Yasinta Sulistyowati

Dokter Indonesia vs Dokter Luar Negeri

Rabu, 10-09-2008 16:15:40 oleh: Yasinta Sulistyowati Sanjaya
Kanal: Suara Konsumen

Membaca artikel "Gubernur Aceh Berobat ke Singapura" saya jadi teringat pengalaman bos saya (di perusahaan lama) dan pengalaman saya sendiri beberapa waktu yang lalu.

Bos saya mempunyai penyakit tumor kandungan yang sudah cukup besar sehingga harus segera dioperasi. Untuk operasi ini beliau memilih untuk terbang ke Singapura walaupun harus mengeluarkan biaya yang tidak sedikit. Saya berpikir mungkin karena beliau mempunyai uang yang cukup maka memilih untuk operasi ke luar negeri.

Tetapi setelah saya bertanya pada saat beliau pulang, jawaban yang saya terima cukup mengejutkan. Beliau berkata kinerja dokter di Indonesia belum sepenuhnya bisa dipercaya. Pada waktu beliau melahirkan anak kedua dengan cara caesar ada sebuah jarum yang tertinggal di dalam rahimnya sehingga tumor itu membungkus jarum tersebut dan rahim beliau harus diangkat total agar tumor tersebut tidak tumbuh lagi. Di Indonesia beliau sudah beberapa kali memeriksakan diri di laboratorium tetapi tidak pernah ada yang menemukan dan menyatakan ada sebuah jarum tertinggal di rahim beliau. Baru pada saat periksa ke sebuah rumah sakit di Singapura itulah jarum tersebut ditemukan.

Ada lagi pengalaman saya sendiri beberapa tahun yang lalu ketika saya divonis mengalami ginjal bocor. Waktu itu saya check up di sebuah laboratorium di Malang. Sebelum check up saya tidak mengalami suatu keluhan apapun, tetapi pada saat check up, dikatakan oleh dokter lab tersebut bahwa kadar protein saya terlalu tinggi dan diberi resep untuk membeli obat.

Setelah minum obat yang diberikan dokter tersebut, keesokan harinya seluruh badan saya mulai dari wajah sampai kaki jadi bengkak semua. Tentu saja saya menjadi sangat kuatir dan kembali lagi ke dokter tersebut untuk menanyakan apa penyebab badan saya menjadi bengkak.

Ternyata jawabannya sungguh mengejutkan saya. Kata dokter tersebut ginjal saya bocor. Orang tua saya segera membawa saya ke spesialis ginjal yang cukup ternama di kota Malang, dan mendapat jawaban yang sama. Apalagi waktu periksa berbarengan dengan orang yang punya penyakit yang sama dengan saya bercerita bahwa bila ginjal bocor maka badan menjadi bengkak dan harus sering-sering cuci darah.

Saya dan keluarga menjadi begitu shock dan takut. Dokter ginjal tersebut meminta saya untuk opname di sebuah rumah sakit selama beberapa hari. Tetapi selama 10 hari saya dirawat di rumah sakit tidak ada pemeriksaan yang mengarah kepada hal-hal yang berhubungan dengan ginjal saya. Saya hanya diambil darah, urine dan hanya disuruh istirahat saja. Bahkan infus pun tidak dipasang. Obat yang diberikanpun hanya obat yang bisa dibeli bebas di pasaran seperti ponstan, hanya diberi setengah saja.

Saya jadi berpikir, apa benar saya sakit ginjal. Untuk orang yang sakit ginjal, kenapa perawatan yang diberikan kepada saya begitu minim. Atau dokternya yang salah mendiagnosa, tetapi untuk menutupi kesalahan tersebut mereka tetap saja meminta saya untuk opname di rumah sakit.

Setelah hampir 2 minggu saya pulang ke rumah, orang tua saya membawa saya ke dokter lain (dokter spesialis penyakit dalam). Setelah menceritakan penyakit saya, oleh dokter tersebut saya langsung diminta untuk USG, untuk memastikan apakah ginjal saya bocor atau tidak.  Ternyata hasil USG tersebut baik dan tidak ada kelainan apapun pada organ dalam saya. Dan saya dinyatakan tidak sakit apa-apa dan menurut dokter tersebut mungkin saya hanya keracunan obat yang saya minum.

Lalu kenapa saya harus diopname? Kenapa dokter sudah menyatakan bahwa ginjal saya bocor sebelum melakukan pemeriksaan lebih mendetail? Bukankah hal tersebut merugikan pasien (terutama saya dan keluarga) dalam hal materi (biaya rumah sakit tidak kecil) dan juga spirituil (ketakutan dan kecemasan kami sekeluarga)?

