Berthold Sinaulan

Prangko Indonesia Tak Diakui di Kantor Pos Indonesia

Rabu, 26-11-2008 14:45:26 oleh: Berthold Sinaulan
Kanal: Layanan Publik

Prangko Indonesia sudah tak diakui lagi di Kantor Pos di Indonesia sendiri. Itu artinya, prangko Indonesia sudah mati dan tak berguna lagi, demikian diucapkan dengan agak menggerutu oleh seorang teman yang saya temui di Jakarta, Selasa (25/11) petang.

Sebelumnya, di hari yang sama, sebuah pesan layan singkat (SMS) masuk ke telepon seluler saya. Isinya, "Selamat pagi Pak, mau bagi info kalau sekarang positip sdh diberlakukan aturan baru kiriman registered luar negeri tdk boleh pakai prangko lagi tapi harus bayar tunai. Loketnya digabung dng loket EMS. Berita suram untuk filateli."

Masih di hari yang sama, pada pukul 11.00 sampai 14.00 WIB, saya menghadiri rapat Perkumpulan Filatelis Indonesia yang baru saja sukses menyelenggarakan Pameran Filateli tingkat Asia-Pasifik "Jakarta 2008". Pada rapat itu, saya semakin jelas mengetahui isi SMS yang sebelumnya saya terima.

Seorang filatelis mengatakan, "Prangko Indonesia udah nggak laku lagi di Kantor Pos Lapangan Banteng, Pak."

Langsung saja diimbuhi oleh lainnya, "Wah, jangan-jangan Kantor Pos itu bukan lagi Kantor Pos milik Indonesia. Soalnya, prangko Indonesia kan diterbitkan oleh Pemerintah Indonesia sendiri."

Ternyata masalahnya, terhitung sejak Kamis pekan lalu, untuk pengiriman surat pos secara tercatat (registered mail) ke luar negeri, pihak Kantor Pos sudah tidak mau menerima lagi amplop surat yang sudah ditempeli dengan prangko. Pengirim harus membayar tunai di kantor pos pada saat pengiriman.

Sebelumnya, pengirim surat pos tercatat menempelkan prangko dulu di amplop yang akan dikirim, yang jumlah harga satuan (nominal) pada prangko-prangkonya sesuai tarif yang harus dibayar. Baru setelah itu, amplop tersebut diserahkan kepada petugas loket pos untuk dicatat dan dikirim. Sedangkan untuk yang mengirim mendapat tanda terima berupa secarik resi atau kertas bukti pengiriman.

Cukup banyak orang, terutama filatelis, yang memanfaatkan jasa pengiriman surat pos tercatat untuk menempel prangko-prangko Indonesia yang beragam bentuk desain gambar dan warnanya, untuk dikirim ke keluarga, kerabat, atau temannya di luar negeri. Selain sebagai ongkos pengiriman surat pos, prangko itu juga sekaligus menjadi "duta" bangsa Indonesia, dengan memperkenalkan beragam desain gambar yang tertera pada prangko tersebut. Gambar desain prangko Indonesia memang sering menampilkan keindahan seni budaya dan sejarah Indonesia.

Dalam beberapa kali lokakarya, seminar, atau pertemuan dengan pejabat Direktorat Jenderal Pos dan Telekomunikasi serta PT Pos Indonesia, para pejabat itu sering mengatakan, "Prangko adalah juga duta bangsa dan negara."

Tapi, kini Kantor Pos yang dikelola PT Pos Indonesia seolah mematikan sendiri prangko Indonesia. Padahal dari segi sejarahnya, prangko merupakan ciri khas dan ciri utama sebuah administrasi atau badan pos dari suatu negara. Tak heran bila sampai saat ini, negara-negara lain di luar Indonesia, tetap mempertahankan keberadaan prangko.

Ada yang mengatakan, kebijakan untuk tidak lagi menggunakan prangko adalah untuk memudahkan petugas pos, karena tak perlu repot menempel prangko pada amplop yang akan dikirim. Padahal, yang menempelkan prangko bukanlah petugas pos, melainkan orang yang ingin mengirim surat pos tersebut.

