Yunus Bani Sadar

Belah Kelapa, Belah Duren...Belah Apalagi?

Senin, 01-12-2008 09:38:27 oleh: Yunus Bani Sadar
Kanal: Gaya Hidup

Belah Kelapa, Belah Duren...Belah Apalagi?

Akhir November 2008 saya tandai dengan mengadakan acara tingkepan atau syukuran memperingati usia kehamilan istri tercinta yang memasuki bulan ke 7. Menurut orang tua, syukuran ini perlu dilakukan untuk mendoakan sang ibu dan bayi agar senantiasa lancar dalam melahirkan nanti.

Sejumlah persiapan sudah dilakukan sehari sebelumnya. Sabtu pagi di rumah saya sudah berbunyi kelontangan dan aneka aroma masakan dari ibu-ibu tetangga yang berkumpul di rumah saya.

Masakannya macam-macam, ada semur daging, sayur buncis asam manis, bihun dan mie goreng, soto ayam, hingga jajanan pasar dan buah-buahan. Tak lupa bertumpuk pula dus-dus kosong yang rencananya akan diisi nasi bungkus untuk dibawa pulang.

Hari minggu pagi, aktivitas mulai meningkat. Sejak usai subuh, suasana rumah kembali ramai. Kali ini persiapan membuat rujak 7 macam. Kata orang tua, ini tradisi. Pagi-pagi pula saya dan istri berburu jajanan pasar di pasar pagi Melawai. Menuju pulang, kami masih kekurangan 1 bahan rujak, yaitu jeruk Bali.

Saya tanya istri saya, memangnya jeruk lainnya gak bisa? Atau diganti melon,gitu? Dia menjawab, ya gak bisa lah, itu kan buat bahan membuat rujak, bukan sekedar buah yang dimakan dengan bumbu rujak.

Saya tanya lagi istri saya, memangnya kalau cuman 6 macam nggak sah ya? Dia menjawab, itu tradisi. Jadi harus ada jeruk Balinya. Kali ini saya balas jawaban istri saya : mo sampe ujungnya pulau Bali juga gak akan dapat jeruk Bali, wong itu jeruk musiman, dan sekarang sedang tidak musim. Meskipun, saya sadar bahwa jawaban saya ini sok tau karena saya juga baru sekali ke Bali, dan tidak pernah tau apakah di Bali saat ini ada jeruk Bali atau tidak.

Akhirnya kami kembali ke rumah tanpa berhasil mencari jeruk Bali. Yang ada justru anggur Bali. Dan saya pun bertanya-tanya sendiri, kenapa tradisi yang berasal dari Jawa ini justru menggunakan buah-buahan dari Bali?

Sebelum acara dimulai, seorang tetangga bertanya pada saya, Kelapanya udah ada? Saya pun bingung, kelapa apaan? Tak berapa lama saya mulai menyadari, tradisi lagi-lagi berkuasa atas konsep acara. Tradisi lama yang mensyaratkan bahwa acara tingkepan anak pertama harus diikuti dengan acara belah kelapa muda.

Setelah menghabiskan beberapa puluh menit mencari kelapa muda yang sangat muda, acara pun dimulai. Ibu-ibu pengajian yang memenuhi bagian dalam rumah terdengar serius dan syahdu melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur'an. Sementara, saya dan beberapa tamu pria duduk di depan mendengarkan. Beberapa saat kemudian, ibu saya keluar sambil membawa kelapa muda tadi dan mengatakan, ini nanti kelapanya dibelah waktu kalimat "Amien" pertama sudah diucapkan. Belum berhenti kebingungan saya, seorang tetangga pria menambahkan, kalau membelah kelapanya harus dalam satu kali ayunan parang. Tidak boleh lebih dari sekali, dan harus terbelah.