Apakah dokter Indonesia masih belum bisa dipercaya seperti para dokter di luar negeri sehingga banyak masyarakat Indonesia yang berobat ke luar neger? 

Bookmark and Share

Tag/Label dokter
Penilaian anda

Warta terkait
Kirim ke Teman
* Email Teman:
Pisahkan tiap email dengan titik koma.
Contoh: bill@microsoft.com; steve@apple.com
* Email anda:
24 komentar pada warta ini
Rabu, 10-09-2008 19:13:24 oleh: ratna

tidak semua dokter seperti itu, buktinya dokter penyakit dalamnya berkata lain.
mungkin hal ini hanya kasuistik
bukannya mendukung dokter, namun agak kita lebih bisa mempercayai profesi ini saja, sehingga tidak ada kerisauan dalam diri kita.
namanya kesehatan, pasien dan dokter sangat senjang, pasien menganggap dokter segalanya tau ttg penyakit (kalo Maha Tahu itu hanya Tuhan), jadi apapun yang dikatakan dan diperintah oleh dokter dilakukan dan dipatuhi oleh pasien (karena pasien diposisi yang tidak tahu!)
yang harus diperbaiki mungkin adanya second opinion dari dokter lain. jadi pasien didiagnosa oleh dokter A tapi dia dapat kesempatan menanyakan pendapat dokter B juga, dengan syarat mungkin pasien menganggarkan biaya untuk itu. tidak mengapa, daripada pasien selalu "tertindas"??
ada dokter yang mau berkomentar???




Rabu, 10-09-2008 19:35:19 oleh: Cokro

Hmmmh cokro bukan dokter, tapi cokro ini punya gelar Spesialis Omong Doang.

"Hubungan Dokter - Pasien. Dokter segalanya tahu ttg penyakit."

Kalau cokro sakit, cokro pasti ke dokter yang cokro percayai.

Kalau penyakit yang cokro derita itu membutuhkan dokter yang khusus/spesialis dan cokro belum pernah sowan kesana, cokro akan minta pendapat kepada keluarga/teman/kenalan, kira-kira dokter mana yang akan disarankan untuk cokro kunjungi.

Rumah sakit juga demikian ceritanya, cokro akan pilih rumah sakit yang cokro percaya.

Oh yaa,
second opinion doctor...
cokro sendiri beranggapan bahwa pada saat cokro membutuhkan second opinion, cokro harus memutuskan terlebih dahulu..dokter yang mana yang akan lebih dipercayai oleh cokro.
tetapi yang pasti, bukan "the doctor" valentino rossi yang akan cokro pilih.
gile cing, nanti cokro dibawa serta balapan.

yang pasti, second opinion jangan untuk mencari kepuasan hati. semisal disuruh istirahat panjang, lalu cari dokter yang mengatakan tidak perlu istirahat segitu amat.

untuk penyakit yang mbak Yasinta ceritakan, cokro belum/tidak mau berkomentar banyak.

tau deh mbak, cokro ini cuma SpOD not medical doctor.

permisi mbak...





Kamis, 11-09-2008 00:00:07 oleh: akmal hanafi

Benar kata mbak Ratna jangan bersikap generalisasi, ada kasus casuistik. Layanan RS di Singapore juga tidak semua baik sewaktu bapak saya operasi ginjal disana diingatkan oleh keluarga Indonesia disana supaya mengecek item pembayaran karena sering dibuat seenaknya sehingga biaya membengkak. Ada lagi cerita dokter kebidanan senior di Jakarta punya pasien pribadi. Pasien tsb dg bangga ngomong barusan operasi kandungan di Singapore ternyata ada miom. Dokter kita tersenyum, untung dia membuat catatan medis si nyonya, disana tertulis dari USG ada miom kecil penampang 2 cm subserosum. Lha menurut literatur, miom sebesar itu tidak perlu dioperasi,miom sebesar itu banyak ditemukan pada rahim wanita. 80 % wanita ada miom kecil yg tidak berbahaya sering ditemukan waktu seksio caesar. Jelas si nyonya sudah dikerjain dokter Singapore. Maaf oknum dokter Singapore. Begitu juga di Indonesia ada oknum dokter, jangan di generalisasi. Saran saya jika ragu cari second opinion, third opinion dst biar yakin.