Ada juga yang mengatakan, hal itu untuk memudahkan petugas pos agar tidak repot menghitung jumlah total harga satuan prangko yang ditempel. Namun di zaman dengan peralatan hitung-menghitung elektronik yang sudah amat maju seperti ini, rasanya menghitung 4-5 prangko dalam satu amplop tak perlu memakan waktu lebih dari 1 menit.

Agak aneh memang, PT Pos Indonesia yang terkait erat dengan penerbitan prangko dan menjual prangko di kantor-kantor posnya, justru kini menolak prangko yang mereka jual sendiri. Mudah-mudahan ini bukan berarti bahwa PT Pos Indonesia memang benar-benar lupa sejarahnya, bahwa mereka berdiri dan besar antara lain karena hasil penjualan prangko.

Bookmark and Share

Tag/Label prangko, indonesia, pos, kantor pos, filateli, duta bangsa
Penilaian anda

Warta terkait
Kirim ke Teman
* Email Teman:
Pisahkan tiap email dengan titik koma.
Contoh: bill@microsoft.com; steve@apple.com
* Email anda:
21 komentar pada warta ini
Kamis, 27-11-2008 07:47:01 oleh: Mia

Berarti nanti kalo udah gak boleh make sama sekali prangko, prangko2 bekas bisa jadi lebih mahal nilainya ya ?



Kamis, 27-11-2008 08:00:32 oleh: Retty N. Hakim

Wah maunya jualan perangko "mint" aja ya? Padahal nilai sejarah perangko terpakai itu lebih besar...
Lagipula tanpa perangko untuk pengiriman itu apa perangko Indonesia dikenal orang di luar negeri?
Saya saja yang dulu koleksi maximum card, jadi bingung karena di Indonesia susah cari acara yang menerbitkan perangko sekaligus stempel peringatannya...
Kalau begini sih filateli tidak tambah maju, tapi jadi dagangan saja...




Kamis, 27-11-2008 23:32:11 oleh: R Hariyanto

gimana kalau filatelis buat petisi untuk membatalkan keputusan ini, kalau dibiarkan bisa-bisa orang jadi malas kumpul prangko dan filateli tambah lesu padahal pameran filateli tingkat asia pacific kemaren salah satu tujuannya adalah untuk memaju perkembangan filateli di Indonesia



Kamis, 11-12-2008 10:02:25 oleh: Tono Dwi Putranto

Suatu kemunduran di bidang filateli. Jadinya sekarang kalo mengirim SHP tercatat, perangkonya gak dihitung ya.....



Selasa, 30-12-2008 17:05:29 oleh: HENDRIANUS JOKO

langkah yang tepat adalah PT. Pos Indonesia TUTUP aja.



Rabu, 31-12-2008 10:38:12 oleh: Berthold Sinaulan

Ternyata ini adalah "kesalahan" mengerti pihak PT Pos. Karena sekarang suratpos tercatat diharuskan menggunakan bar code agar mudah dilacak bila hilang, jadinya dipakai stiker bar code dan prangko dihilangkan TIDAK BOLEH DIPAKAI LAGI. Padahal di luar negeri, walaupun sudah diberi stiker bar code, prangkonya MASIH DIPAKAI.



Senin, 05-01-2009 14:37:27 oleh: Harun

Saya sering kirim ke luar negri, saya menyambut baik di gantikannya surat berperangko dengan surat berbarcode..

Saya dengan surat tercatat indonesia sering di persulit ketika masuk negara tujuan karena kuno masih menggunakan perangko..dan paket2 indonesia juga sering hilang di negara tujuan karena tidak berbarcode..akhirnya PT Pos indonesia bukan terkenal karena perangko indah nya tapi sebagai perusahaan pos yang tidak reliable dalam mengirimkan paket para pelanggannya. (jarang sampe)

Buat apa mempertahankan sistem kuno dengan perangko tapi malah membuat jelek nama PT Pos di dunia internasional..tindakan PT Pos dalam menghilangkan perangko sudah sangat tepat!