Panik akan hal baru yang jarang pula saya temui selama saya tinggal di Jawa, saya pun bertanya. Memangnya kalau sekali parang diayunkan kelapa tidak terbelah, lalu apa yang akan terjadi? Jawab mereka : nggak boleh. Harus satu kali ayun dan harus terbelah, soalnya ini anak pertama. Batin saya bertanya lagi (karena pertanyaan kedua ini tidak sopan ditanyakan ke mereka), jadi kalau acaranya tingkepan anak yang ke 11 kelapanya harus diayun 11 kali?

Sementara untuk aturan setelah "Amien" pertama, saya malah lebih bingung lagi mengingat sudah puluhan kata Amien terucap namun komando untuk membelah tak kunjung datang. Setelah menunggu dengan resah (bukan karena belah kelapa, tapi karena cuaca panas), akhirnya perintah membelah pun keluar. Dan dengan mengucap Bismillahirrohmaanirrohiim, Kelapa muda kecil itu pun terbelah dengan sukses hanya dalam satu kali ayunan.

Belah kelapa kali ini seakan melanjutkan tradisi simbolik sebelumnya yang saya lakukan 11 bulan silam, yaitu "belah duren". Dan setelah kelapa, buah apalagi yang harus saya belah atas nama tradisi ?


Yunus B.S

Bookmark and Share

Tag/Label gaya hidup, tradisi, yunus, tingkepan, kehidupan
Penilaian anda

Warta terkait
Kirim ke Teman
* Email Teman:
Pisahkan tiap email dengan titik koma.
Contoh: bill@microsoft.com; steve@apple.com
* Email anda:
21 komentar pada warta ini
Senin, 01-12-2008 12:19:09 oleh: Meidy

Biasanya jeruk Bali ada di toko buah Al Fresh atau Total.
Jadi penggantinya apa ??

Rujaknya rasanya gimana asin atau manis ? Katanya itu untuk penunjuk yang bakal lahir anak itu laki atau perempuan.

Yang paling akhir : Kok gak ngundang ?? Hm hm hm biar bisa ikutan teriak... 'belum pantes...dan akhirnya pantes' waktu sang calon ibu berganti-ganti kebaya.. (Saya waktu pertama kali hadir acara nujuh bulanan... dalam hati... ini mah KKN... soalnya sebelum acara gonta-ganti hadirin udah diwanti-wanti ama MC supaya kata 'pantes' pada kebaya ketujuh)




Senin, 01-12-2008 13:34:41 oleh: Agus Mardhika

Alhamdulillah saya tidak pernah mau tuh "dibudakin" sama tradisi/kebudayaa, dari upacara pernikahan, waktu istri hamil 7 bulan, mengubur "benda-benda aneh" bersama ari-ari bayi, saya tidak mengadakan sukuran/ritual apa-apa,..

untungnya istri dan keluarganya pun memaklumi alasan saya,

bukankah tidak ada tuntunannya dari Nabi..?? dan alhamdulillah kami sekeluarga dalam keadaan sehat wal'afiat..





Senin, 01-12-2008 13:36:21 oleh: Yunus Bani Sadar

Waduh, bu...saya mah gak pake kebaya-kebayaan...cuman pengajian aja...kalaupun pada kenyataannya ada ritual-ritual aneh kayak gini itu hanya sekedar menuruti keinginan mertua...hehehehhe..

Rasa rujaknya? wah, saya gak tau bu...soalnya saya gak makan rujaknya...hehehehe..tapi, informasi dari USG dokter mengatakan cowok...lebih percaya mana, bu? :)

Untuk undangan : mohon maaf, karena di rumah juga hanya mengundang ibu-ibu tetangga... :)




Senin, 01-12-2008 13:42:28 oleh: Yunus Bani Sadar

Mas Agus, saya sendiri termasuk orang yang paling tidak suka dengan tradisi yang sifatnya simbolik atau tidak dapat dicerna manfaatnya...

Saya malah berpikir, apakah Abu Bakar yang sahabat Rasul dulu memperingati 7 bulanannya Siti Aisyah ? hehehehe....

