Dari Wikipedia, keris didefinisikan sebagai sejenis senjata tikam khas yang berasal dari Indonesia, atau mungkin lebih tepat Nusantara. Berdasarkan dokumen-dokumen purbakala, keris dalam bentuk awal telah digunakan sejak abad ke-9. Kuat kemungkinannya bahwa keris telah digunakan sebelum masa tersebut. Selain digunakan sebagai senjata keris juga sering dianggap memiliki kekuatan supranatural. Senjata ini sering disebut-sebut dalam berbagai legenda tradisional, seperti keris Mpu Gandring dalam legenda Ken Arok dan Ken Dedes.
Saat saya kecil, saya merasakan manfaat kekuatan keris. Eyang dari ibu bermukim di Kediri, setiap ke Kediri, ayah saya selalu menyempatkan mampir ke temannya. Ayah saya selalu penuh keyakinan, tuan rumah (pasti) selalu ada, tanpa merasa perlu memberi tahu. Mengapa? Konon setiap kali kami singgah, selain yang punya rumah lengkap suami istri, suguhan juga tersedia, plus ayunan di halaman depan, tempat saya “ngepos” sudah disiapkan. Menurut beliau, kerisnya sudah memberitahu. Saat itu saya sih ngga mikir panjang, EGP (Emangnya Gua Pikirin) bener-bener. Tetep EGP, saat kumpul keluarga dan mengisahkan keris eyang kakung dari ibu , konon saat jaman belum rekiplik kalau ada Belanda atau Jepang, masuk rumah, semua diobrak-abrik, tapi lemari penuh berisi keris selalu terlewati, seolah-olah tak ada. Kekuatan supranatural?
Baru mikir dikit saat punya mertua, yang anak tunggal, yang kerisnya juga banyak, lebih dari 35. Awalnya agar kerisnya jadi hiasan cantik, diletakkan pada lemari ukir dengan kaca tembus pandang, seluruh penjuru. Lho, tiba-tiba ibu mertua kok memberi tutup kertas sehingga tak tampak. Saya sih, asal nyaman untuk beliau , tak apa. Belum genap sebulan, dibuka, saya tanya kenapa. Eh, kata ibu, ada bilang kerisnya marah (karena) dikrukupi (ditutupi)! Gimana cara marahnya ya?
Tenang bertahun-tahun, suatu ketika , lho, kok dibungkus lima–lima, dalam kantung putih. Nah, ini saya nggak sempat tanya mengapa.
Ayah mertua wafat sekitar 20 tahun yang lalu, ibu 3 tahun lalu, keris sekarang jadi asuhan kami di “rumah” praktek. Setiap Kamis malam Jumat tertentu harus diberi bunga melati, dari pada bingung , saya kan ngga ngerti penanggalan Jawa yang Pon, Legi, Kliwon, tiap hari Kamis saya beli melati. Sekalian aroma terapi.
Tetep salah! Lho, apa lagi? Karena sekalian agar rumah wangi, bunga melati saya letakkan dalam mangkuk–mangkuk mungil di luar lemari keris. Saat keris “dimandikan” bulan Sura kemarin, pak Sigit yang selalu menyuci keris, mengatakan, kerisnya kotor, “kurang makan”. He, he, ternyata bunganya harus dalam lemari . Selesai “dimandikan”, heboh lagi. Kerisnya kok bertambah satu. Wah, saya kan ngga pernah menghitung, dan siapa yang nambahin, wong kunci lemari saya yang nyimpen.
Seminggu kemudian pak Sigit datang lagi, memisahkan “keris tamu”, karena gangguin yang lain. Waduh, tamunya nakal ya.
Wikimuers, ada yang punya “kisah” dengan keris?