Leonardo Paskah Suciadi

Jangan Bilang Homoseksual itu Gangguan Jiwa....

Minggu, 17-08-2008 16:13:21 oleh: Leonardo Paskah S
Kanal: Opini

Jangan Bilang Homoseksual itu Gangguan Jiwa....

“Jadi orang tuh jangan setengah-setengah!”, kata teman yang duduk di samping saya sewaktu kami sedang makan malam bersama.”Jangan mau jadi amfibi seperti seperti kepiting ini!”, lanjutnya sambil mengacungkan capit kepiting saos padang di tangannya yang sebentar lagi akan bergabung dalam adonan asam lambungnya. “Iye, jangan mau juga jadi manusia yang setengah mateng, ga cowok maupun cewek!”, timpal teman saya yang lain sembari disambut ketawa riuh dari kami semua. “ Telor kaleee..!”, sahut saya tidak ketinggalan. Seloroh di belakang meja makan itulah yang memberi saya inspirasi menuliskan tentang “manusia setengah matang tadi”, maksud saya tentang komunitas homoseksual dan banci.

Tentang homoseksual ini masyarakat Indonesia umumnya masih memiliki pikiran yang sempit, mungkin karena masalah seputar seksual masih tabu untuk menjadi bahan pembicaraan ( walaupun sudah bukan tabu lagi untuk dilakukan atau dinikmati di kalangan remaja jaman sekarang). Buktinya masih banyak yang menyamakan antara kaum homoseksual dengan kaum banci (transeksual). Padahal diantaranya jelas-jelas sangat berbeda dalam ilmu kejiwaan. Selain itu, masyarakat Indonesia masih sangat alergi terhadap kaum gay atau lesbian dan menganggap mereka adalah orang-orang yang sakit jiwa.

Komunitas homoseksual memang sudah lama diketahui ada pada dunia manusia. Contohnya Leonardo da Vinci adalah salah satu tokoh besar yang disebut-sebut sebagai seorang homoseksual. Walaupun hal ini sudah diketahui keberadaannya di tengah sosial sejak lama, namun polemik dan kontroversi di dalamnya masih terus berkecamuk tiada akhir, khususnya di negara-negara dengan kultur budaya dan agama yang kuat seperti halnya di negara kita. Awalnya homoseksual memang digolongkan sebagai suatu bentuk deviasi seksual (penyimpangan) dalam bidang psikiatri. Namun seiring dengan waktu dan diikuti dengan kemajuan teknologi penelitian, maka didapatkan bahwa homoseksual memiliki faktor penyebab kuat berupa defek genetic atau dengan kata lain segi biologis. Hal ini serupa dengan misalnya penyakit kencing manis, hipertensi, bahkan beberapa retardasi mental. Dengan kata lain, dunia medis menyadari bahwa bukan faktor kehendak atau perilaku semata yang membuat seseorang itu menjadi seorang gay amupun lesbian, melainkan faktor genetik yang jelas-jelas tidak dapat ditolak memiliki kontribusi yang lebih besar. Menyadari hasil objektif demikian, maka sejak 1973 Komite nomenklatur di USA sudah menyatakan bahwa homoseksual bukan lah suatu psikopatologi atau gangguan jiwa. Jadi jika saat ini kita mencari istilah homoseksual di buku pedoman ilmu psikiatri (contohnya DSM IV maupun PPDGJ III-suplemen), maka kita tidak akan menemukan kata-kata gangguan homoseksual lagi. Namun perubahan paradigma secara keilmuan ini tidaklah semudah itu dapat diterima masyarakat. Polemik dan pandangan negatif tentang kaum ini masih terus berlanjut di masyarakat.

Homoseksual dapat didefinisikan sebagai suatu keinginan membina hubungan romantis atau hasrat seksual dengan sesama jenis, jika sesama pria dinamakan gay sedangkan sesama wanita sebuat saja lesbian. Sebenarnya pengertian homoseksual itu meliputi 3 dimensi yaitu orientasi seksualnya yang ke sesama jenis, perilaku seksual dan juga tentang identitas seksualitas diri. Jadi masalah homoseksual bukan semata perkara hubungan seksual dengan sesama jenis semata. Hal inilah yang seringkali membuat kita merasa najis dengan kaum homoseksual, karena berpikiran bahwa di dalam otak mereka hanya berisikan semata nafsu birahi dengan sesama jenis saja, padahal homoseksualitas itu mencangkup identitas diri sekaligus perilaku mereka juga. Itu semua bukan dapatan semata dari faktor lingkungan, melainkan faktor genetiklah yang membuat perkara ini menjadi sangat sulit. Memang ada jenis homoseksual yang terjadi karena dipicu faktor lingkungan semata, misalnya suasana dalam penjara yang merupakan populasi homogen serta di biara seperti skandal sodomi dalam gereja di USA. Homoseksual semacam ini sesungguhnya jauh lebih muda ditangani karena hal tersebut tercangkup dalam segi perilaku semata, sementara segi identitas diri relatif masih normal (homoseksual situasional).

