Harian Kompas edisi Minggu, pernah memuat sejumlah artikel yang mengaitkan kewajiban berbusana seragam di sejumlah kantor dengan iklim kreativitas. Dikatakan, di kantor-kantor di mana kreativitas karyawan amat dipentingkan, kewajiban penggunaan seragam sesungguhnya merupakan sesuatu yang tidak pas, atau tidak nyambung dengan semangat kreativitas tersebut. Disebutkan juga, kegagalan penerapan seragam di kantor swasta tertentu.
Menurut saya, jika betul busana tidak ada kaitannya dengan kreativitas, maka seharusnya berseragam atau tidak berseragam juga tidak perlu lagi dipersoalkan. Perusahaan besar semacam Toyota di Jepang, misalnya, juga memberlakukan wajib seragam di pabrik-pabriknya. Apakah ini harus diartikan bahwa para karyawan Toyota tidak memiliki kreativitas? Atau, tidak ada iklim kreativitas di pabrik-pabrik Toyota?
Saya malah pernah membaca buku (sudah lupa judul dan pengarangnya), yang berkaitan dengan budaya seragam ini. Suatu ketika, Kaisar Jepang ingin melihat langsung proses produksi di pabrik Toyota. Kaisar meminta izin berkunjung ke pabrik. Dijawab oleh pimpinan Toyota bahwa Kaisar akan diterima baik jika berkunjung. Namun, pimpinan Toyota mensyaratkan, pada kunjungan Kaisar itu, jajaran pimpinan Toyota diizinkan menyambut Kaisar dengan semuanya berpakaian seragam pabrik!
Artinya, busana seragam itu tidak harus selalu diartikan sebagai simbol ketiadaan kreativitas, statis, atau hal-hal negatif lain. Ada kebanggaan profesi di sana, ada etos kerja, dan ada nilai-nilai tertentu pula yang coba dikomunikasikan. Jadi, budaya berseragam tidak perlu dipertentangkan dengan budaya non-berseragam. Masing-masing ada tempat dan porsinya.
Sekarang, soal penggunaan seragam di Trans TV, tempat saya bekerja sebagai contoh. Bagi saya, penggunaan seragam di Trans TV justru menunjukkan realitas sebenarnya, tentang hakikat hubungan industrial dan posisi karyawan sebagai buruh. Kita sadar sepenuhnya dan tidak menipu diri di balik sebutan "profesional," yang seolah-olah suatu dunia yang berbeda dengan buruh pabrik. Seorang jurnalis di Divisi News Trans TV adalah seorang profesional, dan sekaligus seorang buruh. Tidak perlu malu mengakui hal itu, karena memang itulah kenyataannya.
Televisi siaran adalah bagian dari industri yang sangat padat modal dan padat teknologi. Sebagai industri hiburan dan gaya hidup, televisi siaran juga menuntut iklim kreativitas yang tinggi, lewat persaingan program-program yang ditayangkan. Apalagi Trans TV menjalankan strategi sebanyak mungkin menggunakan program buatan sendiri (inhouseproduction), bukan sekadar membeli program dari rumah produksi (PH, production house), seperti yang biasa dilakukan stasiun-stasiun TV swasta lain.
Ketika roda produksi berputar keras, kebutuhan akan tenaga profesional (dalam arti punya keterampilan tinggi), kreatif , dan siap bekerja keras, juga semakin besar. Adalah wajar, jika jumlah karyawan Trans TV di bagian produksi dan News lebih besar dibandingkan di stasiun-stasiun TV lain, karena strategi bisnisnya memang berbeda jauh.
Dalam iklim semacam ini, fakta bahwa kita memproduksi begitu banyak program, dengan biaya yang begitu minimal (tingkat efisiensi yang sangat tinggi), memang sangat terasa bernuansa industrial. Menurut pandangan saya, pakaian seragam sangat pas mewakili latar belakang dunia industrial semacam itu. Kita adalah kaum profesional, yang juga buruh. ***