Dr Widodo Judarwanto Spa

Sudahi Kontroversi Puyer, Membuat Masyarakat Bingung

Jumat, 13-02-2009 07:35:36 oleh: Widodo Judarwanto
Kanal: Kesehatan

Sudahi Kontroversi Puyer, Membuat Masyarakat Bingung

Dalam beberapa tahun belakangan ini kontroversi tentang pemberian obat sediaan bubuk yang sering disebut puyer kembali menghangat, apalagi RCTI dalam beberapa minggu belakangan ini meliput secara serial. Kelebihan dan kekurangan dalam pemberian obat bentuk sediaan puyer ternyata menjadi bahan komoditas kontroversi di antara klinisi, yang berakibat kebingungan dalam masyarakat penggunanya. Apalagi belakangan ini hal itu dimanfaatkan oleh media masa untuk membuka kontroversi ini dalam masyarakat.

Selain membuat bingung masyarakat kontroversi ini juga rawan dapat ditunggangi oleh beberapa pihak demi kepentingan kelompoknya. Seperti diketahui bahwa bisnis farmasi ternyata cukup terpukul dengan adanya bentuk sedian obat puyer ini. Dalam beberapa survey didapatkan penggunaan puyer jauh melampaui penggunaan sediaan sirup. Bahkan terdapat supervisor sebuah perusahaan farmasi hengkang dari pekerjaannya gara-gara omzet obat sirupnya hancur dikalahkan penggunaan obat puyer.

Dalam pengobatan modern Barat, pada awalnya puyer merupakan salah satu bentuk sediaan yang luas digunakan di seluruh dunia, terutama untuk penggunaan obat racikan/campuran. Puyer (powder) atau pulvis adalah salah satu bentuk sediaan obat yang biasanya didapat dengan menghaluskan atau menghancurkan sediaan obat tablet atau kaplet yang biasanya terdiri atas sedikitnya dua macam obat. Namun, dengan kemajuan teknologi sediaan obat yang diberikan berkembang dalam bentuk sediaan kapsul, sirup atau injeksi.

Terdapat berbagai kekurangan dan kelebihan dari berbagai bentuk sediaan obat tersebut. Bentuk sediaan obat puyer lebih sering digunakan oleh dokter anak karena selain lebih mudah memberikan takaran dosis, lebih praktis, lebih murah atau kadang tidak ada sediaan obat sirup pada jenis obat tertentu.. Sedangkan sediaan kapsul atau sirup jadi lebih mahal, kadang tidak praktis karena kesulitan mengatur dosis tetapi rasanya lebih enak. Di samping itu masih banyak terdapat beberapa kelebihan dan kekurangan masing-masing sediaan obat tersebut.

Tapi faktanya, ilmu meracik puyer adalah pelajaran wajib bagi pendidikan mahasiswa kedokteran di tingkat awal. Bahkan banyak didapatkan kepustakaan dan buku pegangan untuk ilmu meracik puyer yang ditulis oleh ahli farmasi dan kedokteran. Dalam hal ini ilmu meracik puyer adalah hal legal dan menjadi tindakan medis yang wajar dilakukan dalam dunia kedokteran. Sampai saat ini belum ada penelitian yang membuktikan bahwa penggunaan puyer berdampak buruk.

Tampaknya kontroversi yang timbul dalam penggunaan puyer ternyata bila disimak dengan cermat tidak pada substansinya. Ternyata, kontroversi yang ditakutkan tersebut ternyata tidak hanya dialami oleh pengguna puyer tetapi juga pada pengguna obat sediaan lainnya. Opini yang ditakutkan tersebut bukan karena masalah puyernya sendiri tetapi kelemahan knowledge (pengetahuan) dokter atau skill  (ketrampilan) apoteker dalam penyajiannya, bukan dari kelemahan sediaan puyer itu sendiri.

Terdapat beberapa hal yang kami rangkum dalam kontroversi tersebut yang disampaikan oleh para klinisi dalam suatu seminar dan opini di media tentang masalah kelemahan puyer yang ternyata tidak pada substansi masalah utama bahaya obat puyer itu sendiri.

•1.   Menurunnya kestabilan obat  karena obat-obatan yang dicampur tersebut punya kemungkinan berinteraksi satu sama lain. Sebenarnya bila dicermati interaksi obat tidak hanya pada pemberian puyer pemberian sediaan kapsul atau sirup mempunyai resiko interaksi obat satu dengan yang lain. Dokter dibekali limu farmasi tentang masalah interaksi dan kestabilan obat. Kalaupun ada interaksi obat mungkin, dokter sudah memperhitungkan hal tertsebut tidak terlalu berbahaya. Bila dokter tidak memahami farmakoterapi dari suatu jenis obat, sebaiknya dokter tidak menuliskan resep obat baik puyer maupun sirup.

•2.   Pemberian puyer beresiko terjadi pemberian polifarmasi. Sebenarnya penggunaan polifarmasi bisa juga terjadi pada penggunaan obat kapsul dan sirup.  Seorang dokter ada juga yang meresepkan berbagai macam botol sirup dalam satu kali pemberian. Bahkan seorang ibu sempat mengeluh ketakutan karena anaknya dalam sekali berobat diberikan sekaligus 6 botol sirup. Padahal dalam satu botol sirup itu juga kadang terdiri dari dua atau lebih kandungan obat. Pengalaman lain beberapa penderita yang berobat di luar negeri khususnya Singapura, penderita memang tidak mendapatkan puyer tetapi membawa segepok obat sirup dan kapsul kalo dijumlah lebih dari 7 macam. Masalah pemberian polifarmasi ini juga tergantung knowledge dan pengalaman dokter

•3.   Sulitnya mendeteksi obat mana yang menimbulkan efek samping - karena berbagai obat digerus jadi satu dan terjadi reaksi efek
samping terhadap pasien, akan sulit untuk melacak obat mana yang menimbulkan reaksi
. Hal ini juga tidak akan terjadi, karena dalam penulisan obat puyer pasien dapat meminta kopi resep dari apoteker atau apotik tempat pembelian obat. Di Puskesmas memang menjadi masalah karena seringkali tidak disertai kopi resep, tetapi bila pasien meminta hal itu pasti akan diberikan oleh dokter yang memberikan di psukesmas.  Adalah sesuatu yang tidak etis bila dokter tidak mau memberikan kopi resepnya.

•4.   Pembuatan puyer dengan cara digerus atau diblender, sehingga akan ada sisa obat yg menempel di alatnya. Hal itu wajar terjadi, dalam ilmu meracik obat itu sudah diperhitungkan dengan menambah sekian prosen untuk kemungkinan hal tersebut.  Kalaupun ada kekurangan dan kelebihannya sebenarnya hanya dalam jumlah kecil yang tidak terlalu bermakna, kecuali pada obat tertentu. Dalam pemakaian obat sirup pun pasti wajar bila kelebihan atau kekurangan seperti terjadi sisa sedikit sewaktu memberikan obat dalam sendok sirupnya atau kelebihan sedikit dalam menuang obat dalam sendok. Bahkan seorang peneliti pernah melaporkan bahwa sekitar 20% obat paten ternyata sewaktu diteliti lebih cermat sering membulatkan jumlah dosis seperti yang tercantum dalam kemasannya atau tidak sesuai dengan kandungan yang ada, Seperti pesudoefedrin yang seharusnya dikapsul 17 mg dibulatkan menjadi 20 mg.

•5.   Proses pembuatan obat itu harus steril. Memang dalam penyajian dan penyediaan obat harus higenis dan bersih, dan itu sudah merupakan prosedur tetap yang harus dilakukan oleh semua apoteker. Meskipun dalam penyediaan obat oral tidak harus super steril seperti penyediaan obat suntik. Obat oral mungkin relatif sama seperti penyajian makanan lain yang masuk ke mulut, beda dengan obat injeksi yang harus melalui pembuluh darah yangb harus sangat steril.

•6.   Bisa jadi obatnya sudah rusak sebelum mencapai sasaran karena proses penggerusan. Masalah tersebut sebenarnya masalah knowledge (pengetahuan) dan ketrampilan dokter Hal itu juga tidak akan terjadi karena dokter sudah diberikan ilmu farmasi bahwa terdapat beberapa obat yang tidak boleh digerus. Kalaupun ada yang tidak boleh digerus tapi digerus, mungkin tidak membahayakan tetapi hanya membuat khasiat obat tidak optimal.

•7.   Dosis yang berlebihan karena dokter tidak mungkin hafal setiap merek obat. Jadi akan ada kemungkinan dokter meresepkan 2 merek obat yang berbeda, namun kandungan aktifnya sama. Hal seperti ini juga sebenarnya masalah knowledge (pengetahuan) dan ketrampilan dokter. Setiap dokter tidak boleh menuliskan resep obat bila tidak hafal dosis dan merek obatnya. Kekhawatiran inipun juga terjadi pada penulisan resep sediaan sirup.

•8.   Kesalahan dalam peracikan obat - bisa jadi tulisan dokter bisa jadi nggak kebaca sama apoteker, sehingga bisa membuat salah peracikan. Hal inipun juga terjadi pada sediaan sirup. Penulisan dokter tidak jelas memang sering terjadi, dalam hal ini apoteker harus menanyakan lagi kepada dokter

 

Bila dilihat berbagai opini yang diungkapkan oleh beberapa pihak tadi menjadikan kontroversi melebar kemana-mana tidak pada subtansinya bahwa obat puyer sebenarnya tidak berbahaya dan bukan sesuatu yang harus dikhawatirkan.  Kekhawatiran tersebut sebenarnya juga terjadi pada pemberian sediaan yang lain seperti sediaan sirup dan kapsul. Substansi kontroversi yang lain sebenarnya masalah skill dan knowledge dokter dalam penulisan resep dan skill apoteker dalam penyajiannya. Sebenarnya masalah ini bukan konsumsi publik, tetapi seharusnya menjadi topik bahasan di kalangan intern dokter.

Sebaiknya media sebagai penyebar informasi dan dokter sebagai narasumber dalam mengemukakan kontroversi ilmiah harus berdasarkan bukti dan fakta ilmiah ataupun paling tidak hasil rekomendasi dari institusi yang kredibel seperti WHO (World Health Organization), CDC (Centers for Disease Control), AAP American Academy of Pediatrics, IDI (Ikatan Dokter Indonesia) atau IDAI (Ikatan Dokter Anak Indonesia). Bila masalah itu masih belum ada rekomendasi resmi dari instansi berwenang yang kredibel sebaiknya dokter sebagai narasumber jangan terlalu gegabah menyampaikan atau terpancing untuk menyebarluaskan opininya sendiri atau kontroversi ke masyarakat.  Sebaiknya dilakukan workshop atau diskusi ilmiah dikalangan berbagai disiplin ilmu untuk menyatukan pendapat. Bila perilaku  itu diteruskan hal tersebut secara tidak disadari akan dapat ditunggangi oleh pihak yang tertentu untuk mengeruk keuntungan. Dokter juga mirip politisi, harus cermat dalam mengeluarkan informasi ke masyarakat. Sekali kontroversi itu keluar ke media masa akan menjadi milik opini publik yang dapat membingungkan masyarakat. Kemajuan informasi tehnologi, bak pisau bermata dua. Satu sisi menguntungkan, sisi lain bila salah mencerna informasi tersebut akan membuat persepsi masyarakatt diputarbalikkan.

Bila klinisi berdebat pada kontroversi yang tidak substansial sebaiknya media harus cermat dalam memilih atau menyajikan berita. Karena bila masyarakat salah dalam mencerna kontroversi itu maka banyak hal negatif yang bisa terjadi. Hal ini akan menurunkan kredibilitas dan kepercayaan media dan nara sumbernya, bahwa informasi yang tidak berdasarkan evidence base medicine atau kejadian ilmiah berbasis bukti menjadikan sekedar kontroversi yang tidak berujung. Berbeda dengan tradisi dalam bidang ilmu kedokteran dahulu. Dalam ilmiah kedokteran modern, pendapat seorang pakar atau professor sekalipun sekarang tidak boleh dijadikan acuan atau  pedoman utama bila tidak disertai fakta evidence base medicine. Hal yang lebih buruk lagi bila hal ini terjadi maka persepsi yang salah ini akan menggiring opini masyarakat untuk menyudutkan dokter sebagai pemberi advis pengobatan. Tanpa disadari pada persepsi yang salah itu akan merusak citra dokter di Indoenesia di mata masyarakat.

Dalam kontroversi tersebut sebaiknya pihak yang berwenang dalam hal ini IDI, IDAI dan Departemen Kesehatan harus mengeluarkan rekomendasi resmi tentang masalah keamanan puyer sebagai salah satu bentuk sediaan obat. Meskipun secara informal lewat wawancara sebuah stasiun televisi ketua umum IDAI dr Badriul Hegar SpAK, telah menyatakan bahwa puyer adalah bentuk sediaan obat yang tidak berbahaya dan aman, karena sampai saat ini belum ada penelitian yang menunjukkan keburukannya.

Bila diibaratkan kontroversi itu seperti dokter sebagai penyedia puyer dan penjual sate menjual satenya.Bila kualitas satenya tidak bagus yang dikambinghitamkan jangan satenya tapi penjual satenya harus diperbaiki cara penyajiannya secara baik dan benar. Padahal bila dikemas dengan baik dan benar maka sate tersebut sangat bergizi dan masih menjadi pilihan masyarakat. Meskipun sebenarnya dokter tidak bisa disamakan dengan tukang sate.

Bookmark and Share

Tag/Label obat, puyer, bahaya kedokteran, anak, kesehatan
Penilaian anda

Kirim ke Teman
* Email Teman:
Pisahkan tiap email dengan titik koma.
Contoh: bill@microsoft.com; steve@apple.com
* Email anda:
126 komentar pada warta ini
Jumat, 13-02-2009 13:11:18 oleh: Ajeng Tiara

Saya pernah baca dari milis teman tentang seputar kontroversi puyer ini. Semua sudah terjawab. Terima kasih dok...



Jumat, 13-02-2009 13:14:56 oleh: mediansyah

pernah saya temukan, yg meracik obat puyer (menggerus dan mencampur) bukan apoteker tapi satpam penjaga gudang obat sebuah RS.



Jumat, 13-02-2009 13:59:20 oleh: Juliana

wah, waktu kecil sakit dekat rumah saya ada mantri yang kalau ngobatin pasien pake racikan itu, jd saya rasa sudah banyak dari masyarakat kita yang menemukan hal seperti itu, dan kepercayaan akan sembuh dengan minum racikan itu belum hilang hingga kini. Karena toch saya pernah merasakan hal itu, dan untungnya hingga kini masih diberi kesehatan.



Jumat, 13-02-2009 15:47:23 oleh: Trinovi Riastuti

maaf pak dokter, rasanya saya gak melihat adanya keuntungan dari pihak farmasi dengan adanya penayangan ini. karena selama ini, dalam pemberian puyer, obat-obat yang diberikan bukanlah obat generik, melainkan obat bermerk yang pastinya jadi keuntungan besar buat farmasi. berapa persen obat generik yang diberikan dalam puyer? kalaupun ada, persentasenya amat sangat kecil.

dengan tayangan rcti ini, saya sama sekali tidak merasa bingung, bahkan sebaliknya, merasa tercerahkan (bahkan merasa ditampar setelah apa yang telah anak saya alami selama ini).

jadi tolong jangan disudahi pembahasan ini, justru dikupas lebih tuntas, lebih mendalam, karena masyarakat sama sekali tidak bingung. biarkan masyarakat yang menilai dan memutuskan, apakah kontroversi ini merupakan upaya pembodohan, ataukah suatu kejujuran.




Jumat, 13-02-2009 16:58:16 oleh: ida rifai

waduch.. saya kecewa sama tanggapan anda dok. Saya justru berterima kasih sekali dengan RCTI dan informasi dari internet. Jika dipikir secara logika, memang praktek puyer ini adalah sangat berbahaya. Jikalau memamng direkomendasikan.. mengapa dunia luar sudah tidak mempraktekannya lagi?
Dan satu lagi, seberapa berat sih penyakit anak hingga membutuhkan berbagai macam obat??




Jumat, 13-02-2009 18:40:45 oleh: rian

@Trinovi Riastuti:
Anda bisa tau dari mana kalau obat yg diracik itu adalah obat bermererk? Karena Setahu saya yang ditulis diresep utk puyer adalah nama obat bukan nama dagang suatu obat (biss bedain kan antara nama obat ma nama dagang obat?)

Contoh Untuk obat penurun panas, yang ditulis adalah nama generiknya yaitu Paracetamol puyer, bukan panadol puyer karena panadol tidak ada sediaan puyer dan panadol hanya tersedia dgn dosis yg sudah baku antara lain 500mg (dlm bentuk tablet salah satunya)

Jika Dokter tersebut hanya menginginkan paracetamol dgn dosis 125 mg, bagaimana caranya? Itulah fungsi sediaan puyer yaitu menyediakan dosis obat sesuai yang dokter inginkan.
Trus knp ga tinggal bagi 4 saja 1 tablet panadol? NAh di sinilah fungsi puyer itu..dalam peracikannya ada alat takaran yang dgn ketelitian.




Jumat, 13-02-2009 19:01:54 oleh: rian

@ida rifai

Dr Widodo telah memberikan tulisan berdasarkan kompetensinya dan nilai2 keilmiahan.
Coba bs anda tampilkan secara ilmiah apa yang membuat anda menyatakan bahwa memang praktek puyer ini adalah sangat berbahaya?

Mengapa dunia luar sudah tidak mempraktekan puyer? Itu karena di luar jauh lebih lengkap jenis obat, sediaan obat dan dosisnya dibanding dgn di Indonesia.

Kemudia Seberapa berat penyakit anak hingga membutuhkan berbagai macam obat? Perlu diketahuin juga sakit pada anak bukan hanya terbatas pada flu, batuk dan panas saja. Silahkan anda berkunjung ke RS Pemerintah atau RS Besar di kota anda dan masuk lah ke bagian anak supaya anda tahu bahwa penyakit anak sangatlah kompleks.

Kalau tidak untuk apa ada Spesialissasi Kedokteran Anak dalam Ilmu Kedokteran yang bahkan termasuk di dlm spesialisasi Kedokteran dgn durasi studi yang terlama diantara spesialisasi yang lain




Sabtu, 14-02-2009 02:58:31 oleh: hafiizh

Puyer menyalahi CPOB(Cara Pembuatan Obat Yg Benar), lihat tayangan di RCTI (arsip ada di OKEZONE. Alasan bahwa dg puyer takaran/dosis bisa diberikan lebih tepat.... gimana lebih tepat kalo cara dispensingnya dibagi-bagai pake mata telanjang (by feeling gitu). Pake feeling aja udah lama bikinnya (ada ongkos waktu+tenaga), pasien bisa harus nunggu berjam-jam. Sdr. Rian & Dr. Widodo bisa menjamin kalo semua puyer yg diresepkan pasti dibagi2 pake timbangan? Pasien bisa2 antri 2 hari baru dapet tuh obat.



Sabtu, 14-02-2009 04:45:36 oleh: Fauzi

Untuk hafiizh yang terhormat, coba anda renungkan baik-baik. Apakah bila di media massa anda mendengar adanya isu susu bermelamin, lantas anda atau keluarga terdekat anda langsung mengambil keputusan utk tdk mengkonsumsi susu? Saya berani bertaruh bahwa anda atau keluarga sampai skrg pun masih mengkonsumsi susu.

Begini hafiizh, juga untuk seluruh pengunjung milis. Mari kita lihat segala hal secara obyektif dan jgn menggeneralisasikan atau menyama-ratakan segala hal tanpa adanya pertimbangan.

Tidak semua berita yang ada di media dapat kita telan bulat-bulat begitu saja. Apakah kantor berita yang anda (hafiizh) sebutkan telah melakukan riset mendalam dan mewawancarai narasumber dari institusi yang kredibel? Apakah kantor berita tersebut memiliki bukti ilmiah dan fakta yang dapat dipertanggung jawabkan? Saya yakin tidak!

Dari kantor berita yang anda sebutkan diatas sudah jelas-jelas tidak menunjukan kredibilitas dan profesionalismenya dalam menyajikan berita kpd masyarakat. Terbukti dgn tdk adanya sumber tertulis atau sumber referensi mengenai kelebihan dan keuntungan puyer. Juga apabila yang diangkat mengenai CPOB, bukankah tdk hanya puyer saja yg terlibat? (jika sesuai penayangan kantor berita tsb). Bukankah seharusnya kapsul dan syrup jg terlibat? Apakah kantor berita tersebut memiliki kepentingan pribadi utk menjatuhkan profesi tertentu? Kita semua bisa menilainya..

Inilah sebabnya masyarakat Indonesia hrs dituntut lbh kritis dan lbh open-minded dlm mencerna informasi. Kalau tidak, kita akan selamanya menjadi negara berkembang yang sebagian besar dihuni oleh orang2 terbelakang...