Dalam ilmu psikiatri, homoseksual yang dianggap sebagai suatu bentuk gangguan jiwa hanyalah homoseksual egodistonik. Homoseksual jenis ini bercirikan pribadi tersebut yang merasa tidak nyaman dengan dirinya dan tidak dapat menerima kenyataan orientasi seksualnya yang abnormal tersebut. Akibatnya pribadi semacam ini dihantui kecemasan dan konflik psikis baik internal maupun eksternal dirinya. Homoseksual distonik memberikan suatu distress (ketegangan psikis) dan disability (hendaya, gangguan produktivitas sosial) sehingga digolongkan sebagai suatu bentuk gangguan jiwa. Pribadi homoseksual tipe ini seringkali dekat depresi berat, akibatnya seringkali mereka mengucilkan diri dari pergaulan, pendiam, mudah marah dan dendam, aktivitas kuliah terbengkalai dan sebagainya. Homoseksual jenis inilah yang dicap sakit mentalnya dan memang harus diterapi. Di negara dengan budaya dan agama yang kuat seperti di negara kita, celakanya homoseksual jenis inilah yang mendominasi. Kaum homoseksual di tanah air sulit untuk menerima kenyataan dirinya sebagai kaum abnormal seperti demikian, maka mereka sering menyembunyikan orientasi yang dicap salah dalam masyarakat tersebut. Represi semacam demikian akan berakibat gejolak negatif dalam dirinya sehingga tampil ke permukaan sebagai stress,depresi dan gangguan dalam relasi sosial. Mereka sering gagal dalam menemukan identitas dirinya ditengah ancaman cambuk agama dan budaya yang sedemikian kuat.

Kaum homoseksual lain justru dapat menerima apa yang ada di dirinya sebagai suatu bentuk hal yang hakiki. Pribadi semacam ini berani coming out atau menyatakan identitas dirinya yang sesungguhnya sehingga konflik internal dalam dirinya lepas. Kaum homoseksual ini dinamakan egosintonik, tidak dikatakan sebagai kelompok gangguan jiwa karena mereka tidak mengalami distress amupun disability dalam kehidupan mereka. Bahkan mereka yang sukses dengan coming out seperti demikian seringkali lebih produktif dan sukses dalam profesi mereka seperti misalnya perancang baju, penata rias dan rambut,dll.

Menjadi seorang dengan orientasi seksual ke sesama jenis sesungguhnya bukan semata pilihan pribadi homoseksual, melainkan itu merupakan kesalahan genetik. Kecenderungan itu sesungguhnya sudah ada sejak lahir namun baru naik ke permukaan setelah seorang individu masuk ke dalam fase sosial dalam tahap perkembangannya. Bahkan seorang Sigmund Freud berani mengatakan bahwa pada setiap diri kita sebenarnya ada bakat untuk homoseksual, dan proses interaksi sosial dalam perkembangan selanjutnyalah yang menyebabkan bakat itu dapat muncul atau tertahankan. Permasalahan jiwa pada pribadi homoseksual sebenarnya jauh lebih banyak terkait faktor eksternal dirinya atau berupa tekanan dari masyarakat. Mereka yang tidak berani coming out ke masyarakat akan dihantui konflik identitas diri seumur hidupnya sedangakn mereka yang memberanikan coming out tetap menghadapi resiko dicibir atau malah dikucilkan masyarakat.Jadi sebenarnya homoseksual itu lebih berupa ‘penyakit masyarakat’ ketimbang penyakit jiwa karena memang yang menimbulkan penyakit itu adalah perlakuan dari masyarakat sendiri.

Kaum homoseksual di Indonesia jumlahnya tidak sedikit, mereka ada di sekitar kita namun seringkali kita memang tidak tahu karena umumnya mereka termasuk yang memilih untuk non coming out karena takut akan ancaman sosial-agama dari masyarakat. Sebagai catatan dari suatu survey dari Yayasan Priangan beberapa tahun yang lalu menyebutkan bahwa ada 21% pelajar SMP dan 35% SMU yang pernah terlibat dalam perilaku homoseksual. Data lain menyebutkan kaum homoseksual di tanah air memiliki sekitar 221 tempat pertemuan di 53 kota kota di Indonesia. Hal di atas menggambarkan bahwa jumlah kaum homoseksual tidaklah sedikit.