Saya hanya mencoba berkompromi dengan generasi orang tua saya...:)




Selasa, 02-12-2008 08:42:58 oleh: Wendie Razif Soetikno,S.Si,MDM

Rupanya kalian semua tidak melihat acara akbar : INDONESIAN - JAPAN INTERNATIONAL EXPO 2008 yang diselenggarakan di PRJ Kemayoran pada tanggal 1-9 November 2008 - yang dihadiri oleh ribuan orang dan dibuka oleh Presiden SBY tanggal 1 November 2008 yang lalu. Disana kita telah melihat tradisi dan adat adiluhung bangsa Jepang yang selalu dijaga kemurniannya dan kelestariannya. Bukan hanya merangkai bunga (ikebana) atau kulinernya (sushi, shabu-shabu dll) tapi juga kebudayaannya (kabuki, mango dll), bahkan komputernya pakai huruf kanji. Hanya bangsa yang besar yang tahu menghargai adat dan tradisinya-kalau tidak, bangsa itu akan punah (lihat dinasti Firaun di Mesir dan dinasti Mongol (pasca Khubilai Khan-semuanya lenyap). Contoh lain adalah Upacara pembukaan Olimpiade Beijing 2008 yang super megah, dimana diperagakan perjalanan sejarah dan tradisi bangsa Tionghoa selama 3000 tahun (bagi yang tidak menyaksikan siaran langsung TV pada saat itu (tepat tanggal 8 bulan delapan pukul 08 lewat 8 menit 8 detik (pk. 08.88) di tahun 2008), masih dapat mengunduhnya di YouTube. Mereka tidak malu dengan tradisi dan adatnya, bahkan mengekspornya ke manca negara. Dalam krisis global ini, semua negara sekarang berpaling ke Cina (bukan ke Timur Tengah, meskipun mereka kaya minyak)
Bagi mereka yang tidak sempat melihat Indonesia-Japan International Expo di PRJ itu, dapat datang ke Bentara Budaya Kompas, Jl. Palmerah Selatan - untuk melihat pementasan Kabuki tanggal 4-5 Desember 2008 - yang nonton Kabuki atau makan sushi (yang super mahal itu) atau main catur Jepang (igo) itu bukan orang-orang kelas kacangan lho -nah lho,kemana wayang kita yang telah diakui sebagai warisan dunia (world heritage) oleh UNESCO? - Hanya bangsa yang besar yang tahu menghargai adat dan tradisinya,atau punah. Mungkin sudah masanya bangsa kita yang hanya pandai berhutang ini dan terus dilanda krisis dan bencana alam ini ...punah, lha wong mau pakai kebaya aja katanya ribet, padahal pakai kimono lebih rumit




Selasa, 02-12-2008 09:04:22 oleh: yogi

Tradisi itu asyiik tauuk..
Seru..
Jadi ada acara.
Kalo nggak kan ya gitu2 aja, seringnya malah jadi nggak ada kenangan (wlw bisa cara lain, tapi cara ini kan seru jugak..)

Ada quote kira2 kayak gini:
"Saya nggak percaya takhayul, tapi kalo ngikutin hidup bisa lebih seru!"
(Lupa kalimat bahasa aslinya..)

Misalnya ya itu acara 7 bulanan, prosesi sebelum nikah.. Jadi berasa panjang dan memorable.
Coba kalo cuma tanda tangan catatan sipil, mana berkesaaaan..

Orang2 yang nggak suka sampai ke level jengkel sama tradisi, biasanya nggak harmonis sama keluarga, atau kemungkinan besar paling2 cuma malu/gengsi yang nggak penting!


Hayoooo ngakuuu..




Selasa, 02-12-2008 18:12:36 oleh: Afrizal

Kalau tradisi itu tidak membuat saya kelaparan esok hari sih gak masalah...banyak kok tradisi yang bisa dipertahankan...tapi percaya pada sebuah ritual simbolik yang mengatas namakan tradisi saya anggap nyaris syirik...Sekarang saya tanya, makna belah kelapa itu apa? makna pakai kebaya sampai 7 lapis itu apa? iya kalau dia punya uang atau kebayanya memang banyak...kalau tidak, apakah dia bisa dianggap melupakan budaya?

