Seorang teman asli dan tumbuh di Jakarta. Sehari-hari dia mengemudi mobil sendiri karena hobi. Saking hobinya, keluar kotapun dia setir sendiri tanpa mau digantikan. Tapi anehnya ketika berlibur di Jogja, dia lebih suka sewa supir untuk mengantar keliling kota."Ngeri setir mobil di Jogja,"katanya.
Keluhan utama dia adalah perilaku pengendara motor di Jogja. Tiba-tiba nyelonong dari mulut gang, sehingga dia mesti berdegup-degup jantungnya. Padahal dia juga sehari-hari menghadapi tingkah para bikers di Jakarta.
Sejauh pengalamanku berkendara motor, di Jakarta dan Jogja sama-sama amburadulnya. Hanya saja memang ada kebiasaan-kebiasaan yang berbeda antar pengendara motor di 2 kota ini. Bahkan kalau dibandingkan pengalamanku bermotor di kota Semarang, harus diakui pengendara motor kota Lumpia ini sangat jauh lebih tertib berlalu lintas dibandingkan di kota Gudeg dan kota Kerak Telor.
Sama-sama amburadul, tapi kedua kota ini (Jakarta dan Jogja) punya kebiasaan yang berbeda. Inilah hasil pengamatanku :
Jogja :
- Bikers di kota ini punya masalah dengan leher, khususnya untuk menengok kanan. Kalau keluar dari gang, tanpa ba bi bu dan tidak lihat ke sebelah kanan, motor langsung dibelokkan ke kiri. Maka hati-hatilah bila Anda berkendara di lajur kiri, karena bisa jadi tiba-tiba muncul motor dari mulut gang.
- Jangan coba-coba beri klakson pada mereka. Walau jelas-jelas mereka salah, tapi kalau diklakson, tetep saja Anda yang akan dipelototin.
- Di kota ini, Anda mesti belajar body languange. Tanda sen kiri - kanan di motor AB banyak yang tidak berfungsi. Jadi jangan kaget kalau motor di depan Anda, tiba-tiba belok kanan atau kiri tanpa permisi. Cara yang mudah adalah perhatikan gerak kepala pengendara motor di depan Anda. Kalau sudah tengok-tengok kanan (atau kiri), berarti dia mau belok.
- Hati-hati di beberapa traffic light seperti di pertigaan Purna Budaya-UGM, jembatan layang (Jogja). Karena walau berkedip-kedip, lampu merah hijaunya, tapi pengendara di kota ini mengabaikannya. Kalau Anda berhenti, bisa-bisa tertabrak dari belakang.
- Kalau tertangkap polisi, di sini masih bisa diajak berwacana soal rambu-rambu yang tidak jelaslah, keburu-buru mau ujian, dll, masih ada kemungkinan Pak Polisi berwelas asih melepas Anda. Apalagi kalau Anda mahasiswa hukum, dan kebetulan sedikit tahu UU Lalu Lintas...
Jakarta
- Bermotor di kota ini, tidak boleh melewatkan satu celah sekecil apapun. Begitu ada sela di antara mobil / bis, pasti di-embat para bikers.
- Bikers di kota ini suka sekali dengan putar gas dan injak rem. Yang penting gertakannya dulu. Begitu ban depan sudah maju, pasti kendaraan lain akan rem. Begitu juga sebaliknya, kalau ada ban melintang di depan, Anda mesti injak rem.
- Tidak sabar dan suka bunyi-bunyian. Perhatikan kalau di traffic light, begitu menyala hijau - pasti langsung orkestra klakson bersahut-sahutan walaupun sebenarnya sia-sia saja karena antrean masih panjang.
- Motor di kota ini hanya mengalah pada bis umum / Metro Mini. Jangan terlalu lama di samping kiri Metro Mini, karena si Merah ini bisa tiba-tiba berhenti ke arah kiri plus sumpah serapah dari kondektur.
- Walau kota ini panas, tapi sebaiknya kenakan helm tertutup, penutup mulut, sarung tangan, jaket, dll, karena asap knalpot di sini begitu berlimpah ruah.
- Tertangkap polisi? Di sini lebih terbuka, langsung aja bilang damai Pak, berapa? Tidak usah pake ngotot-ngotot karena pasti sia-sia, kecuali Anda punya banyak bintang di bahu.
Ada lagi yang mau nambahkan?
Lalu di mana bermotor yang paling asyik? Menurutku paling enak naik motor adalah di Klaten. Sudah jalannya lebar, sepi, dan masih banyak sawah di kanan kiri. Bisa tiba-tiba berhenti tanpa takut tertabrak, hanya untuk sekedar merendam kaki di air irigrasi yang bening.
Sumber : Orisinil