Bagaimanapun kita sebagai pribadi yang terpelajar hendaknya mau mengerti latar belakang kaum homoseksual, tidak semata merasa jijik atau malah menolak mereka. Tentunya Anda tidak bisa mengucilkan teman Anda yang berambut ikal karena memang gen nya membawa sifat ikal seperti itu bukan? Begitu pula homoseksual, bukan kemauan mereka untuk menjadi homoseksual, namun bedanya gen orientasi seksual semacam itu mencangkup pula segi perilaku sosial bukan semata penampilan fisik seperti halnya rambut ikal. Dukungan sosial justru sangat dibutuhkan oleh kaum homoseksual, dengan demikian mereka dapat menemukan dan mengaktualisasikan identitas dirinya serta terbebas dari distress, dengan demikian mereka dapat tetap produktif dalam masyarakat.

Homoseksual harus dibedakan dengan gangguan transeksual (banci). Transeksual masih termasuk dalam gangguan jiwa jenis preferensi seksual. Bedanya yang mudah diantara keduanya adalah bahwa kaum homoseksual tidak pernah ingin mengganti jenis kelaminnya (misal dengan operasi plastik), tidak pernah berhasrat mengenakan pakaian lawan jenis (melainkan kebanyakan gay berpenampilan macho dan necis). Selain itu kaum transeksual terutama memiliki dorongan untuk menolak jenis kelaminnya, dan mengingini jenis kelamin lawan jenisnya. Jadi pengertian transeksual lebih ke arah penolakan akan identitas dirinya sebagai seorang pria atau wanita, bukan menekankan kepada orientasi seksual (keinginan dengan siapa berhubungan seksual / membina relasi romantis). Jadi kaum banci atau waria sukanya dengan cowok atau cewek dunk jika begitu. Wah sebaiknya Anda tanya ke mereka langsung deh untuk pertanyaan satu ini....

 

 

Bookmark and Share

Tag/Label opini, homoseksual
Penilaian anda

Warta terkait
Kirim ke Teman
* Email Teman:
Pisahkan tiap email dengan titik koma.
Contoh: bill@microsoft.com; steve@apple.com
* Email anda:
33 komentar pada warta ini
Minggu, 17-08-2008 17:17:14 oleh: dimara danurekso

tulisan hebat!



Minggu, 17-08-2008 17:34:54 oleh: Anwariansyah

Tulisan ini menurut saya hanya bermaksud agar orang menganggap normal perilaku seks yang sebetulnya menyimpang.



Minggu, 17-08-2008 20:31:53 oleh: Micky Jo

masih bisa diluruskan kok asalkan sipelaku NIAT..gak keasikan terbawa arus...



Minggu, 17-08-2008 20:51:35 oleh: Phil Lea

Pak Dokter....apakah bisa mereka itu disembuhkan atau memakai istilah Mbak MJ "asalkan si pelaku NIAT..?????", karena setahu saya baik hombreng, lesbong maupun bencong....yang terkena paling dahsyat adalah psikisnya..!!



Minggu, 17-08-2008 21:24:38 oleh: dimara danurekso

sekalian ulas pedofil Pak Dokter!!!
jangan2 pedofil itu normal juga...




Minggu, 17-08-2008 21:34:49 oleh: Anwariansyah

Tulisan ini hasil observasi atau ....



Senin, 18-08-2008 00:56:44 oleh: Maria Chan

ya ampun Paskah.. ga nyangka bisa ketemu di wikimu.com=) good article!! kalau boleh membantu menjawab pertanyaan Mas Anwar, artikel ini mungkin hasil tinjauan pustaka. kalau menurut aku sendiri, homoseksual itu tetep ga normal dan tetep menyimpang (mereka sendiri pun mungkin sadar akan hal itu) namun bukan wewenang kita menghakimi mereka. tidak mudah menerima kenyataan kalau ada teman atau malah keluarga yang seperti itu kan?? artikel ini memberikan salah satu pertimabangan lain agar kita tetap ada dan tetap menjadi teman untuk mereka. syukur2 bisa "meluruskan" jalan mereka. keputusan akhir ya di tangan mereka. Paskah, keep creating yah=)



Selasa, 19-08-2008 12:51:07 oleh: Leonardo Paskah S

Pastinya tulisan seperti ini akan banyak hujaman dari banyak pihak haha..hal yang lumrah..

Tapi apa yang saya tulis diatas bukan hasil opini saya (siapa saya emanknya? lagian bidang studi utama saya kardiovaskular bukan psikiatri, walau saya minta juga di bidang satu ini).
Tulisan dan data di atas berdasarkan pustaka resmi kedokteran jiwa, merupakan turunan dari makalah ilmiah saya di bidang psikiatri yang saya tulis tahun lalu. Fakta yang ada diatas silahkan dicari di berbagai buku ilmiah psikopatologi/psikiatri, jika ada konsep keliru berdasarkan keilmuan, saya siap bertanggung jawab.