Bangsa ini terlalu banyak menggunakan simbol-simbol yang tidak penting dan cenderung tidak masuk akal...

belah kelapa + kebaya 7 lapis
acara bayi turun tanah pake dikerangkeng di tudung buat ayam...
pecah telor dan siraman untuk pernikahan...

dan masih banyak lagi yang sering menghamburkan uang.

untuk membuat acara yang berkesan juga tidak harus ikut-ikutan jaman raja, wong kita ini bukan raja, duit juga belum tentu punya...

Lebih baik mempertahankan budaya itu yang esensial, seperti menghormati yang lebih tua, bicara sopan, empatik pada sesama manusia, saling tolong-menolong...




Selasa, 02-12-2008 18:17:17 oleh: Afrizal

@ Wendie Razif Soetikno,S.Si,MDM

Anda itu berkomentar atau promosi Bentara Budaya sih?

Wayang kita masih eksis kok...liat aja di kampung2 masih banyak..dan karya batik kita malah dibajak saking bagusnya...

Emang anda pernah tau rasanya pakai kebaya? orang Jepang sekarang juga pake kimono dalam momen tertentu kan, gak tiap hari? kita juga kan?




Rabu, 03-12-2008 08:26:28 oleh: Wendie Razif Soetikno,S.Si,MDM

Afrizal (pk 18:12:36) ..makna simbol-simbol dalam adat dan tradisi Jawa BUKAN SYIRIK ..tolong baca buku Monestism and Pantheism in Javanese Culture (terbitan Univ. Leiden karya Prof Zoetmoleder, guru besar UGM) ..sayang ya, kalau kita mau memperdalam kebudayaan kita, kita harus belajar ke Univ. Leiden atau Univ. Cornell ..bandingkan dengan Cina dan Jepang yang terus menjaga adat dan budayanya, termasuk komputernya pakai huruf khas mereka (nggak seperti kita, huruf lokal punah)

Afrizal (pk 18:17:17).... baca dong tulisan saya dgn teliti!! Indonesia Japan International Expo 2008 yang pengunjungnya puluhan ribu orang itu, tidak diadakan di Bentara Budaya ..Yang saya bilang di bBentara Budaya tgl 4-5 Desember 2008 itu pementasan Kabuki..agar mereka yang tidak sempat nonton Ind-Jpn Inter. Expo di PRJ itu tetap bisa menikmati kebesaran adat dan budaya Jepang yang terus mereka jaga ribuan tahun..Lalu anda bilang "Wayang kita masih eksis kok .. liat aja di KAMPUNG2 masih banyak" . . eksisnya seperti apa kalau di kampung2 ?? Satu-satunya Jurusan yang mempelajari adat dan budaya daerah adalah Jurusan Sastra dan Budaya Jawa di UNS - Solo, peminatnya tiap tahun tidak lebih dari 6 orang dan disupport oleh Freeport (USA),Astra (Jepang),Mobil Oil (USA)..tanpa mereka, Jurusan ini sudah lama ditutup..lalu belajar adat dan budaya daerah lain dimana?? Tunggu punah??... Yang dipersoalkan bukan pakai kebayanya, tapi penghargaan pada adat dan tradisi .. Hadist : "BELAJARLAH SAMPAI KE NEGERI CINA" -termasuk cara mereka menjaga adat dan tradisinya

Eh, tgl 17-24 Desember 2008 ada festival Barongsay Internasional di Mangga Dua Square ... barongsay yang bermain di tiang-tiang tinggi itu lho ..perlu kungfu dan seni yang tinggi