Sabtu, 14-02-2009 06:09:55 oleh: erlina

Pak Rian & Dr.Widodo yth,
Kontroversi itu kan hal yg wajar, kontroversi adalah proses belajar. Dari kontroversi, kami para awam akan mencerna lebih dalam. Jadi jangan di sudahi, biarkan kami belajar. Kami konsumen kesehatan berhak mendapat informasi seluas-luasnya. Dan pilihan ada ditangan kami, bukan dokter. Dokter bertugas memberikan info sejelas2nya tentang isi obat, efek negatif obat, apa selama ini dokter selalu menginformasikan itu kepada pasien dokter, saya yakin tidak. Jadi, teruskan tayangan di RCTI, kami tetap ingin tahu lebih banyak. Tks




Sabtu, 14-02-2009 06:24:17 oleh: ina

Sdr Rian,

Concern saya:
Jika sediaan obat diracik di apotik, standar prosedur tidak sebaik pabrik, yg punya GMP (Good Manufacturing Practice). Saya juga merasa syrup & kapsul masuk di area puyer ini, hanya bentuk sediaannya saja berbeda, tapi kan sama saja dikerjakan dengan kira2 di tangan apoteker atau asistennya, kami mau yg dibuat dari pabrik langsung, kalo memang demand tinggi, kenapa gak mungkin pabrik memproduksi takaran untuk anak, bisa generik toch?! . Saya kerja di pabrik makanan, ngerti banget masalah GMP. Gak ngawur asal, ngebagi2 dengan kasat mata, kira2 saja. Di tayangan RCTI sudah jelas, apoteker ngawurrrr!!! gak pake sarung tangan, gak pake takaran, gak bersih mortar nya. Dan saya yakin, hampir 80% apoteker ngawur, krn proses spt itu sudah dikatakan sesuai prosedur, prosedur ngawur kan?. Ngawur kok di ikuti. Tks




Sabtu, 14-02-2009 06:33:26 oleh: erlina

Doc & Rian,

Gak perlu jauh2 ke RS Besar, RS biasa aja, batuk pilek aja di kasih puyer kok, padahal batuk pilek kan gak perlu obat, tergolong penyakit self limiting disease, sembuh sendiri sesuai daya tahan tubuh. Masalahnya bukan hanya puyer Pak. Tapi juga RUM (Rational Using Medicine). 1 obat saja jika tdk dibutuhkan namanya sudah overmedication, apalagi di tambah dijadikan puyer, campur2, aduk2, kira2, itu sih anak mati bukan karena batuk pilek, tapi karena obat, batuk pilek aja obatnya bisa 6 macem. Hiiiy.. amit2 gak mau deh ke dokter model gitu lagi.... (pengalaman pribadi yg membuat trauma)
Tks




Sabtu, 14-02-2009 06:43:16 oleh: widodo judarwanto

Kontroversi yg ditampilkan di atas dan yg perdebatkan diatas memang adalah kelemahan puyer tetapi ITU JUGA KELEMAHAN OBAT SEDIAAN LAIN SEPERTI SIRUP. POLIFARMASI (bermacam-macam obat),DOSIS, REAKSI OBAT dll juga akan dialami obat sirup. CPOB itu hanya untuk pembuatan obat jadi, untuk penyediaan obat puyer ada prosedur dan tatacara sendiri dan ada ilmu meracik obat yang diajarkan di bangku kedokteran dan sekolah farmasi. Memang betul sebagian puyer kadang tidak ditimbang, ttp dlm ilmu meracik obat ada tehnik & cara untuk membagi rata sehingga akan mendekati dosis yang diminta, Kalaupun ada perbedaan dosis sangat kecil (mungkin 1/50-1/100) dan wajar dan tidak akan bermakna secara klinis atau tidak membahayakan. Dosis yang tidak tepat pun akan juga dialami saat kita minum sirup. Coba bayangkan saat kita menuang sirup untuk anak, kalau dosis setengah sendok teh, apakah pas 2,5 cc, pasti bisa lebih atau kurang, belum lagi bila diminumkan akan ada sisa sirup disendoknya.
Justru penggunaan bukan obat generik tersebut pihak farmasi yang lebih diuntungkan, tetapi bukan itu konteksnya, perusahaan farmasi merasa dirugikan kalau sirupnya tidak laku. Coba bayangkan bila puyer dilarang, berapa biaya yang harus dikeluarkan masyarakat untuk membeli sirup bisa lebih 10 kali lipat.
Adakah data ilmiah negara mana saja yang memakai dan menggunakan puyer ? Mungkin setahu sy belum ada,pemakaian di LN atau tidak bukan pertimbangan khusus. Adakah pemakaian bedak salisil di LN? tidak ada, tetapi apakah bedak salicil berbahaya?
Kalau puyer berbahaya, pasti akan dilarang oleh depkes, IDAI, IDI krn sampai saat ini belum ada penelitian atau fakta ilmiah yang menunjukkan bahaya puyer.
Tapi kalau memang ada fakta ilmiah dan penelitian tentang bahaya puyer, barulah kontroversi ini bisa diungkap pada masyarakat.
Jadi masyarakat hrs jeli mencerna informasi di media, bkn dng logika tp fakta ilmiah. Kalau ragu coba buka situs kredibel spt WHO,CDC,AAP atau pubmed, adakah yang melarang puye




Sabtu, 14-02-2009 07:31:25 oleh: dr widodo judarwanto SpA

Kadangkala masalah kontroversi ini sederhana, tapi sulit mencernanya.
Kontroversi puyer itu jadi melebar kemana-mana krn yang dibahas bkn bahaya puyernya sendiri tapi masalah human error nya atau masalah skill, attitude dan perilaku dokter atau apotekernya. Kalau yang menjadi masalah penyajiannya kenapa hrs puyernya yang disalahkan.
Sekali lagi, kalo sate tidak berkualitas bukan satenya dilarang tapi penjualnya yang tidak baik dan benar penyajiannya, sehingga masyarakat jangan mengkambinghitamkan satenya tapi cari penjual sate yang lain yang cara peyajiannya baik dan benar. Sate di luarnegeri tidak ada, hanya ada di Indonesia, tp bukan berarti sate berbahaya dan hrs dilarang! Lain lagi ceritanya kalau ada penelitian ilmiah yang menunjukkan bahwa sate berbahaya, meskipun kalau di LN sate ada tetap hrs dilarang di Indonesia. Jadi masalahnya bukan LN atau tidak.

Sesama tukang sate tidak perlu berantem tidak etis, nanti kalau satenya tidak berkualitas maka pembeli akan berpindah ke tangan anda juga. Pertentangan sesama pedagang sate nanti akan dimanfatkan pihak lain yang mengeruk keuntungan. Kecuali kalau Persatuan Restoran dan Pedagang Indonesia dan Pemerintah menyatakan sate berbahaya, maka sate harus dihindari.
Kalau ada televisi yang memberitakan bahwa makanan sate di kaki lima kotor, tidak higienes dan menyebabkan penyakit sebaiknya kita beli sate di Rumah makan yang bersih. Tapi, trus televisi jangan melebar kemana-mana, seperti liputan rumah penjual sate, kejorokan penjualnya dll dan jangan membuat opini publik bahwa sate berbahaya, kasihan khan tukang sate lainnya. Bila tidak ada data ilmiah dan fakta ilmiah sebaiknya televisi jangan menyebarkan pertentangan tukang sate. Sebenarnya kalau mau jujur, makanan yang tidak berkualitas kalau penyajiannya kurang baik bukan hanya SATE, tetapi SOTO juga SAMA BAHAYANYA. Tetapi yang pasti sampai saat ini menurut pemerintah SATE TETAP AMAN DIKONSUMSI. Tetapi sebenarnya SATE dan PUYER tidak boleh disamakan.




Sabtu, 14-02-2009 07:51:49 oleh: Joni

@erlina
kalo batuk pilek, bawa aja ke ponari dukun cilik.
gak perlu takut lebih dosis koq.
cuma air doang




Sabtu, 14-02-2009 08:36:07 oleh: Trinovi Riastuti

sdr rian yth,

saya memang bukan dokter, saya hanya ibu biasa, dan menurut saya, tidak harus menjadi seorang dokter ataupun apoteker untuk bisa membedakan mucopect dengan ambroxol hcl, lasal atau ventolin dengan salbutamol sulsat, amoxan dengan amoksisilin, sanmol dengan parasetamol.

obat-obat bermerk itulah yang pernah saya berikan ke anak saya dalam bentuk puyer, serta berbagai macam obat ber-merk lainnya yang sering saya jumpai dikantor dalam resep anak yang diklaim ke perusahaan asuransi, dan semuanya untuk kasus ISPA
atau common cold!

sangatlah tidak sulit buat saya untuk mendapatkan 120mg paraetamol, saya tinggal membeli parasetamol generik dalam sediaan sirup segarga 3500, dan memberikan 5ml yang setara 120mg paracetamol. jadi, tidak tepat bahwa puyer identik dengan murah.

ada alat takaran dengan penelitian dalam peracikan? maaf... saya sangat tidak yakin dengan hal ini, apalagi setelah melihat di rcti, dan juga membaca sharing orang-orang yang bersinggungan dalam proses pembuatan puyer ini (and most of them adalah tenaga kesehatan

benar juga bahwa penyakit anak tidak terbatas pada flu saja, tapi seperti yang sdri ida rifai sebutkan. tidak perlu melihat yang lebih komplek dulu, bagaimana dengan yang masalah umum yang hanya 80% tersebut? bagaimana dengan kenyataan yang saya temukan dalam ratusan bahkan ribuan copy resep tersebut? resep-resep tersebut tidak hanya datang dari 1 dokter, tapi puluhan bahkan ratusan dokter, dan semua resep untuk diagnosa ispa tersebut tercantum obat bermerk, bukan obat generik!

apakah ini treatment yang dibutuhkan anak-anak indonesia? mengapa sangat bertentangan dengan yang diungkapkan dalam situsnya WHO, CDC, AAFP dll? apakah waktunya kita untuk melayangkan protes ke lembaga-lembaga tersebut karena mereka mencantumkan guideline yang salah??

sudah saatnya bangsa kita belajar...
salut buat RCTI... dan semoga pembahasan soal puyer ini bisa berlanjut dalam pengobatan yang rasional.




Sabtu, 14-02-2009 08:50:24 oleh: dr Widodo Judarwanto SpA

Untuk Ibu erlina, Itulah hebatnya alat komunikasi modern, kadang kita tidak merasa dibingungkan tetapi scr dibawah sadar kita diputarbalikkan fakta. Coba simak ttg kontroversi ada banyak fakta dan opini yang bertentangan tapi kita merasa tidak bingung

1. Fakta bahwa ilmu meracik puyer itu jadi kurikulum wajib dan diajarkan di mahasiswa kedokteran dan farmasi
2. Ada opini dari sebagian dokter bahwa puyer berbahaya, tetapi bahayanya bukan masalah substansial
3. Puyer tidak dilarang oleh Depkes, IDI atau IDAI
3. Masyarakat sebenarnya membutuhkan puyer sekarang jadi takut.
4.Tidak ada data ilmiah yang menunjukkan bahwa puyer berbahaya.
5. Tidak ada institusi kesehatan dunia yang kredibel melarang puyer


Bagaimana masyarakat tidak bingung, yang legal tetap membolehkan dan tidak melarang tapi ada opini yang menyudutkan. Sehinngga sekarang masyarakat jadi takut puyer, hrs beli sirup yg mahal dan resiko bahayanya juga sama.

Pemahaman setiap orang tentang informasi berbeda tergantung latarbelakang pendidikan dan pengetahuannya. Bila kontroversi ini dicerna oleh para dokter mungkin tidak masalah, tp bila dlm masyarakat terjadi kekeliruan pemahaman maka substansi yang mendasar sdh berbeda lagi.
Kontroversi di bidang kedokteran itu biasa dan banyak terjadi, kalau semua kontroversi itu diungkap mungkin dalam setahun setiap minggu RCTI pasti laris. Makanya jalan tengahnya kalau belum ada fakta ilmiah yang menyatakan bahwa sesuatu berbahaya, kontroversi itu jangan terburu-buru diungkapkan, nanti yang rugi masyarakat sendiri. Makanya kalau ragu mendapat informasi yang msh kontroversi, coba buka situs yang kredibel spt IDI, IDAI, WHO, DEPKES, CDC, PUBMED, AAP dll




Sabtu, 14-02-2009 09:45:08 oleh: Retty N. Hakim

Wah, tumben nih dokter ikutan interaktif...

Saya juga melihat tayangan ini karena dipanggil suami saya (yang pencinta TV) "Eh lihat nih, puyer berbahaya..."

Menurut saya sih, pemberitaan harus berimbang...jadi jangan menggiring opini bahwa puyer itu berbahaya. Hampir semua dokter anak memberikan resep puyer, tinggal masalah tempat mendapatkan obar tersebut bisa dipercaya atau tidak. Tentunya pemberian puyer karena ada masalah takaran ya...

Yang saya perhatikan kalau pemberian obat bukan puyer, ortu pasien cenderung untuk mengulang sendiri obat tersebut tanpa konsultasi dengan dokter, padahal belum tentu permasalahannya benar. Terkadang salinan resep racikan juga mau diulang begitu saja...

Kalau saya mengambil sisi positif dari siaran ini bahwa kesadaran itu bisa menggugah orang awam (non apoteker) yang membantu baik di puskesmas, maupun pelayanan kesehatan lainnya untuk meracik obat agar lebih hati-hati. Orang tua juga lebih kritis memilih tempat menebus obatnya. Saya pernah membeli obat sirup dari dokter anak, ternyata dalam keterangannya tidak boleh diminum anak yang usia kurang dari 6 tahun. Ketika saya konfirmasi ke dokter anak, ternyata beliau tidak merasa memberikan jenis obat tersebut, dan apotik itu tidak menelpon mengklarifikasi tulisannya (memang tulisannya "ajaib" benar...). Saya rugi uang karena beli ulang obat, tapi sejak itu lebih hati-hati memberikan obat walaupun dari dokter anak dan beli di apotik.

Saya rasa keprihatinan pak dokter disini terutama untuk kalangan menengah ke bawah yang karena merasa tidak aman dengan pemakaian obat dokter akhirnya lari ke dukun saja...(Karena saya tahu benar tukang bangunan saja sekarang ini terkadang tidak mau ke puskesmas, maunya ke dokter umum biasa...padahal biaya di puskesmas itu kan dapat subsidi pemerintah, dan biasanya kerjanya juga lumayan baik...semua berpulang pada profesionalitas SDMnya).




Sabtu, 14-02-2009 13:14:34 oleh: Dr. Imron Rosyidi Ahmad

Sebenarnya saya tidak ingin menulis komentar ini,sebab semakin banyak yang menulis komentar semakin banyak polemik dan kontroversial semakin menjadi-jadi. Tapi tergelitik juga aku untuk menulisnya he he. Semua pendapat benar tergantung dari sudut pandangnya masing-masing.
Sebenarnya di buat puyer itu untuk memudahkan pemberiah dan dosis benar benar disesuaikan dengan tepat sesuai berat kebutuhan pasien karena puyer dibuat untuk pasien secara individual. tapt memang masih banyak kekekurangannya yang sudah dterangkan secara gamlang seperti uraian Dr.Widodo diatas. Terimakasih dokter, semoga amal baik dokter berbalas.




Sabtu, 14-02-2009 15:50:28 oleh: andi

untuk pak dokter, menurut saya RCTI sangat logis memaparkan mengapa tidak perlu memakai puyer..rasanya manfaatnya lebih kecil dibandingkan mudaratnya (efek samping) karena intinya kita tidak bisa memastikan ke hygenisan dan kemanjuran dari obat puyer tsb. Merubah sesuatu yang sudah umum ( walaupun salah) seperti polemik rokok dll ke arah yang lebih baik pasti akan mendapat tentangan termasuk dari para dokter juga.. trims



Sabtu, 14-02-2009 19:33:01 oleh: dr. Rivadin

Pengalaman saya sebagai dokter, peracikan obat dalam bentuk puyer sangat memudahkan untuk menentukan dosis yang pas untuk anak sesuai dengan berat badannya. Sediaan sirup kadang tidak bisa secara tepat memenuhi dosis yang kita inginkan. Contoh sederhananya : bayi berat badan 5 kg dengan demam, berobat di puskesmas. Sirup Paracetamol generik yang ada 120 mg/5 ml (120 mg per sendok sirup). Dosisnya kan 10 mg per kilogram berat badan per kali minum, jadi bayi ini harus minum paracetamol dengan dosis 50 mg perkali minum. Kalau dengan sediaan sirup, kalau kita beri 1/2 sdk sirup, berarti kita memberinya 60 mg (kelebihan 10 mg), kalau kita kasih 1/3 sdk sirup, berarti kita memberinya 40 mg, (kurang 10 mg)--> jd susah kan. Kalau kita buatkan puyer, tinggal mempuyer paracetamol tablet 500 mg menjadi 10 bungkus, jd dosisnya kan jadi pas. Itu contoh yang paling sederhana berdasarkan pengalaman waktu tugas di puskesmas dulu.
Selain itu, kita harus ingat bahwa Indonesia terdiri dari Sabang sampai Merauke, banyak tempat di negeri ini yang tidak tersentuh obat-obat sirup/drop dengan jenis yang lengkap (terutama di daerah2 terpencil di kawasan timur Indonesia <terpencil, walaupun jumlah penduduknya ribuan>). Sehingga alternatif yang ada adalah mempuyer obat-obat tablet yang ada (dengan tetap memperhatikan kaidah2 farmasi).
Yang penting, menurut saya adalah, dokter yang meresepkan, orangtua yang kritis dan apoteker yang meracik obat.Puyernya sendiri tidak masalah.
Scr profesional, dokter harusnya sudah tahu bgmn meresepkan puyer dengan baik dan benar; orangtua jg harus kritis, jangan ragu untuk minta penjelasan kpd dokter tentang resep untuk anaknya, kalau tidak ingin mdpt puyer, mintalah obat dengan sediaan yang lain (sirup atau drop) yg memungkinkan diberikan untk anak tsb (tmsk ketepatan dosisnya dan apakah ada sediaan sirup/dropnya); dan apoteker tentunya jg mestinya sdh tahu bgmn meracik obat dengan profesional.
Smg bermanfaat.




Sabtu, 14-02-2009 19:50:19 oleh: ina

Dok,

Yang penting jangan status quo lah.
Biarkan masyarakat memilih.
Berikan informasi sebanyak2nya.
Hak pasien loh Dok untuk menolak puyer.
Penyakit anak 80% disebabkan oleh virus, dan tergolong self limiting disease.
Jadi paling banter hanya butuh paracetamol, generiknya udah ada loh. Jadi gak perlu puyer yg campur aduk dari beberapa obat, toch?

Dok, boleh saya balik ya, kalo puyer emang baik, bagus, pasti seluruh dunia pake puyer. Kok, mereka negara2 miskin pun sudah meninggalkan puyer? Tanya kenapa?

Mana ada kontrol kalo ksh obat dalam sediaan puyer, lha wong obat 7 macem jadi 1. Sekarang saya tanya balik, apa bener tuh udah sesuai guideline yg ada di WHO, AAP, dst....

Saran saya dokter ikuti terus seputar indonesia, sampai episode puyer ini habis, ini bukan semata opini golongan tertentu, tapi ini fakta.
Yang perlu diketahui oleh publik, karena telah merugikan anak-anak indonesia.

Tks
Ina





Sabtu, 14-02-2009 19:54:39 oleh: erlina

@joni
Pak, buka donk guideline di AAP, CDC, Mayo CLinic, WHO, bat-pil gak perlu obat, apalagi puyer.
Cukup makan sehat, buah, sayur, istirahat. Nanti sembuh sendiri. Sekali2 browsing Pak, situs yg saya sebut diatas, biar jadi smartparent. Tks




Sabtu, 14-02-2009 22:49:27 oleh: widodo judarwanto

Benar saja kontroversi ini pasti akan melebar kemana-mana tidak sesuai dengan konteks utama masalah puyer, itulah alasan sy menulis artikel ini, bukan mslh pro kontra tp hrs jernih dlm melihat mslh.

Maaf coba dibaca lagi lebih cermat ARTIKEL DI ATAS, BAHWA MASALAH OBAT YANG BERMACAM-MACAM DIGABUNG JADI SATU (POLIFARMASI), DOSIS DLL adalah juga kelemahan obat sirup juga bukan hanya kelemahan puyer.Jadi opini yg dikawatirkan itu juga terjadi pada sediaan sirup dan masalah human error.

Pemberian penyakit yang seharusnya tidak dengan obat dan antibiotika segala macam itu tidak berkaitan dengan puyer. Itu konteksnya berbeda lagi, itu masalah overtreatment atau pemberian obat yang berlebihan dan itu juga dialami oleh pemberian sediaan obat sirup. Banyak kasus overtreatment spt sakit flu biasa yang seharusnya tanpa obat juga dikasih sirup (antibiotika, ibat batuk pilek) tapi itu sekali lagi bukan konteks kontroversi puyer.

Itulah yang saya kawatirkan, pdhl dlm penulisan artikel ini sy berusaha menulis sejelas-jelasnya, bahwa ALASAN KEKAWATIRAN THD PUYER TDK PD SUBSTANSINYA DAN BELUM ADA PENELITIAN YANG MENUNJUKKAN KEBURUKAN PUYER. Ttp tetap saja opini itu menjadi melebar kemana-mana tdk pada substansinya.