Yang terpenting, tulisan ini bukan bermaksud menajak kita untuk menganggap normal perilaku seks yang abnormal (sugesti) tapi lebih bertujuan memberikan informasi berdasarkan keilmuan (objektif). Tujuannya? agar ketika kita menemukan pribadi homoseksual, jangan langsung dicap najis, support bagi mereka diperlukan. Karena mereka adalah manusia dengan jiwa dan produktivitas 'normal' pula layaknya kita, tetapi mereka jadi pesakitan karena desakan masyarakat yang tidak adil.

Upaya meluruskan orientasi seksual adalah baik dan perlu didukung sosial, walau tidak mudah, sebab homoseksual itu menurut skala Kinsley terdapat 6 tingkatan (layaknya penyakit kanker), jadi jika si pribadi masih di zona tengah ke bawah, upaya perubahan masih rasional. Banyak di Indonesia kaum homoseksual yang mampu menekan alam homoseksual mereka sehingga mereka dapat berkeluarga hingga punya anak.
Bagi Anda perokok berat ( yaitu apabila jumlah batang rokok rata-rata perhari x berapa tahun sudah merokok hasilnya > 200) maka upaya untuk berhenti total dari rokok itu tingkat kesulitannya hanyalah setengah dari upaya mengubah orientasi seksual seorang homoseksual. Sebab hobi merokok itu tidak ada faktor merokok (melainkan kebiasaan dan pergaulan) sedangkan orientasi seksual seorang manusia memiliki bakat genetik.




Senin, 25-08-2008 08:32:12 oleh: ikhwan kunto alfarisi

didalam islam:
1. sesungguhnya allah swt sangat murka thdp org2x yg spt kaum luth

2. sesungguhnya setiap manusia itu memiliki pasangannya masing2x..




Sabtu, 30-08-2008 00:02:04 oleh: Cassandros

Pak Leo,
saya tidak bermaksud mengecam tulisan anda. Anda mencantumkan beberapa hasil riset ilmiah (meski ada yang kontroversial, tapi masih okelah, toh gak semua orang mengetahui betapa biasnya sampling yang dilakukan oleh Kinsey, serta latar belakang kehidupan seksualnya yang berpengaruh besar terhadap hasil riset yang dilakukannya). Cuma, beberapa paparan anda ternyata memuat OPINI anda, misalnya
"Tentunya Anda tidak bisa mengucilkan teman Anda yang berambut ikal karena memang gen nya membawa sifat ikal seperti itu bukan?"
Ini analogi yang tidak pas, karena saya belum pernah mengetahui ada agama yang mengecam rambut ikal. Selain itu, kecaman biasanya ditujukan bukan pada ketertarikannya, melainkan pada perilakunya.
Hasil riset Sandfort dkk di Belanda tahun 1991 membuktikan, bahwa di lingkungan yang bebas "homophobia" pun, prevalensi gangguan jiwa pada kalangan homoseksual juga lebih tinggi daripada populasi umum. Ini tentu tidak bermaksud meniadakan peran lingkungan dalam timbulnya distress, namun menegaskan kemungkinan adanya intrinsic disadvantage (ID) pada homoseksualitas. ID ini pada DSM IV TR adalah salah satu kriteria yang menentukan apakah suatu fenomena dianggap sebagai gangguan jiwa/bukan.
OKe, sebenarnya saya masih bisa bersepakat dengan hal2 tersebut di atas. Tapi bagaimana dengan uraian ego-distonik yang intinya "serba tertekan." Karena saya menemukan bahwa ada orang2 yang menerima dan mengakui orientasi homoseksualnya sebagai bentuk cobaan namun bukan bagian permanen/inti dirinya, namun sekaligus mematuhi nilai yang mereka anut untuk melawannya. Herannya, berbeda dengan uraian ego-distonik tersebut, tidak mengalami depresi spt yg sudah didoktrinkan kepada kita. Berikut ini kesaksiannya, semoga bisa menjadi bahan pelajaran bagi kita semua:
http://helda.blogdetik.com/2008/08/15/homoseksualitas-pasrah-atau-berjuang/#comment-609BTW
riset spitzer menyatakan bahwa reorientasi itu mungkin dan menyehatkan klien, meski s




Senin, 01-09-2008 00:26:59 oleh: Leonardo Paskah S

Menarik sekali akan apa yang disampaikan Saudara Cassandros,terima kasih.

Terlepas kontroversi apakah semua manusia homoseksual memang layak dianggap gangguan jiwa atau tidak, saya hanya ingin menekankan bahwa homoseksual sudah terbukti dan disepakati memiliki faktor kausa bio-psiko-sosial. Faktor lingkungan memang banyak berpengaruh tetapi yang penting disini adalah faktor bakat genetik yang memang bertanggung jawab dalam munculnya kecenderungan (jika bukan perilaku) homoseksual tersebut. Faktor bakat membuat bahwa sisi homoseksual seseorang sangat sulit dilakukan reorientasi. Hal ini serupa dengan berbagai penyakit yang sudah duluan diketahui bakat genetisnya seperti obesitas, penyakit jantung, kanker, hipertensi. Mereka yang punya bakat tersebut, walaupun menjaga makanan-olahraga teratur tetap saja beberapa persen akhirnya menderita penyakit tersebut.