Kamis, 11-09-2008 08:33:34 oleh: Agus Mardhika

Sepertinya sih bagi yang punya duit begitu..

yang ga punya duit harus, harus memberikan kepercayaan ke pd dokter..




Kamis, 11-09-2008 11:28:19 oleh: paramita

ya..ampun..,suatu pengalaman yg mengerikan ya mb'
mpe' sgitunya,
para oknum dokter indonesia yg hanya mmemikirkan demi mmperOleh pundi-pundi rupiah..
Eeem..klo dipikir2 sebagian besar,untuk jd dokter mmg tdk mmbutuhkan biaya yg tdk sedikit sih..
tpi skrg org pinter kalah og ma orang yg pny duit byk..:)




Jumat, 12-09-2008 09:20:42 oleh: Wendie Razif Soetikno,S.Si,MDM

Dari SMA-nya pelajaran Biologi dan Kimia dianggap sepele ... lalu test masuk ke FK penuh dengan pembatasan (lulusan SMA swasta dan non pri dibatasi, meskipun nilai test-nya lebih baik), jadinya ya "dokter"
Saya teringat ketika RS Siloam Gleneagles di Lippo Karawaci dibuka, lalu manajemen dari Singapore mengadakan test untuk para dokter Indonesia, ternyata tidak ada satupun dokter yang lulus. Lalu mereka mau pakai dokter asing, ternyata dicegat oleh PB IDI, dokter asing tidak boleh praktek di Indonesia (harus menempuh pendidikan khusus di FK dan RS Pendidikan). Mana ada yang mau??? Jadinya mereka terima dokter seadanya dan akibatnya tidak dapat sertifikasi RS internasional




Jumat, 12-09-2008 09:47:37 oleh: ikhwan kunto alfarisi

knp msk FK itu mahal sampai ratusan juta? mgkn ini jg yg mempengaruhi..



Jumat, 12-09-2008 11:42:21 oleh: OLALA

walahh...mbak ini kan udah jd rahasia umum kalau dokter2 di indo kebanyakan memang payah en sering salah diagnosa. Yg parah kalau si pasiennya sampai meninggal, paling2 cuma 'maap' doank yg ada(ini terjadi pd ibunya sahabat saya, beliau meninggal 1 thn yll krn salah diagnosa oleh DOKTER2 RSPI. Dan 1 lagi adik saya punya sahabat, dia meninggal bersama2 anak yg dikandungnya krn salah diagnosa juga oleh DOKTER KANDUNGAN DI RSPI juga!!!). Begitulah hasilnya kalau ijazah dokter bisa diperjualbelikan....nyawa pasien jd taruhannya!

Di wikimu ini kayaknya banyak DOKTER2 koq tidak ada yg kasih komentar????




Sabtu, 13-09-2008 21:23:48 oleh: Nurliati Sari Handini

"...dokter2 di indo kebanyakan memang payah en sering salah diagnosa." --> wah, rasanya koq statement-nya agak terlalu digeneralisasi ya?
Masih banyak lho dokter Indonesia yg kinerja & kompetensinya bisa dipercaya. :-)

Harus diingat juga bahwa untuk mencapai suatu diagnosis diperlukan komunikasi yang baik antara dokter dengan pasien (baca artikel Saya Dokter, (jadi) Tidak “Pinter” di http://www.wikimu.com/News/DisplayNews.aspx?id=8556). Pasien perlu bersikap kooperatif untuk memberikan informasi yang selengkap2nya dan sebenar2nya. Terkadang, pasien "menyimpan" informasi dari dokter, entah karena alasan merasa malu, dll. Padahal informasi itu bisa jadi sangat bermakna untuk menegakkan diagnosis. Jadi, perlu kerjasama yang baik dari kedua belah pihak.

Ttg "keunggulan" dokter luar negeri dibanding dokter Indonesia, rasanya itu juga tidak sepenuhnya benar. Cukup banyak juga koq kasus ketidakpuasan terhadap pelayanan dokter di luar negeri yg dialami oleh WNI. Pelayanan di negara lain itu juga berbeda2, misalnya di Cina (baca artikel Serba-serbi Berobat di China di http://www.wikimu.com/News/DisplayNews.aspx?id=10198).

Pelayanan kesehatan di tiap negara tidaklah sama. Masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangan. Kita bisa belajar dari negara lain, seperti halnya negara-negara lain belajar dari Indonesia (konsep "Primary Health Care" yg skrg diterapkan di seluruh dunia itu dimulai di Indonesia lho..digagas oleh Prof. Sulianti).