Apalagi kalau hanya mendapatkan informasi sesaat di televisi maka interpretasi masyarakat akan jauh melenceng lagi. Yang lebih dikawatirkan, hanya karena salah interpretasi dlm kontroversi ini masyarakat tdk mempercayai lagi dokter, dan akan membeli obat sirup sendiri hal inilah yang membuat masalah lebih runyam lagi.

Sehingga seharusnya DEPKES, IDI, IDAI hrs segera mengeluarkan rekomendasi ttg keamanan puyer.

Dokter tdk akan pernah memaksa pasien untuk mendapatkan puyer, kalo anti puyer minta aja sirup, beres khan. Tapi jangan berharap sirup lebih aman, resiko polifarmasi, dosis, interaksi obat, overtreatment dan berbagai opini yg ditakutkan diatas tetap hampir sama dng puyer dan bersiaplah anda untuk merogoh kocek lebih dalam lagi




Sabtu, 14-02-2009 23:10:04 oleh: boim

Logika satenya pak dokter, saya sangat setuju..hanya kalau makan sate salah paling-paling sakit perut, kalau salah makan obat bisa berabe pak. Tambahan lagi, dokter itu beda banget loh pak dengan pedagang sate...kalau dokter boleh kok berdiskusi..dan saling memberi informasi ( ehmmm ini yang kurang oleh dokter terhadap konsumen di Indonesia, di Indonesia itu ke dokter identik untuk meminta obat bukan untuk konsultasi dan diskusi penanganan penyakit). Kalau memang forum ilmiah untuk membahas masalah ini belum ada, dengan adanya tayangan RCTI ini kita berharap sekali loh agar puyer ini di-diskusikan secara ilmiah....






Sabtu, 14-02-2009 23:56:12 oleh: Leni Subiantoro

Terimakasih, dok! Saat saya melihat tayangan puyer di RCTI saya sangat tidak respek dengan dokter Indonesia. Tapi setelah baca artikel ini saya lebih tercerahkan, ternyata problem utamanya adalah masalah human error dan masalah yang tidak utama dari bahaya puyer itu sendiri. Memang dalam menerima informasi yang sangat banyak dari media tv atau internet kita harus lebih cermat lagi. Seharusnya RCTI bisa mencari berita yang lebih selektif lagi.



Minggu, 15-02-2009 00:38:03 oleh: hafiizh

Terima kasih atas penjelasannya kemarin Dok. Ok deh saya akan rajin buka2 situs instansi kesehatan yg terpercaya seperti yg Dokter anjurkan. AAP, CDC dll.



Minggu, 15-02-2009 06:28:46 oleh: suzie

Saya sih melihat tidak ada masalah dengan tetek bengek puyer ini. Obat sirup pun kalau diperhatikan komposisinya bisa tiga/empat macam obat. Dibanding saya harus menyuapkan tujuh macam obat sirup ke mulut anak saya dengan saya yang menakar sendiri, saya lebih percaya pada puyer.

Dokter dan apoteker kan sekolahnya gak sebulan dua bulan. Profesi apapun pasti ada oknum-nya, mau polisi, dokter atau anggota dewan. Yang ditayangkan RCTI itu kebetulan memang yang baik. Gak semua dokter dan apoteker adalah oknum kan.
Carilah dokter/apoteker yang anda bisa percayai.





Minggu, 15-02-2009 07:07:46 oleh: Anwariansyah

Pemberitaan di televisi secara menyesatkan menggiring opini ke arah berbahayanya puyer. Seharusnya melihat kasus per kasus secara substansial. IDI perlu berkoordinasi periksa anggotanya yang kelewatan bikin puyer sampai 15 macam obat. Bukannya bikin sembuh, puyer malah bikin puyeng.



Minggu, 15-02-2009 07:23:08 oleh: widodo judarwanto

Memang benar ibu Leni, sebenarnya RCTI mempunyai niatan sangat baik untuk memberikan informasi pada masyarakat namun salah dalam memilih topik atau kesalahan dalam mengemas atau meyajikan berita yang akhirnya mengaburkan informasi itu sendiri yang akhirnya mengacaukan persepsi masyarakat. Seharusnya yang diungkapkan adalah kecenderungan pemakaian polifarmasi, overdiagnosis antibiotika dan kewaspadaan dalam pemakaian obat. Bukan langsung memvonis bahwa puyer berbahaya dan harus dihindari. Atau tepatnya mungkin topik dan judulnya KEWASPADAAN PEMAKAIAN OBAT bukan PUYER BERBAHAYA.

EFORIA INFORMASI ini di masa mendatang akan lebih hebat lagi apalagi kemajuan informasi tehnologi ini tidak bisa membendung setiap orang termasuk dokter untuk mengemukakan pendapatnya di media. Nantinya lambat laun sebagian besar dokter akan mempunyai blog sendiri.

Di masa mendatang masyarakat sebaiknya lebih cerdas dalam mencerna informasi. SMARTPARENTS bukan berarti banyak ikut milis dan banyak buka internet, tapi cermat dan cerdas dalam memilih informasi dan cerdas dalam mencerna informasi.

Kalau masih ragu ttg kontroversi informasi, harus merujuk pada referensi yang terpercaya secara ilmiah spt situs di internet yang kredibel. Media televisi mungkin informasi yang dapat dijadikan anutan adalah metroteve, ttp bukan berarti media yang lain lebih buruk.

Media dan dokter juga harus cerdas dalam memilih topik bahasan dan harus cerdas dalam menyampaikan informasi ke masyarakat. Profesionalitas sebuah media akan tampak dari kualitas beritanya. Sebaiknya bila tidak ada data yang terpercaya, data ilmiah, fakta ilmiah atau evidance base medicine jangan terburu-buru diungkapkan.

INFORMASI YANG TIDAK BERKUALITAS hanya akan menjadikan kontroversi yang tidak berujung dan melebar kemana-mana seperti contoh kasus puyer ini yg akhirnya dapat merugikan masyarakat, apalagi tingkat pengetahuan dan latarbelakang masyarakat berbeda.





Senin, 16-02-2009 01:34:09 oleh: hafiizh

Yth. Dr. Widodo,
Ikutan nimbrung lagi nih Dok. Selama 2 hari ini saya buka2 situs internet sebagai mana anjuran Dokter. Karena penasaran juga sih... namun ternyata saya terkendala dengan istilah apa yg saya perlu cantumkan sebagai keyword di search engine-nya. Saya dah coba di google dan yahoo, ketik “puyer” sbg keyword, memang menghasilkan banyak link, namun kok hampir semuanya link berbahasa Indonesia, padahal saya berharap dapat link yg ke instansi2 internasional spt AAP & CDC yg dimaksud.
Jadi saya mau tanya: sebenarnya, istilah medis untuk Puyer ini apa ya Dok?
Sialnya juga waktu saya cek di kamus Indonesia-Inggris yg saya punya, kok juga nggak muncul :(
Makasih sebelumnya.
Wass,
hafiizh




Senin, 16-02-2009 05:41:52 oleh: Widodo Judarwanto

10 CARA MENYIKAPI KONTROVERSI PUYER

1. Dilakukan penelitian ilmiah tentang manfaat dan bahaya puyer agar masyarakat yakin bahwa puyer benar-benar aman

2. Dokter sebagai narasumber dalam mengeluarkan informasi yang kontroversial sebaiknya harus cermat dalam menyampaikan dalam masyarakat. Karena sekali opini itu timbul dalam masyarakat maka akan menjadi milik publik yang akan menjadi polemik berkepanjangan karena pendidikan dan pengetahuan masyarakat sangat beragam.

3. Dokter sebagai narasumber informasi bila tidak ada fakta ilmiah dan evidence base medicine sebaiknya jangan mengeluarkan informasi yang berbau kontroversi pada masyarakat, sebaiknya diadakan Workshop atau Pertemuan Ilmiah dari berbagai disiplin ilmu untuk menyatukan pendapat.

4. Media masa sebagai sumber informasi harus cerdas dan cermat dalam memilih dan mengelola berita, bila sesuatu hal masih dianggap kontroversial maka sebaiknya mencari fakta ilmiah dan rekomendasi resmi dari institusi yang berwenang. Berbeda dengan tradisi ilmiah duhulu, dalam era kedokteran modern pendapat dokter ahli atau bahkan seorang profesorpun belum boleh dijadikan anutan dan pegangan bila belum ada landasan fakta ilmiah atau evidence base medicine.

5. Sebelum ada rekomendasi resmi dari institusi terkait, media masa harus mengeluarkan fakta berimbang dengan merehabilitasi bahwa sebenarnya kontroversi masalah puyer ini adalah bukan masalah bahaya puyer itu sendiri tetapi adalah masalah pengetahuan dan perilaku dokter dan apoteker.

6. Sebaiknya kontroversi BAHAYA PUYER INI diganti dengan KEWASPADAAN PEMAKAIAN OBAT. Bahwa masyarakat harus cermat dan waspada akan bahaya polifarmasi, overtreatment atau pemberian obat yang berlebihan, yang akan dialami oleh semua sediaan obat bukan hanya puyer.

7. Depkes, IDI dan IDAI harus segera mengeluarkan rekomendasi kepada masyarakat tentang keamanan penggunaan obat sediaan puyer.,





Senin, 16-02-2009 05:42:39 oleh: Widodo Judarwanto

8. Dokter pengguna puyer sementara sebelum ada rekomendasi resmi dari pihak yang berwenang, tidak usah terlampau cemas. Selama mengikuti prosedur penggunaan obat yang rasional dan menggunakan kaidah ilmu kedokteran dengan baik maka penggunaan puyer tidak diharamkan. Fenomena ini dapat dijadikan mawasdiri bahwa ternyata polifarmasi, dan penggunaan obat berlebihan adalah masih menjadi masalah dalam masyarakat.

9. Apoteker dan petugas farmasi, kontroversi ini dapat dijadikan pengingatan bahwa pemberian obat puyer harus sesuai dengan prosedur penyediaan obat yang baik dan benar.

10. Masyarakat harus jernih dalam menyikapi masalah yang masih menjadi kontroversi. Permasalahan yang dikawatirkan tentang puyer bukan bahaya puyer sendiri tetapi juga dialami oleh sedian obat lain seperti sirup dan masalah human error. Bila bingung masyarakat harus mengikuti sumber informasi yang kredibel dan terpercaya seperti IDI, IDAI, DEPKES atau sejenisnya. Bila masih belum memahami masalah sebenarnya jangan terburu-buru melakukan aksi melawan puyer atau menyebarkan kampanye kebencian terhadap puyer.
Dokter tdk akan pernah memaksa pasien untuk mendapatkan puyer, kalau anti puyer bisa minta sediaan sirup. Tapi jangan berharap sirup lebih aman, resiko polifarmasi, dosis, interaksi obat, overtreatment dan berbagai opini yg ditakutkan diatas tetap hampir sama dng puyer dan bersiaplah anda untuk merogoh kocek lebih dalam lagi




Senin, 16-02-2009 05:45:29 oleh: Widodo Judarwanto


10 FAKTA TENTANG PUYER SAAT INI
1. Fakta bahwa ilmu meracik puyer itu jadi kurikulum wajib dan diajarkan di mahasiswa kedokteran dan farmasi
2. Sampai saat ini tidak ada data ilmiah ataupun penelitian yang menunjukkan bahwa keburukan puyer, hal itu dapat dilihat dan dicari pada referensi yang diakui medis seperti di pubmed.
3. Puyer tidak dilarang oleh Depkes, IDI (Ikatan dokter Indonesia) atau IDAI (Ikatan Dokter Anak Indonesia) . Tidak ada institusi kesehatan dunia yang kredibel seperti WHO (World Health Organization), WHO (World Health Organization), CDC (Centers for Disease Control), AAP American Academy of Pediatrics, dan yang lainnya yang merekomendasikan keburukkan puyer.
4. Meskipun IDAI belum mengeluarkan rekomendasi resmi, tetapi ketua umum pengurus pusatnya dr Badriul Hegar SpAK, dalam suatu wawancara televisi telah menyatakan bahwa saat ini belum ada fakta ilmiah dan penelitian yang menunjukkan keburukan puyer.
5. Sampai saat ini belum ada penelitian atau fakta ilmiah bahwa puyer lebih berbahaya dibandingkan obat sediaan lain seperti sirup dan caplet.
6. Hampir sebagian besar dokter di Indonesia terutama yang melayani kesehatan anak memakai puyer.
7. Ada opini dari beberapa dokter tertentu secara terus menerus mengungkapkan opini ke media masa tanpa dasar dan fakta ilmiah tentang bahaya puyer. Padahal substansi yang disinggung adalah masalah human error bukan masalah substansial bahaya puyer itu sendiri.
8. Media masa baik cetak dan elektronik akhirnya ikut meramaikan kontroversi puyer, namun terjadi pembiasan dalam mengelola informasi sehingga permasalahan jadi meluas di luar masalah puyer itu sendiri.
9. Kontroversi tersebut dicerna berbeda oleh masyarakat sehingga masalah yang timbul keluar konteks dari permasalahan puyer itu sendiri sehingga masyarakat jadi takut terhadap puyer.
10. Akibat lain adalah masyarakat akan tidak mempercayai dokter dan akan melakukan pengobatan sendiri yang berakibat lebih runyam. Beralih dari puyer ke sirup




Senin, 16-02-2009 05:49:36 oleh: Widodo Judarwanto

10. Akibat lain adalah masyarakat akan tidak mempercayai dokter dan akan melakukan pengobatan sendiri yang berakibat lebih runyam. Beralih dari puyer ke sirup akan meningkatkan kebutuhan pengeluaran pengobatan 2-5 kali lipat. Pada daerah terpencil dan luar jawa terutama Puskesmas dan rumah sakit daerah akan menghadapi masalah besar karena obat sediaan sirup sangat terbatas. Beralih dari puyer ke sirup hanya memindahkan masalah dari puyer ke sirup, karena permasalahan utamanya adalah “human error” atau masalah polifarmasi (pemberian obat berlebihan), ivertreatment dan pemberian antibiotika berlebihan dan hal ini sekali lagi tidak terjadi pada puyer juga terjadi pada sediaan obat yang lain seperti sirup dan, capsul dan caplet



Senin, 16-02-2009 06:54:27 oleh: Bambang Sugito

hmmmm... seru ya...
Mari kita jaga kesehatan dengan cara" hidup sehat sehingga tidak perlu puying minum puyer..




Senin, 16-02-2009 08:18:20 oleh: Hilda Iriany

Diitung-itung nih dok... (ga perlu sekolah tinggi kan ya)
Banyakan ruginya daripada untungnya pake puyer dok.
Sekarang, kenapa juga kita musti ngotot belain puyer bagus dlsb klo emang diliat dr kacamata org awam aja (khususnya saya yg cuma ibu-ibu ga sekolah dokterlebih banyak ruginya daripada untungnya. Lah dokter sendiri klo dikasi resep utk sakit demam batuk pilek dgn puyer yg isinya min 5 macam obat emangnya mau minum dok?

Maaf, emosi dikit nih.
Abisnya kok Depkes, IDAI, IDI dll yg kami percayai sebagai lembaga kesehatan kami kok malah ga memberikan edukasi perihal ini sih. Malah membiarkan status quo seperti ini dipraktekkan berpuluh2 tahun.

Coba deh tanya ke hati kecil masing2, apa emang bener PUYER ini dikasi ke anak kita?
Anak kita terutama anak2 indonesia semuanya dari Sabang sampe Merauke berhak dapat pelayanan kesehatan yang terbaik. Dan yang terbaik menurut saya bukan puyer.

Salam Rasional




Senin, 16-02-2009 08:38:49 oleh: andi

Waduhhh bapake ghozann...trims banget sama uraiannya...mudah-mudahan kalaupunn sampai harus memakai puyer, saya akan lihat zat nya..terus terang, sebelum menonton RCTI saya pun seperti orang-orang yang diwawancarai, yang ngak mau tau mengenai isi dari puyer (kalau saya mungkin ngak mau ambil pusing aja karena biaya ke dokter kan ditanggung kantor). Dulu saya kalau saya flu pun dikasih puyer yg harganya selangit..tapi buat saya bukan harganya tapi efek samping nya-- jgn2x saya termasuk yang dikasih 15 zat itu yah..hiiiiiii..nyesel deh udah ditelen.
Thanks pak ghozan..yang penting dari diskusi ini saya akan lebih hati-hati sama obat dan dokter.....have a nice day




Senin, 16-02-2009 09:28:15 oleh: Anwariansyah

saran buat para dokter:

1.Jangan nulis resep dengan tulisan cacing. Resiko salah baca petugas apotek / apoteker menjadi resiko pasien

2.Tanyakan dulu kepada pasien sebelum memberi obat campuran / puyer, apakah mau obatnya satu per satu atau dibikin puyer. Maksudnya biar diketahui dengan jelas jenis obatnya.

3.Memberikan keterangan indikasi, kontra indikasi & efek samping obat (terutama yg cukup keras), karena obat puyer tidak pakai pembungkus berlabel

Terimakasih




Senin, 16-02-2009 09:49:21 oleh: ida rifai

Ini terjadi pada saya sendiri pada saat saya PANIK anak saya 2bulan demam namun paginya sudah ngga demam lagi.
Saya ke dokter dengan niat konsultasi, dan kemudian diresepkan puyer isinya:

CEFSPAN dan CTM dalam sediaan puyer

Padahal, dokter belum menegakkkan diagnosis, apa penyebab demam anak saya. Setelah saya browsing, CEFSPAM itu adalah antibiotika jenis BOM ATOM!!

Untungnya saya masih bisa mencari informasi di internet sehingga anak saya terselamatkan dari obat-obat yang tidak perlu.

Mengapa DOKTER SPESIALIS ANAK tega memberikan obat seperti itu pada anak saya yang baru 2 bulan??
Apa itu bisa dibilang dokternya berbahaya?? Atau obatnya yang berbahaya??
TOlong dijelaskan..

Saya saja kalo demam cukup minum paracetamol untuk meredakan nyeri, nah ini BAYI 2 BULAN!!








Senin, 16-02-2009 09:56:24 oleh: Trinovi Riastuti

>> 6. Hampir sebagian besar dokter di Indonesia terutama yang melayani kesehatan anak memakai puyer. <<

miris ya pak dokter... salah kok berkelanjutan terus. yang banyak kan gak selalu benar ya? kalau korupsi marak di negeri kita ini? apakah lantas kita bisa menganggap bahwa korupsi adalah benar?

saya tidak yakin, bahwa semua anak yang mendapatkan puyer dari sebagian besar dokter tersebut benar2 membutuhkan puyer yang diresepkan?

mungkin memang benar, kalau yang dibahas lebih lanjut, bukan masalah puyer-nya, tapi masalah polifarmasi dan rasionalitas. mudah2an RCTI mau membahas lebih jauh soal rasionalitas dalam penggunaan obat. biar masayarakat juga makin pinter, bisa menjadi konsumen kesehatan yang cerdas, dan para dokter juga bisa menjadi semakin bijaksana.

7. Ada opini dari beberapa dokter tertentu secara terus menerus mengungkapkan opini ke media masa tanpa dasar dan fakta ilmiah tentang bahaya puyer. Padahal substansi yang disinggung adalah masalah human error bukan masalah substansial bahaya puyer itu sendiri.

maaf ya pak dokter..kalau banyak yang memberikan puyer (seperti point 6 yang pak dokter sebutkan), bukankah berarti banyak human error yang terjadi?

sama seperti sdri Hafiizh, saya googling, termasuk di web terpercaya, saya tidak menemukan 'puyer', saya malah menemukan banyak treatment tentang common cold yang SANGAT JAUH BERBEDA dengan treatment yang diperoleh anak2 indonesia :(

jadi semakin bingung nih... kalau 1 obat pun tidak diperlukan, kenapa harus banyak obat??





Senin, 16-02-2009 10:18:12 oleh: hendarwin

Dear dr. Widodo,
Sebenarnya debat puyer ini justru ada pada SUBSTANSI-nya. Seperti yg dibilang dr. Wati, kalau praktek puyer dilarang, maka setiap orangtua akan aware kalo anaknya yg cuma demam tanpa diagnosis yg jelas lantas diberi 6 botol sirup seperti contoh dari artikel dr. Widodo dibawah. Kalo itu dalam bentuk puyer, sampai 15 jenis pun orangtua yg tidak smart tidak akan pernah khawatir, karena tertipu kesan hanya 1 puyer saja !

Jadi untuk memberantas Polifarmasi, cara termudah adalah melarang praktek pemberian puyer, dan bila dilakukan maka dokter tsb harus memberikan alasan-nya secara tertulis utk diaudit saat adanya audit dari DepKes(tentunya DepKes diasumsikan meng-audit hal2 begini juga).
Bila dgn cara ini, dokter lantas beralih memberikan 6 botol sirup seperti contoh dibawah, tinggal masalah pencerahan ke 'dumb parents'
tsb agar belajar jadi 'smart parents', belajar utk bertanya dan berdialog yg kritis dan sejajar dgn dokternya.

Satu lagi, pernyataan dr. Widodo kalo ini masalah internal dokter justru adalah sebuah pembodohan, dan cara-cara lama utk menjaga para konsumen kesehatan tetap bodoh...
Justru sekarang ini konsumen harus lebih cerdas ketimbang cuma tau soal masalah puyer. Sebelum datang ke dokter, please browsing lah ke
internet ttg keluhan anda, dan saat ada diagnosa dan test lab,
browsing lagi-lah ttg hasil2 tsb sebelum anda call dokter anda dan
diskusi dengannya. Kalo malas browsing mana bisa pintar...