MENJADI KRISTEN TIDAK BERARTI KEBARATAN-BARATAN DAN MENJADI MUSLIM TIDAK HARUS BERARTI KEARAB-ARABAN - BE YOURSELF !!..Oh ya ada dokumentasi di USAID, tentang acara nujuh bulanan Mrs. Paul Wolfowitz (Dubes USA di RI-sekarang Presiden World B




Jumat, 12-12-2008 22:23:33 oleh: Samh

aturan yang di berikan Alloh swt melalui Rasul-Nya Muhammad SAW harus kita taai, kalo memang tradisi tidak sesuai dengan aturan ya harus di tinggalkan. lha kita ini hidup dengan agama yang di anut mo ngikutin aturan manusia apa aturan Alloh swt?

lha emang sekarang masih ada ta artis2 beken yang suka pake kebaya dalam kehidupan sehari2? gengsi dunk! hahahha

memang acara tingkeban dan sejenisnya lebih banyak mudhorotnya ketimbang manfaatnya. ga masalah bagiyang duitnya tinggal keruk, lha kalo yang duitnya cuma cukup buat makan sehari, apa iya di paksakan untuk utang,lha ntar utangnya bayar pake apa? Alloh swt sang pencipta aja memberikan aturan yang tidak memberatkan,lha ini atas nama tradisi malah bikin bunuh diri aja...




Jumat, 12-12-2008 22:26:42 oleh: Samh

maaf, ada beberapa kata yang kekurangan huruf di atas ...

Taai seharusnya Taati




Sabtu, 13-12-2008 00:53:22 oleh: Mayan

bicara soal makna dari simbol tradisi itu bicara dalam dengan bicara wilayah budaya.Dengan demikian ya pahami budayanya baru paham simbolnya. Maka nasihat carilah " ilmu sampai ke negeri Cina", itupun mesti kita pahami makna kalimat berdasarkan konteks dan budaya masa itu.Yang asli, meskipun tradisi, tidak identik dengan tradisional lalu lebih rendah dari yang kontemporer. Bahkan kearifan lokal untuk banyak hal memberi manfaat dibanding yang mengklaim dengan simbol-sombol modern, contoh bagaimana mengelola keseimbangan lingkungan, dsb.Tapi saya tidak anti modernisasi lho.



Sabtu, 13-12-2008 00:55:35 oleh: Mayan

koreksi kalimat pertama ;.........bicara dalam dengan bicara wilayah budaya.
seharusnya;........bicara dalam wilayah budaya.




Minggu, 14-12-2008 22:05:45 oleh: Kaleb

Maaf, saya pengen koleksi model gambar atau foto pohon natal dan ornamen natal. bagaimana caranya saya bisa dapat ?



Selasa, 16-12-2008 08:45:07 oleh: Wendie Razif Soetikno,S.Si,MDM

Untuk Samh (Jumat 12-12-2008): Pernahkah anda merenungkan, kenapa Allah SWT tidak membuat manusia itu seragam saja, semua menurut agama, budaya dan tradisi Arab. Tanya kenapa??? Lalu kenapa bangsa-bangsa yang besar seperti Cina, Jepang dan India itu tetap eksis di jaman modern ini. Coba buka Hadist : BELAJARLAH SAMPAI KE NEGERI CINA.
JANGAN MELAWAN TAKDIR - KITA DILAHIRKAN SEBAGAI BAGIAN DARI SUKU DAN TRADISI TERTENTU - BE YOURSELF !!!




Selasa, 16-12-2008 10:38:53 oleh: Malik Kaffa

Beberapa orang Indonesia saat ini memang sedang mengalami kebingungan budaya. Tradisi yang mengakar pada budaya tanah air seakan ingin diberangus digantikan oleh budaya Barat dan budaya Arabik.

Hal ini terjadi karena pemahaman tentang modernitas dan agama baru sebatas busana sehingga banyak muslim merasa baru dianggap muslim jika menolak budaya setempat dan menggantikannya dengan budaya Arab. Di kalangan anak muda, model budaya barat yang mungkin saja di tempat asalnya mulai ditinggalkan justru dicaplok begitu saja.