Coba tonton film "Sicko" garapan Michael Moore deh. Di situ bisa dilihat dng sangat jelas bhw sistem pelayanan kesehatan di negara adidaya pun masih belum berjalan optimal. Ini bukan justifikasi atas kekurangan2 yg msh ada dalam sistem pelayanan kesehatan, termasuk di Indonesia lho. Evaluasi, kritik, dan sejenisnya siy boleh2 aja. Asal kemudian difokuskan untuk sama2 mencari solusi untuk memperbaiki dan mengatasinya.. :-)

-Olly-




Sabtu, 13-09-2008 21:31:20 oleh: Dr Nuvi Nusarintowati

Halo, saya coba berkomentar ya. Di kalangan masyarakat Indonesia, sudah terlanjur menempatkan dokter sebagai 'orang pintar' sehingga harapannya pun menjadi kurang wajar, dokter diminta untuk menyembuhkan padahal kami belajar untuk mengobati. Kesembuhan berasal dari respons pengobatan dan tentu atas izin YANG MAHA KUASA. Masyarakat kita pun bersikap dalam 2 posisi, sebagai 'superior' bila merasa mampu atau sudah 'membayar' bahkan tidak jarang mendikte dokter. Atau 'inferior' bila merasa tidak mampu segala-galanya, pasrah total. Menurut pendapat saya, semua pihak harus mau berubah. Kuncinya keterbukaan dan kejujuran. Pasien terbuka dan jujur menceritakan seluruh keluhannya, penyakit sebelumnya, tindakan medis yang pernah diterima, termasuk pendapat dokter atau oranglain yang didengarnya bahkan pendapatnya sendiri tentang penyakitnya. Dokter pun diharapkan akan terbuka dan jujur menceritakan penyakit yang diderita pasien termasuk kemungkinan dan rencana pengobatan bahkan dengan leluasa dan nyaman menyatakan keinginannya untuk naik banding ke dokter lain yang dianggap lebih mampu. Jadi intinya dokter dan pasien ber-mitra. Profesi dokter bukan tanpa cela, tapi yakinlah profesi ini adalah pekerjaan mulia, dalam hati kecil setiap dokter termasuk 'oknum' selalu ada keinginan membantu dan mengobati. Tetapi masyarakat harus belajar menempatkan dokter pada porsinya yang wajar karena dokter juga manusia yang punya keterbatasan. Dalam hubungan dokter pasien, tidak diharamkan seorang pasien meminta pendapat kedua, lebih baik bila berani mengungkapkannya secara jujur pada dokter pertama, tentu dengan bahasa yang cukup sopan sehingga dokternya tetap merasa dihargai. Dokter pun diharapkan dapat mengikuti pergeseran posisi pasien sehingga tidak mudah marah/tersinggung bila pasien menggunakan hak otonominya. Komunikasi yang baik selalu membawa jalan keluar yang nyaman. Jadi kayaknya kok gak cuma semata-mata urusan uang dech...apalagi jual beli ijazah...ach terlalu!



Sabtu, 13-09-2008 21:58:10 oleh: Nurliati Sari Handini

Setuju dng Tante Nuvi! ;-)

-Olly*-
*Sarjana Kedokteran (asli lho, bukan beli ijazah) yg berhasil masuk FK dengan penuh perjuangan (berjuang dng belajar!), berjuang bertahan melalui proses pembelajaran di FK yg sama sekali tidak mudah (penuh darah, keringat, dan air mata), dan akan segera menjadi dokter umum sbg hasil murni dari perjuangan panjang (lagi2 bukan beli ijazah)
*anaknya dr. nury
*keponakannya dr. nuvi




Minggu, 14-09-2008 00:34:40 oleh: Cokro

Benar juga....

Daripada belajar, pusing mumet.
Benar penuh darah, keringat dan air mata.
Tapi toh dicurigai terus.
Dan di"generalisasi".

Mendingan seperti cokro bukan dokter tapi SpOD :)




Minggu, 14-09-2008 00:59:36 oleh: Nury Nusdwinuringtyas

"Lalu kenapa saya harus diopname? Kenapa dokter sudah menyatakan bahwa ginjal saya bocor sebelum melakukan pemeriksaan lebih mendetail? Bukankah hal tersebut merugikan pasien (terutama saya dan keluarga) dalam hal materi (biaya rumah sakit tidak kecil) dan juga spirituil (ketakutan dan kecemasan kami sekeluarga)?"