Regards.
hendarwin
"jadilah konsumen yg smart dan berdialoglah yang sejajar dengan dokter anda layaknya anda berdialog denga penasehat keuangan anda"




Senin, 16-02-2009 10:37:29 oleh: ika kharismasari

anak saya pernah panas tinggi. saya datang ke dokter spesialis anak. dokter meresepkan puyer untuk anak saya yang berumur 2 tahun. saat menulis resep, dokter bilang, ini obat panas, ini obat batuk, dll, dsb. setelah itu, resep saya bawa ke apotik. oleh petugas di apotik, saya diberi informasi bahwa obat berbentuk racikan. saya lupa minta copy resepnya untuk tau obat apa saja yang dijadikan satu di puyernya.
sesampai di rumah, saya minumkan obat itu. anak saya langsung tidur pulas. 4 jam kemudian, anak saya belum bangun, masih dengan posisi yang sama. tidak biasanya dia tidur selama itu. saya coba bangunkan, tapi hanya melek sebentar, kemudian tidur lagi. saya curiga, dia begitu karena obat.
saya hubungi apotik, menanyakan komposisi obatnya dan efek sampingnya dan saya ceritakan kondisi anak saya.
sang apoteker cuma bisa bilang, mungkin karena obatnya, bu... nanti balik lagi saja ke dokternya, bilang kalo anaknya jadi tidur terus...
nanti saya buatkan copy resepnya.
Duh, masalah balik ke dokternya itu bikin saya emosi, lha wong dokternya abis meriksa anak saya langsung cabut ke luar kota untuk seminar.
akhirnya saya gak kasih puyer itu lagi pada anak saya dan akhirnya dia gak tidur selama itu dan yang paling oke, akhirnya dia sembuh tanpa obat.
Karena puyer, saya tidak tau, obat mana yang menjadikan anak saya tidur terus.
Kalau saya ke dokter lagi, saya tidak bisa bilang obat mana yang berbahaya buat anak saya...jadi masih ada kemungkinan kejadian tersebut berulang.
So, masih ada excuse kalo puyer masih menguntungkan dan murah? Hmmm...mungkin lupa mengkalkulasi biaya dokter untuk kunjungan berikutnya plus ongkos transport dan administrasinya...




Senin, 16-02-2009 11:06:00 oleh: UmmiEi

Pantes saja makin banyak pasien Indonesia berbondong-bondong berobat ke Singapura, kyknya kalo naek pesawat ke Singapura banyakan orang sakit asal Indonesia dibanding orang yang mau jalan2...saingan kayaknya sama jumlah TKI....
Di Indonesia kalo konsultasi ke dokter, pasien dianggap orang bodoh yg harus terima saja apa kata dokter, sementara kalo konsultasi ke dokter LN kita sebagai pasien diberi bimbingan bahkan bisa mendapat keterangan sejelas2nya tentang penyakit yang diderita. Di Indonesia sakit batuk pilek bisa dapet obat segabreg2, dicampur2 pula kayak gado2. Di sini sakit batuk pilek malah disuruh pulang, cuma disuruh banyak minum sama makan makanan yang bergizi untuk meningkatkan daya tahan tubuh. Mungkin ini sebabnya Indonesia ketinggalan terus, lah wong pajaknya habis dipakai untuk hal2 yang tidak pada tempatnya..... Miris sekali......




Senin, 16-02-2009 11:12:48 oleh: izza

saya cuma mo cerita pengalaman saya dan banyak teman2 di milis kami saja
bahwa sejak kami tahu bahaya puyer dengan higienitas dan polifarmasinya dan kami belajar banyak tentang guideline dari setiap common problem pada anak kami kami tak pernah membutuhkan puyer karena ternyata memang sakit yang dialami anak2 kami hanya berkisar commoncold (batuk, pilek, demam, diare, radangtenggorokan) yg kesemuanya hanya butuh home treatment dengan memperbanyak cairan
jadi pada kasus apa sebetulnya puyer dibutuhkan?
apa susahnya tinggal beli parasetamol syrup generik dengan dropnya seharga 3000an, ngapain repot2 bikin puyer si?




Senin, 16-02-2009 11:19:27 oleh: Anwariansyah

Sebab utamanya adalah karena dokter sudah menjual kehormatan dan amanah profesi untuk menjadi agen penjual obat. Titik!



Senin, 16-02-2009 11:29:47 oleh: bapakeghozan

Istafti Qolbak!

Ada suatu ungkapan dari seoarng Dokter yang menurut saya sangat indah dan jujur dengan kepela tegak menghadap kedepan...

Quote:

Jujur aja saya masih menggunakan puyer pada sebagian pasien saya, namun paradigma baru pemberian obat dalam bentuk yg lebih baik pelan - pelan akan meberi angin baru dalam memberikan pelayanan kesehatan. Sambil merubah diri juga memberi info agar para pasien juga siap dengan perubahan ini, memang langkah saya masih merupakan langkah kecil namun langkah kecil yg dilakukan berulang – ulang akan membuat seseorang semakin dekat dengan tujuannya.

http://dokterearekcilik.wordpress.com/2008/04/20/badai-puyer-pasti-berlalu/


SAYUR ( SAY no to puYeR)




Senin, 16-02-2009 11:41:19 oleh: risma

Yth Dr. Widodo,

Kalo pendapat saya, biarlah untuk sementara masyarakat jd bingung...karena dari bingung itu akan timbul keinginan utk mencari yg sebenarnya.

Sama seperti waktu pertama kali saya punya anak...bingung harus bagaimana, mau diapain anak ini. Tp dari situ saya jadi antusias utk membaca, browsing, dll mencari tahu yg sebenarnya.
Sekarang insya Allah saya gak bingung lagi harus bagaimana dengan anak2 saya...termasuk treatment sesuai guideline dari AAP, CDC, WHO, Mayo Clinic, dll ketika anak2 saya sakit.

So far saya tidak menemukan disebut2 adanya puyer kok di guideline2 itu.




Senin, 16-02-2009 11:47:08 oleh: Heny Mustikasari

Adik saya yang dulu kuliah di Belanda, Flu berat sampai sulit bernapas karena banyak lendir. Pergi ke dokter di Belanda dan disuruh pulang, minum cairan yg banyak, istirahat and makan makanan bergizi. Thats it...

Kebayang kalo ke dokter di Indonesia? Berapa banyak obat yang akan di bawa pulang?

FDA belum approve compounding (combine, mix, or alter ingredients to create unique medications that meet specific needs of individual patients) yang artinya belum ketahuan keamanan dan efektivitasnya.

Beranikah kasih ke anak-anak kita? ahhhh aku sih nggak mau... udah pernah jadi korban Puyer, tidak mau lagi. Udah obatnya aja racun, apalagi di campur-campur. Pilihan ada ditangan Pasien dan Orang tua anak.

Oh ya, kalau masalah seperti ini saja hanya untuk kalangan internal kedokteran, kapan orang-orang biasa kaya kami ini bisa pinter, bisa jadi konsumen medis yang rasional, bisa jadi meningkat taraf kesehatannya, jadi control check point untuk dokter. Sudah banyak pasien pinter, punya akses informasi, kritis... dan bisa jadi partner dokter soal kesehatan loh... Ini yang disebut-sebut ama bapake ghozan, edukasi-edukasi dan edukasi




Senin, 16-02-2009 13:19:37 oleh: Dini Rustandi

Dok, substansinya, puyer itu membuat orang jadi punya kesempatan untuk melakukan polifarmasi. Bukan bentuk sediaannya, misalnya puyer yg tdd 5 jenis obat (artinya 5 jenis obat kita tenggak sekaligus), versus kita mengkonsumsi 5 jenis obat dalam bentuk sirup atau tablet sekaligus.

Padahal, untuk kebanyakan penyakit anak, kan ga perlu macam2 obat dok ? Demam, misalnya, cm butuh parasetamol. Batuk pilek, bahkan FDA sudah merekomendasikan ortu untuk menghindari pemberian untuk anak di bawah 2 tahun. Diare, cukup diatasi dengan oralit. Saya baca di link ini, dok :
http://www.rch.org.au/kidsinfo/factsheets.cfm?doc_id=5200
http://www.mayoclinic.com/health/cold-medicines/CC00083
http://kidshealth.org/parent/infections/common/cold.html
http://kidshealth.org/parent/infections/common/diarrhea.html

Jadi kenapa mesti polifarmasi ya ?

Satu hal lagi, kenapa puyer ga dikenal luas di seluruh dunia ya ? Apa ada rekomendasi WHO untuk negara miskin, puyer merupakan solusi wahid ? Setahu saya, bahkan di Bangladesh udah ga ada puyer...




Senin, 16-02-2009 14:12:43 oleh: ida rifai

" Senin, 16-02-2009 05:49:36 oleh: Dr Widodo Judarwanto Spa

10. Akibat lain adalah masyarakat akan tidak mempercayai dokter dan akan melakukan pengobatan sendiri yang berakibat lebih runyam. Beralih dari puyer ke sirup akan meningkatkan kebutuhan pengeluaran pengobatan 2-5 kali lipat. Pada daerah terpencil dan luar jawa terutama Puskesmas dan rumah sakit daerah akan menghadapi masalah besar karena obat sediaan sirup sangat terbatas. Beralih dari puyer ke sirup hanya memindahkan masalah dari puyer ke sirup, karena permasalahan utamanya adalah “human error” atau masalah polifarmasi (pemberian obat berlebihan), ivertreatment dan pemberian antibiotika berlebihan dan hal ini sekali lagi tidak terjadi pada puyer juga terjadi pada sediaan obat yang lain seperti sirup dan, capsul dan caplet
"

Yang bener Pak.. dokter harus edukasi masyarakat mengenai GUIDANCE yang benar mengenai penanganan masalah penyakit anak. Saya yakin kok jika ini sudah di JALANKAN secara konsisten, anak-anak ngga perlu banyak-banyak minum obat. Jadi sirup pun juga mereka gak banyak konsumsi. Bukankah 80% penyakit langganan anak itu karena virus yang akan sembuh dengan sendirinya?? Saya rasa pernyataan tsb bukan omong kosong. Karena saya sudah membuktikannya pada ANAK SAYA





Senin, 16-02-2009 14:59:46 oleh: Dina Kurniasari

nuwun sewu ya pak dokter...

Ya jgn disudahi to pak.Mestinya malah didukung.Dengan adanya tayangan ini kan jadi membuka mata para orang tua bahwa bukan lagi zaman-nya "dokter" itu dewa...Kita pasien juga harus menjadi rekan yang setara bagi dokter sehingga bisa mendapatkan informasi yang tepat tentang kesehatan..

jadi tergelitik pengen nanya ama dokter yg setuju dgn puyer..apakah kalo anak anda common cold anak anda juga dikasi puyer isi 3, 5 sd 10 biji obat?Kalo ya..ga heran kalo anak orang lain juga dikasi...:(

Kenapa puyer jadi polemik?kenapa dokter A bilang begini, dokter B bilang begono?Dasar dokter2 itu bicara apa sih?Guideline kedkteran emang beda-beda ya?
Saya yakin sebenarnya sama, cuman "the man behind the gun"-nya yang beda....

trus kok IDI, IDAI dan Depkes aka pemerintah ga melarang puyer?

Ya ilah pak dokter, hari geenee masih percaya ama pemerintah?Nunggu pemerintah buat berbuat sesuatu?Lha wong kalo mo bikin UU aja SOPnya bejibun..

Ga usah ribet2 ngomongin puyer deh...Ngomoningin ASI ekslusif aja, misalny...ASI nih jelas2 bikinan gusti Alloh SWT..Tapi yg terjadi aktualnya, masya alloh Iklan sufor gentanyangan dimana2..RS juga ikutan ngiklan sufor...hikss...yang kaya gini aja pemerintah ga bisa ngatasin...

back to puyer & pemerintah..

Saya rasa kok riskan kalo kita manut ama pemerintaha kita yg kaya gini...

trus, kalo ga ada puyer, obat2an jadi mahal..
BIG QUESTION?penyakitnya butuh obat ga?

Edukasi dong..saya pikir guideline kedokteran pasti bilangnya sama kalo soal batuk pilek/self limiting disease....

Siapa yang bertugas edukasi?ya pemerintah ya dokter ya pasien sendiri...

pemerintah---> bikin reformasi kesehatan secara total, UU kesehatan yg pro pasien..

Dokter--->update ilmu terbaru, mengobati & meng edukasi pasien yg datang berobat dengan guideline kesehatan yang bener,

pasien---> belajar juga ttg kesehatan, jgn panik seingga nyusahin dokternya

salut buat RCTI..




Senin, 16-02-2009 15:51:28 oleh: Anggi

Duh, miris juga baca komen diatas. Kalo saya sih, akan TELITI sebelum MEMBELI, seperti saya teliti untuk membeli kebutuhan yang lain. Lah, kalo gak teliti masalah kesehatan, yang rugikan saya. Kalo elektronik, bisa minta garansi....lah, kalo kesehatan anak saya..siapa yg harus saya mintakan garansinya? Pengalaman kecil dulu, berontak mati-matian kalo disuruh minum puyer. Atau mau minum kalo dikasih gula..., biar ada rasa manisnya. Yang ada komposisi gula sama obat bisa sama besar...dan berefek lagi ke gigi.

Duh para dokter, yang pada pinter dari pada kami yang awam ini...tolong gunakan hati nurani anda untuk membantu menyehatkan INDONESIA. Bukankah ini negara kalian juga,... seharusnya ditangan kalian, negara ini dapat menghasilkan generasi yang sehat. Lah, kalo udah dicekokin segala macem obat yang gak perlu..., sehatnya dimana?

salam RUM




Senin, 16-02-2009 16:10:48 oleh: Samsul

Paling mudah adalah membiarkan puyer dalam status Quo. Dokter & farmasis tidak akan merasa dipojokkan, pasien tetep nyaman karena merasa tidak ada masalah dengan puyer, pemerintah juga gak ketambahan kerjaan buat bikin penelitian dan update guideline baru.

Tapi kapan bangsa ini mau maju ?
Memang tidak mudah meluruskan 'budaya' yg telah mendarah daging selama ribuan tahun ( hiperbola ya..)tersebut .Tapi belum / tidak ada kata terlambat untuk perbaikan. Tayangan RCTI merupakan salah satu bentuk kecil sentilan dalam rangka meluruskan budaya tersebut. Saya sebut budaya, karena puyer sama sekali tidak ada EBM nya, tapi lebih karena teknik yang didapat dari para pendahulunya, ya khan ..?

So perbaikan budaya tidak hanya memerlukan data scientific, tapi lebih pada kesadaran para pelakunya untuk lebih mengedepankan hati nurani dalam melayani masyarakat.

Kembalilah ke hati nurani..

perlukah anak-anak sekecil itu dibombardir dengan berbungkus obat campuran yang entah bagaimana tubuh bereaksi terhadapnya....

Thanks,
Samsul - sudah merdeka dari jaman Jahiliyah kesehatan





Senin, 16-02-2009 16:24:38 oleh: ekal

Hmm, seru juga yah.
Klo memang menjadi bingung, menurut saya itu bagus.
Tentunya calon dokter/insinyur/profesi lainnya ketika mempelajari suatu penjelasan "keilmuannya" yg belum dimengertinya akan bingung/pusing. Tapi bukan berarti berhenti utk memahami "keilmuannya tsb" kan?
Bingung adalah proses belajar, ini saatnya dokter memberikan penjelasan terkait diagnosa dan obat2 yg akan diberikan. Tentunya akan menjadikan pasien/ortu pasien menjadi smart, right?
Penggunaan Obat sesuai peruntukkannya (RUD/Right Use of Drug) tentunya akan meminimalisasi mal praktek yg sangat merugikan pasien.
Thx buat temanz atas pencerahannya




Senin, 16-02-2009 16:25:03 oleh: Heny Mustikasari

Ada research yang menarik di http://faculty.ksu.edu.sa/akadi/Publications/
Evaluation%20of%20Basic%20Compounding%20Skills%
20of%20Pharmacy%20Students.pdf

hasilnya...

Results. Approximately 54% of the students prepared the KMnO4 Solution within ±10% of the nominal
concentration at the first attempt. The “not pass” formulation errors ranged from -75% to >200%.
For the Citrated Caffeine Syrup, 78% of the students prepared the medicine within ±10% of the nominal
concentration in the first attempt. The “not pass” formulation errors ranged from -89% to 269%.
For the Citrated Caffeine Syrup preparation, there was no significant difference between using an electronic
digital balance or a torsion balance (p>0.05) with respect to accuracy.

Menarik... pada range of error...




Senin, 16-02-2009 17:39:39 oleh: Freji Kailaku

Menarik, dari hasil search salah satu teman (http://www.thrf.org.tw/EN/Page_Show.asp?Page_ID=545).

Pertanyaannya, kalau ada kejadian seperti ini di Indonesia, kira2 akan terdeteksi ga? Kalau terdeteksi, apakah akan dipublikasikan? Apa harus menunggu kejadian seperti dibawah ini (terdeteksi dan dipublikasikan), baru kita menggugat?

The following are several recent pediatric drug accidents in Taiwan:

1. June 2005, Cha-Yi Christian Hospital accidentally distributed adult drugs to a five year old boy. The accident was caused by a pulverization procedure, which gave the boy a dosage 10 times more than originally intended. The boy suffered serious liver damage and lost 6kg (13.2 pounds) in two months.[2]

2. February 2004, a six year old girl had her menarche after taking flu medicines. The investigation showed her drug powder was contaminated by female hormone left in the mortar or packaging machine (presumed to be left over from the previous pulverization procedure).[3]

3. December 2001, Ping-Dong Chun-Ai clinic accidentally pour an oral hypoglycemic into an antihistamine dispensing bottle. The mixed drugs were pulverized to give to 122 pediatric patients. This led to adverse drug events in 11 patients, including mortality of a 9-month old infant. The contaminated drug given to the infant was five times higher than an average adult dosage[4].

Kalau saya pribadi, merasa 'tercerahkan' oleh liputan ini. Membuat saya semangat untuk belajar lagi dan lagi demi anak dan keluarga. Tolong para dokter, jangan halangi atau persulit kami untuk menggali dan mendapat informasi sebanyak2nya, termasuk dari Anda.




Senin, 16-02-2009 20:11:54 oleh: Abdul

Jangan Disudahi Teruskan n Say No to Puyer........

kami sudah lelah di bodohi oleh Praktisi Kedokteran.......

biarkan kami memilih......

yang salah tidak mungkin akan menang walaupun jumlahnya banyak..........




Senin, 16-02-2009 20:21:59 oleh: Abine-aisyah

Assalamualaikum,
Menarik sekali diskusi tentang puyer ini.
Setelah saya pelajari beberapa referensi, dan bertanya kepada teman yang seorang dokter, saya sampai pada kesimpulan bahwa masalah yang muncul adalah mengenai dokter yang tidak rasional dalam terapinya dan jg apoteker sbg peracik obatnya.
Mengenai bentuk puyer, saya tetap yakin bahwa tidak ada masalah dengan puyer. Bahkan waktu anak saya (umur 19 bulan) kmrn sakit, saya kasih dia obat resep dokter berupa puyer, dan saya tahu apa isi puyer tsb, dan alhamdulillah, atas izin Allah dia sembuh.
Buat dr.Widodo, dok saya mau tanya, dokter yang anti puyer itu apa dapat 'sesuatu' dari pabrik obat ya? sehingga begitu rupa mengkampanyekan anti puyer, padahal setahu saya, belum ada penelitian ilmiah untuk menolak puyer ini, walaupun belum ada penelitian jg yg mendukung penggunannya.
Kalau saya boleh usul utk depkes, idi, idai, atau isfi : untuk memperkuat argumen menolak atau menerima puyer ini, tidak cukup hanya dengan adu argumen, saya yakin, susah untuk meyakinkan masing2 pihak. Usul saya : adakan penelitian ilmiah dengan metodologi yang terbaik dalam skala nasional untuk melihat masalah puyer ini. It takes time and money, but I think it will be the strongest evidence for this problem. Dan saya kira, hasil dari penelitian yang valid ini akan bisa diterima oleh semua pihak, termasuk pengambil kebijakan di bidang pelayanan kesehatan maupun pendidikan kedokteran dan farmasi.
Atau, bisa jg dilakukan workshop para ahli antar profesi terkait untuk membuat suatu konsensus yang disepakati bersama.
Jadi, yah, tanyalah ke hatimu..








Senin, 16-02-2009 21:36:12 oleh: Freji

@Abine-aisyah.
Penasaran mengenai dokter 'anti-puyer'? Beliau didukung oleh WHO dan ketua YOP (Yayasan Orang Tua Peduli). Silahkan browse lebih lanjut mengenai beliau dan silahkan anda menilai sendiri.




