Alunan lagu "Ono Lintang" itu ternyata mampu membuat jempol kaki dan tangan saya bergerak mengikuti irama ketukan dari tuts-tuts piano sang Maestro yang malam itu tampil bersama 2 maestro lainnya. Saya pun tersihir hingga tak hanya jempol kaki dan tangan, seakan pikiran dibawa melayang ke jaman kerajaan, suatu sore di alun-alun desa.
Malam itu, 3 maestro musik Indonesia tampil bersama. Jaya Suprana, Idris Sardi, dan Yudianto Hinupurwadi. Jaya pada Piano, Idris pada Biola, dan Yudianto pada flute. Sejumlah lagu mengalun indah dari ketiga seniman itu, membuat semua penonton tidak beranjak dari kursinya.
Malam itu acara Malam Penganugerahan Warta Ekonomi CEO & Perusahaan Idaman 2008 diiringi oleh Jakarta Philharmonic Orchestra dengan konduktor Yudianto Hinupurwadi. Sejumlah lagu dibawakan dengan apik, meski saya bukan penyuka musik orkestra. Namun perhatian saya terhenti tatkala ketiga mestro berkolaborasi. Semua pandangan tertuju pada aksi saling mengiringi dan saling melengkapi antara suara flute, biola, dan piano.
Acara belum berakhir. Jaya Suprana dengan gaya kocaknya mengajak penonton untuk kembali ke suasana ala Jawa, ketika lagu "Ono Lintang" yang kata beliau meraih penghargaan aransemen lagu terbaik di tingkat internasional mengalun. Mulai suasana khusyuk, riang, hingga haru dibawakan dalam satu paduan. Sungguh, saat itu saya ingin sekali mengabadikan lagu itu dalam Handphone saya, namun apa daya sebagai panitia acara saya tidak dapat meninggalkan tugas. Bahkan, keinginan untuk memotret wajah-wajah mereka pun tidak dapat dilakukan, karena peraturan orkestra melarang lampu flash dari kamera untuk menyala.
Penampilan yang sama menyihir saya ketika lagu "Payung Fantasi" muncul. Saya pun baru tahu lagu "ai..ai...siapa dia.." itu judulnya ternyata Payung Fantasi. Lagi-lagi, lagu itu dibawakan dengan nada yang riang, kocak, dan mampu membuat tubuh saya bergoyang mengikuti iramanya.
Dan lagu terakhir malam itu, dibawakan dengan sangat dahsyat, adalah lagu "Fajar Harapan" yang kata Jaya Suprana, dibuat oleh penggubah musik asli Indonesia yang menerobos kaidah-kaidah musik dari Barat. Seperti halnya Indonesia yang mampu melahirkan karya-karya ekonomi asli Indonesia yang menerobos kaidah-kaidah ekonomi dari barat, begitu ucap Jaya. Lagu pun mengalun lembut, perlahan naik kencang, lalu berubah riang, hingga berakhir dengan gemuruh tepuk tangan para pengunjung yang terdiri dari para CEO-CEO perusahaan terkenal. Sebut saja Agus Martowardoyo, Rinaldi Firmansyah, Trihatma K Haliman, Stanley S Atmadja, Tony Chen, Suryo Suwignjo, Emirsyah Satar, dan lain-lain, sampai melakukan standing ovation untuk para maestro tersebut.
Saya, yang bukan CEO pun ikut dibuat terkesima dengan penampilan para maestro tersebut, sambil berharap semoga panitia mendokumentasikan lagu tersebut untuk saya bagi kepada Wikimuers semua agar dapat ikut larut dengan keindahan budaya lokal bangsa ini...ternyata, musik lokal itu indah bila dipadu dengan tepat.
Yunus B.S