Saya fokus ke masalah mbak Yasinta sendiri ya, sudah tanya sendiri ke dokter yang merawat?

dari Nuvy: Komunikasi yang baik selalu membawa jalan keluar yang nyaman. --> untuk Yasinta

Jadi kayaknya kok gak cuma semata-mata urusan uang dech...apalagi jual beli ijazah...ach terlalu!
--> untuk Olala





Minggu, 14-09-2008 04:08:05 oleh: Nurliati Sari Handini

Utk Cokro:
haha..Idenya OK juga. Cuma saya sudah terlanjur jatuh hati sama profesi dokter tuh. :-)
Saya lebih memilih utk terus belajar spy tidak jadi "Spesialis Omong Doang (SpOD)", tapi bisa "ngomong" atas dasar pemahaman yg jelas (dan valid) dng komunikasi yang santun. Kasihan pasiennya dong kalo dokternya SpOD.
Ya, semoga di kemudian hari kejadian miskomunikasi dng pasien-pasien saya kelak tidak terjadi. Kan sudah belajar dari "curhat" rekan-rekan yg berpengalaman jadi pasien di Wikimu. hehe.. :-)

-Olly-




Minggu, 14-09-2008 13:18:05 oleh: Agus Mardhika

Masalah dokter lagiii... masalah kesehatan lagiii....

Duit seribu buat beli cabe... Capeee deeehhh....




Minggu, 14-09-2008 14:01:31 oleh: Dr Nuvi Nusarintowati

Barusan saya menengok teman yang dirawat karena demam berdarah...trombosit terendah 57.000 dan pulang 144.000, lama rawat 3 hari. Tetangga sebelahnya, demam tidak, sakit perut tidak, mual tidak, hasil laboratorium semua normal, ngotot dirawat sampai hari ke-9, pengen tau sakitnya apa...lha curi dengar, dokternya bilang gak sakit apa-apa...tapi 'beliau'nya gak mau pulang. Mas Agus, buat dokter lebih capeeeee deeeeh ngurusun yang kayak gini nich!



Sabtu, 18-10-2008 18:34:03 oleh: andi

dokter jaman sekarang juga banyak yang jadi penipu pasien, nyatanya ada dokter ortopedi selalu melakukan jual alat, masak ada set untuk amputasi yang di jual ke pasien 2 jt, jika pasien tidak membayar operasi tidak akan dilakukan pada pasien tsb.pada hal itu yang dimaksud dengan set amputasi itu tidak ada tapi di bikin2 ada. kalo set untuk pemasangan plat atau skrew ya mungkin nyata ada alatnya kita bisa maklum..tpi....... dokter zulfrimon anda membuat malu profesi anda,



Senin, 20-10-2008 10:48:42 oleh: zon

Saya juga heran dengan sebuah RS di kawasan jakarta selatan dengan layanan seperti hotel bintang 5, namun 3 orang teman (dalam waktu yang berbeda) yang mendapat layanan disana ternyata setelah dirujuk ke tempat lain (sayangnya tempat rujukan di RS luar negeri) ternyata diagnosa yang berlainan.

Kesimpulan saya kelemahan sebagian dokter di indonesia adalah cara diagnosa dan penggunaan alat periksa/teknologi yang kurang baik.
Tingkat keberhasilan upaya penyembuhan didukung hampir 80% oleh diagnosa. Penegakan diagnosa sebaiknya tidak dilakukan oleh 1 orang dokter ahli namun dilakukan bersama oleh beberapa teman sejawat ahli.

salam




Senin, 16-03-2009 11:40:35 oleh: lula

hihihi…emang sih, lebih baik cari dokter lulusan luar negeri aja, paling ga, bnr2 niat skolah.Kalo dokter2 yang udah senior sih emang masih banyak yang berkualitas, tapi klo yang masih muda2…jgn percaya..

Jadi gini,bbrp thn lalu temen gw ngebet mo msk FK U**, jd dia dftar UM-nya..eh bbrp hari kmd ada orang telfon ke rmh nawari kepastian diterima asal byr 90juta, dia ngerti detil tentang temen qu, jd bisa dipastikan dia orang dalem yg bisa buka database…
Waktu itu dikira becandaan jadi ga ditanggapi, akhirnya gagal deh UM-nya..