Senin, 16-02-2009 22:48:15 oleh: G.Wangge

Saya rasa harus dibedakan antara masalah PUYER yang diberikan dalam bentuk sediaan dengan masalah Pemberian obat rasional.
Saya rasa pemberian bentuk sediaan PUYER-nya sendiri tidak salah, tapi apa yang diracik ke dalam obatnya yang salah.
Kesan yang ada, setiap PUYER berbahaya, padahal belum tentu kalau pembuatannya benar sesuai standar GMP. Toh sampai sekarang masih ada beberapa preparat obat paten yang bentuknya POWDER/PUYER.
Dalam ilmu kedokteran dasar diajarkan bahwa mencampur obat simtomatik dengan obat terapi (misal paracetamol dicampur jadi satu dalam puyer dengan antibiotik), dilarang, jadi dalam kasus ini tidak bisa dicampur antara pengertian pemberian PUYER dengan pemberian obat yang rasional.




Senin, 16-02-2009 22:48:28 oleh: mila

Dear dokter, abine-aisyah,

sebaiknya jangan dulu berburuk sangka kalo dokter tertentu mengungkap fakta tanpa dasar ilmiah atau mendapat sesuatu dari pabrik obat.

saya ingat di salah satu seminar puyer di FKUI bulan Mei 2008, salah satu nara sumber dari WHO juga menyatakan puyer tidak direkomendasikan. blio juga menyatakan diperlukan political commitment dari pemerintah untuk menghilangkan praktek puyer ini. kalo rep nya WHO gak mungkin bicara tanpa dasar ilmiah ya, dok?

selain itu, dari link yang diberikan penulis lainnya di atas, cukup jelas kan ya dasar ilmiah kenapa puyer seharusnya tidak diperbolehkan. referensi link2 di atas cukup reliable dong ya, dok.. FDA masih saudaraan sm CDC & AAP kan ya, dok?

abine-aisyah, pernah dengar dokter yang kasih pencerahan lewat milis tanpa minta bayaran sepeser pun? balas emailnya sampai lewat tengah malam juga.. kalau mau dapat sesuatu dari pabrik obat, logika nya musti banyakin pasien dong ya, terus sedikit aja waktu konsultasi, yg penting resep... saya bukan pasiennya blio, krn gak mau antri 1bl untuk bisa konsultasi di ruang prakteknya dan pasti bayar uang rumkit.bisa jadi pasien maya blio pun, saya sudah senang sekali... dapat enlightment for free...

tetap support RCTI untuk terus tayangkan polemik puyer..




Selasa, 17-02-2009 02:49:20 oleh: Fauzi

Saya sebagai orang awam sama sekali TIDAK TAKUT UNTUK PERGI KE DOKTER dan MENGGUNAKAN PUYER.

Karena masalahnya bukanlah pada puyer itu sendiri, melainkan adalah skill dokter dalam meresepkan obat. Apakah pemberian obat sesuai dengan kausal penyakit. Bukan hanya pemberian obat secara simptomatik semata yang akan mengarah ke polifarmasi. Juga skill apoteker dalam meracik obat apakah sesuai dengan standar peracikan dan higienitas yang benar.

Oleh karena itu segala pihak entah itu pasien, dokter, apoteker bahkan pemerintah harus tegas dan cermat dlm menyikapi masalah ini. Karena apabila dibiarkan, akan menjadi sebuah polemik yang berkepanjangan.

Sudah dijelaskan scr gamblang o dr. Widodo bahwa bkn bahaya puyernya itu sendiri melainkan masalah human error nya atau masalah skill, titik.

Saya heran msh ada org yg ngeyel menyudutkan puyer. Wong yg salah kan peresepan dan peracikannya. Memang setiap org memandang permasalahan sesuai dgn pengetahuannya dan latar blkg pendidikannya. Saya sgt menyayangkan ternyata lbh banyak org yang minim pengetahuannya tetapi maxi ngototnya, heheee...

Untuk yg ingin mencari informasi melalui website institusi kesehatan yg kredibel, FYI, nama lain dari puyer adalah pulvis atau powder.




Selasa, 17-02-2009 03:23:01 oleh: Fauzi

Oh ya maaf, saya mau ralat utk tulisan pada paragraf 2 diatas. "karena masalahnya bukanlah pada puyer itu sendiri, melainkan adalah skill..."

Yang dimaksud disini adalah skill dari beberapa dokter dan apoteker yang tdk faham betul mengenai kaidah peresepan dan peracikan yang benar sesuai ilmu kedokteran. Bukan berarti secara umum semua dokter dan apoteker seperti itu. Saya yakin sebagian besar dokter dan apoteker telah menjunjung dan mengamanahkan sumpahnya sebagai seorang profesional kesehatan.

Oleh karena itu mulailah untuk saling menghargai. Hargailah orang lain bila kita sendiri ingin dihargai. Sudah selayaknya dokter menghargai hak2 pasien, dan juga sebaliknya, pasien jg sepatutnya menghargai jasa dokter yg telah mengabdikan dirinya demi kesehatan pasien.

Jadi sekali lg, mari kita lihat masalah scr rasional dan obyektif. Bukan puyernya yg salah, tetapi beberapa proses peresepan dan peracikan obatnya lah yg salah.

"Jangan membenci pendosa, tetapi bencilah dosanya"




Selasa, 17-02-2009 09:30:31 oleh: Dendi

Halo All
Yang namanya merubah kebiasaan, pasti ada resistensi. Meskipun itu merubah kebiasaan buruk, diusahakan menjadi baik. Sudah saat nya kita semua melek terhadap apa memang ternyata ada aturan nya. Dari sudut pandang saya pribadi dg latar belakang engineer, saya sudah terbiasa berpijak berdasarkan standar baku internasional tertentu. Masalah puyer ini adalah salah satu hal yang membuat saya bingung di masa lalu, karena nggak masuk akal. Kok tablet yg bentuknya sudah baku, tentunya sudah diteliti secara seksama kenapa bentuknya tablet (mungkin sudah dihitung rate absorbsinya di pencernaan dll) dibuat secara higienis, dikemas higienis pula, ternyata digerus dan dibagi2 dg teknik kira-kira. Sungguh nggak masuk di akal sehat saya. Belum lagi bentuk nya yang menurut saya menyesatkan, terlihat kasat mata hanya berupa sebuah kantung kecil, isinya serbuk, padahal kalo ditelaah lagi isinya berbagai macam obat yg ternyata blm tentu sesuai standar baku untuk penyakit anak kita. Terus terang saya termasuk yg tersesat dg puyer untuk treatment anak pertama saya, dan untungnya saya bisa punya akses informasi yang mudah untuk bisa tahu bahwa ternyata untuk common problem in pedriatic ternyata ada standar treatment nya, ada yg namanya GUIDELINE. Saya heran kok yg digembar gemborkan "pelajaran membuat puyer masih menjadi standar pelajaran di kuliah kedokteran" dan saya jadi wondering apakah mempelajari GUIDELINE ini masuk kurikulum kedokteran di Indonesia apa tidak. Jadi saya sih mengajak semua orang untuk mencari tahu, dig down sendiri mengenai perlu tidaknya puyer ini, download semua GUIDELINE yang bisa di download. Kalo bingung, ajak konsultasi dokter anak anda masalah aplikasi guideline tersebut, kalo dokter anak anda marah karena diajak diskusi, cari dokter anak yang lain lah! Ingat, anaknya anak anda lho! ;) Saya bukan mengajak anti dokter dan obat, tapi ingat dokter bukan Tuhan, obat tidak ajaib! Ajak diskusi dan ada hak pasien untuk mendapat penjelasan!




Selasa, 17-02-2009 09:31:42 oleh: Samsul

Dear Fauzi,

Quote :
Sudah dijelaskan scr gamblang o dr. Widodo bahwa bkn bahaya puyernya itu sendiri melainkan masalah human error nya atau masalah skill, titik.
unquote.

Titik.Artinya selesai, masalah clear ?
Tentu bukan,pembahasan akan terus berlanjut sampai semua pihak setuju dan mempunyai guideline yg jelas.

Btw,

- Sudahkah mencari info pembanding yg berserakan di internet ? pilih sumber yg reliable tentunya.
- Adakah badan yg secara formal merekomendasikan penggunaan puyer ? Rekomendasi dengan bukti Evidence Base Medicine, bukan rekomendasi politis, bukan opini pribadi untuk defense dan mempertahankan status quo.

Diluar sana ada 8.000 lebih orang yg kebetulan mendapat akses informasi yg lebih baik dari kebanyakan rakyat kita, sehingga mereka paham betul akan resiko dari puyer.


Kritis pada diri sendiri dan update ilmu akan jauh bermanfaat dari sekedar keyakinan tanpa ilmu.

















Selasa, 17-02-2009 10:39:51 oleh: Dini Rustandi

@ Fauzi :

Setia pada opini seorang dokter, kelak akan mebawa anda sakit hati. Setia kepada guideline, tidak akan menyakiti siapapun

Jangan sudutkan siapa yang bicara dan apa opininya, melainkan kritisilah apa opini tersebut, pelajari lebih lanjut, baru menjatuhkan penilaian. Hindari berdiskusi berdasarkan sebuah opini, meski yang dilontarkan oleh orang yang dianggap ahli sekalipun, karena opini akan membawa pada debat kusir. Berdiskusilah dengan membawa artikel atau guideline dari situs kesehatan internasional yang BISA DIPERCAYA.

Jangan membenci pendosa, namun bencilah dosanya.




Selasa, 17-02-2009 11:15:59 oleh: Heny Mustikasari

Saya Juga TIDAK TAKUT PERGI KE DOKTER yang KOMPETEN dan TIDAK TAKUT sama PUYER, wong nggak perlu hehehehehe...

Semakin saya baca, kedua sisi, site yang menguatkan perlunya puyer dan site yang mengkritisi puyer, semakin saya yakin, saya nggak butuh puyer.

Yang saya butuhkan adalah dokter yang kompeten dan rasional. Untunglah sekarang saya menemukan tempat untuk bersandar, setelah dicerahkan oleh SP dan dokter-dokter yang bersedia sharing, berbagi ilmu dan perasaan secara terbuka kepada kami. Saya merasa beruntung, sangat beruntung.

Membuat saya bisa berdiskusi dengan dokter, rasional dan tidak mudah panik. I am willing to pay whatever amount to have one advice from a competent physician, but i am not willing to take any puyer to the boy i love the most in the world.

Jadi inget wajah dokter, waktu pertama kali saya bilang, 'Saya diajarkan bahwa puyer bukan praktek peresepan yang baik, jadi saya tidak mau puyer'

She seemed so shocked... mungkin demikian perasaan dokter-dokter indonesia kebanyakan dengan liputan PUYER di RCTI. Salut buat tim redaksi RCTI... terus gulirkan bola salju perubahan. We support u.




Selasa, 17-02-2009 12:32:41 oleh: Yulius Haflan

Rame juga soal puyer ini ya...Saya mau sedikit urun pendapat saja, tapi bukan dari sudut kedokteran tapi dari sudut peran media, karena saya memang bukan dokter, hehe...

Pertama, terima kasih buat tulisan dokter Widodo yang menurut saya sangat bagus. Saya bisa pahami keinginan dokter untuk berusaha meluruskan sejumlah misleading yang berkembang mengenai puyer ini.

Kedua, media massa (terutama tv) yang mengangkat soal puyer ini sebenarnya mengemban maksud yang baik, tentu saja dengan tayangan yang berdurasi tidak banyak dan terbatas, akan sangat sulit untuk memberi informasi yang lengkap dan komprehensif mengenai obat puyer ini. Tentu saja yang justru muncul adalah kekurangpahaman masyarakat yang bisa berakibat munculnya kesalahpahaman. Ini seharusnya menjadi pelajaran yang sangat berharga bagi media untuk merencanakan peliputan yang lebih baik lagi.

Ketiga, polemik adalah bagian dari suatu proses pembelajaran, karena itu perlu adanya manajemen isu yang baik agar nantinya polemik yang muncul menjadi lebih produktif dan bermanfaat bagi masyarakat. Caranya, semua pihak yang berkompeten mengenai masalah ini harus mau membuka keran informasi yang seluas-luasnya agar masyarakat menjadi lebih paham dan lebih cerdas.




Selasa, 17-02-2009 12:33:34 oleh: widodo judarwanto

Kontroversi puyer adalah kontroversi ilmiah, kontroversi ilmiah harus diselesaikan secara ilmiah melalui fakta ilmiah dan penelitian ilmiah. Bila kontroversi ini diperpanjangkan terus secara non-imiah maka akan terjadi debat kusir dan perdebatannya sampai kapanpun tidak akan berhenti. Apalagi bila perdebatannya hanya dengan memberi fakta opini seseorang.

Bila kontroversi ini cepat selesai, kita semua sebaiknya berburu fakta ilmiah di segala situs internet, begitu ada penelitian ilmiah yang menyatakan puyer berbahaya dan bila ada rekomendasi organisasi yang kredibel secara resmi mengatakan puyer berbahaya, kita semua harus mengatakan "SAY NO TO PUYER"

Berbeda dengan dahulu, dalam dunia kedokteran modern pendapat seorang ahli baik ahli di Indonesia, ahli WHO atau bahkan seorang profesor di Luarnegeri pun tidak boleh dijadikan anutan atau pedoman bila tidak sesuai fakta ilmiah atau evidance basa medicine.

TANPA KITA SADARI SEBENARNYA KITA TERJEBAK SENDIRI
OLEH MASALAH INI. SEMAKIN KITA BERDEBAT TENTANG PUYER SEMAKIN KITA MENJAUH DARI INTI PERMASALAHAN.
INTI PERMASALAHANNNYA SEBENARNYA ADALAH PEMBERIAN OBAT YANG BERLEBIHAN DAN KECURIGAAN PELANGGARAN ETIKA DAN KEPROFESIAN. COBA KITA CERMATI PEMBAHASAN YANG ADA DALAM TELEVISI ITU SUBSTANSI NYA ADALAH BUKAN PUYER TETAPI JUGA AKAN TERJADI PADA BENTUK SEDIAAN OBAT LAINNYA. SEHINGGA HUMMAN ERRORS SEMAKIN TERTUTUPI, DAN PERILAKU MENYIMPANG ITU AKAN TETAP TERJADI PADA BENTUK SIRUP, CAPSUL DAN KAPLET. DAN SCR TDK DISADARI ORANG DEWASAPUN SERING MENDAPATKAN PERILAKU PENGOBATAN YANG DEMIKIAN, TTP BENTUK LEWAT OBAT SEDIAAN LAINNYA.





Selasa, 17-02-2009 12:45:50 oleh: prima

ngapunten yaa pak dokter,,

gara2 PUYER ini saya yg cuma ibu rumah tangga biasa tp ga pernah brenti belajar dan belajar, jadi debat ma kakak kelas saya waktu SMU *sekarang jadi dokter* dulu mahasiswinya bunda wati lulusan PTN ternama di Jakarta,,

btw puyer ini hanya sebagian kecil aja,,
yang pada dasarnya permasalahan ini mengerucut pada satu hal yaitu prinsip penerapan RUM (Rationally Used of Medicine) atau Penggunaan obat secara rasional,,

Puyer sangat tidak rasional,, kenapa??
karena berdasar kasus kebanyakan yg dipuyerin adalah pasien yg cuma commoncold,,
dan kalo pun ada pasien yg dateng ke dokter uda lebih dari 3hari/lebih ato mungkin terlihat makin/uda parah karena common cold, saya kuatir pasien itu emang belom paham guideline RUM/RUD sehingga selama 3hari pasien sakit belom nerapin RUM/RUD tersebut,,
begitulahh,,

nhaaa,, inilah tugas kita bersama,,
terutama para praktisi medis dan kesehatan!!
tolong sampaikan ato sosialisasikan tatalaksana RUM/RUD ke masyarakat,,
coz kalo masyarakat biasa kaya saya ini yg nyampein ato bahkan media yg padahal uda elit aja kayanya uda dimentahin abis2an yahh,,

saya ngga ANTI DOKTER,, engga,,
saya juga masih butuh,,
tapi masyarakat kita juga sudah saatnya belajar,,
dan sudah waktunya pula dokter kembali ke hati nurani masing2,,
pasien datang ke dokter benernya adalah utk berkonsultasi kesehatan, bukan semata2 minta obat,,
dan kewajiban dokter adalah menyampaikan yg benar,,

kasus puyer, susu bermelamin, vaksin penyebab autis, pemakaian AB apakah sudah tepat/belom, stop rokok, dll bukan kasus baru,,
namun mungkin baru diekspos di media tv terutama,,
karena media tv yg paling ceped nyampe ke masyarakat,,

begitulah pak dokter,,
mudah2an menangkap maksud saya,,
skali lagi jadilah dokter yg berhati nurani yang ngga "ngejar setoran",,
perlakukan pasien sbg manusia yg pada dasarnya bisa diajak berdialog,,
bukan sbg kelinci percobaan,,



wassalam,,
prima - ummu Hizballah
*bumilsui




Selasa, 17-02-2009 13:11:50 oleh: Mang Kelke

Yah...di jaman keterbukaan informasi seperti ini, terkadang sebuah informasi ditelan begitu saja tanpa ba..bi..bu.., dan secuil informasi yang di terima seolah-olah telah memberikan pengetahuan yang cukup memadai untuk bisa "melawan" pendapat seorang spesialis yang telah belajar bertahun-tahun di bangku kuliah dan berkecimpung sekian lama di profesinya.

Lebih jauh lagi, di kasus ini ada pula yang menulis "Dokter...gunakan hati nurani Anda.." atau "Dokter sudah menjual amanah profesi mereka bla..bla.."
Seolah-olah dokter yang setuju puyer SUDAH PASTI dokter yang tidak mempergunakan hati nurani, dan sebaliknya.
Dokter Widodo yang mencoba untuk menjelaskan kontroversi ini berdasarkan kompetensinya pun tidak luput dari 'tudingan miring' tersebut.
Padahal ketua IDAI sudah ngomong 'puyer aman', lalu musti percaya siapa lagi ? Atau barangkali nunggu MUI mengeluarkan Fatwa yang mengharamkan atau menghalalkan puyer ?

Saya ingin mengajak rekan-rekan Wikimuers untuk mempergunakan akal sehat saja.
Akal sehat dalam kapasitas yang dapat kita lakukan apabila berkonsultasi dengan dokter yang tengah menangani kesehatan buah hati kita, namun juga akal sehat dalam beropini dan berpendapat.
Lebih jauh lagi adalah akal sehat dalam menghargai profesi seseorang (dalam hal ini dokter).




Selasa, 17-02-2009 14:23:46 oleh: dr.Rivadin

Wah, kayaknya makin rame aja ni,
Saya kutip komentar terakhir dr.Widodo :
"Bila kontroversi ini cepat selesai, kita semua sebaiknya berburu fakta ilmiah di segala situs internet, begitu ada penelitian ilmiah yang menyatakan puyer berbahaya dan bila ada rekomendasi organisasi yang kredibel secara resmi mengatakan puyer berbahaya, kita semua harus mengatakan "SAY NO TO PUYER"
Berbeda dengan dahulu, dalam dunia kedokteran modern pendapat seorang ahli baik ahli di Indonesia, ahli WHO atau bahkan seorang profesor di Luarnegeri pun tidak boleh dijadikan anutan atau pedoman bila tidak sesuai fakta ilmiah atau evidance basa medicine."

Untuk diketahui, untuk meyakinkan kami, para dokter ini, tentang suatu fakta, sebenarnya tidak susah. Tunjukkan saja pada kami, BUKTI ILMIAH (EVIDENCE) dengan level tertinggi yang ada. Karena sekarang jamannya Evidence Based Medicine/EBM (sekedar tahu saja : EBM berarti kita mencari penelitian yang valid dari segi metodologi penelitiannya, hasilnyapun signifikan/bermakna secara statistik dan klinis, dan bisa diterapkan untuk pasien kita). Pendapat seorang pakar tidak bisa dianut begitu saja tanpa adanya evidence yang mendukung pernyataannya. Kalau evidence itu memang ada, gak perlu panjang lebar berdebat, saya akan langsung mengangguk, tanda setuju utk mengatakan "SAY NO TO PUYER". Dan saya yakin, teman sejawat dokter yg lain jg akan begitu. EBM ini jg berlaku untuk segala hal di bidang kedokteran, mulai dari cara mendiagnosis penyakit, terapinya, prognosisnya dst.