Bagi saya pengiriman dengan barcode menjadi lebih simple....petugas pos juga dapat bekerja lebih cepat..bayangkan saja ketika menggunakan perangko butuh 1 menit untuk menghitung harga perangko..tapi dengan barcode hanya butuh 2 detik saja..dengan metode lama, 1 menit X ribuan paket pos..tentu menghambat pengiriman.






Selasa, 06-01-2009 08:56:06 oleh: Berthold Sinaulan

Sebenarnya seperti sudah saya katakan, di luar negeri prangko juga masih DIPAKAI untuk SURATPOS TERCATAT di samping ada barcode. Jadi, mau menggunakan barcode tetap saja TAK PERLU MENGHILANGKAN PRANGKO.
Di samping itu, justru kalau ke luar negeri, suratpos tercatat dari Indonesia aman-aman saja, kok. Ini pengalaman saya dan banyak teman lainnya. Bahkan tanpa diperlakukan secara tercatat (registered), juga aman-aman saja.
Kalau alasannya waktu, menurut saya terlalu mengada-ada. BTW, kita bicara soal suratpos tercatat lho, bukan paket pos. Jangan dicampuradukkan.
O ya, kalau Mas Harun menyebut itu "sistem kuno" menggunakan prangko dan barcode di suratpos tercatat, kok justru di negara-negara maju dan di seluruh dunia masih dipertahankan ya?
Kelihatannya Mas Harun belum begitu mengerti istilah-istilah pos ya, suratpos tercatat bukan paketpos, surat berbarcode juga bukan tanpa prangko. Terima kasih.




Senin, 16-02-2009 13:13:24 oleh: amanda

Sebenarnya untuk kiriman luar negeri memang lebih baik kalo menggunakan barcode alias tercatat so kita bisa ngecek proses kiriman tsb sdh sampai mana. kalo pake perangko susah dong klo kita complain kiriman jika barang ga sampe (gimana nglacaknya?). i think sah sah aja PT pos ngeluarin kebijakan kirim ke luar negeri ga pake prangko. klu mau perangko indonesia sbg duta bangsa masukin aja perangkonya ke amplop.. ya khan? ^_^



Selasa, 17-02-2009 08:11:09 oleh: Berthold Sinaulan

Masih banyak yang belum mengerti maksud tulisan ini dan asal mengomentari saja. Coba baca baik-baik. Seperti sudah saya bilang, di luar negeri pun yang sudah semaju apa pun seperti Amerika Serikat, Jepang, Jerman, Austria, Singapura, dan lain-lain, stiker barcode memang dipakai tetapi TIDAK UNTUK MENGGANTIKAN prangko. Jadi ini salah paham dari PT Pos Indonesia yang mengira UPU (Organisasi Pos Sedunia) meminta penggunaan sticker barcode supaya gampang melacak surat tercatat (registered), lalu dikira prangko tak perlu dipakai lagi. Sudah jelas belum?



Rabu, 25-02-2009 09:58:56 oleh: wahyuning

Tulisan padat ini, perlu kita cermati. Sebagai duta bangsa, perlu juga digaris bawahi, prangko dilihat dari aspek pendidikan.Apakah tidak dilihat dari sisi ini, bila antar remaja, antar negara saling berkirim surat dengan perangko?.Saya ingin diskusi lebih lanjut.



Kamis, 12-03-2009 12:05:33 oleh: Carolina

1 minggu lalu saya kirim SHP ke Filipina, sayang sekali di amplopnya gak pake prangko tapi bar code, padahal teman yg di Filipina mengharapkan amplop yang ada prangko nya karena dia mmg filatelist.

Kecewa juga sih, kayaknya filateli makin sepi. Mau cari album prangko aja susah.




Senin, 20-04-2009 20:21:01 oleh: soesan

saya mau nanya, apakah setiap pengeluaran prangko ( gambar dari prangko itu) menggambarkan keadaan dan situasi bangsa indonesia?