Dilema ini juga terjadi pada penulis yang merasa budaya ibunya harus ditinggalkan agar terlihat "lebih muslim" tapi upayanya baru sebatas "mengerutu" lewat tulisan tanpa punya nyali untuk menolak tradisi Jawa itu.

Komentar-komentar yang muncul pun akhirnya lebih mengarah kepada hal yang sama yaitu demi terlihat "lebih muslim". Jadi bangimanapun usaha Sdr. Wendie Razif Soetikno,S.Si,MDM menjelaskan pentingnya tradisi budaya bagi sebuah bangsa akan sia-sia karena identitas budaya sebagian masyarakat saat ini berada dalam kebingungan.

Maunya menjadi "lebih muslim" malah jadi indonebia (indonesia-arabia)




Kamis, 18-12-2008 22:17:47 oleh: Wendie Razif Soetikno,S.Si,MDM

Saya sangat setuju dengan Bung Malik Kaffa.
Keprihatinan saya cuma satu, kenapa ya, banyak orang tidak melihat Upacara Pembukaan Olimpiade Beijing 2008 yang super megah itu, yang menunjukkan perjalanan sejarah, budaya dan tradisi Cina selama lebih dari 3000 tahun - Bagi pembaca yang tidak sempat menyaksikannya, sebenarnya dapat mengunduh di YouTube.
Pertanyaannya : Kenapa mereka tetap eksis dan besar sampai sekarang ... Budaya dan tradisinya dijaga (mereka tidak malu dengan sejarah, budaya dan tradisi Cinanya)....Untuk apa Allah SWT menciptakan bangsa Cina??? Hadist : BELAJARLAH SAMPAI KE NEGERI CINA ... Tanya kenapa???? Di Jaman Soeharto, orang Cina ditekan-tekan, sampai harus ganti nama segala, tapi budaya dan tradisinya, bahkan kulinernya tetap eksis. Sedangkan budaya dan tradisi kita, tanpa ditekan-tekan, akan punah dengan sendirinya ... Bukankah hal itu melawan takdir kita yang dilahirkan sebagai orang Indonesia dan ingin berubah menjadi orang Barat atau ingin berubah menjadi orang Arab??




Senin, 22-12-2008 18:54:21 oleh: Lany Rh

Salut dengan Mas Yunus, sekalipun alasannya adalah berkompromi dengan mertua, tapi tetap ada upaya 'melestarikan budaya'.
Untuk urusan nilai apa di belakang belah duren, atau ganti-ganti kebaya, dan lainnya.. mungkin memang perlu 'penelitian'. Saya sendiri dari keluarga yang sudah campur latar belakang suku, jadi tidak punya kebiasaan yang berhubung dengan adat. Dan parahnya lagi, saya tidak tahu mesti tanya pada siapa kalau ingin tahu nilai dari salah satu aktivitas budaya yang ada di lingkungan saya. Ya misalnya seperti 'belah-belahan' yang dilakukan Mas Yunus itu.
Ada lagi keprihatinan saya. Sekarang saya tinggal di Papua, yang menurut penelitian punya setidaknya 250 bahasa daerah. Tapi saya menemukan, sangat sedikit generasi seumur saya, apalagi di bawah saya bisa berbahasa daerah/sukunya masing-masing, bahkan mengerti secara pasifpun tidak.
Jika budaya adalah cara hidup, apakah belajar tentang 'budaya asal kita' bertentangan dengan 'menjadikan ajaran agama sebagai budaya'?




Selasa, 23-12-2008 10:21:09 oleh: Haqqi

Itulah orang sekarang... sok pinter sok tahu ... tidak hormat tradisi ... berkiblat ke barat. inginnya serba praktis ...serba instant ....