Selasa, 17-02-2009 14:45:27 oleh: prima

*@pak adi maryanto*

dear bapak,,

maaf pak, saya mo nanya apa bpk uda bkeluarga??
kalo uda, apa bpk uda punya anak??
apa anak bpk perna commoncold (batuk pilek diare demam)??
lalu bpk pergi ke dokter&anak bpk dikasi resep puyer hanya krn commoncold??
gmn perasaan bpk wkt melihat sendiri anak bpk mengonsumsi puyer??
biasa aja ato ada perasaan laen??

bapak,,
skali lg saya BUKAN ANTI DOKTER,,
saya tau info kesehatan inipun dr dokter (bunda wati),,
tp saya menyesalkan hubungan dokter-pasien skarang umumnya cenderung spt penyedia jasa-client aja,,
kaya ga ada komunikasi 2 arah,,

dan parahnya sbagian masy kita masi blm paham apabila menghadapi anak ato bahkan kita sendiri yg sakit, terutama commoncold (terkait kasus yg PALING SERING dipuyerin),,

masy hnya tau begini, kalo sakit pergi ke dokter,,
dr dokter berharap dpt obat yg ampuh,,
sialnya obat yg dianggap ampuh masy adalah puyer,,
*ampuyer (baca:Ampun) dee*

sayangnya masy berpola pikir kaya gitu jg hasil "didikan" dokter,,
puyer dipercaya ampuh dari jaman doeloe,,
coba kalo dokter menjelaskan begini,,
pak silahkan pulang dulu&silahkan menerapkan RUD terlebih dahulu,,
ato misalnya kalo uda "telat" pun dokter tetap menyampaikan RUD kalo laen kali ada sapapun yg sakit,,
apa itu RUD??
dokter jg yg hrs menjelaskan,,

saya bicara disini justru minta tolong ke dr. widodo utk mensosialisasikan RUD itu sendiri ke masy,,
krn kalo saya yang maju JELAS ga dipercaya,,
saya tau diri itu,,
tp saya yakin para dokter bukannya tdk tau apa itu RUD,,

kurleb begitu ya bapak,,
moga bapak bisa lebi obyektif dlm berpikir,,
saya jg paham dokter hanya manusia biasa&bukan Tuhan yg harus bener dalam sgala tindakannya,,
tapi menyampaikan pesan yg baik&benar,, apa itu salah??

perubahan itu perlu palagi kearah yg lebih baik,,
emg ga bisa instan,,
butuh proses walo merangkak pelan2 gpp,,
yg penting konsisten,,


salam perjuangan,,
ummu Hizballah




Selasa, 17-02-2009 15:07:58 oleh: Dendi

Permisi semuanya, jadi seru ya. Bukan saya ingin mencela para dokter, hanya saja realistically speaking, secara general, balita dan bayi yang batuk pilek kalo ke dokter menurut pengalaman pribadi saya, selalu dikasih puyer yg isinya macem2, sampe suatu hari saking penasarannya saya browsing cari tau obat apa saja yg diresepkan di puyer anak saya tercinta dan mengetahui bahwa anak saya batuk pilek ternyata diberi valium dalam puyernya, saya sampe bengong. Dan saya juga jadi penasaran apakah ada EBM nya yg membuat valid pemberian puyer dg isi campur2 buat anak batuk pilek??? Ayo donk, semuanya bangun, dari sisi saya sebagai orang yg bukan dokter, ya harus men-develop knowledge masalah kesehatan, yg dokter ya mulailah memberi info yg benar, memberi edukasi pada pasien2 nya mengenai RUD.
Tapi anyway busway, saya sih tetap akan bilang No to Puyer buat anak saya :)
Semoga perjuangan membuka kebenaran bisa dimulai, paling nggak ya sama diri saya pribadi dan keluarga :)
Salut dan terimakasih untuk orang2 yg tak kenal lelah "membangunkan", "me-melek-kan" kami yg buta masalah kesehatan, keep the spirit high!




Selasa, 17-02-2009 15:49:27 oleh: Dini Rustandi

@ dr. Rivadin,
silakan dibaca link ini
http://www.thrf.org.tw/EN/Page_Show.asp?Page_ID=545

Kira-kira, hal itu bisa terjadi di Indonesia tidak ya ? Kalau iya, bagaimana caranya supaya terjadi ?




Selasa, 17-02-2009 17:13:18 oleh: Freji

Menurut saya disini ada 2 opini yang bertolak belakang.
1. Para dokter yang ingin mempertahankan status quo puyer dengan argumen karena tidak ada EBM yang menjelaskan bahaya puyer.
2. Pasien/konsumen medis yang menginginkan puyer ditinjau kembali atau sebisa mungkin ditiadakan. Dengan argumen karena praktek puyer tidak ada EBM nya.

Karena saya (atau anak saya) yang menanggung resiko praktek yang tidak sesuai EBM, dengan tegas saya menolak! Karena menurut pengertian saya puyer bukanlah satu2nya pilihan.

Soal percaya atau tidak, dalam list saya IDI/IDAI bukan nomor satu, melainkan WHO, CDC, AAP, dan seabreg sumber terpercaya lainnya.
Dengan ada nya liputan ini, mudah2an pemerintah / IDI/IDAI dan lembaga terkait lainnya mau me-review kebijakan mengenai puyer. Dan bukannya langsung bersikap defensif, mengatakan issue ini tidak ada substansi nya, dan bukan konsumsi masyarakat.
Kalau hal ini tidak di angkat oleh media, apakah akan ada will dari pemerintah/IDAI dll untuk me-review kebijakannya?
Atau kita tunggu ada korban seperti berita dari Taiwan?




Selasa, 17-02-2009 17:17:34 oleh: Dendi

Cuplikan artikel dari FDA, praktek compounding tidak direkomendasikan oleh FDA (USA). Nggak tau deh kalo di Indonesia masih dibilang aman, mungkin alat2 di Indonesia lebih canggih dari USA kali, silahkan disimak.

The Special Risks of Pharmacy Compounding

Pharmacy compounding is an age-old practice in which pharmacists combine, mix, or alter ingredients to create unique medications that meet specific needs of individual patients.

It's also a practice that is under FDA scrutiny—mainly because of instances where compounded drugs have endangered public health.

"In its traditional form, pharmacy compounding is a vital service that helps many people, including those who are allergic to inactive ingredients in FDA-approved medicines, and others who need medications that are not available commercially," says Kathleen Anderson, Pharm.D, Deputy Director of the Division of New Drugs and Labeling Compliance in FDA's Center for Drug Evaluation and Research (CDER).

Compounded medications are also prescribed for children who may be unable to swallow pills, need diluted dosages of a drug made for adults, or are simply unwilling to take bad-tasting medicine.

Kalo pengen lanjut silahkan klik :
http://www.fda.gov/consumer/updates/compounding053107.html





Selasa, 17-02-2009 17:33:08 oleh: Heny Mustikasari

Pak Dokter,

Saya dah masukkan tuh satu link ilmiah mengenai compunding, ada komentar dok? Mungkin kelewatan ama dokter tuh diatas... :)

Soal range of error-nya

itu di amerika metodenya pake timbangan, kalo yg kaya di di indonesia, kira-kira gimana ya dok?

Mohon masukan dari yang pengalaman di dunia medis




Selasa, 17-02-2009 17:55:00 oleh: Putra

Setuju dengan pendapat dr. Widodo mengenai masalah puyer, dan mengenai polemik puyer sudah diberi penjelasan oleh ketua IDI Dr. dr. Fahmi Idris pada hari ini di Seputar Indonesia RCTI. Bahwa pemberian puyer merupakan sebuah opsi dan tidak ada masalah asal sesuai dengan prosedurnya. Dokter dalam memberikan puyer sudah sesuai dengan prosedur seperti yg diajarkan dalam perkuliahan dan dapat mempertanggunjawabkan yg dibuatnya.



Selasa, 17-02-2009 18:32:02 oleh: Mang Kelke

@ Prima dan wikimuers semua....

Anak saya 1, sekarang 10 tahun dan selama ini kalau sakit obatnya ya macem-macem.
Pernah dikasih obat sirup, pernah juga diberi puyer.
Lha waktu anak saya masih kecil (dibawah 2 tahun).

Waktu saya kecil dulu saya juga dikasih puyer, demikian juga kakak dan adik-adik saya.
Dan....Alhamdulillah, nothing hapeend dengan keluarga kami.
Waktu saya kecil dulu itu artinya kira-kira 40 tahun yang lalu atau lebih lama lagi.
Dan sekarang, ketika saya sudah punya anak, dan anak saya juga 'mengkonsumsi' puyer, dan alhamdulillah tidak pernah terjadi hal buruk dengan itu, tiba-tiba kok muncul 'kontroversi' seolah-olah Dokter anak yang telah memberikan puyer adalah seorang Dokter yang telah melakukan kesalahan besar, mau enaknya sendiri, menggadaikan profesi dan amanahnya demi tukang obat. Lantas seolah-olah seluruh apoteker di apotek-apotek itu telah melakukakn kesalahan dalam membuat dan meracik puyer-puyer itu sehingga membahayakan sanga anak.
Piye iki ?

Saya kira kita semua (saya terutama) yang awam tentang dunia kedokteran dan farmasi tau semua, bahwa untuk dapat berpraktek menjadi dokter (apalagi dokter anak) itu bukan pekerjaan yang semudah membalik telapak tangan.
Untuk menjadi apoteker yang boleh buka praktek itu juga bukan 'cuma' belajar satu hari 2 hari.
Butuh ketekunan yang luar biasa untuk kedua profesi tersebut, butuh standar tertentu untuk bisa buka praktek, dan butuh pengalaman cukup lama untuk bisa dipercaya masyarakat.

Nah, setelah berita kontroversial itu muncul, kok tiba-tiba saja mereka-mereka yang sudah sekian lama berkecimpung di profesinya menjadi 'tertuduh', atau paling tidak diragukan profesionalismenya, hanya gara-gara sebuah kata ...puyer.

Ayolah....
Saya bukan dokter, bukan apoteker dan juga tidak punya usaha yang berhubungan dengan itu.
Tapi saya rasa ada reaksi yang agak terlalu berlebihan dalam menyikapi pemberitaan tersebut.

Demikian, mudah2 an berkenan




Selasa, 17-02-2009 19:51:36 oleh: Abine-aisyah

Tadi sore saya lihat RCTI, saya setuju dengan statemen IDI, obat puyer itu opsional.
Jadi, yang mau sirup atau drop, silahkan pakai sirup atau drop, ndak usah pakai puyer. Kalau yang masih oke dengan puyer, silahkan saja pakai puyer.
Menurut saya, dokter tidak akan susah atau keberatan kalau pasiennya minta sirup atau drop, kan tinggal nulis resep saja; begitukan Dok ? Dokter, menurut saya jg tidak rugi kalau tidak menulis resep obat puyer. Hanya saja, perlu kita hormati dan hargai pendapat dan alasan beliau2 ini menggunakan obat bentuk puyer ini (pertimbangan faktor kemudahan menghitung dosis obat, jenis sediaan yang ada dan tentu sosial ekonomi pasiennya).
Menurut saya lagi, yg banyak untung malah pabrik obat, obat sirup dan dropnya jadi laku keras. Dan itu jg baik2 saja selama penggunannya rasional.
Cuma, saya ingatkan lagi, bahwa pengobatan yang tidak rasional bisa terjadi dalam bentuk sediaan apapun, baik puyer, sirup, drop, tablet atau kapsul. Sehingga, sebenarnya yang lebih penting daripada berdebat tentang puyer ini adalah mari kita buka wacana tentang pengobatan yang rasional, saya kira itu akan sangat bermanfaat.




Selasa, 17-02-2009 20:28:27 oleh: Joni

hehehe rame yaa...

prinsipnya cukup 1.
kalau merasa butuh dokter..yaa ke dokter.
kalau merasa cukup browsing dan jadi smartparent..yaa monggo. lah anak dewe koq
kalau ke dokter, pilih yang dipercayai...
dukun aja banyak orang percaya koq..

yaa gak erlina?




Rabu, 18-02-2009 08:45:44 oleh: Heny Mustikasari

Orang-orang sudah kedukun dari ratusan tahun lalu, trus ditemukan ilmu kedokteran, ilmu yang lebih maju, berdasar riset, apa ya mau ke dukun terus?

Ilmu pengetahuan berubah setiap saat, dan ini kadnag yg dilupakan orang status quo, rekomendasi bisa berubah dengan Evidence Based Research tentunya. Ini yang kadang orang lupa.

Kadang orang lupa juga kalau dokter itu manusia, mereka sekolah lama... ya memang butuh waktu lama untuk mempelajari ilmu itu. Saya sekolah lumayan lama, jadi orang HRD dan saya berani bilang, tidka semua orang HRD sekarang kompeten jadi orang HRD, ada yg ngaco, ada yang ilmunya gak update, dan macem-macem hal lain yg membuatnya nggak kompeten jadi HRD. Begitu juga dokter... gak ada bedanya, ada yang kompeten, ada yg enggak dengan berbagai alasan.

Ingat dokter tidak selalu benar, dokter bukan dewa, dokter tidak bisa nyembuhin kita dalam sekejap, semua butuh proses.

Kalau kita mau belajar lebih jauh, Kita akan merasa ada JAMAN KEGELAPAN jaman dimana saya masih bodoh dan tidak tau banyak hal, jaman dimana saya sangat MENYESAL...

Intinya memang bukan hanya pada Puyernya, yang kami perjuangkan adalah: Tingkat kesehatan yang lebih baik bagi masyarakat indonesia. Dan itu hanya bisa dengan cara Edukasi. Ajari orang tua bahwa: Flu, batuk pilek sebagai penyakit langganan anak itu penyebabnya virus, penyakit karena virus nggak butuh OBAT. Prakteknya sekarang di indonesia anak yang sakit langganan anak dapet obat seabrek abrek, dokter mulai bertindak tidak sesuai GUIDELINENYA, tidak sesuai APA YANG DIAJARKAN, nah dengan SAY NO TO PUYER ini lah jalan untuk RATIONAL USE OF MEDICATION dimulai... perjalanan masih panjang... Puyer hanya salah satunya, namun itu masalah urgent paling besar yg dihadapi oleh konsumen medis indonesia.

Di Amerika da USP dan FDA. USP menerapkan aturan dan standar untuk APOTEKER, dan FDA jadi tukang kontrol. di Indonesia...??????????????????????




Rabu, 18-02-2009 09:03:47 oleh: Dendi

Kalo saya pribadi sih berfikir untuk saya dan keluarga sendiri aja lah. Alhamdulillah saya cukup hanya dengan 3 tahun saja melek nya, nggak usah nunggu sampe 40 tahun. 3 tahun lamanya saya nggak pernah sadar isi dan cara bikin puyer yg diminumkan ke anak saya. 3 tahun lamanya saya nggak tahu bahwa lembaga sekelas FDA saja nggak menyarankan puyer. 3 tahun lamanya saya "support" memperkaya pabrik obat dengan membiarkan anak saya yg batuk pilek mengkonsumsi 7 macem obat yg diracik jadi puyer, padahal ternyatanya batuk pilek cukup dikasih parasetamol saat demam yg harganya gak sampe 10ribu perak. Fakta bahwa Taiwan sudah meninggalkan praktek puyer2an ini dari 2005-2006 dengan fakta2 resiko yg dipaparkan jelas. Anak saya ya tanggung jawab saya, dan Insya Allah saya akan tetap stick with "say NO to puyer". Peace :)



Rabu, 18-02-2009 09:13:00 oleh: Mang Kelke

@Henny Mustikasari atau siapa saja.

Silakan berkampanye 'Say no to Puyer' atau kampanye apapun.
Tapi sebaiknya tetap dalam koridor menghargai profesi, pilihan dan sikap siapapun. Silakan berkampanye 'Say no to Puyer', tapi hargai juga mereka yang masih merasa nyaman dengan itu, hargai juga dokter-dokter yang masih berpendapat puyer aman berdasarkan pendidikan dan pengalaman mereka, sebab bukan cuma Anda cs. yang pengin anaknya sehat, bukan cuma Anda cs. yang punya nurani.

Saya juga pengin anak saya sehat,dengan atau tanpa puyer.
Seperti Anda bilang, puyer atau bukan puyer bukan masalah utama, yang lebih penting adalah tingkat kesehatan masyarakat. So, saya kira gak perlu kebakaran rambut kalau ada yang berpendapat lain tentang puyer, sampai menganalogikan praktek perpuyeran dengan praktek perdukunan....
Istilah anak sekarang tuh Lebai....... berlebihan... too much....




Rabu, 18-02-2009 09:39:10 oleh: fa

numpang komen,
yang jadi kontroversi bentuk sediaan puyer atau polifarmasi ?
kl puyer sih selama ini gak ada apa2, belum ada data yg menyatakan bentuk sediaan puyer bahaya.
1. di apotek puyer dibagi dgn mata? ya! jarang apotek yang menimbang obat untuk membagi obat -tapi ada-. tetapi dgn membuat puyer itu berbentuk kerucut berat puyer akan relatif sama. kl gak percaya ambil serbuk apa aja(bentuknya =puyer) terus bagi dgn cara dialirkan dari atas dgn ketinggiaan yg sama.
2. apakah puyer bs mengubah stabilitas obat? Ya, pada sebagian obat. sebagian obat tidak tahan uap air/higroskopis.tapi untuk puyer yang cuma 10 bungkus akan habis dlm 3 hari, tentu msh hrs ada penelitian apakah khasiat obat akan berubah. yg jd masalah jika puyer 120 bungkus untuk 1 bulan. Apotek Kimia Farma (saya bukan pegawai KF ya) mengatasi hal tersebut dengan cara kertas perkamen utk bungkus puyer disegel shingga tertutup rapat dan relatif terhindar dari uap air, jadi untuk pake puyer tsb hrs dirobek.
3. apakah obat dlm puyer tercampur sempurna? jika semua obat yg dibagi berwarna sama farmasis akan menambah 1 tablet vitamin b komplek yg berwarna oranye sehingga jika digerus warna puyer bisa dilihat apakah sdh homogen (campur sempurna) atau tidak.
4. apakah puyer lbh murah dari nonpuyer? belum tentu! kl yang diresepkan obat paten atau obat generik bermerek tentu harus dihitung ulang harganya dibanding dgn sirup. puyer bisa jauh lebih mahal.apalagi jk polifarmasi dan obatnyapun mahal2.
5. apakah puyer terkontaminasi dgn obat lain? ya, puyer bisa terkontaminasi dgn obat lain. tetapi kebiasaan di apotek stelah puyer dibuat mortir & stamper di lap dgn kapas yg dibasahi dgn alkohol 95 % yg sgr menguap. jd relatif bersih u dipake puyer berikutnya.farmasis akan mberi perhatian lbh jika dipake memuyer obat dgn rentang terapi sempit (dlm dosis kecil beri efek yg besar) cth: aminopilin, digoxin,dll.
so, kl tdk mau puyer ya bilang dokternya.
kl yg jd kontroversi polifarmasi,no comment ya.




Rabu, 18-02-2009 10:17:03 oleh: bubu ofan

mungkin perlu diklarifikasi bahwa Puyer tidak berbahaya tapi SANGAT TIDAK RECOMMENDED

jangan2 bentar lagi MUI mengeluarkan Fatwa PUyer HARAM!

PISSS..........




Rabu, 18-02-2009 10:27:45 oleh: prima

@ pak adi mardiyanto

bapak,,
kalo bole tau anak bapak waktu dipuyerin karena apa ya??
kalo commoncold aja apa ga sayang tuh da kemasukan puyer yg terdiri dari 3macem/lebih obat-jadi yg digerus jadi satu??
sementara commoncold bisa sembuh dengan sendirinya sesuai dengan kondisi kekebalan tubuh individu masing2??
apa dokter bapak/anak bapak mengkomunikasikan kalo benrnya penyebab commoncold adalah virus yg bisa sembuh dg sendirinya tanpa harus dipuyerin??
bapak tau prinsip RUD pak??
coba deh bapak search via om google yang baek hati aja yah,,

bapak,,
sekali lagi PUYER HANYA SALAH SATUNYA,,
saya SALUD ma dr.wati yg diangkat adalah puyer duluan belom yang laen2,,
karena PUYER adalah PENGOBATAN TRADISIONAL yg tidak rasional,,

bapak,,
itulah yang saya bilang ttg mindset ato pola pikir masyarakat kita,,
kita terlanjur "terikat" dengan budaya lama sementara iptek terus berkembang,,
mari kita semua terbuka akan iptek yg membawa manfaat buat kehidupan dan kesehatan kita,,

anw skali lagi saya percaya dokter pasti pegang teguh kode etik kedokterannya gitu pula praktisi kesehatan yg laen,,
saya juga hormati dokter ma apoteker uda sekolah bertahun2 utk dpt ilmu yg tentu aja ga ngawur,,
tp bukan berarti kemudian jadi pribadi yg defensif dan arogan kan??
mari kita melihat polemik ini scr obyektif,,
ga sedikit ko dokter yg "menyesal" krn uda ngasi puyer *yg benernya ga perlu* pada pasien2nya hanya krn penyakit "langganan" ato commoncold,,

bapak,,
apa bapak masi "melestarikan" ke anak cucu bapak ttg budaya lama utk percaya ma puyer ini??
kalo iya, saya hanya bisa bilang turut prihatin,,


never give up,,
prima
*ummu Hizballah*




Rabu, 18-02-2009 11:28:26 oleh: nova

saya sih setuju "Say No To Puyer" berdasarkan pengalaman saya... dulu kalo anak saya sakit saya manut ajah dikasih puyer yang isi obatnya sampe 7 ato 8 macem obat belum ditambah AB padahal anak saya cuma commondcold yang sebenernya ngga butuh itu semua.. dulu waktu anak saya masih dikasih macem2 obat dan AB "yang tidak tepat" malahan anak saya sering sakit n daya tahan tubuhnya ga bagus... Alhamdulillah setelah dapat pencerahan dari dr.Purnamawati, dr.Samsul, dr.Anto,dr.Ian dan smart parents yang dah sharing... saya tahu kalo hanya commondcold yang sering menyerang anak2 itu ga butuh macem2 obat (apalagi bentuknya dah diPuyer) anak saya bisa sehat dengan menangani penyakit yang disebabkan virus itu by self limiting.. Tapi saya tetep masih ke dokter kalo anak saya sakit n butuh dokter pertama untuk konsultasi dan selanjutnya untuk mengetahui diagnosa penyakit anak saya n cara penanganan yang tepat untuk anak saya (karena kita bayar dokter untuk itu kan?) saya juga tetep ke ahli farmasi ato apoteker untuk menanyakan komposisi dan penggunaan obat yang tepat..
tapi saya juga tetep berusaha be a smart parent untuk anak saya tercinta... dengan mncari 2nd opini dan browsing juga baca2...
itu semua saya lakukan demi anak yang saya cintai yang telah diamanahkan oleh Alloh SWT kpd saya...




