Rahmah Hasjim

Adakah Hukum Karma dalam Islam?

Jumat, 09-10-2009 14:00:46 oleh: Rahmah Hasjim
Kanal: Opini

Seorang teman baru saja bercerita bahwa putranya wafat dalam usia 8 tahun tanpa sempat menikmati kehidupan seperti layaknya anak-anak. Sejak lahir sang putra tidak memiliki tulang belakang yang menyangga tubuh sehingga tak mampu duduk apalagi berdiri. Sepanjang hidup, putranya hanya berbaring di tempat tidur. Jika pun ingin duduk harus menyandar pada orang dewasa. Jika bepergian cukup digendong sebagaimana kita menggendong ransel. Saya tentu saja merasa sangat prihatin mendengar ceritanya. Tapi saya kemudian menjadi terkejut ketika teman ini bertanya “Apakah ada yang namanya hukum karma dalam Islam?”. Tentu ini bukan pertanyaan mudah karena saya bukan seorang ahli agama Islam. Sepanjang pengetahuan saya, hukum karma dipercaya teman-teman yang beragama Hindu.

Saya mencoba bertanya balik mengapa teman saya sampai pada pertanyaan itu. Katanya, sejak sebelum menikah dia sudah minta suaminya berusaha mencari pekerjaan lain karena status suami yang seorang penentu proyek pada sebuah instansi memungkinkan suaminya mendapat uang dengan cara yang aneh.

Mengapa aneh? Ya. Sang suami mendapat fee lumayan besar setiap kali kontraktor rekanan kantornya mengajukan proyek pembangunan maupun perbaikan jalan. Dengan tandatangannya, sebuah proyek ditentukan jalan atau tidak. Dan sang suami tak pernah mampu menolak tawaran fee yang menggiurkan meski secara kasat mata nampak jelas biaya yang diajukan tak sepadan dengan kemungkinan hasil yang didapat. Maksudnya, sang suami tahu persis dengan nilai proyek itu sebuah ruas jalan akan dibangun dengan panjang dan kualitas tertentu tapi pada realitanya ruas jalan lebih pendek dan kualitas jalan itu tak bertahan lama.

Sebagai istri, teman saya ini takut sekali jika uang-uang yang didapat sang suami akan membawa akibat buruk pada kehidupan mereka nantinya. Karena itu teman saya berulangkali meminta sang suami mencari pekerjaan lain yang lebih jelas dan lebih halal uangnya. Tapi selalu saja ketakutan teman saya itu tak digubris. Bahkan sang suami mentertawainya dengan mengatakan “Nggak mungkin uang yang saya dapat membawa akibat buruk bagi kita. Bahkan kita bisa membeli apa yang kita inginkan selama ini ya karena adanya uang itu”.

Ketika teman saya hamil, sekali lagi dia minta suaminya pindah kerja karena khawatir anaknya akan menerima akibat buruk dari uang yang tak jelas itu. Tapi usahanya sia-sia. Ketika teman ini melahirkan dan mendapati kenyataan sang putra terlahir dengan kondisi begitu mengenaskan, sang suami justru menyalahkan dan menuduhnya telah membuat bayi mereka cacat.

Mendengar cerita ini, saya makin terdiam. Sekilas saya ingat petuah kyai di tempat saya belajar dulu bahwa kita harus pastikan uang yang kita gunakan untuk makan benar-benar halal karena setiap makanan akan menjadi darah dan daging di tubuh dan akan mempengaruhi karakter seseorang.

Kepada teman ini, saya yakinkan bahwa Tuhan yang selalu Maha Pengasih tak akan memberi sesuatu di luar kesanggupan kita menanggungnya. Maka kita harus belajar berpikir positif kepada Tuhan bahwa dengan kejadian yang kita anggap buruk ini, sebenarnya Tuhan hanya sedang membantu kita untuk menjadi lebih kuat. Bukankah ada pepatah yang mengatakan “sesuatu yang tidak membunuhmu, hanya akan menjadikanmu lebih kuat”?

Di rumah saya mencoba mencari sebuah ayat Qur’an yang sepanjang jalan pulang tadi menari-nari di kepala terkait dengan pertanyaannya tentang hukum karma. Dan saya menemukan ayat ini : Karena itu barangsiapa yang mengerjakan kebaikan meski seberat debu, dia pasti akan melihatnya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan meski seberat atom pun, dia pasti akan melihat (balasan) nya pula” (Q.S.99: 7 & 8). 