Hikmah yang kita bisa peroleh adalah nilai falsafah , Kehati-hatian, ketulusan sang bapak, kesungguhan Doa , peringatan buat kita bahwa anak adalah titipan Allah SWT. Dan semua sikap kita kepada anugrah yang di titipkan Sang Khalik kepada kita.

Itulah tata krama orang dulu budaya kita dahulu .
jangan bilang itu bid'ah atau semacamnya kalo anda saja sewaktu mau "naik" istri tidak baca doa , bahkan mbaca bismillah aja lupa .

Itulah namanya hidup dengan keragaman falsafah dan budaya . tidak seperti sekarang orang nggak berbudaya dan nggak punya pegangan falsafah hidup.

jangan mencemooh budaya, jika nggak mau pake tinggal bilang , "SAYA TIDAK MAU PAKAI."

Kiayi angin.




Rabu, 31-12-2008 13:08:26 oleh: Wendie Razif Soetikno,S.Si,MDM

Yang jadi masalah BUKAN SEKEDAR MENCEMOOH BUDAYA atau TIDAK MENGHORMATI TRADISI, tapi lebih serius dari itu, yaitu mengingkari TAKDIR dan KODRAT kita. Kita sudah digariskan oleh Allah SWT untuk dilahirkan dalam suku bangsa tertentu. Jadi kita harus hidup menurut adat, budaya dan tradisi suku kita... karena memang Allah tidak bermaksud membuat kita semuanya seragam. Jika kita malu dengan adat, budaya dan tradisi kita, maka hal itu sudah mengingkari warisan nenek moyang kita. Jangan-jangan kita juga malu punya orang tua yang "katrok" ... lalu ingin menggantinya dengan menjadi seolah-olah kita adalah keturunan Raja Abdullah dari Saudi Arabia atau menjadi anak Obama dari Amrik ... itu dosa besar!!! Durhaka.
Ada Hadist : Belajarlah sampai ke negeri Cina ... yang terbukti mampu menjaga adat, budaya dan tradisinya selama ribuan tahun .... orang Cina bangga dengan aksaranya (huruf dan abjadnya) ... kita ??? Mana aksara Jawa kita?? Orang Cina juga bangga dengan kulinernya dan filosofi hidupnya (Tao atau Confusianisme), sedangkan filosofi hidup asli di negeri kita dianggap syirik... tanya untuk apa ada Hadist yang cukup populer itu??




Jumat, 02-01-2009 13:01:53 oleh: Dendy B. Sulistyo

menurut saya, agama tidak sama dengan tradisi atau budaya, begitu juga agama tidak perlu dipertentangkan dengan tradisi atau budaya.

apakah rasional membandingkan tradisi kejawaan ini ( seperti peringatan 7 bulan, potong kelapa, bikin tumpeng) dengan tuntunan agama ? tradisi kejawaan ya dibandingkan dengan kebalian, kekalimantanan atau keminangkabauan dll.. bukan dengan ajaran agama..

membandingan tradisi dengan tuntunan agama bukankan ibarat membandingkan berapa centimeterkah satu kilogram itu ? sampe kiamat juga tidak akan ketemu :)

kita sudah diberi akal, jadi pasti kita lebih bisa membedakan mana sirik mana mengikuti tradisi. tradisi bisa dan boleh dilestarikan siapa saja, kapan saja. tidak pun saya rasa tidak apa apa..tergantung kepada kesempatan dan kemampuan..

peace!




Tambahkan komentar anda
* Nama lengkap:
* Email:
tidak ditampilkan untuk umum
  • Hal-hal yang perlu diperhatikan :
  • - Berilah komentar yang relevan dengan topik warta ini. Bacalah semua dari warta maupun komentar-komentar lain, sebelum memberi komentar.
  • - Tidak membuat komentar yang bernuansa SARA, pornografi, menyerang pribadi, menyebarkan kebencian dan kekerasan maupun pendapat yang melanggar hukum.
  • - Tidak beriklan di kolom komentar ini.
  • - Gunakan bahasa yang santun dan beri respek pada semua pendapat meskipun berbeda pendapat.
  • - Gunakan nama asli dan bila Anda sudah menjadi anggota Wikimu, upayakan login member terlebih dahulu. Bila belum menjadi anggota, email yang Anda cantumkan di kolom email, tidak akan dimunculkan.
* Komentar:  
captcha Silakan tulis kode disamping ini untuk melanjutkan.