Coz ga mau gagal lagi akhirnya dia nerima tawaran semacam itu tp beda harga, ni gw yg nganterin coz tmn gw super udik, bokapnya aja yang kaya tapi tetep aja katro,qt janjian ma jokinya di luar kota..jauh bgt dari tmpt gw..ktm di sebuah cafe di kota B, ni cafe rame bgt, tp dianya cuek aja, setelah ngisi n teken kontrak yg isinya PTN mana yg dia mau skaligus harganya (waktu itu minim 150 jt, untuk PTN yg plg ga favorit), oiya, orangnya perlente n klhtn well educated, pas gw ikutin, dia pake mobil keluaran baru, jelas aja, 1 orang minim bayar segitu.Pas udah slese ternyata orang2 di cafe itu juga calon2 kliennya dia..pantes, mukanya aneh2…I mean, beda2 bgt,ternyata emang dari berbagai pelosok indonesia, dari nguping sana sini, mrka semua adalah orang2 kaya yg ga kebagian otak encer tp ngebet pgn jd dokter(ad yg sedaerah ma gw jg..hi3)niat bgt ya..
sebelum SPMB,ada brifing dulu di cafe, dan ternyata pesertanya buanyak bgt…mrk bw hp2 mahal & mobil mewah smua..(orang indonesia trenyata kaya2 ;))
disitu dibilang hrs beli hp nokia jadul (gw lp type apa, pokoknya murmer gt d)trus dipasangi alat yang kabel2nya ditempel di badan pake slotip, dari situ ntar jawaban dipandu ma jokinya. Temen gw dgn suksesnya keterima dan bayar 200 juta, pdhl ga pinter.
OMG…bayangin kualitas dokter2 kita ntar…masalah nyawa bo…produk yg dari awal udah gagal…gw ga mo ambil resiko ke dokter2 muda, ogah…
Ada lagi yg lbh konyol, demi gelar dokter, pada rame2 ke pa




Rabu, 15-04-2009 23:06:30 oleh: febri

ya udah kalo gitu orang indonesia jangan ada yg jadi dokter biar ama dokter luar negeri aja,gmn coba kalo gitu atau anak2 kita yang ingin jadi dokter kalo uda gede nanti,mending dilarang atau sekolah diluar negeri aja..(maap ya,tapi toh ga mungkinlah yaa,jgn deh)
menurut saya karena pasien ga tau mau nanya apa alias ga ngerti dan dokter kadang ga ngerti gmn menjelaskan bahasa kedokterannya ke org awam karena emang berlibet kayak ngajarin orang yg akan jadi calon dokter,patofisiologinya panjang etiologi,komplikasi,terapi,prognosis ngono loh..ngerti kaga?kagak khan??mabok iyee..
sarannya yah bener tuh second opinion tapi jangan ke dukun.n komunikasi yg jujur,saling percaya,itu yang paling susah.
pykt ginjal kan setau saya emang ga boleh diinfus(ditambah cairan) krn ga diinfus aja lama-lama bisa jadi bengkak (karena patofnya pjg),ga boleh dikasi obat byk2 atau obat yg diekskresi diginjal karena ginjal bs makin rusak,trus cek darah dan urin harus rutin betul ituuntuk maintance ginjal sampai mana rusaknya apa makin berat atau membaik.




Sabtu, 30-01-2010 06:13:52 oleh: Muhammad Barakatillah

Saya coba ikut komentar di sini. :) Dari pengalaman pribadi saya, permasalahan utama di Indonesia itu adalah ketidakseimbangan antara Pendidikan dan Teknologi dari kedokteranny sendiri. Sangat disayangkan.
Saya seorang mahasiswa kedokteran di Jerman. Bagaimana saya sampai bisa ke sini ceritanya panjang. Saya smpat ikut UM UGM 06 (bkn jalur khusus) dan Alhamdulillah mendapatkan kursi di kedokteran. Saya dan keluarga spontan sujud syukur. :)
Ayah saya (alm) sakit menahun sjak saya SMA kelas 3 (th 2005). Dokter di rs2 terkenal di Jakarta bilang tidak ada apa2, walopun ayah saya trs merasakan sakit di pinggangny. Kata dokter sakit pinggang biasa dan bliau hanya mendapatkan obat untuk mengurangi rasa sakitnya. Sampai akhirnya kita memutuskan ke Belanda untuk berobat.
Saya melihat teknologi kedokteran di Eropa begitu maju, sangat berbeda dengan rs2 di Jakarta, walopun sudah berlabel international.
Singkat cerita sampai akhirnya dokter menyampaikan hasil pemeriksaan. Ayah saya mengidap kanker ganas (stad. 4), bahkan satu segmen tulang belakang beliau sudah hampir habis "dimakan" oleh kanker, dan sudah masuk ke sistem sirkulasi darah. Sungguh mengejutkan.
Kami pun kembali ke Indonesia ats keinginan ayah saya. Kami kembali ke dokter yg sebelumny, dan beliau membenarkan itu. Dokter ini bahkan berkata (jujur), "Maaf ibu, kami hanya sebatas membantu untuk tahu kmrn2 ini, tp kami memang tidak melihat ada yg janggal, tp setelah melihat hasil ini memang benar ada kanker di tubuh bapak".. Mnurut saya dokter ini pintar, sayang pendidikanny pun belum cukup menunjang untuk teknologi yg tersedia atau memang teknologiny sendiri yg membatasi kompetensi dr dokter ini.
Dari sini saya banting arah, "OK, kuliah kedokteran di Eropa!" dgn restu ortu saya skrg di sini dan punya cita2, suatu saat pulang ke Indonesia membawa ilmu yg saya dapat (jujur klo saya bandingkan memang pendidikan di sini lebih baik) dan membangun pusat pengobatan kanker yg mutahir. We