Saya tak tahu apakah kedua ayat di atas bisa diartikan bahwa hukum karma juga dipercaya dalam Islam. Tetapi saya kira kedua ayat tersebut dengan sangat jelas menggambarkan tentang hukum sebab akibat dan pastinya Tuhan ingin kita selalu berhati-hati dalam berpikir dan bertindak baik pada Nya, pada diri sendiri apalagi pada orang lain karena semua yang kita lakukan selalu saja kembali pada diri kita. Bukankah siapa menabur angin akan menuai badai?

 

Wallahu a’lam

Rahmah Hasjim, Jakarta, Oktober 2009

Bookmark and Share

Tag/Label opini, hukum karma, islam
Penilaian anda

Warta terkait
Kirim ke Teman
* Email Teman:
Pisahkan tiap email dengan titik koma.
Contoh: bill@microsoft.com; steve@apple.com
* Email anda:
19 komentar pada warta ini
Jumat, 09-10-2009 23:30:28 oleh: bujang

Sepertinya benar, hukum karma yang saya pelajari dari umat buda, barang siapa yang menabur benih maka iya akan menuainya, menabur kebaikan mendapat kebahagiaan, menabur kejahatan akan menuai penderitaan



Minggu, 11-10-2009 19:27:21 oleh: Agus Prayitno

Saya sangat setuju dg penulis, Hanya saya tambahkan bahwa Allah akan membalas segala amal kita yang telah dilakukan didunia ini. cuma waktunya adalah hak Allah semata.Ada yang dibalas di Dunia dan ada pula yang dibalas diAkhirat kelak.
Wassalam.




Senin, 12-10-2009 16:19:44 oleh: Anwariansyah

Secara konseptual dlm agama Hindu (mohon dikoreksi oleh wikimuers yang Hindu) istilah karma adalah "tindakan" atau "perbuatan". Terdapat 3 cara dilakukannya karma yaitu dengan pikiran, perkataan dan tubuh (gerak).

Dalam karma dikatakan bahwa manusia adalah pencipta masa depannya sendiri. Kelahiran kembali tidak akan bermakna tanpa karma, dan karma tidak akan mempunyai makna tanpa kelahiran kembali. Jika percaya jiwa secara berulang dilahirkan kembali kedalam tubuh, maka juga harus percaya bahwa ada mata rantai antara kehidupan yang mendahuluinya dan kehidupan yang mengikutinya.

Tiga keyakinan yg tdk terpisahkan, yakni percaya adanya hukum Karma Phala, Percaya adanya Punarbhawa/kelahiran kembali dan terakhir adanya Moksha, sebagai tujuan tertinggi dalam ajaran dan konsep Hindu.

Dengan demikian ajaran Hinduisme menjelaskan konsep Punarbhawa yang juga berarti kelahiran kembali, kelahiran kembali diyakini sebagai bagian dan proses bekerjanya Hukum Karma tersebut.

Seseorang yang masih sangat terikat dengan kehidupan keduniawian diadakan senantiasa terlahir kembali dan akan menjelma kedunia ini sampai dirinya terbebas dan ikatan karma dan mendapatkan kebebasan yang disebut dengan Moksha.

Jadi ada perbedaan yg sangat prinsip antara keyakinan adanya karma dalam Hindu dgn balasan perbuatan dalam Alquran, karena dlm karma ada kelahiran kembali (reinkarnasi) sbg konsekuensi langsung adanya karma.




Senin, 02-11-2009 09:30:30 oleh: rizaldee

Pada hakekatnya manusia harus selalu berbuat baik melakukan ibadah dan menjauhi larangan-Nya termasuk dalam mengais rejeki untuk mempertahankan hidup kita didunia ini.
Menyimak qs:99 ayat 7-8 mungkin saja hal itu diperuntukan buat akhirat nanti, yang pada hakekatnya seluruh perbuatan akan diperhitungkan melalui hisab melalui catatan tentang apa yang telah manusia kerjakan didunia, hal perbuatan itu akan mengakibatkan balasan sesuai apa yang dikerjakannya, baik perbuatan dosa maupun perbuatan ibadah, yang amaliah maupun yang maksiat.
Mengenai hukum karma memang tak ada dalam ajaran islam namun yang jelas,kita tetap harus senantiasa berbuat baik, secara praktek kita tak dapat menduga hal-hal yang telah dilakukan ada habluminallah dan habluminanas, semua itu tergantung penilaian ALLAH, hidup kita sudah merasa benar namun dimata ALLAH mungkin saja hal itu belum tentu benar, atau atas doa seseorang yang pernah kita sakiti kemudian berdoa dan doa tersebut dikabulkan termasuk hal yang bisa menjadikan hukum karma terhadap kita atau ALLAH mengingatkan kita agar tak melakukan perbuatan maksiat ketika banyak uang, dan dalam mencari rejeki harus dengan jalan yang halal yang jelas konsep mengenai hukum karma bisa saja terjadi.
wallahualam ...