Re-orientasi seksual memang perlu diupayakan terutama pada tipe egodistonik, mengapa? karena mereka yang egosintonik memiliki self acceptance yang buruk akan upaya tersebut karena ia merasa tidak ada hal yang salah dengan dirinya. he's comfortable in his own way. Jadi jika memang tidak ada distress dan disability, maka kaum egosintonik harus diubah ke bentuk apa lagi?

Bagaimanapun sikap dukungan sosial diperlukan kepada kaum homoseksual ini untuk menemukan jati diri mereka serta tetap produktif, bukan malah dicemooh/dikucilkan.Siapapun bisa terlahir dengan defek gen sehingga menjadi homoseksual. Bukan mereka, sebagian besar, yang menghendaki diri mereka sebagai homoseksual.
Memang seperti tertulis dalam Abnormal Psychology; masalah abnormalitas orientasi seksual memang sulit diterima masyarakat, beda dengan perilaku makan berlebih misalnya (untuk kasus obesitas), karena dalam seksualitas tersebut bersinggungan dengan aspek sosial-budaya-dan agama.




Selasa, 02-09-2008 12:15:50 oleh: Cassandros

terima kasih buat penekanannya pak leo ;)
soal terapi yang diberikan, apakah afirmasi atau reorientasi memang disesuaikan dengan ego-sintonisitas klien dan faktor2 lainnya, termasuk keinginan dan sumber daya klien. namun, di usa sana tempat bermulanya normalisasi homoseksual, sudah semakin gencar upaya melarang pemberian terapi reorientasi dengan alasan (1) penyediaannya merupakan bentuk dukungan dan pelestarian terhadap nilai-2 homophobik dan heteroseksis (2) klien yang meminta terapi reorientasi dianggap berada di bawah tekanan masyarakat atau menginternalisasi nilai2 tersebut, sehingga dianggap tidak sedang membuat keputusan secara sadar dan genuine. banyak argumen ilmiah yang dikemukakan untuk medukung pelarangan ini, termasuk pelarangan riset untuk mengembangkan reorientasi ini. riset reorientasi sebenarnya ada, cuma memang masih banyak keterbatasannya...
nah, menurut anda, saat psikologi dan psikiatri mulai bergerak ke evidence-based practice, bagaimana sikap kita terhadap klien2 ego-distonik ini?




Sabtu, 06-09-2008 14:28:19 oleh: Leonardo Paskah

betul skali Saudara Cassandros, USA memang semakin berhati2 dengan kebijakan akan kaum homoseksual. Homophobia merupakan momok yang seringkali menyeramkan disana, karena bisa berujung pembunuhan.
Berbeda misalnya dengan Belanda dan beberapa negara daratan Eropa lain dimana pernikahan kaum sesama jenis adalah legal. Banyak kaum homoseksual di Indo yang menikah dengan orang bule tsb dan tinggal disana maupun di bebapa kota besar di Indo (terutama Jogja dan dan Bali), hal itu termuat dalam beberapa web 'resmi' perkumpulan mereka seperti GAYa Nusantara dll..

Sebagai klinisi, kita harus bisa memisahkan keilmuan kita dengan emosi-empati-keyakinan. Psikologis seorang manusia itu sangat rumit, tidak bisa digeneralisasi seperti penyakit fisik misalnya (misalnya kita bisa menganggap gula darah puasa seseorang abnormal jk > 126 g/dL, tapi kadar seksualitas seseorang abnormal cutoff point nya berapa atau apa??)
Yang jelas kaum egodistonik wajib diterapi karena mereka adalah pesakitan yang non produktif. Terapi disesuaikan dengan karakteristik tiap pasien, polaritasnya antara menuju re-orientasi (umumnya untuk homo derajad ringan-sedang), atau ke arah aktualisasi diri/come out jika memang upaya re-orientasi tidak memungkinkan. Mengenai cara-cara detailnya saya kira diluar skope saya..
Trima Kasih




Sabtu, 13-09-2008 08:27:56 oleh: Cassandros2

Terima kasih tanggapannya, Pak Leo...

Ada 3 hal yang perlu saya garisbawahi:
1) Homophobia adalah istilah salah kaprah yang dilekatkan pada semua opini yang tidak mendukung normalnya homoseksual. Jadi, pembicaraan kita mengenai kemungkinan pemberian terapi reorientasi hanya bagi yang membutuhkan, menurut aktivis gay sebenarnya sudah bisa dinilai homophobik, meskipun sebenarnya diskusi kita karena kepedulian dan empati terhadap pasien yang beragam.

