Untuk mengisi sisa waktu dua menit menjelang akhir acara debat kandidat putaran akhir yang ditayangkan RCTI pada 2 Juli 2009 secara live, moderator mengajukan satu pertanyaan yang belum pernah ditanyakan dalam pentas debat kandidat putaran-putaran sebelumnya. “Apa yang akan Bapak/Ibi lakukan kalau Bapak atau Ibu kalah dalam pemilu 2009?” Pertanyaan ini sederhana tetapi bisa kita jadikan salah satu acuan dan parameter dari sekian banyak acuan yang ada untuk menilai sikap kenegarawanan kandidat pemimpin negeri ini walaupun bukan satu-satunya.
Mega menjawab singkat. “Saya akan terus mengabdi kepada bangsa dan negara ini.” SBY memberikan jawaban singkat, padat dan penuh arti dengan mengatakan,”Saya akan mendukung dan mengajak semua konstituen saya untuk mendukung pemimpin dan kepemimpinan yang terpilih.” Jawaban ini mendapatkan sambutan applause cukup meriah dari pemirsa yang ada di studio RCTI. Tak jelas kenapa applaus yang diberikan begitu meriah. Tanpa bermaksud berspekulasi, apakah kemeriahan ini disebabkan SBY akan dengan legowo menerima kekalahannya dan tidak mengajak konstituen dan partainya untuk menjadi oposisi seperti yang dilakukan Mega dan PDIP ketika kalah dari Demokrat pada pemilu 2004. Ah, sudahlah, itu gak penting. JK, dengan gaya khas lucu dan “ndableknya” menjawab dia akan pulang kampung, mengabdikan diri kepada bangsa in dengan mengurus sekolah, masjid dan pesantren dan akan tetap berkarya untuk Indonesia jika masih dikehendaki. Tak lupa, JK memgucapkan terimakasih kepada Indonesia. Jawaban inipun mendapatkan applause meriah.
Dalam artikel saya sebelumnya- pelangi 3 rasa slogan kampanye kandidat, saya menggagas penjajaran slogan-slogan kampanye kandidat capres-cawapres dengan beberapa variasi untuk menarik pelajaran dari penjajaran itu. Detailnya bisa dibaca di sini. Dengan mengacu kepada pokok-pokok pikiran pelangi 3 rasa tersebut, dalam posting ini saya akan menyampaikan gagasan untuk menambah cita rasa legit pada pelangi 3 rasa itu.
Kalau dalam slogan-slogan yang diusung kontestan kandidat kita secara general bisa mengetahui titik tekan misi dan visi pasangan, 3 rasa pelangi itu akan menjadi kian “legit” kalau ditambahkan dengan sikap-sikap kenegarawanan yang elegan. Manis dan lembutnya lapis legit akan terasa semakin “mengigit” kalau kita mengkombinasikan dengan susu atau coklat panas. Mak nyuusss…
Slogan kampanye selalu diusung dengan suasana kalau kami menang kami akan melakukan ini dan itu. Memberantas ini untuk menyelamatkan yang itu. Mengadakan itu untuk memperbaiki yang ini, dst..dst.. Atmosfernya adalah kemenangan. Semua kontestan diposisikan seolah-olah mereka menang. Kalau kalah? Masihkan slogan-slogan itu akan tetap digemakan dan diusung serta dijadikan motor penggerak untuk tetap memajukan bangsa ini dan mengangkat martabatnya? Mungkinkah perjuangan ekonomi kerakyatan tetap akan diperjuangkan untuk menyisihkan ekonomi liberal tanpa harus memposisikan diri sebagai oposisi? Atau, masih beranikah mengatakan lanjutkan pemberantasan korupsi bahkan ketika keluarga dan atau kerabat saya yang melakukannya? Or, masih bisakah mengatakan lakukan tindakan lebih cepat lebih baik untuk melakukan pembenahan di sana-sini untuk menegakkan kedaulatan bangsa ketika saya dan pasangan saya kalah? Di sinilah kita bisa melihat elegan tidaknya seorang negarawan.
Pertanyaannya sekarang, apakah jawaban-jawaban yang diberikan dalam waktu kurang dari 2 menit oleh 3 kandidat pemimpin bangsa ini bisa satu? Kata dan perbuatan bisa satu dan menyatu. Berani legowo mengatakan “lawan” lebih baik, memberikan selamat dan kemudian menyatakan komitmen kami akan mendukung pemerintahan Bapak atau Ibu tetapi kami akan tetap kritis tanpa harus menjadi oposisi. Mari kita perbaiki Indonesia dan kita junjung harkat martabatnya di mata dunia bersama-sama. Beranikah? Mampukah? Atau kita tetap ngotot tidak mau menerima kekalahan (walaupun sebenarnya tidak pernah ada pertandingan) dengan melontarkan berbagai tuduhan kecurangan dan tetap bersikeras memilih kutub berseberangan dengan pemerintahan terpilih? Rasanya ini bukan sikap negarawan sejati dan bukan ini yang ditunggu rakyat.
Menunggu satunya kata dan perbuatan itulah yang kita lakukan sekarang. Setelah PEMILU 8 Juli nanti semuanya akan terbukti. Pasca penghitungan suara adalah momen yang paling tepat bagi kita untuk melihat dan bahkan menagih janji satunya kata dengan perbuatan. Menagih janji pihak-pihak yang kalah, walaupun sebenarnya tidak pernah ada pertandingan karena PEMILU bukan pertandingan melainkan penyerahan amanat oleh rakyat kepada salah satu pasangan, untuk bisa dengan besar hati mengatakan,”Selamat. Mari kita bangun Indonesia bersama-sama. Silakan memimpin kami dan kami akan mengikut tetapi izinkan kami pada titik-titik tertentu mengritisi kebijakan-kebijakan Bapak/Ibu.” Semua pasti mampu kalau mau dengan melihat kepentingan Indonesia secara keseluruhan bukan kepentingan sempit partai dan konstituen. Tidak ada yang kalah atau menang. Pemenang yang sejati adalah ketika dia bisa menerima kalau rakyat tidak mempercayakan amanat kepadanya tetapi tetap berjuang dan berusaha untuk bersama-sama memajukan dan menjunjung harkat dan martabat rakyat.
Lapis pelangi 3 rasa itu akan makin legit, mengingit dan mak nyuus ketika sikap kenegarawanan ditambahkan ke dalam adonan pelangi ini. Merangkul yang tidak diberi amanat dan mengajaknya ikut serta dalam pembangunan bangsa bukanlah strategi yang mengada-ada atau tidak mungkin untuk dilakukan. Seperti pelangi yang indah karena perbedaan warna-warna yang menyusunnya, seperti itu pulalah kalau kesatuan dan persatuan dalam kemajemukan kita diakui, diberdayakan dan dibesarkan melalui teladan tokoh-tokoh dan negarawan yang berjiwa besar. Seandainya memang rakyat tidak memberikan mandatnya kepadaku, inilah yang akan aku lakukan. Membuat pelangi 3 rasa itu menjadi semakin mak nyus danlegit dengan memberikan teladan nyata dan bersatu padu bahu membahu untuk kepentingan bangsa dan negara. Adakah ini hanya utopia semata? Semoga tidak! Selamat memilih.