Senin, 02-11-2009 09:53:51 oleh: rahmah hasjim

Mungkin juga ayat itu utk akhirat tapi saya pribadi sering sekali langsung diperlihatkan tak lama setelah saya baik atau lagi kumat isengnya sama org. Makanya saya trmsk org yg percaya bahwa akibat perbuatan kita akan diperlihatkan baik di dunia maupun di akhirat.



Selasa, 06-04-2010 20:38:27 oleh: yoga prana m

Hukum Karma merupakan ajaran Sang Buddha dan diajarkan dengan sangat detail dalam agama Buddha.Maka ari itu , dalam agama Buddha tidak mengenal istilah takdir. Segala sesuatu yang terjadi pada seseorang ataupun kelompok/golongan pada saat tertentu merupakan akibat dari yang dilakukannya sebelumnya. Ibarat menanam benih jagung, maka yang akan dipanen adlah jagung, bukan mangga atau yang lain.



Selasa, 27-04-2010 00:09:44 oleh: siswa buddha

kelaparan dan binatang). Contoh karma buruk yang dapat menyebabkan seseorang terlahir di alam neraka antara lain: membunuh orangtua kandung, membunuh orang suci/ Arahat/ Bodhisattva, dan melukai Buddha. Sedangkan akibat dari karma baik adalah tumimbal lahir di alam manusia atau surga. Sedangkan para Buddha, Arahat dan Bodhisattva yang sudah mencapai Pencerahan Sempurna memperoleh karma tidak bergerak, namun Bodhisattva yang karena welas-asihnya untuk menyeberangkan semua makhluk yang menderita dapat saja bertumimbal lahir lagi di alam manusia .
Sebab utama timbulnya karma adalah karena ketidak-tahuan [avidya/avijja] atau ketidak-mampuan untuk memahami segala sesuatu sebagaimana adanya. Nafsu keinginan [tanha] juga merupakan akar timbulnya karma. Perbuatan seseorang walaupun dilandasi oleh tiga akar kebajikan yaitu kedermawan [alobha], kehendak baik [adosa] dan pengetahuan [amoha], tetap dapat dianggap sebagai karma karena dua unsur penyebab karma yaitu ketidak-tahuan dan keinginan masih melekat dalam dirinya. Hanya perbuatan baik dari Jalan Kesadaran [maggacitta] yang dapat dipandang sebagai proses untuk menghancurkan akar sebab-akibat karma tersebut.
Apakah Kita Harus Pasrah Terhadap Karma?
Pemuda Subha menghadap Sang Buddha untuk menanyakan perbedaan nyata di antara umat manusia, “Apakah alasannya dan sebabnya, o Guru, kita jumpai di antara umat manusia ada yang berumur pendek dan berumur panjang, berpenyakit dan sehat, jelek dan rupawan , tak berpengaruh dan berpengaruh, miskin dan kaya, hina dan mulia, dungu dan bijaksana.”
Sang Buddha bersabda : “Semua mahluk hidup mempunyai karma sebagai milik mereka, warisan mereka, sebab awal mereka, kerabat mereka, pelindung mereka. Karma itulah yang membedakan makhluk hidup dalam keadaan rendah atau tinggi.” (Majjhima Nikaya, Cullakammavibhanga Sutta, 135)