2) Riset2 bidang psiko-sosiologi mengenai orientasi seksual terkemudian menggunakan sampel para anggota komunitas homofili (sebangsa GN), bukan dijaring dari masyarakat umum atau pasien2 psikolog. Tak heran, kesimpulannya adalah "homoseks bisa hidup sehat dan bahagia hanya jika merengkuh gaya hidup gay." Padahal, riset Spitzer (sampelnya dari anggota ministry ex-gay dan mantan pasien reorientasi) menyatakan bahwa beberapa orang mampu menggeser orientasi seksualnya. Manakala tidak berhasil pun, mereka menganggap bahwa terapi itu bermanfaat bagi mereka. Beberapa rekan saya, salah satunya Alif yg link komentarnya saya sertakan di atas, hidup sebagai pekarya yang sukses tanpa menunjukkan tanda2 depresi meski ia tidak hidup sebagai gay ataupun berhasil menggeser orientasi seksualnya.

3) Dalam menyimpulkan data riset ilmiah, memang kita harus seonjektif mungkin. Namun kita tetap harus mencamkan, bahwa subjek kita adalah manusia yang tidka kedap nilai. Data yang mereka berikan pasti bermuatan nilai. Lebih2 di ruang praktik, klien sering datang untuk minta reorientasi karena alasan agama. Salah seorang aktivis gay Doug Haldeman dengan jujur menyatakan "A corollary issue for many is a sense of religious or spiritual identity that is sometimes as deeply felt as is sexual orientation. For some it is easier, and less emotionally disruptive, to contemplate changing sexual orientation, than to disengage from a religious way of life that is seen as completely central to the individual's sense of self and purpose"




Sabtu, 13-09-2008 08:51:46 oleh: Cassandros2

Lanjutannya...

Kita memang perlu membangun keputusan dan tindakan kita berdasarkan temuan ilmiah, karena memang demikianlah seharusnya dan itulah yang diharapkan masyarakat dari kita. Proses normalisasi yang dilakukan APA adalah salah satu contoh nyata betapa hal2 di luar bukti ilmiah seringkali mengalahkan bukti ilmiah (http://www.narth.com/docs/TheTrojanCouchSatinover.pdf). Meski demikian, kita tidak bisa mengabaikan faktor lain yang "tidak ilmiah," karena saya yakin masih banyak hal yang belum dijangkau oleh riset meski sudah sering kita temui di ruang praktik kita. Misalnya, beberapa ahli menyimpulkan bahwa homoseks ego-distonik biasanya non-produktif, depresif, dll karena dorongan homoseksualnya bertumbukan dengan nilai2 agama. Padahal, dengan cara pandang yang tepat, agama justru bisa menjadi faktor pendukung kesehatan mental seorang homoseks tanpa kehilangan fungsinya dalam mengekang dan mengubah orientasi seksualnya. Misalnya, komunitas straightstruggle (http://groups.yahoo.com/group/straightstruggle), people can change, jonah, exodus, evergreen, dll.




Jumat, 19-09-2008 19:19:16 oleh: Leonardo Paskah

Thx lots Bung Cassandros..
Sangat menarik diskusi yang Anda sampaikan, saya sangat meng apresiasikan akan apa yang Anda sampaikan..
Sungguh menyenangkan dapat bertukar pikiran mengenai masalah pelik satu ini dengan orang yang kompeten dalam segi keilmuannya..
Sukses selalu..
Saya tunggu tulisan Anda tentang tema psikologis di wikimu karena memang kebetulan saya cukup berminat membaca bidang satu ini semenjak kuliah, walaupun sebenarnya bidang yang sedang saya tekuni adalah kardiovaskular dan emergensi (haha tidak berhubungan sama sekali ya dengan psikologi;p), but psychology is wonderful and temptative!




Selasa, 27-01-2009 11:20:19 oleh: Gentur

Saya sangat setuju dengan mas Ikhwan Kunto Alfarisi, jdi saya ga perlu ksih komentar lain lgi



Rabu, 30-09-2009 21:23:09 oleh: tedy

saya punya anak laki usia 5 tahun, belakangan saya perhatikan dia punya kecenderungan berperilaku seperti wanita....saya sebagai orang tua sangat khawatir bagaimana mengatasinya ata bahkan mengembalikannya.....maaf karena saya awam tentang kejiwaan dan sebagainya mungkin ada yang dapat memberikan jalan keluar baik dari sisi psikologi maupun cara lain seperti teray hormon atao berkonsultasi dengan orang yang ahlinya...saya sangat menunggu jawaban dari rekan-rekan, mohon bantuan emial saya gangvista@yahoo.com
THANKS TEDY