Jumat, 29-05-2009 13:59:11 oleh: herman

Jayapura, 29-5-2009

Apapun nama prangko adalah salah satu pelunasan pengiriman surat. Berkaitan dengan itu PT Pos Indonesia juga anggota Pos Dunia (UPU) juga harus menghormati hasil kesepakatan yang telah diambil,mungkin salah satunya Registerde Mail tanpa prangko tetapi dgn tunai.Ada beberapa negara menggabungkan cara pelunasannya,mungkin ada yang pakai tunai dan ada yg pakai prangko dgn R (registered Mail) contoh Negara USA dgn institusi USPS (Ina=Posindo).
Mungkin komentar kami,mudah-mudahan bisa menjadi masukan PT Posindo untuk mempertimbangkan lebih baik

Salam dari Papua




Kamis, 01-04-2010 13:40:28 oleh: deska

saya sgt kecewa. yg seperti ini mestinya dilestarikan!
padahal sy sedang mencari info ttg pos, dan sedang semangat2nya akan surat via pos.
minggu lalu abang sy memengirim surat dari jerman pake perangko tuh. makanya sy jg pingin bales pke perangko dr sini. gmn dong. mengecewakan




Rabu, 30-06-2010 12:57:13 oleh: ervianoor

Memang sayang sekali prangko Indonesia yang indah tidak dapat di nikmati lagi keindahannya oleh bangsa lain hanya gara-gara barkotde, buat apa prangko di terbitkan kalo hanya cap terbitnya saja yang ada tampa cap pengirimannya.
Apa lagi sekarang tiap bulan OKTOBER tidak ada lagi cap khusus bulan berkirim surat INTERNASIONAL.
Prangko biar KUNO merupakan SAKSI SEJARAH yang marupakan GAMBARAN keadaan pembangunan pada zaman di mana prangko tersebut di TERBITKAN OK

BY AMAT KAPUAS, KAL-TENG




Minggu, 15-08-2010 20:07:02 oleh: Abraham

saya mau tanya nih..utk pengiriman dlm kota menggunakan prangko itu dgn tarif biasa itu biasanya makan waktu brp lama? terus jg..bagaimana cara melacak surat kiriman dgn prangko ini? sudah sampai d mana dan kira2 bs d tanyakan k mna utk kepastian kapan tiba d alamat yg d tuju?




Rabu, 23-02-2011 00:22:06 oleh: ypheriyanto

Tak terasa waktu berlalu, artikel ini sudah 2 tahun yll., tetapi gemanya masih ada terutama bagi kami, para filatelis Indonesia.
PRANGKO adalah secarik kertas tanda lunas pengiriman via administrasi pos suatu negara yang diterbitkan oleh negara tsb.
Sudah sejak dipakai,1846, prangko menjadi bukti identitas negara penerbitnya. Hal ini berlaku di dunia, bukan di Indonesia saja.
Kelihatannya Pos di Indonesia merasa kesulitan menggunakan dan mengatur prangko sebagai tanda bea lunas berkirim surat.
Bukankah semua ada jalan keluarnya, baiklah bersedia belajar dari negara2 lain, bahkan negara tetangga sebelah pun masih menggunakan PRANGKO mereka untuk surat REGISTER ke luar negri-nya.
Penggunaan barcode sebagai metode pelacakan pun tetap dipakai, apa salahnya demikian???
Kalau dilihat saat ini, bukan hanya surat ke luar negeri saja yang tidak pakai prangko, bahkan surat di dalam negeri pun lebih banyak menggunakan layanan Kilat Khusus maupun Express, yang memang lebih aman dan terjamin sampai ke penerima dengan selamat.
Salah siapa kalau tidak sampai?
Salah PRANGKO-nya? Salah si pengirim yang MEMAKAI PRANGKO INDONESIA instead pakai EKSPRESS?

PRANGKO Indonesia adalah salah satu IDENTITAS negara Indonesia.

Satu hal lagi yang patut dipertimbangkan,
pada tahun 2012,
Indonesia telah didapuk menjadi tuan rumah bagi acara tingkat dunia : PAMERAN FILATELI DUNIA, Indonesia 2012, even akbar para filatelis sedunia, yang menjadi pusat perhatian para Administrasi Pos (baca:negara)SEDUNIA.