Senin, 10-05-2010 14:05:59 oleh: maia

hukum karma konsepnya adalah bahwa setiap perbuatan pasti ada hasilnya. Hasil dalam hal ini tidak selamanya dalam bentuk materi atau fisik, tetapi berkaitan dengan kualitas hidup manusia. Karma /perbuatan yang baik akan memberikan hasil/pahala kualitas hidup yang baik dan sebaliknya.
Apa yang kita saksikan secara kasat mata belum tentu seperti yang sebenarnya. Contoh sederhana bila kita menerima materi yang berlimpah bukan ukuran bahwa itu hasil karma yang baik, tetapi harus dilihat kembali apakah limpahan materi tersebut membawa kualitas hidup kita menjadi lebih baik atau tidak baik secara bathiniah maupun lahiriah. demikian juga sebaliknya.
Memang keyakinan inkarnasi memiliki keterkaitan yang sangat erat dengan hukum karma yang berbeda dengan keyakinan agama yang lain. Namun konsep hukum karma itu saya yakin semua agama memiliki tentu saja dengan istilah yang berbeda.Hukum karma adalah hukum alam sebagaimana halnya keterkaitan antara peredaran matahari, siang dan malam, hidup dan mati dan sebagainya.Memang hukum karma sepertinya sederhana, tapi tidak mudah untuk menjelaskan bagi yang belum memahami. seperti halnya akan sulit menjelaskan rasa buah melon kepada orang yang belum pernah mengkonsumsi buah melon. Intinya mari berbuat yang baik agar hidup kita menjadi lebih baik. Rezeki itu net ( kata Bapak Mario Teguh)Kalau bukan hak kita dia akan berkurang dan jika memang hak kita dia akan datang sesuai jumlah yang seharusnya. Rezeki tidak selamanya dalam bentuk materi, kebahagiaan adalah rezeki, kesehatan adalah rezeki demikian seterusnya. Semoga bermanfaat.




Selasa, 11-05-2010 09:53:14 oleh: lia

kalo mempermainkan org laen karmanya apa??



Kamis, 27-05-2010 13:31:28 oleh: diyarko

Menurut saya ayat tersebut merupakan bukti bahwa hukum karma berlaku untuk semua makhluk tanpa memadang agama apapun. Kita sadar bahwa keadaan saat ini merupakan buah dari perbuatan masa lalu, entah satu detik yang lalu, 1 jam yang lalu bahkan bertahun-tahun yang lalu, atau pada kehidupan yang lampau sekali. Buah yang kita petik sekarang tidak lepas dari apa yang kita tanam.
"Sesuai dengan benih yang ditabur, begitulah buah yang akan dipetiknya. Pembuat kebajikan akan mendapatkan kebaikan, pembuat kejahatan akan memetik kejahatan pula. Taburlah biji-biji benih dan engkau pulalah yang akan merasakan buah dari padanya" (Samuddaka Sutta; Samyutta Nikaya 11.10).




Jumat, 18-06-2010 20:00:59 oleh: Devi Caroline

Menarik sekali, setahu saya sih mba Allah memberi hukuman atas kejahatan manusia di dunia untuk diringankan di akhirat, maksudnya agar hukuman kita diakhirat berkurang karena sudah dibalas didunia, tapi itu opini dan pernah2 dengar aja, wallahuallam mba, tapi sy masih bertanya adakah keterkaitan dalam karma dan cobaan atau ujian....





Selasa, 05-10-2010 08:13:13 oleh: lasino

karma adalah salah satu hukum kesunyataan, dimana semua yang masih berkondisi pasti mengalaminya, mau percaya atau tidak, senang atau tidak pasti mengalaminya atau menerima apa yang telah dilakukannya. hukum kesunyataan atau paramatha dhamma adalah hukum mutlak yang dibuat oleh tuhan sehingga siapapun yang masih di lahirkan, pasti mengalami sakit, usia tua dan mati dan selanjutnya hingga mencapai pembebasan abadi jika karmanya memenuhi syarat untuk dapat mencapainya, jika belum maka akan terus berputar-putar dalam lingkaran kematian dan kehidupan di alam ini (samsara)