Sabtu, 30-01-2010 10:45:58 oleh: Leonardo Paskah S

Bagaimanapun tulisan ini dapat dijadikan refleksi bagi kami, para dokter. Prinsipnya, tidak ada satupun dari dokter yang beritikad buruk terhadap pasiennya, kecuali jika ia psikopat hehe..

profesi kedokteran memang berazaskan prinsip kepercayaan. Dan memang ada baiknya setiap keluarga memiliki sosok dokter kepercayaan dan sebagai second opinion. Berobat ke dokter yang sudah enak dalam hal komunikasi akan sangat membantu dalam proses pengobatan. Oleh karena itu, dalam beberapa thn kedepan dokter keluarga akan dioptimalkan di negara kita. Dokter keluarga memang saat ini masih belum populer di masyarakat berbeda dengan di luar negeri. Di Indonesia, seringkali jika sakit pasien langsung ke spesialis, syukur-syukur jika ke spesialisnya tepat, tapi jika salah yah ga sembuh-sembuh dan dokternya dibilang bodoh.

masalah berobat keluar negeri bukan masalah, itu dipengaruhi sugesti juga selain ketidakpuasan, dan hal tsb terjadi ga di negeri kita aja. Sebagi contoh bos-nya teman saya yang kerjanya di Singapura di perusahaan investasi disana juga berobatnya ke USA. Pemain sepakbola di Liga Inggris jika cedera dan butuh pemulihan (rehabilitasi) berobat juga ke Italia atau malah ke USA.
Malpraktek seperti ketinggalan jarum dalam rahim juga serupa, jika kita ketikkan kata malpractice di search engine maka akan didapatkan banyak cerita ttg malpraktek2 dokter di luar negeri, dan paling banyak tentunya di USA malah, dan aneh2 lagi seperti ketuker nama obat saat peresepan dll




Selasa, 26-10-2010 10:55:38 oleh: Yasinta Sulistyowati Sanjaya

@dr. Nury> keluarga saya, terutama orang tua hanya orang yang biasa2 saja dengan pendidikan yang tidak terlalu tinggi, tinggal di desa yang terletak di pinggiran kota malang.
mungkin memang kesalahan kami tidak bertanya pada dokter yang merawat saya, tapi itu semata karena kami percaya dan memang kami tidak mengerti.
sayangnya, kenapa dokter tersebut tidak memberi penjelasan mengapa saya harus diopname?
menurut dr. Nury, apakah pasien ginjal bocor hanya cukup dengan istirahat dan diberi obat tanpa ada pemeriksaan terlebih dahulu?
mungkin hal itu yang membuat saya berpikir bahwa ini adalah malpraktek dokter.
mohon pencerahannya..




Selasa, 28-08-2012 16:43:43 oleh: FARID WAJDI

saya memberikan komentar dari stagment diatas mengenai kesalahan diagnosa dokter,.itulah kelemahan oknum dokter di indonesia membuat hipotesis yang tidak dilengkapi dengan data yang relefan sehingga bisa dipercaya. seharusnya perekrutan dokter tdk bayar tapi berdaarkan hasil test kecerdasannya begitulah indonesia yang penting pembayaran dsb....dokter seharusnya jeli dan peka terhadap nasib pasiennya kebanyakan oknum dokter yang saya liat di UGD ataupun di tempat praktek apatis terhadap pelayanan yang maksimal....bgtulah jika dokter hanya orientasi DUIT dan SPONSOR dari Famasi......smoga ini dapat jadi kritikan untuk membangun para dikter yang kurang teliti....