Selasa, 06-10-2009 20:35:49 oleh: Leonardo Paskah S

Pak Tedy yang baik,
melihat usia anak Anda baru 5 tahun, saya kira jangan terlampau cepat panik terlebih dulu. Kreatifitas dan fantasi anak dalam usia 3-6 thn sedang tinggi-tingginya. Ada baiknnya pola asuh Anda tetap lakukan sebagaimana mestinya, misalnya dengan menonjolkan peranan dan aktivitas ala lelaki bersama Anda tiap akhir pekan, misalnya olahraga basket dsb. Dialog yang tidak bersifat memojokkan juga diperlukan. Selain itu , Anda perlu merefleksikan diri apakah selama ini pola asuh Anda terlalu condong ke arah feminin, misalnya tanpa Anda sadari karena Anda menginginkan anak perempuan maka si anak diperlakukan ala femimin.
Lebih jauh, saya anjurkan Anda membawa anak Anda ke psikologis atau psikiatris tumbuh kembang anak.




Kamis, 08-10-2009 11:21:56 oleh: Leonardo Paskah S

Tambahan info untuk pak Tedy,
ada program yang saya rekomendasikan untuk permasalahan anak Bapak.

"Behavioral & Emotional Problem Screening Test" di Siloam Hsopital Kebun Jeruk, setiap hari Rabu dan Sabtu pk.08.00-14.00 dengan perjanjian lebih dulu dengan menghub. 021 53695695 atau 021 5300888 extension 1996/1998.
Konsultasi dengan dokter spesialis kejiwaan anak (psikiatris pediatrik)

semoga membantu




Selasa, 20-10-2009 11:19:20 oleh: bowo agung

halo pak leo,
saya tertarik dengan tulisan ini dan pembahasan dalam komentar2 yang ada. kalau boleh saya juga ingin memberikan komentar.
saya tertarik dengan tulisan pak leo yang mengatakan: Dukungan sosial justru sangat dibutuhkan oleh kaum homoseksual, dengan demikian mereka dapat menemukan dan mengaktualisasikan identitas dirinya serta terbebas dari distress, dengan demikian mereka dapat tetap produktif dalam masyarakat.
menurut saya dukungan sosial sebenarnya memang harus diberikan tapi bukan agar mereka bebas berekspresi/mengaktualisasikan identitas, melainkan dukungan untuk membantu mereka mengembalikan ke identitas yang sesungguhnya. kita harus sama-sama mensuport mereka tanpa tendensi untuk menyalahkan karena saya yakin mereka pada hakikatnya tidak ingin hidup seperti ini. dalam agama saya (islam) manusia itu punya kewajiban untuk nasehat menasehati dalam kebaikan, nah disinilah perlunya kita mulai mempraktekkan hal tersebut. kita terapkan pada kelompok yang masih gamang dengan identitasnya ini. terima kasih




Rabu, 02-12-2009 09:26:22 oleh: mannyu

pada dasarnya manusia hanya ingin rasa aman dan nyaman,,mungkin dengan menjadi seorang yang notabene homoseksual,dia akan merasa aman dan nyaman,,namun manuasia dalam hidup memiliki aturan-aturan yang mengikat dan tidak hanya mengikuti hawa nafsu saja,jadi tetap kita tidak bisa selalu "menghalalkan apa yang diharamkan",,,mungkin bila homoseksual ini tejadi akibat pengaruh lingkungan,hal ini masih bisa untuk "disembuhkan",,asalkan ada niat dari yang bersangkutan,,Amiiinn,,,
smoga dapat hidayah dari Yang Diatas,,,
Wallahu'alam bishawab




Rabu, 02-12-2009 10:25:01 oleh: tomie ayatullah

bagus juga artikelnya
tetapi, sandaran Anda dg term psikologi kejiwaan tak punya dasar.
Homoseksual tak terkait genetik, tetapi traumatik, juga terkondisikan persepsi imajinasinya oleh lingkungan gaul, di mana ia hidup.

saya kira, landasan psikiatri itu patut diteliti ulang pada kasus dan fakta.

apa yang pernah mengisi pengalaman masalalu, itu intinya. Ini cm tambahan sharingkok




Minggu, 17-01-2010 03:15:08 oleh: adhi setiadi

saya sangat setuju dengan pernyataan kalau homosexual bukanlah penyakit gangguan jiwa karena keadaan yang menimpa mereka sama sekali tidak mereka inginkan malah di antara mereka ada yang berlatar belakang kaum yang sangat memahami agama dan sebagai umat yang taat sudah tentu mereka tau apa hukum nya yang mereka ketahui dalam buku buku agama tapi kenapa justru terjadi kepada mereka,siapa yang harus di salahkan banyak pendapat yang mengatakan homosexual bisa di sembuhkan denga cara pendekatan dengan agama nya tapi ternyata itu bukan jaminan bukti nya teman saya yang meresa terbebani dengan kenyataan hidup nya sebagai kaum homosexual setiap malam menangis dalam solat dan doa nya minta kesembuhan agar menjadi peria yang normal tetap aja sampai hari ini dia masih seperti itu malah tanbah parah kasihan ya.