Selasa, 05-10-2010 14:00:05 oleh: Mang Kelke

Dalam hal kawan penulis yang anaknya gak punya tulang punggung, menurut saya itu adalah kelainan bawaan, dan bukan karena murka Tuhan.
Apabila memang kelainan tersebut adalah hukuman Tuhan, maka sungguh tak adil kalau kita bandingkan dengan kehidupan penjahat koruptor atau dedengkot kriminal yang bahkan sampai 7 turunan hidup senang sehat wal afiat, contohnya banyak bertebaran di negara kita.
Dalam Islam, setiap dosa ditanggung oleh pelakunya sendiri, Islam tidak mengenal Dosa turunan, Dosa orang tua dipikul oleh orang tua, dosa anak dipikul oleh anak, dan Allah bertindak sangat adil dalam hal ini, Dia tidak akan membebankan dosa 'pemungut fee' kepada anaknya yang tak tahu apa-apa.
Adalah takdir yang menyebabkan pertumbuhan tulang belakan si anak tidak sempurna, barangkali si ibu kekurangan makan kalsium, barangkali si ibu terlalu stress waktu hamil sehingga pertumbuhan jabang bayinya di rahim terganggu.
Jadi saya berkeyakinan bahwa itu bukan hukuman Tuhan, sebab Tuhan tidak akan menghukum mahluk yang tak berdosa, bahkan terhadap yang penuh dosa pun Tuhan Maha Pengampun.





Kamis, 18-11-2010 16:30:24 oleh: imandury

Kalo kelahiran anak mau disebut karma, maka karma tersebut adalah untuk si ayah,jadi tetep orang tua yg menanggung karma atas perbuatannya sendiri. Bagi anak itu sendiri bukan karma, boleh jadi dengan segala kekurangannya anak tsb (dimata manusia) tetapi tidak mustahil akan menjadi sebab anak tsb mulya di hadapan tuhan. Kalo hemat saya karma ada (dlm islam) tapi tidak sama dengan karma dalam konteks agama lain.



Minggu, 20-02-2011 11:22:26 oleh: lutfi

Diskusi yang menarik.....(Subhanallah)
sangat bermanfaat....
akan lebih seru apabila ada pakar dalam hal tersebut, ustadz ataupun kyai yang dapat menjelaskan secara detail makna dari kandungan ayat tersebut...
kalau menurut saya radaksional dari QS 99 ayat 7-8 itu, mempunyai makna yang sama dengan karma. mungkin berbeda penyebutannya saja...
Agama mempunyai arti tidak kacau, jadi setiap ajaran agama sesungguhnya mngajarkan kebaikan kepada setiap manusia, jadi sebisa mungkin agama mengatur norma-norma dalam kehidupan agar tidak menyimpang dan menjadi tentram...
Wallahualam...




Jumat, 01-04-2011 02:25:29 oleh: ilman

Subhanallah.... rahma benar skli apa yang kamu bilang bahwa "barangsiapa yang mengerjakan kebaikan meski seberat debu, dia pasti akan melihatnya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan meski seberat atom pun, dia pasti akan melihat" jdi kalau menurut aku siapa yang berbuat pasti dia mendapatkannya bukan orang lain..? terus hukum karma tidak termasuk dalam islam..!!



Rabu, 01-06-2011 09:58:23 oleh: ane

Kalau bertobat apakah tetap ada karma ?



Selasa, 07-08-2012 14:46:28 oleh: munir

Dalam Surat Al-Isra' ayat 7 Allah menjelaskan: "Jika kamu berbuat baik, maka kebaikan itu akan kembali kepada dirimu sendiri, Jika kamu berbuat kejahatan, maka kejahatan itu akan kembali kepada dirimu sendiri". Apa yang kita kerjakan, akan berbuah di masa depan, baik kebaikan maupun kejelekan.
Dalam agama Hindu, ini disebut karma.




Rabu, 21-08-2013 16:24:04 oleh: puriati

semoga bermanfaat, saya beragama Buddha. konsep hukum karma sangat kami pegang untuk menjaga kebahagiaan sebagai pribadi maupun kelompok dalam keluarga, organisasi maupun instansi. siapa yang berbuat baik akan menerima kebahagiaan (meskipun proses terjadinya karma perlu waktu/harus sabar menunggu), dan siapa yang berbuat jahat dalam berntuk apapun akan menghasilkan penderitaan (waktu dapat cepat dan dapat lambat, bagi yang tidak menyadari perbuatannya, waktu lambat sangat membahayakan, karena dikira perbuatan jahat tak menimbulkan akibat). jangan pernah berpikir demikian mari kita bangun budaya mengikis, keserakahan, kebencian dan kebodohan. agar kapanpun karma/perbuatan baik dan buruk yang diterima dapat diatasi dengan lebih mudah. selamat belajar. semoga menjadi bahan perenungan, agar senantiasa melakukan yang terbaik. sadhu puri