Bangga rasanya, sekaligus bingung juga,
jika sekarang teman2 di LN minta surat terkirim dengan PRANGKO Indonesia,
saya jawab: tidak bisa lagi, mungkin mereka masih maklum, okelah kirim MINT saja,
lha ini ada even tingkat DUNIA di Indonesia?!

Mereka mengakui prangko kita,
ironisnya justru kita sendiri yang tidak bisa mengakui apa yang menjadi milik kita.

NB:
Telah terbit (nyaris SOLD OUT) PRANGKO seri Imlek 2011:Shio KELINCI. Dapat diperoleh di Kantor Pos di kota A




Minggu, 08-01-2012 23:23:54 oleh: vivi swayami

sedih juga dengan nasib prangko kita...Prangko Indonesia...
semoga PT Pos Indonesia tidak semakin menyudutkan Prangko Indonesia...




Selasa, 07-02-2012 12:34:04 oleh: Ani Dasadim

Kini mulai banyak filatelis Remaja, sebagian dari hobi yang diwariskan orangtuanya, dan sudah banyak sekolah yang mewadahi filateli dalam program kegiatan ekstrakurikuler. karena manfaat yang didapat dari sebuah prangko itu sendiri, selain belajar mengenal negara yang menerbitkan, banyak lagi ilmu pengetahuan yang bisa kita ambil untuk disampaikan ke siswa-siswi, jika kita mau berlangganan saja setiap terbitan baru, akan terlihat uraian cerita bersejarah dari setiap prangko yang diterbitkan, kalau buku perpustakaan dijaman internet ini sudah mulai dikesampingkan, kenapa tidak kita coba pakai alterbatif media pembelajaran melalui filateli....??? cuma yah...??? ada sedikit kekwatiran, mengenai nominal prangko yang makin tinggi, untuk belajar berkirim surat aja para filatelis remaja penerus kita-kita, jarang menemukan prangko nominal Rp. 1.500 lagi. baiknya ada kerjasama filatelis dan pihak POs, untuk membahas hal-hal seperti ini. kalau filateli Indonesia tetap ingin berjaya.



Jumat, 15-03-2013 20:49:23 oleh: ririn

saya juga mau curahat. saya juga tidak setuju dengan tergesernya keberadaan prangko indonesia dengan barcode. ini cerita saya, tadinya saya hanya ingin menghabiskan prangko sisa punya saya senilai 6 x 2000 rupiah. kupikir kirim surat kilat dengan perangko paling hanya beda beberapa hari sampenya, jadi 3 surat lainnya saya belikan perangko lagi pake perangko 3000 rupiah persurat. tapi setelah selesai, penasaran, saya tanya petugasnya berapa lama sampainya. dijawab, untuk jakarta makassar paling cepat 2 minggu. glek. keterlaluan sekali pikirku. masa segitunya sih. kalo tahu begitu mending kirim pake surat kilat aja cuma beda 2000 rupiah. bagaimana sih?pantes saja orang dah malas beli perangko. sengaja kali ya? kalo begitu, tema komunikasi dalam buku2 bahasa indonesia tidak perlu lagi ditulis perangko adalah tanda pelunasan biaya pengiriman surat, biar anak2 generasi berikut gak usah tau apa itu perangko. bener2 d. kecewa.. hah jadi ngelantur ni ceritanya. yah mudah2an saja gak tenggelam seperti nasib kartu pos yang sudah jarang digunakan.



Tambahkan komentar anda
* Nama lengkap:
* Email:
tidak ditampilkan untuk umum
  • Hal-hal yang perlu diperhatikan :
  • - Berilah komentar yang relevan dengan topik warta ini. Bacalah semua dari warta maupun komentar-komentar lain, sebelum memberi komentar.
  • - Tidak membuat komentar yang bernuansa SARA, pornografi, menyerang pribadi, menyebarkan kebencian dan kekerasan maupun pendapat yang melanggar hukum.
  • - Tidak beriklan di kolom komentar ini.
  • - Gunakan bahasa yang santun dan beri respek pada semua pendapat meskipun berbeda pendapat.
  • - Gunakan nama asli dan bila Anda sudah menjadi anggota Wikimu, upayakan login member terlebih dahulu. Bila belum menjadi anggota, email yang Anda cantumkan di kolom email, tidak akan dimunculkan.
* Komentar:  
captcha Silakan tulis kode disamping ini untuk melanjutkan.

