berjudul “YOUTH PARTICIPATION IN THE DEMOCRATIC PROCESSES” (www.ipu.org) mengatakan bahwa dalam konteks politik, globalisasi membuat banyak kaum muda menjauh dari realitas kehidupan politik. Sedang menurut situs wikipedia, globalisasi telah mendatangkan budaya populer (pop culture) dan konsumerisme.
Jika kita jeli mengamati, ketiga hal ini (menjauhnya kaum muda dari realitas kehidupan, merebaknya budaya pop dan konsumerisme) sudah mulai terlihat pada kalangan remaja dan kaum muda. Booming facebook adalah salah satu contohnya. Jejaring sosial internet yang kini memiliki populasi sekitar 200 juta orang ini benar-benar populer di kalangan kaum muda. Mereka rela menghabiskan pulsa dan waktu hanya demi meng-up-date status facebook. HP-HP yang terkoneksi internet pun laris manis. Orang tua dibuat kalang kabut dengan todongan ini. HP seakan menjadi kewajiban bagi para remaja. Tak segan mereka mengancam orang tuanya untuk mogok sekolah jika belum dibelikan HP. Demikian juga dengan dunia pendidikan. Bagi kalangan pelajar, pendidikan hanya menjadi tempat untuk mencari teman, mencari status sosial dan untuk menunda pengangguran.
Secara sederhana budaya populer merupakan budaya yang lebih mementingkan unsur penampilan dibanding pemaknaan. Di layar kaca, budaya populer terwujud dalam reality show dan infoteinment yang laku dijual. Hal ini tentu menular pada kalangan kaum muda. Akibatnya kegiatan yang bersifat sosial dan keagamaan pun sepi peminat. Televisi mengalahkan jam belajar dan jam berdoa. Orang lebih suka menonton pertunjukan band dibanding ikut dalam kegiatan bakti sosial. Di lingkungan pendidikan, kegiatan ekstrakurikuler yang kelihatan keren lebih laku dibanding kegiatan yang bersifat intelektual, seperti kelompok karya ilmiah remaja.
Konsumerisme adalah keadaan di mana orang lebih suka membayar dibanding membuat. Dan ini dilakukan dalam frekuensi yang berlebihan. Konsumerisme bisa diturunkan menjadi budaya instan. Asal ada dana, semua bisa dilakukan secara cepat. Maka muncullah apa yang disebut dai cilik, bintang idola dan lainnya yang diangkat hanya karena menang dalam polling. Di kalangan pelajar, konsumerisme muncul dalam bentuk keengganan untuk membeli dan membaca text book yang tebal. Omongan guru menjadi pegangan 100%.
Jika ketiga hal ini dibiarkan terus berkembang, maka ketahanan sosial masyarakat akan runtuh. Satu individu menjadi terasing terhadap tetangga satu kampung. Sikap saling acuh muncul dan bisa menjalar. Akibat lainnya adalah dominannya solidaritas semu. Orang berpikir bahwa satu pencetan tombol sudah cukup untuk menyelamatkan bangsa ini dari ancaman kehancuran. Dunia pendidikan menjadi kehilangan makna, tak lebih dari lembaga yang memproduksi selembar ijazah.
Bagaimana solusinya? Tentu saja dengan melalukan “perlawanan” terhadap globalisasi. “Perlawanan” menggunakan tanda kutip karena globalisasi tidak bisa dibendung lagi, tidak bisa dilawan secara frontal. Yang bisa hanya di arahkan pada sasaran yang tepat. Nilai-nilai yang baik diambil, dan nilai-nilai yang tidak baik diganti dengan kebijaksanaan lokal (local wisdom). Budaya impor harus diimbangi dengan pengenalan secara terus-menerus terhadap budaya lokal. Nilai-nilai duniawi harus diimbangi dengan nilai-nilai keagamaan. Konsumerisme pasar harus dibarengi dengan muatan humanisme dan keadilan sosial. Semua ini harus dilakukan tanpa kenal lelah. Niscaya, kita akan mampu menapaki globalisasi tanpa kehilangan identitas diri dan sosial.
Wawan S