Tambahkan komentar anda
* Nama lengkap:
* Email:
tidak ditampilkan untuk umum
  • Hal-hal yang perlu diperhatikan :
  • - Berilah komentar yang relevan dengan topik warta ini. Bacalah semua dari warta maupun komentar-komentar lain, sebelum memberi komentar.
  • - Tidak membuat komentar yang bernuansa SARA, pornografi, menyerang pribadi, menyebarkan kebencian dan kekerasan maupun pendapat yang melanggar hukum.
  • - Tidak beriklan di kolom komentar ini.
  • - Gunakan bahasa yang santun dan beri respek pada semua pendapat meskipun berbeda pendapat.
  • - Gunakan nama asli dan bila Anda sudah menjadi anggota Wikimu, upayakan login member terlebih dahulu. Bila belum menjadi anggota, email yang Anda cantumkan di kolom email, tidak akan dimunculkan.
* Komentar:  
captcha Silakan tulis kode disamping ini untuk melanjutkan.

PALING BERGUNA (bulan ini)

TERBANYAK DILIHAT (minggu ini)

TERBARU

50 TAG / LABEL TERPOPULER

 

Link Wikimu


Mau pasang link Wikimu di blog/situs Anda? copy link ini

TESTIMONI PRODUK

Minuman Sereal Baru ENERFILL

Jumat, 05-06-2009 18:04:42 oleh: Rina Linda

Bosan dengan yg biasa??? Minuman sereal ENERFILL, di setiap porsinya mengandung kombinasi 8 Vitamin, Protein, Kalsium & mineral lainnya yg dibutuhkan tubuh. Kombinasi rasa yg nikmat dengan sensasi baru BUTIRAN OATS PADAT di dalamnya bikin ENERFILL sebagai minuman penambah energi dengan kenikmatan rasa yang mudah tersaji. Cukup disajikan dgn 150 ml air panas ke dlam gelas, rasakan sensasi rasa baru coklat atau vanilla. ENERFILL, minuman penunda lapar yang lengkap, enak, lebih mengenyangkan & sehat untuk penambah energimu



Testimoniku:
Fajar Setyo Hartono: Minum Sereal Baru ENERFILL bila disajikan dalam minuman panas dalam gelas kita dapat merasakan sensasi rasa baru coklat atau vanila dan bisa menambah energi setelah minum .

Testimoni selengkapnya... (4 komentar)



Testimoniku Terbaru:
Sergio   pada  Pocari Sweat
David   pada  Momogi Snack
Latif Nur Hidayah   pada  Yakult...Bisa untuk Obat Diare??

SUARA KITA

Simpati Kirim SMS Iklan Seenaknya

Sabtu, 21-02-2009 12:22:33 oleh: Eko Nurhuda
Saya pengguna Simpati sejak pertama kali bisa beli hape di tahun 2002. Sampai sekarang saya masih setia dengan Simpati karena alasan coverage area. Namun belakangan ini kesetiaan saya terganggu karena Simpati suka seenaknya mengirim SMS berisi iklan layanan yang tidak saya butuhkan (dan sering!). Sungguh menyebalkan..!

Suaraku:
melfa: Saya memakai simpati dari thn 1993 waktu itu blm ada kartu hallo suafu saat saya miggrasi ke hallo sampai 2010 tiba2 diputus sama mereka tanpa alasa,saya mohon aktifkan nmr saya itu kembalia



Suara kita selengkapnya... (18 komentar)



Suara Kita Terbaru:
melfa   pada  Simpati Kirim SMS Iklan Seenaknya
gdwmnv   pada  Hutan Pantai Jakarta Dibangun Pemukiman
pjkhfge   pada  Hutan Pantai Jakarta Dibangun Pemukiman

DARI ADMIN

Rekan-rekan,

Wikimu juga mempunyai PUBLIC PROFILE di Facebook jika anda ingin menjadi Fans silahkan kunjungi kami. Jangan ketinggalan kami mempunyai lomba komentar di Public Profile setiap hari Senin dan Kamis. Nantikan terus artikel yang menjadi topik dalam lomba komentar.

Untuk pertanyaan dan masukkan, silahkan email ke

info@wikimu.com

salam,

21 April 2009

Admin.

Masukan, pertanyaan, kritikan terhadap kami silakan kirim email ke info@wikimu.com atau telp : 021-56165522 Senin-Jumat (08.00 - 17.00 WIB)
COPYRIGHT ©2006 WIKIMU.COM - Jurnalisme Publik (Citizen Journalism). All Rights Reserved | PRIVACY POLICY