PALING BERGUNA (bulan ini)

TERBANYAK DILIHAT (minggu ini)

TERBARU

50 TAG / LABEL TERPOPULER

 

Link Wikimu


Mau pasang link Wikimu di blog/situs Anda? copy link ini

TESTIMONI PRODUK

Minuman Sereal Baru ENERFILL

Jumat, 05-06-2009 18:04:42 oleh: Rina Linda

Bosan dengan yg biasa??? Minuman sereal ENERFILL, di setiap porsinya mengandung kombinasi 8 Vitamin, Protein, Kalsium & mineral lainnya yg dibutuhkan tubuh. Kombinasi rasa yg nikmat dengan sensasi baru BUTIRAN OATS PADAT di dalamnya bikin ENERFILL sebagai minuman penambah energi dengan kenikmatan rasa yang mudah tersaji. Cukup disajikan dgn 150 ml air panas ke dlam gelas, rasakan sensasi rasa baru coklat atau vanilla. ENERFILL, minuman penunda lapar yang lengkap, enak, lebih mengenyangkan & sehat untuk penambah energimu



Testimoniku:
Fajar Setyo Hartono: Minum Sereal Baru ENERFILL bila disajikan dalam minuman panas dalam gelas kita dapat merasakan sensasi rasa baru coklat atau vanila dan bisa menambah energi setelah minum .

Testimoni selengkapnya... (4 komentar)



Testimoniku Terbaru:
Sergio   pada  Pocari Sweat
David   pada  Momogi Snack
Latif Nur Hidayah   pada  Yakult...Bisa untuk Obat Diare??

SUARA KITA

Simpati Kirim SMS Iklan Seenaknya

Sabtu, 21-02-2009 12:22:33 oleh: Eko Nurhuda
Saya pengguna Simpati sejak pertama kali bisa beli hape di tahun 2002. Sampai sekarang saya masih setia dengan Simpati karena alasan coverage area. Namun belakangan ini kesetiaan saya terganggu karena Simpati suka seenaknya mengirim SMS berisi iklan layanan yang tidak saya butuhkan (dan sering!). Sungguh menyebalkan..!

Suaraku:
melfa: Saya memakai simpati dari thn 1993 waktu itu blm ada kartu hallo suafu saat saya miggrasi ke hallo sampai 2010 tiba2 diputus sama mereka tanpa alasa,saya mohon aktifkan nmr saya itu kembalia



Suara kita selengkapnya... (18 komentar)



Suara Kita Terbaru:
melfa   pada  Simpati Kirim SMS Iklan Seenaknya
gdwmnv   pada  Hutan Pantai Jakarta Dibangun Pemukiman
pjkhfge   pada  Hutan Pantai Jakarta Dibangun Pemukiman

DARI ADMIN

Rekan-rekan,

Wikimu juga mempunyai PUBLIC PROFILE di Facebook jika anda ingin menjadi Fans silahkan kunjungi kami. Jangan ketinggalan kami mempunyai lomba komentar di Public Profile setiap hari Senin dan Kamis. Nantikan terus artikel yang menjadi topik dalam lomba komentar.

Untuk pertanyaan dan masukkan, silahkan email ke

info@wikimu.com

salam,

21 April 2009

Admin.

Masukan, pertanyaan, kritikan terhadap kami silakan kirim email ke info@wikimu.com atau telp : 021-56165522 Senin-Jumat (08.00 - 17.00 WIB)
COPYRIGHT ©2006 WIKIMU.COM - Jurnalisme Publik (Citizen Journalism). All Rights Reserved | PRIVACY POLICY