Tambahkan komentar anda
* Nama lengkap:
* Email:
tidak ditampilkan untuk umum
  • Hal-hal yang perlu diperhatikan :
  • - Berilah komentar yang relevan dengan topik warta ini. Bacalah semua dari warta maupun komentar-komentar lain, sebelum memberi komentar.
  • - Tidak membuat komentar yang bernuansa SARA, pornografi, menyerang pribadi, menyebarkan kebencian dan kekerasan maupun pendapat yang melanggar hukum.
  • - Tidak beriklan di kolom komentar ini.
  • - Gunakan bahasa yang santun dan beri respek pada semua pendapat meskipun berbeda pendapat.
  • - Gunakan nama asli dan bila Anda sudah menjadi anggota Wikimu, upayakan login member terlebih dahulu. Bila belum menjadi anggota, email yang Anda cantumkan di kolom email, tidak akan dimunculkan.
* Komentar:  
captcha Silakan tulis kode disamping ini untuk melanjutkan.

PALING BERGUNA (bulan ini)

TERBANYAK DILIHAT (minggu ini)

TERBARU

50 TAG / LABEL TERPOPULER

 

Link Wikimu


Mau pasang link Wikimu di blog/situs Anda? copy link ini

TESTIMONI PRODUK

Minuman Sereal Baru ENERFILL

Jumat, 05-06-2009 18:04:42 oleh: Rina Linda

Bosan dengan yg biasa??? Minuman sereal ENERFILL, di setiap porsinya mengandung kombinasi 8 Vitamin, Protein, Kalsium & mineral lainnya yg dibutuhkan tubuh. Kombinasi rasa yg nikmat dengan sensasi baru BUTIRAN OATS PADAT di dalamnya bikin ENERFILL sebagai minuman penambah energi dengan kenikmatan rasa yang mudah tersaji. Cukup disajikan dgn 150 ml air panas ke dlam gelas, rasakan sensasi rasa baru coklat atau vanilla. ENERFILL, minuman penunda lapar yang lengkap, enak, lebih mengenyangkan & sehat untuk penambah energimu



Testimoniku:
Fajar Setyo Hartono: Minum Sereal Baru ENERFILL bila disajikan dalam minuman panas dalam gelas kita dapat merasakan sensasi rasa baru coklat atau vanila dan bisa menambah energi setelah minum .

Testimoni selengkapnya... (4 komentar)



Testimoniku Terbaru:
Sergio   pada  Pocari Sweat
David   pada  Momogi Snack
Latif Nur Hidayah   pada  Yakult...Bisa untuk Obat Diare??

SUARA KITA

Simpati Kirim SMS Iklan Seenaknya

Sabtu, 21-02-2009 12:22:33 oleh: Eko Nurhuda
Saya pengguna Simpati sejak pertama kali bisa beli hape di tahun 2002. Sampai sekarang saya masih setia dengan Simpati karena alasan coverage area. Namun belakangan ini kesetiaan saya terganggu karena Simpati suka seenaknya mengirim SMS berisi iklan layanan yang tidak saya butuhkan (dan sering!). Sungguh menyebalkan..!

Suaraku:
melfa: Saya memakai simpati dari thn 1993 waktu itu blm ada kartu hallo suafu saat saya miggrasi ke hallo sampai 2010 tiba2 diputus sama mereka tanpa alasa,saya mohon aktifkan nmr saya itu kembalia



Suara kita selengkapnya... (18 komentar)



Suara Kita Terbaru:
melfa   pada  Simpati Kirim SMS Iklan Seenaknya
gdwmnv   pada  Hutan Pantai Jakarta Dibangun Pemukiman
pjkhfge   pada  Hutan Pantai Jakarta Dibangun Pemukiman

DARI ADMIN

Rekan-rekan,

Wikimu juga mempunyai PUBLIC PROFILE di Facebook jika anda ingin menjadi Fans silahkan kunjungi kami. Jangan ketinggalan kami mempunyai lomba komentar di Public Profile setiap hari Senin dan Kamis. Nantikan terus artikel yang menjadi topik dalam lomba komentar.

Untuk pertanyaan dan masukkan, silahkan email ke

info@wikimu.com

salam,

21 April 2009

Admin.

Masukan, pertanyaan, kritikan terhadap kami silakan kirim email ke info@wikimu.com atau telp : 021-56165522 Senin-Jumat (08.00 - 17.00 WIB)
COPYRIGHT ©2006 WIKIMU.COM - Jurnalisme Publik (Citizen Journalism). All Rights Reserved | PRIVACY POLICY