Rabu, 18-02-2009 12:55:34 oleh: melani

@ dr. Rivadin

Kalau dibalik...

Bisakah dokter buktikan ke kami sbg orang tua, kalau puyer sudah ada EBM-nya?

punten...




Rabu, 18-02-2009 13:04:06 oleh: Dini

Kata ketua IDI tadi pagi : puyer adalah opsi. Jangan takut untuk menggunakan hak bertanya pada dokter.

Kita sudah tahu apa kerugian puyer, kita sudah tahu bahwa kerugian-kerugian itu bisa berakibat fatal. Kita juga sudah tahu bahwa sebetulnya tidak dibutuhkan polifarmasi asalkan dokter bekerja berdasarkan guideline. Maka, gunakan hak pilih anda sebaik-baiknya. Dan gunakan hak bertanya Anda sebaik-baiknya.

Kata Menkes kemarin : jangan takut menggunakan puyer walaupun dibuat dari obat generik yang kualitasnya tidak kalah jauh dari obat impor.

Maka, kita tahu bahwa kita punya pilihan obat murah yang bentuknya bukan puyer.

Semoga, pada akhirnya teori supply demand yang bekerja. Dokter juga manusia, perlu cari nafkah.

Pilihan ada di tangan kita.




Rabu, 18-02-2009 14:59:43 oleh: Diah Denia

Membaca komentar dan tanggapan yang ada membuat saya jadi lebih ngeh...makasih ya semua...
untuk dokter2, apoteker, ilmuwan, dan ortu yang peduli....
Saya yakin perdebatan in masih panjang, tapi pemenangnya tetap masyarakat..karena informasi semakin luas sehingga kami bisa bertindak dengan rasional untuk buah hati tercinta..




Rabu, 18-02-2009 20:03:16 oleh: Mieke Kartika

Ikutan nimbrung ya....

Ya memang sebagai orang awam kita pasti bingung.., mana sih yg bener..., tapi semua itu balik lg ke hati nurani kita masing2....., gak cm puyer yg kok yg bikin trauma....imunisasi yg katanya benteng buat anak jauh dr penyakit juga banyak yg bermasalah....
Ya yg pasti kita masyarakat butuh informasi.., dan tolong kasih kita pilihan yg bisa diterima semua orang tanpa harus menjatuhkan satu sama lain....

Peace.....




Rabu, 18-02-2009 20:31:00 oleh: Sapto


Yang nolak puyer, gak usah minum puyer. Tp jangan anda rendahkan yg masih mau memakai puyer, gampangkan ?

Yang masih setuju dg puyer, mari kita hargai dan hormati. Gampang jg kan ?

Heran saya, ada smart parents yg betul2 'smart', sampai -maaf,ini kesan saya- melecehkan dokter (yg mencoba menjelaskan dg ilmiah)yang masih memakai puyer. Smg kesan saya ini salah.











Rabu, 18-02-2009 21:45:52 oleh: fay

halloooo........
yang jadi kontroversi itu puyer atau polifarmasinya ?
-kalo puyer, tolong yang gak setuju kasih tahu yang setuju kalo puyer berbahaya, karena bentuknya! bukan karena isinya.tentu bukan berdasar pengalaman.
-kalo tidak setuju karena obatnya banyak alias polifarmasi,atau common cold diberi antibiotik (bukan anti virus),atau penyakit yg harusnya sembuh sendiri diberi obat, atau lain hal selain bentuknya,tentu yang harus dibahas polifarmasinya bukan bentuk puyernya.
begitu ya dok ?
terus debat, terus berfikir, terus berkarya untuk indonesia raya nan jaya.




Kamis, 19-02-2009 01:03:16 oleh: hafiizh

Kecewa juga sih pertanyaan saya sebelumnya nggak ditanggepin Dr. Widodo, yaitu pertanyaan ttg istilah medisnya puyer? Akhirnya dijawab Bung Fauzi, yaitu pulvis atau powder. Lalu mulailah saya mencari artikel dg menggunakan kedua istilah tersebut, tapi lho kok yang bermunculan jadinya website-website herbal dan jamu-jamuan, muncul juga sih istilah lain yaitu istilah compound/compounding (dlm Bhs Inggris), eh ternyata sudah ada Wikimuers yg mentioned istilah compunding ini. Lalu saya buka kamus lagi, compounding itu artinya: campuran/gabungan.

To compound berarti “mencampur”. Jadi arti sebenarnya dari puyer itu apa yah Dok? Apakah puyer itu pasti pecampuran macam-macam obat yg dicampur jadi satu? Adakah puyer yg Cuma terbuat dari 1 jenis obat?
Dok, saya pernah nerima obat sirup yg dicampur sejenis bubuk, apakah itu juga bubuk puyer? kata petugas apotiknya, sebelum di minum harus dikocok dulu. Kalo yg dicampur obat syrup ini aman nggak Dok? Apakah ini termasuk puyer juga? Terima kasih atas penjelasannya.

Hafiizh




Kamis, 19-02-2009 05:05:43 oleh: deddy

kan puyer sudah di bahas , tapi belum selesai nih , nah kalau dokter gak mau interaksi dg pasien gmn ? kayaknya kalau kita perlu banget gitu , jd cuek gak mau dengarkan keluhan kita . memang sih ada sebagian dokter krn mengejar target atau apalah ??? tapi kita kan perlu di dengar n diberi nasehat hrs gmn , jgn seperti di tayangin RCTI , Kok gak peduli amat , apalagi di PUSKESMAS krn untk rakyat kecil udah dokternya buru 2 aja , mlh ditanya skit apa neh ? bkn keluhannya apa ?



Kamis, 19-02-2009 09:21:17 oleh: Mang Kelke

@Sapto
Saya kira kesan Anda nggak salah, saya juga punya kesan serupa.
Buat para 'anti puyerian" saran saya, kalau mau mengajak-ajak orang untuk jadi Smart Parents sebaiknya pakai smart campaign sehingga nggak berkesan melecehkan siapapun.




Kamis, 19-02-2009 12:36:57 oleh: Dr. Imron Rosyidi Ahmad

Salam untuk semua. Saya merasa senang sekali ada tulisan tentang kesehatan yang dibaca, diulas dan ditanggapi secara luas, dengan sudut pandang yang berbeda-beda dan semoga bermaksud konstruktif. Saya sebagai klinisi senang sekali membaca berbagai pendapat tsb. sebagai wujud kepedulian masyarakat dalam rangka evaluasi dan kontrol terhadap kita di bidang pelayanan kesehatan. Di hati kami (semua pelayan kesehatan) selalu terpanggil untuk senantiasa melindungi hajat hidup insani dalam bentuk apapun caranya ,sesuai kaidah keilmuan yang luhur, jadi semoga masyarakat berbaik sangkalah kepada kami bahwa kesembuhan pasien adalah imbalan yang kami dambakan melebihi segalanya. Kembali kembali ke kontroversi puyer kita harus memposisikan sisi ilmiah sebagai kajian bersama dan bukan saling menumpahkan kecurigaan dan asumsi sehingga diantara kita ada yang merasa tersudut salah satunya saya, mungkin?. Sahabat semua tidak ada satu orangpun yang mempermainkan hajat hidup insani hanya demi kepuasan lahiriah. Kontroversi puyer semakin jauh dari dari akar permasalahan sehingga pembahasanya bukan pada aspek dan kaidah ilmiahnya tapi ke etika dan kesalahan oknum profesi tertentu. Bukan karena saya dokter terus saya membela diri, tapi setelah saya baca semua opini yang di tulis oleh para pembaca kesimpulan saya adalah opini dan perdebatan ini sudah tidak sehat lagi semoga kesimpulan saya salah. KEBAHAGIAAN SEJATI ADALAH MELIHAT ORANG BAHAGIA KARENA BANTUAN KITA



Kamis, 19-02-2009 20:23:31 oleh: Heny Mustikasari

Tidak sehatnya dimana ya dok...

Saya sudah menyampaikan hasil riset, dan fakta ilmiha yg diminta dan itu baru salah satunya saja. Padahal ada hasil riset mengenai bahaya puyer yang akibat kesalahan compounding 100% nya menyebabkan Overdose, dan 67% nya diberikan pada anak-anak dengan efek yang buruk.

Barangkali ada yg bisa memberikan tanggapan. Kemudian apakah yg mendukung puyer, bisa memberikan hasil riset untuk mendukung argumennya. Mungkin bisa saling tukar data dok, kan jadi belajar bersama. Masing-masing memberikan insight.

Kalau memang senang dok bahwa ini dibahas, maka akan senang juga untuk tukar informasi hasil riset, dan informasi terpercaya lain, dan bukan opini pribadi.

Mari belajar bersama dan ajari kami kalau memang menurut dokter kami salah. Tunjukkan dan buktikan dengan data, riset, dan rekomendasi dari badan yang kredibel. Sekali lagi bukan pendapat pribadi ya dok... Yuk mari terus belajar.




Kamis, 19-02-2009 23:45:11 oleh: Abine-aisyah

@Bu Heny Mustikasari dan Bu Melani

Menurut saya, logika yang anda bangun ini kurang tepat. Kalau menginginkan riset yang mendukung penggunaan bentuk sediaan puyer, berarti anda jg harus menanyakan riset yang mendukung penggunaan sirup, drop, tablet, obat yang disuntik, obat infus dst.

Artinya, yang seharusnya ditampilkan itu adalah riset yang menunjukkan bahayanya puyer. Dan risetnya harus yg sesuai EBM, bukan pendapat atau pernyataan suatu LSM. Mengapa ? Karena puyer itu sudah terbukti dan teruji dipakai selama puluhan tahun lamanya. Begitu jg sirup, drop, tablet, obat yg disuntikkan, obat infus dst.

Menurut saya, metode penelitiannya harusnya membandingkan pemakaian bentuk sediaan puyer dengan bentuk sediaan sirup atau drop, lalu di nilai apakah ada perbedaan keamanan penggunaan yang signifikan atau tidak ?

Jadi tidak berdasar kasus per kasus. Harus anda tampilkan metode penelitiannya dan analisis statistiknya. Supaya betul2 objektif dan tidak berdasarkan kekhawatiran atau prasangka yang seringkali tidak bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah.




Jumat, 20-02-2009 04:04:14 oleh: Bagus Y Prayitno

Saya mau kasih pandangan lain, sebagai alternatif obat..karena sy sdh mempraktekkan pada anak saya.
Anak sy no 2 , fisiknya lemah, dan menderita alergi. Terutama debu, lembab.. Jika sdh kumat maka batuknya sangat parah, disertai, Sakitnya dimulai umur 1.5 thn (skr umur 4thn). Jika berobat ke Dr anak, pasti obat puyernya bermacam2.. Memang akan sembuh dlm 2-3 hari. Dlm setahun dia hrs bolak balik ke Dr anak. Sampai saya baca dr bbrp literatur bahwa penggunaan obat yg terlalu sering pada anak akan menimbulkan dampak negatif, pd anak. Terutam kekebalan tubuhnya yg menjadi rentan, disamping efek pad otak/ syaraf.
Sampai akhirnya sy berusaha mencari alternatif obatyg ramah pada anak. akhirnya sy daptkan yakni obat2an Herbal spt: Sambiloto, Cacing kering.
Sambiloto, sy konsumsikan pd anak sy sehingga daya tahan tubuhnya meningkat, kemudian Cacing kering utk bbrp penyakit, spt: Radang Tengorokan, Anti radang, anti panas, mengobati beberapa infeksi saluran pernafasan, serta bisa meningkatkan nafsu makan dan memeperbaiki metabolisme...
Mungkin Alternatif dari saya bisa dicoba, karena sy sendiri sdh mempraktekkannya




Jumat, 20-02-2009 06:55:11 oleh: Christo

hehehe



Sabtu, 21-02-2009 20:54:42 oleh: dr Joe

Saya kebetulan termasuk salah satu dokter di Kawasan indonesia timur yang nota bene lokasi pengabdian saya bener-bener di kelilingi hutan. Saya bener-bener miris dengan perdabatan ini, Beruntunglah buat para orangtua yang masih sempat diberi pilihan ke RS atau PUSKESMAS, Dokter umum atau dokter Anak, Puyer ataupun Syrup, drop dll. Karena masih banyak masyarakat kita yang dihadapkan pilihan antara : Puyer atau gak dikasih Obat. karena ngga ada pilihan lain selain puyer.

Saya termasuk yang masih setuju saja dengan pemberian puyer, dan bersedia untuk meninggalkan puyer jika tersedia pilihan yang lebih baik. kenapa saya masih setuju dengan puyer? Karena nggak ada yang salah kok dengan puyer..? Apa sih yang salah dari pereresepan puyer?? yang perlu di cermati tentunya bukan "puyernya" tapi "cara penyiapan" dan "polifarmasi". Selama Cara penyiapan sesuai kaidah yang benar dan Isi dari puyer ini tidak polifarmasi, saya rasa sah-sah saja, dan nggak perlu khawatir.
Ilustrasi SATE oleh dr Widodo SpA saya rasa cukup mencerahkan.









Minggu, 22-02-2009 07:45:34 oleh: Heny Mustikasari

@ pk Abine Kalau sediaan yg lain dalam bentuk single dan nggak di puyer, sebelum boleh dijul bebas kan udah da syarat-syarat uji obat dan lain-lain bisa di browse di FDA.

Obat dalam bentuk bubuk klu cuman single obat itu, juga nggak masalah. sekrang puyer di indonesia apa iya ada yg pernah nemuin dokter ngeresepin puyer obat single? berdasarkan penelitian lagi...

Jumlah obat.
Median jumlah obat yang diresepkan adalah 5 (dengan rentang
2 - 11 obat). Batuk merupakan kondisi yang jumlah obat dalam peresepannya
paling tinggi yaitu 11 obat. Dengan tingkat peresepan puyer sebesar 55,4%
pada diare akut, 72,6% pada demam, 77,4% pada ISPA, dan 87% pada
batuk.Antibiotik. Tingkat pemberiannya paling tinggi pada anak demam yaitu
87% disusul dengan diare 75%, ISPA 54,5%, dan pada anak batuk tanpa demam
sebesar 47%.

Nggak pernah ada yg meresepkan obat tunggal bubuk. Nah praktek ini yang menurut FDA disebut Compounding. Dan penelitian yg saya kutip yg pake bahsa inggris itu dari webnya FDA pak, untuk tau siapa dan apa wewenang FDA, silhkan browse webny FDA.

Bedakan puyer resepan dokter buatan apotik, dengan obat-obat lngsung dari industri farmsi, seperti saya sebut diatas. Dan terbukti selama bertahun-tahun tuh buktinya apa? apakh ada hasil risetnya? apakah dengan kalimat "saya juga pernh makan puyer dan sampai sekrang nggak apa-apa", atau dengan cara apa buktinya? Bukankah kedoktern adalah ilmu ilmiah yg menggunakan riset sebagai slah satu dasrnya.

Adakah penelitian yg membuktikan keamanan, efektifitas puyer? Kalau ada, saya akan dengan senang hati membacanya.




Minggu, 22-02-2009 22:22:01 oleh: alan

trusss.... kesimpulannya gimana???????



Senin, 23-02-2009 07:05:11 oleh: Sapto

Bu Heny said :
'Obat dalam bentuk bubuk klu cuman single obat itu, juga nggak masalah'
Berarti bentuk sediaan puyer tidak masalah to? Yg anda permasalahkan polifarmasinya to?
Kalau begitu, tanya pak dokter, kenapa bisa tjd polifarmasi dalam peresepan puyer ? apakah betul semua dokter di negeri kita sukanya polifarmasi ?
Walaupun sirup, tablet atau kapsul jg tidak sedikit lho yg kmposisinya banyak, coba lihat kandungan obat sirup atau tablet, banyak jg lho yang isinya sampai 4 macam. Itu berarti industri farmasi juga suka polifarmasi dong.
Aduh..jangan2 UUD neh, ujung2nya duit..





Senin, 23-02-2009 07:14:55 oleh: indr

Diskusi kok nglantur : ngalor-ngidul, ngalor lagi, ngidul lagi, debat kusir namanya. Kayak di dunia ini masalahnya cuma puyer saja..
jangan paksa diri lah kalau belum sampai. Apa gunanya ada expert ?
Ask the expert !! Jangan sampai keliru menarik kesimpulan.





Senin, 23-02-2009 16:12:28 oleh: eko fadhillah

teman semua, saya cuma mau share pengalaman saja. mohon maaf jika terkesan naif karena terbatasnya pengetahuan saya. namun pengalaman saya selama ini menguatkan opini dokter widodo. kuncinya adalah menemukan dokter yang tepat, yang terbuka terhadap pasien, memberi penjelasan yang baik dan benar serta mengenal secara baik pasien tersebut. inilah titik kuncinya, mengenali pasien. karena dari pengalaman anak saya dengan dokternya, sembuh atau tidaknya sama sekali tidak tergantung pada dikasih puyer atau sirop atau kapsul. tapi obat apa yang diberikan, semua jenis obat punya kelemahan sendiri-sendiri dan seperti yang sudah disebut diatas polifarmasi sendiri terjadi pada sirup dan kapsul. pengalaman dengan dokter anak saya bahwa dia tidak selalu memberi puyer. puyer hanya diberikan ketika gejala tertentu muncul setelah dilakukan pemeriksaan terlebih dahulu. mungkin ini hal klise namun hidup butuh kepercayaan. carilah pengobatan yang bisa anda percaya. sekali lagi anda tidak diwajibkan minum puyer atau sirup atau kapsul tapi minumlah obat yang anda percaya. saya sendiri percaya pada dokter anak saya dan jika dia merekomendasikan puyer saya percaya pertimbangannya baik untuk anak saya.



Jumat, 27-02-2009 15:54:36 oleh: ekal

Cuma mo ambil salah satu kasus yg lg hot.
Blum lagi kasus Nita di Blitar,dll.
Klo dah sprti ini, siapa yg mo b'tanggungjwb.Pasien slalu mjd korban,krn dokter2 akan "kompak" mlindungi tmn2 sjawatnya, right?
----------------------------------
JAKARTA - Setelah sebelumnya imunisasi tetanus diduga menjadi penyebab Syadiah menderita penyakit Stepen Jhonson Syndrome dengan gejala kulit mengelupas, kini obat puyer yang diminum Syadiah pun diduga menjadi penyebabnya.

Sebelumnya, dokter spesialis anak dan spesialis kulit dari rumah sakit Sentra Medika yang merawat Syadiah membantah imunisasi tetanus menjadi penyebab Syadiah sakit seperti sekarang ini.

"Yang menjadi masalah, diduga kuat setelah imunisasi ini kan badannya panas tinggi lalu dia berobat ke klinik Tugu Cimanggis dan diberi obat berupa paracetamol dan puyer. Nah puyer ini kita tidak tahu jenis racikannya apa," jelas Indra usai jumpa pers di RS Sentra Medika Jalan Raya Bogor Cimanggis, Bogor, Sabtu (21/2/2009).

Menurutnya, obat puyer biasanya mengandung antibiotic, penicillin, dan ada kandungan sulfa. "Nah bisa jadi itu yang memicu Syadiah sakit seperti sekarang ini," tuturmya.

Sekadar diketahui, penyakit Stepen Jhonson Syndrome disebabkan oleh empat faktor yaitu yang pertama infeksi virus; kedua karena obat-obatan, seperti obat antidemam, antibiotic, analgesic, dan treparet sulfa. Ketiga karena faktor idiopathic atau faktor yang tidak diketahui sebabnya, dan keempat karena gingseng atau obat-obat herbal.
-------------




Senin, 02-03-2009 13:21:59 oleh: irma

hanya share saja, di Jepang, walaupun negara maju, masih pakai puyer kok.....gak ada yang salah sama puyernya, yang salah mungkin "oknum" yaaaaaaaaaa....
aku sih setuju ama dr Widodo...




Selasa, 03-03-2009 09:58:25 oleh: mike

puyer atau serbuk pabrikan ya?
setau saya serbuk pabrikan yg di jepun.
Klo oknum, trus pertanggungjawabannya jelas, fine. Tapi slama ini di Indonesia gmn? *sedih euy*




Sabtu, 07-03-2009 11:42:07 oleh: ophoeng

Bagus. Setuju dengan pendapat anda.

Hehebohan soal puyer or not puyer, bisa saja sengaja ditiup-tiupkan produsen farmasi yang maunya jual tablet, kapsuil, sirup dalam jumlah lebih besar toh?

Terima kasih sudah berbagi.




Kamis, 12-03-2009 08:07:09 oleh: mike

Kesimpulan yg picik!
Pantes Indonesia ga pernah maju.