PALING BERGUNA (bulan ini)

TERBANYAK DILIHAT (minggu ini)

TERBARU

50 TAG / LABEL TERPOPULER

 

Link Wikimu


Mau pasang link Wikimu di blog/situs Anda? copy link ini

TESTIMONI PRODUK

Minuman Sereal Baru ENERFILL

Jumat, 05-06-2009 18:04:42 oleh: Rina Linda

Bosan dengan yg biasa??? Minuman sereal ENERFILL, di setiap porsinya mengandung kombinasi 8 Vitamin, Protein, Kalsium & mineral lainnya yg dibutuhkan tubuh. Kombinasi rasa yg nikmat dengan sensasi baru BUTIRAN OATS PADAT di dalamnya bikin ENERFILL sebagai minuman penambah energi dengan kenikmatan rasa yang mudah tersaji. Cukup disajikan dgn 150 ml air panas ke dlam gelas, rasakan sensasi rasa baru coklat atau vanilla. ENERFILL, minuman penunda lapar yang lengkap, enak, lebih mengenyangkan & sehat untuk penambah energimu



Testimoniku:
Fajar Setyo Hartono: Minum Sereal Baru ENERFILL bila disajikan dalam minuman panas dalam gelas kita dapat merasakan sensasi rasa baru coklat atau vanila dan bisa menambah energi setelah minum .

Testimoni selengkapnya... (4 komentar)



Testimoniku Terbaru:
Sergio   pada  Pocari Sweat
David   pada  Momogi Snack
Latif Nur Hidayah   pada  Yakult...Bisa untuk Obat Diare??

SUARA KITA

Simpati Kirim SMS Iklan Seenaknya

Sabtu, 21-02-2009 12:22:33 oleh: Eko Nurhuda
Saya pengguna Simpati sejak pertama kali bisa beli hape di tahun 2002. Sampai sekarang saya masih setia dengan Simpati karena alasan coverage area. Namun belakangan ini kesetiaan saya terganggu karena Simpati suka seenaknya mengirim SMS berisi iklan layanan yang tidak saya butuhkan (dan sering!). Sungguh menyebalkan..!

Suaraku:
melfa: Saya memakai simpati dari thn 1993 waktu itu blm ada kartu hallo suafu saat saya miggrasi ke hallo sampai 2010 tiba2 diputus sama mereka tanpa alasa,saya mohon aktifkan nmr saya itu kembalia



Suara kita selengkapnya... (18 komentar)



Suara Kita Terbaru:
melfa   pada  Simpati Kirim SMS Iklan Seenaknya
gdwmnv   pada  Hutan Pantai Jakarta Dibangun Pemukiman
pjkhfge   pada  Hutan Pantai Jakarta Dibangun Pemukiman

DARI ADMIN

Rekan-rekan,

Wikimu juga mempunyai PUBLIC PROFILE di Facebook jika anda ingin menjadi Fans silahkan kunjungi kami. Jangan ketinggalan kami mempunyai lomba komentar di Public Profile setiap hari Senin dan Kamis. Nantikan terus artikel yang menjadi topik dalam lomba komentar.

Untuk pertanyaan dan masukkan, silahkan email ke

info@wikimu.com

salam,

21 April 2009

Admin.

Masukan, pertanyaan, kritikan terhadap kami silakan kirim email ke info@wikimu.com atau telp : 021-56165522 Senin-Jumat (08.00 - 17.00 WIB)
COPYRIGHT ©2006 WIKIMU.COM - Jurnalisme Publik (Citizen Journalism). All Rights Reserved | PRIVACY POLICY