Bersyukur saya bisa mengunjungi Waghete-Nabire Papua di pedalaman pegunungan tengah. Sejak sebelum keberangkatan ke Papua, angan-angan tentang pedalaman selalu terbayang. Apalagi membaca majalah provindo mengenai para misionaris yang pernah berkarya di pedalaman, khususnya Waghete. Kesempatan mengunjungi Waghete terlaksana bulan April 2007 dan April 2008.
Keberangkatan pertama, mennggunakan Mitzubishi Strada yang cukup tangguh menyusuri pedalaman Papua yang ganas. Kesempatan kedua ke Waghete, saya menggunakan pesawat AMA missi sejenis twin otter yang namanya “Pilatus Porter”. Pesawat tangguh dapat turun di landasan berupa tanah dimanapun di Papua.
Dua kali kesempatan saya ke Waghete mempunyai tugas khusus yaitu mencari murid SMA yang bisa bersekolah ke kota. Di Waghete saya melakukan tes tertulis dan wawancara untuk mencari bibit unggul dan mendidik anak pedalaman agar memiliki pengetahuan yang luas untuk nantinya dapat membangun Papua tanahnya sendiri. Misi ini saya lakukan pertama untuk mempermudah calon siswa agar tidak terlalu mengeluarkan biaya banyak untuk ke kota hanya sekedar tes masuk sekolah. Untuk sekedar tahu bahwa harga tiket naik Strada cukup mahal berkisar sekitar Rp 200.000 sampai Nabire, sedangkan kalau berangkat dari Nabire berkisar Rp. 500.000. Apabila ini ditanggung oleh calon siswa tentunya sangat berat dan mahal. Apalagi kebanyakan masyarakat pedalaman hanya bercocok tanam dan penghasilannya pun tidak seberapa. Maka misi ini sekiranya mampu meringankan beban calon siswa, karena nantinya siswa hanya tinggal ke kota dengan membawa surat-surat kelulusan. Pengumumannyapun bisa mereka dengan dengan SSB (radio khusus pedalaman) di gereja.
Waghete secara administratif masuk wilayah Nabire yang berada di pedalaman. Tempatnyapun sangat dingin, kadang juga berkabut dan hanya mengandalkan air hujan yang hampir tiap hari turun. Kondisi desa inipun cukup terisolir dikarenakan tranportasi darat pun sering terlambat. Sehingga menyebabkan berkurangnya pasokan minyak tanah barang kebutuhan pokok dan beras. Kalau kondisi ini terjadi masyarakatpun akan kembali memakan ubi dan talas. Syukur masyarakat sejak awal sudah menanam tanaman jenis ini. Saya kira inilah salah satu akibat dari gagasan/konsep kesejahteraan yang kebablasan. Orang-orang pedalaman papua yang makanan pokoknya adalah ubi dan talas, dikondisikan untuk menggantinya dengan beras yang tidak pernah mereka tanam. Ketika mereka sudah terbiasa dengan beras dan sekarang mengalami krisis pangan seperti ini, beberapa dari mereka sudah susah untuk diajak berbalik makan ubi dan talas. Memang makan nasi terasa jauh lebih enak daripada makan ubi.
Waghete cukup lengang dan menenangkan, sepi dari hiruk-pikuk kota besar di Jawa. Suasananya sepi tidak banyak aktifitas seperti masyarakat kota. Kalau sudah malam hari, pukul 7 malam sudah sangat sepi menyengat, listrik pun terbatas. Di sini masyarakat menggunakan solar sel, yang memanfaatkan tenaga matahari yang kemudian dimasukkan ke aki. Masyarakatnyapun masih bercocok tanam yang sekiranya bisa dikonsumsi. Serta mencari ikan di danau Tigi. Selain itu mereka juga memelihara babi untuk menambah kelengkapan hidup mereka. Babi dalam kultur masyarakat Papua merupakan binatang adat yang selalu ada saat upacara pernikahan atau upacara adat suku setempat. Maka harganya pun sangat mahal.
Waghete juga terkenal dengan keindahan alamnya yang sangat natural. Pernah saya buktikan dengan menaiki sepeda motor bersama seorang rekan untuk mencari murid di Moenamani, salah satu desa yang juga masuk wilayah Nabire. Sepanjang perjalanan, saya diperlihatkan dengan keagungan Tuhan dalam hutan yang masih asri serta bukit-bukit terjal yang menjulang tinggi. Wah pemandangan yang menakjubkan bisa dilihat sepanjang hari. Dari rumah pastoran pun saya disuguhkan dengan pemandangan danau Tigi yang luas dengan aktifitas nelayan pencari ikan.
Yah suatu pengalaman yang belum tentu ketiga kalinya. Saya bersyukur tidak hanya melihat pemandangan alamnya, namun juga aktifitas masyarakat dalam kebersamaannya. Come and see!!!