Kamis, 12-03-2009 13:06:47 oleh: dr. nanda

terima kasih kepada dr. widodo atas kesediaan nya menerangkan kepada awam melalui artikel ini.
saya sendiri tidak mengerti darimana asal muasal yang mem blow up polemik puyer ini.
sedari kecil saya sendiri diberi terapi oleh dokter spesialis anak dalam sediaan puyer, sampai sekarang pun saya memberi terapi pasien anak, dengan puyer.
tolong karena ini topik ilmiah, kalau ingin berkomentar, berdasarkan jurnal ataupun riset terlebih dahulu. saya rasa dr.widodo yang berkompeten sebagai dokter anak, sudah cukup jelas menerangkan diatas..




Jumat, 13-03-2009 13:53:29 oleh: ekal

Mungkin diskusi di link ini bisa jg sbg pencerahan :
http://subhanallahu.multiply.com/journal/item/92/Kampanye_No_Puyer_Menyesatkan




Rabu, 08-04-2009 01:09:12 oleh: apitsuapit

kulonuwuun, saya hafizh.

Kalo saya yang orang awam ini ngikutin logika aja.... siapa sih yg paling bisa dipercaya dari perdebatan panjang ini? saya lihat dari banyak tulisan diatas bisa saya simpulkan:
1. Puyer dijadikan alat jitu banyak dokter utk "ber-polifarmasi" ria
2. Adanya fakta yg ditutupi atau diacuhkan spt oleh dr.Widodo, bahwa sediaan obat syrup/drops ternyata lebih murah, (merujuk fakta bahwa common colds cukup dibutuhkan paracetamol apabila perlu). Jadi untuk kasus common colds (yg memang sebagian besar sakit anak cuma ini-ini aja disamping diare)

Lalu saya menemukan artikel yg benar-benar mencerahkan sehingga saya sadar akan duduk permasalahan sebenarnya dari puyer. Unfortunately dr.Wid saya "terpaksa" lebih percaya dr Iwan Dwiprahastyo dibandingkan Anda, karena beliau ini ternyata bukan sekedar belajar kedokteran umum, tetapi kedokteran farmakologi juga, orangnya...... ya.... cuma guru besar UGM siiih... tapi saya pikir ini bisa menyimpulkan perdebatan panjang ini. Berikut copy-pastenya (monggo para kontributor setia utk di komentari:)
==========
Profesor Iwan: Perdebatan Puyer Mengarah ke Politis

Senin, 02 Maret 2009 | 08:20 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta: Ribut soal obat puyer, yang menurut pemberitaan
media massa, memiliki potensi bahaya, misalnya pemberian obat berlebih
(polifarmasi). Ikatan Dokter Indonesia beranggapan obat puyer tidak berbahaya.
Perbedaan pandangan ini menimbulkan kebingungan di masyarakat.

Kata guru besar farmakologi pada Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada,
Yogyakarta, Iwan Dwiprahasto, kontroversi puyer telah bergeser dari substansi ke
arah politis. "Menurut saya, yang perlu diperhatikan adalah masalah keamanan.
Ketika orang bicara masalah keselamatan pasien, puyer ini seharusnya tidak harus
menjadi isu lagi," ujar Ketua Umum Pengurus Besar Ikatan Farmakologi Indonesia
ini. Kepada reporter Heru C. Nugroho dan fotografer Arif Wibowo dari Tempo, Iwan
menjelaskan k




Rabu, 08-04-2009 01:14:53 oleh: apitsuapit

Iwan
menjelaskan kontroversi itu. Termasuk hasil penelitiannya tentang praktek
pembuatan puyer, yang menemukan 87 persen tidak memenuhi kaidah teknis. Berikut
ini petikannya.

Mengapa isu tentang bahaya puyer mengemuka saat ini?
Ada masalah substansi yang dilupakan orang. Orang hanya sekadar mengartikan
bahwa puyer itu sesuatu yang disajikan untuk alternatif dalam pemberian obat.
Kalau kita lihat ke belakang, ketika orang mulai mengenal obat, memproduksi
obat, nah, variasi tersedianya obat masih terbatas, (yakni) tablet polos
semuanya. Kemudian bingung, bagaimana sediaan untuk anak? Dosisnya kan tidak
ada. Maka kemudian dicampurkan, sehingga puyer nggak jadi masalah.

Dalam perjalanannya, obat itu jenisnya beragam. Ada yang tablet salut selaput,
ada salut gula, yang itu sama sekali nggak boleh dihancurkan saat diminum. Ia
harus dalam bentuk aslinya. Sebab, kalau dijadikan puyer, akan rusak. Yang
lainnya lagi, ada obat-obat yang dalam bentuk sediaan lepas-lambat. Artinya,
kalau diminum, ia tidak boleh diabsorbsi di lambung, harus lebih ke bawah lagi,
atau secara bertahap dilepaskan di dalam lambung. Kalau (obat ini) dipecah, akan
meningkatkan risiko efek samping pada pasien.

Jadi, kalau saya melihatnya dari aspek ilmiah, (isu bahaya puyer) ini sudah
bergeser dari masalah substansi ke masalah yang lebih ke arah politis. Artinya,
perdebatan membelok dari arah yang semestinya. Menurut saya, yang perlu
diperhatikan adalah masalah keamanan. Ketika orang bicara masalah keselamatan
pasien, puyer ini seharusnya tidak harus menjadi isu lagi.

Jadi puyer itu tidak ada masalah?
Bukan nggak ada masalah dengan puyer. Justru sekarang jadi masalah karena
sebetulnya sediaan obat untuk anak yang dibuat dengan proses fabrikasi, (yang)
steril dan sebagainya sudah cukup banyak tersedia. Kok, orang masih saja
menggunakan puyer. Jadi, singkatnya, pada era yang seperti ini, mestinya kita
sudah menggantikan cara-cara tradisional yang nggak jelas manfaatnya




Rabu, 08-04-2009 01:17:52 oleh: apitsuapit

dan
risikonya lebih besar dari aspek higienis dan sebagainya.

Kira-kira sejak 10 tahun lalu, saya sudah mendengung-dengungkan masalah
medication error, antara lain soal mencampur-campur obat. (Padahal) orang yang
meresepkan obat dalam bentuk puyer itu tidak mengerti sifat dari masing-masing
obat, sehingga berbahaya untuk pasien. Misalnya, obat A dan obat B yang
seharusnya dipisah. Yang A diminum pagi dan yang B seharusnya pada malam. Tapi
dengan diracik, lalu diminum pagi semua, akan meningkatkan risiko efek samping.
Nah, ini yang harusnya diluruskan.

Sebenarnya puyer itu apa? Adakah bahayanya?
Puyer, sejauh proses pembuatannya dengan cara-cara yang benar, nggak ada
masalah. Pertama, aspek teknis, harus dibuat di tempat yang bersih. Misalnya
dicampur di lumpang, maka setiap kali sesudah digunakan oleh satu pasien,
lumpang itu harus dibersihkan dengan cermat. Sebagian besar apotek, lumpangnya
hanya satu dan dipakai terus, nggak pernah dicuci.

Kedua, masalah kompetensi. Yang meracik obat itu biasanya asisten apoteker yang
punya keterbatasan dalam hal pengetahuan. Dia tidak diajari pengetahuan apakah
beberapa obat yang diberikan bersamaan itu bisa berbahaya bagi tubuh atau tidak.

Ketiga, masalah pengetahuan. Bisa pengetahuan dokternya, bisa pengetahuan
petugas apotek. Dokter meresepkan obat puyer, tujuannya meningkatkan ketaatan
pasien dalam meminum obat. Ternyata, dalam perkembangannya, dokter itu tidak
menyadari bahwa ada obat yang nggak boleh dicampur, ada sifat fisiko-kimiawi
yang tidak bisa bercampur.

Contohnya mencampurkan antibiotik dengan obat penurun demam. Ini kan
membahayakan si anak. Mengapa? Karena kontradiksi. Antibiotik harus diminum
terus-menerus sampai habis, sedangkan obat penurun panas diminum saat demam
saja. Bila obat dicampur, anak ini akan terpapar oleh obat yang nggak perlu. Ini
akan berisiko efek samping.




Rabu, 08-04-2009 01:20:27 oleh: apitsuapit

Lalu soal pengetahuan pharmacist (ahli farmasi). Seberapa banyak sih apotek yang
mencampurkan obat itu di bawah orang yang memang knowledgeable. Pharmacist itu
bertanggung jawab sepenuhnya kalau ia melihat ada obat yang nggak boleh
dicampur. Dia harus menghubungi dokter (yang meresepkan). Celakanya,
pharmacist-nya juga nggak tahu bahwa itu nggak boleh dicampur. Daripada
susah-susah menelepon dokter, apalagi dokternya marah kalau ditelepon, dia tidak
lakukan itu.

Tiga hal inilah yang, bagi saya, menjadi titik tolak mengapa saya mengatakan
bahwa kontroversi puyer ini sudah menyimpang dari substansi ke arah yang sedikit
dipolitisir. Kalau tiga hal ini dibenahi dulu, akan kita peroleh hasil yang
baik.

Artinya, kalau tiga aspek itu dipenuhi, puyer itu aman?
Aman. Tidak perlu ada rebut-ribut seperti saat ini. Masalahnya, siapa yang akan
memonitor bahwa peracikan obat itu sudah dilakukan dengan benar berdasar tiga
aspek itu?

Apa itu polifarmasi?
Polifarmasi itu definisinya adalah pemberian berbagai jenis obat untuk indikasi
yang meragukan bagi kita. Misalnya, seorang pasien datang dengan keluhan batuk,
pilek, demam, pusing dan pegal-pegal. Lalu, setiap gejala yang dikeluhkan diberi
obat sendiri-sendiri. Padahal mestinya diobati secukupnya saja. Tidak "ditembak"
satu per satu. Studinya banyak sekali yang menyebutkan, semakin banyak obat yang
diberikan, semakin besar risiko terjadinya efek samping.

Bagaimana praktek pemberian resep puyer yang banyak terjadi di Indonesia?
Kami pernah meneliti, 87 persen tidak sesuai dengan kaidah teknis. Semuanya
masih dengan cara tradisional, digerus, kemudian cara pembaginya juga salah.
Coba kalau kita lihat, cara pembaginya ya hanya dikerok dengan kertas dan
kemudian dibagi-bagi dalam beberapa bungkus. Antara satu bungkus dan bungkus
lainnya tentu dosisnya sudah berbeda.

Kalau aspek teknisnya saja sudah salah, saya mengatakan jangan pakai puyer kalau
apotek saja tidak bisa menjamin bisa mela




Rabu, 08-04-2009 01:23:03 oleh: apitsuapit

Mengapa dokter kerap meresepkan puyer, terutama untuk pasien anak?
Ini masalah ilmu tradisional. Mencampurkan obat menjadi puyer akan meningkatkan
ketaatan (meminum obat). Daripada harus berkali-kali minum, lebih praktis jika
sekali minum. Kedua, agar lebih cespleng (manjur).

Yang jelas, dengan puyer, zaman dulu, akan lebih murah karena jumlah obat yang
masih terbatas. Misalnya, parasetamol itu harganya kan hanya Rp 30, lalu
dicampur-campur dengan obat lain sehingga jadi murah. Tapi sekarang tidak lagi.
Banyak dokter yang memberi resep bukan dengan obat generik, tapi dengan brand
name drug (obat bermerek). Obat-obat yang mahal-mahal lalu dia campurkan, maka
jadinya puyer itu mahal.

Mengapa dokter anak tidak mengubah kebiasaan meresepkan puyer ini?
Saya juga nggak tahu. Saya kira ini nanti tugas organisasi profesi. Ikatan
Dokter Anak Indonesia mestinya mengambil inisiatif untuk melihat kembali apakah
praktek itu masih benar. Di tempat-tempat terpencil, misalnya, memang sulit
mendapatkan sediaan obat yang macam-macam. Jadi puyer mestinya masih bisa. Tapi
di kota besar seperti Jakarta, Yogyakarta, dan Surabaya, misalnya, kan apotek
sudah ada di mana-mana. Setiap 100 meter ada apotek, sediaan obat
bermacam-macam, maka tidak masuk akal kalau dokter itu meresepkan puyer.
Celakanya lagi, merugikan pasien. Untuk mengambil puyer itu kan harus menunggu
lama. Lebih banyak mudaratnya dibanding manfaatnya.

Apa benar dokter-dokter Bangladesh dan India sudah tidak lagi meresepkan puyer?
Yang saya lihat di India, enam atau tujuh tahun lalu, masih ada resep puyer,
tapi dilakukan oleh traditional healer, seperti dukun dan mantri-mantri di
pelosok. Bukan dokter. Tidak ada resep di apotek berupa campuran beberapa obat.
Apakah kita ini dokternya sekualitas mantri di India (tertawa)? Kecuali kalau
mau menurunkan kastanya.

Apa yang harus dilakukan pasien dan keluarganya saat menerima resep obat dari
dokter?
Pasien punya hak bertanya, hak minta dijelaska




Rabu, 08-04-2009 01:25:20 oleh: apitsuapit

Kalau, karena keterbatasan waktu, pasiennya banyak, jawabannya tidak enak,
misalnya, dan pasien tidak mendapat informasi yang cukup, dia bisa menanyakan
kepada apotek. Di apotek, harus ada pharmacist atau apoteker. Kalau apotek tidak
ada pharmacist, itu sama dengan toko obat karena tidak ada orang yang kompeten
atau bisa bertanggung jawab atas masalah-masalah yang berkaitan dengan obat.

Kalau perlu, minta klarifikasi. Misalnya puyer ini obatnya apa saja, tolong
jelaskan. Bolehkah obat ini dicampur-campur seperti ini. Pasien juga berhak
bertanya soal harga obat dan berhak meminta obat yang harganya lebih murah atau
obat generiknya. Kadang-kadang apotek memang menjawab hanya menjalankan perintah
dokter. Kalau apotek takut dikomplain dokternya, pasiennya kan bisa diminta
tanda tangan bahwa pasiennya minta obat yang lebih murah dan memang tersedia.
Daripada pasien tidak sembuh karena tidak bisa beli obatnya, lebih baik ada
alternatif lain. Itu hak pasien untuk bertanya sampai di level apotek.

Benarkah calon dokter mendapat pelajaran matakuliah farmakologi tentang meracik
puyer?
Farmakologi UGM sudah sejak lebih dari 10 tahun lalu tidak lagi mengajarkan ilmu
meracik obat. Yang kita ajarkan, ketika menggabungkan obat, harus paham betul
kondisinya seperti apa: darurat? Tidak ada sediaan obat yang ada di lapangan?
Itu bisa dilakukan untuk keadaan khusus.

Mereka belajar meracik obat dari dokter-dokter senior?
Betul sekali. Celakanya itu, dalam proses pendidikan kan harus melalui magang di
rumah sakit. Selama seniornya mempraktekkan meracik obat, dia merasa diajari
yang benar. Maka kemudian mengikuti seniornya. Memang harus pelan-pelan (untuk
menghilangkannya). Sekarang kita ikhlaskan kalau sekarang ini masih ada generasi
yang meresepkan puyer. Tapi ingat, tidak semua puyer itu salah. Bayangkan Anda
di Papua atau di daerah pedalaman yang ketersediaan obatnya sulit, puyer masih
menjadi pilihan yang baik. Inilah yang kita bekalkan kepada mahasisw




Rabu, 08-04-2009 01:30:59 oleh: apitsuapit

kepada mahasiswa, bukan
mengajarkan tentang mencampur obat. Pada saat dalam kondisi sulit, apa yang bisa
dilakukan. Inilah yang kita ajarkan.

Tentang PENULIS:
Iwan Dwiprahasto
Lahir : Surabaya, 8 April 1962
Status : Menikah (istri Adi Utarini, dengan seorang putri)
Pekerjaan: Guru besar ilmu farmakologi pada Fakultas Kedokteran Universitas
Gadjah Mada

Pendidikan:
Fakultas Kedokteran UGM (1987)
(Pharmacoepidemiology), Newcastle University, New South Wales, Australia (1992)
London School of Hygiene & Tropical Medicine, Inggris (2001)

Karier:
- Ketua Umum Pengurus Besar Ikatan Farmakologi Indonesia (2006-sekarang)
- Wakil Dekan Bidang Akademik dan Kemahasiswaan FK UGM (2004-2008)
- Ketua, Komite Pendidikan, Penelitian, dan Pengembangan RSUP Dr Sardjito
Yogyakarta (2004-2007)
- Board of Governor, International Clinical Epidemiology Network (2000-2007)

Sumber : Tempo




Rabu, 08-04-2009 12:17:11 oleh: Sandhy.ED

Mas Iwan, komentarnya bisa dijadiin artikel tersendiri tuh.. (tapi buat jadi berita terkait ke artikel ini... :))



Kamis, 08-03-2012 16:47:38 oleh: HENDRICK

dok saya mau bertanya,
bagai mana cara membagi pulvis secara manual?
saya sangat perlu dengan jawaban itu.
karena penting banget bagi saya.




Tambahkan komentar anda
* Nama lengkap:
* Email:
tidak ditampilkan untuk umum
  • Hal-hal yang perlu diperhatikan :
  • - Berilah komentar yang relevan dengan topik warta ini. Bacalah semua dari warta maupun komentar-komentar lain, sebelum memberi komentar.
  • - Tidak membuat komentar yang bernuansa SARA, pornografi, menyerang pribadi, menyebarkan kebencian dan kekerasan maupun pendapat yang melanggar hukum.
  • - Tidak beriklan di kolom komentar ini.
  • - Gunakan bahasa yang santun dan beri respek pada semua pendapat meskipun berbeda pendapat.
  • - Gunakan nama asli dan bila Anda sudah menjadi anggota Wikimu, upayakan login member terlebih dahulu. Bila belum menjadi anggota, email yang Anda cantumkan di kolom email, tidak akan dimunculkan.
* Komentar:  
captcha Silakan tulis kode disamping ini untuk melanjutkan.

PALING BERGUNA (bulan ini)

TERBANYAK DILIHAT (minggu ini)

TERBARU

50 TAG / LABEL TERPOPULER

 

Link Wikimu


Mau pasang link Wikimu di blog/situs Anda? copy link ini

TESTIMONI PRODUK

Minuman Sereal Baru ENERFILL

Jumat, 05-06-2009 18:04:42 oleh: Rina Linda

Bosan dengan yg biasa??? Minuman sereal ENERFILL, di setiap porsinya mengandung kombinasi 8 Vitamin, Protein, Kalsium & mineral lainnya yg dibutuhkan tubuh. Kombinasi rasa yg nikmat dengan sensasi baru BUTIRAN OATS PADAT di dalamnya bikin ENERFILL sebagai minuman penambah energi dengan kenikmatan rasa yang mudah tersaji. Cukup disajikan dgn 150 ml air panas ke dlam gelas, rasakan sensasi rasa baru coklat atau vanilla. ENERFILL, minuman penunda lapar yang lengkap, enak, lebih mengenyangkan & sehat untuk penambah energimu



Testimoniku:
Fajar Setyo Hartono: Minum Sereal Baru ENERFILL bila disajikan dalam minuman panas dalam gelas kita dapat merasakan sensasi rasa baru coklat atau vanila dan bisa menambah energi setelah minum .

Testimoni selengkapnya... (4 komentar)



Testimoniku Terbaru:
Sergio   pada  Pocari Sweat
David   pada  Momogi Snack
Latif Nur Hidayah   pada  Yakult...Bisa untuk Obat Diare??

SUARA KITA

Simpati Kirim SMS Iklan Seenaknya

Sabtu, 21-02-2009 12:22:33 oleh: Eko Nurhuda
Saya pengguna Simpati sejak pertama kali bisa beli hape di tahun 2002. Sampai sekarang saya masih setia dengan Simpati karena alasan coverage area. Namun belakangan ini kesetiaan saya terganggu karena Simpati suka seenaknya mengirim SMS berisi iklan layanan yang tidak saya butuhkan (dan sering!). Sungguh menyebalkan..!

Suaraku:
melfa: Saya memakai simpati dari thn 1993 waktu itu blm ada kartu hallo suafu saat saya miggrasi ke hallo sampai 2010 tiba2 diputus sama mereka tanpa alasa,saya mohon aktifkan nmr saya itu kembalia



Suara kita selengkapnya... (18 komentar)



Suara Kita Terbaru:
melfa   pada  Simpati Kirim SMS Iklan Seenaknya
gdwmnv   pada  Hutan Pantai Jakarta Dibangun Pemukiman
pjkhfge   pada  Hutan Pantai Jakarta Dibangun Pemukiman

DARI ADMIN

Rekan-rekan,

Wikimu juga mempunyai PUBLIC PROFILE di Facebook jika anda ingin menjadi Fans silahkan kunjungi kami. Jangan ketinggalan kami mempunyai lomba komentar di Public Profile setiap hari Senin dan Kamis. Nantikan terus artikel yang menjadi topik dalam lomba komentar.

Untuk pertanyaan dan masukkan, silahkan email ke

info@wikimu.com

salam,

21 April 2009

Admin.

Masukan, pertanyaan, kritikan terhadap kami silakan kirim email ke info@wikimu.com atau telp : 021-56165522 Senin-Jumat (08.00 - 17.00 WIB)
COPYRIGHT ©2006 WIKIMU.COM - Jurnalisme Publik (Citizen Journalism). All Rights Reserved | PRIVACY POLICY