Rabu, 20-01-2010 20:19:45 oleh: Leonardo Paskah S

memang merupakan musibah besar jika seseorang terlahir dan terbentuk dalam perkembangannya sebagai seorang homoseksual di negara seperti di Indonesia. kaum homo menjadi stress justru karena tekanan sosial dan agama yang menerpanya. Hidup segan matipun tak hendak. Hal itu dikarenakan banyak pihak yang masih belum paham benar akan masalah yang sensitif ini, akibatnya banyak pula kebijakan yang ngawur dan semata-mata dibasiskan pada segi agama atau adat sosial, bukan secara kemanusiaan. Bagi saya, segi kemanusiaan jauh lebih penting dari aturan-aturan agama dan norma sosial apapun dimuka bumi ini, karena norma dibuat awalnya untuk tujuan kemanusiaan, namun sekarang malah kebalik tuh..

terkait ulasan mengenai genetik, mohon dimengerti dengan baik bahwa genetik bukan semata penyebab terjadinya homoseksual, tapi merupakan faktor predisposisi mendasar yang bisa meletus jika dalam kesehariannya ada pemicu2 yang tepat seperti misalnya peristiwa traumatis (di sodomi misalnya waktu kecil). Jadi jika ada 2 manusia dimana si A punya defek genetik sementara si B tidak ada, dan mereka berdua ternyata dipenjara seumur hidup, maka perilaku homoseksual sangat mungkin menimpa si A sedangkan si B tidak. Faktanya tidak semua pria yang dipenjara seumur hidup di penjara memiliki perilaku homoseksual bukan?!
Saya sendiri sejak kecil disekolahkan ke sekolah yang uniseks yaitu cowok semua muridnya, selama masa studi tersebut ada banyak olok-olok berbau homoseks, tapi toh sampai saat ini saya masih cowok tulen tuh hehe...




Rabu, 20-01-2010 22:58:22 oleh: Iwank Setiawan

Saya sependapat dengan Adhi Setiadi. Saya juga punya teman yang seperti itu. Malah urusan agama dia jagonya dalam pergaulan sehari-hari. Tapi tidak ada perubahan yang berarti meski air matanya udah hampir kering (wow...). Sholat dilakonin, puasa juga. Koq masih juga bernafsu? (maksudnya ke sesama jenis) Mungkin bener juga tuch pendapat Bang Leo. Makanya, kalau saya sih tetep aja temenan ama mereka, tapi tetep jaga jarak. Untuk yang ilmiah-ilmiahnya, saya mah gak tau. Tapi faktanya ya, begitu itu! Syalom.



Sabtu, 30-01-2010 15:29:29 oleh: Hendrik

bila malam saya sering memandang bintang dilangit umpamanya semua bintang dilangit adalah laki laki didunia mengapa Tuhan menunujuk satu bintang untuk jadi homoseksual adalah aku.... Perasaan homoseksual ini bukan saya buat buat, ini timbul secara alami menjadi naluri saya dan semakin saya berpikir saya semakin sedih, bahkan sempat saya berpikir seandainya di dunia ini benar benar ada Reinkarnasi mungkin saya sudah bunuh diri saat ini..
sampai saat ini belum ada yang tau bahwa saya adalah homoseksual meskipun mungkin ada yang curiga kenapa bertahun tahun saya tidak punya pacar, tapi kembali lagi ke naluri saya, saya takut bila nanti pacar saya tau bagaimana jadinya.. jadi selama ini saya disiksa diri saya sendiri dan pikiran saya..

Andaikan homoseksual bisa disembuhkan..




Senin, 01-02-2010 19:26:17 oleh: Maya

yang pasti kita harus tetap mendukung mereka... tidak meninggalkan mereka sedikitpun...
tapi, bagaimana kita tahu apakah seorang homoseksual itu terjadi karena faktor biologisnya yang lebih dominan?
kalau memang setiap man punya kecenderungan untuk itu, berarti setiap manusia pun dapat dengan mudahnya menjadi itu...
saya yakin mereka bisa di sembuhkan... faktor traumatik dan lingkungan yang cukup kuat yang dapat mendukung seseorang untk menjadi seorang hooseksual... karena itu saya yakin bisa di sembuhkan dengan cara memperdamaikan mereka dengan masa lalu mereka...
saya bukan orang yang ahli dalam hal ini, tapi saat ini, shbat terdekat saya sedang mengalaminya...
saya ga kan pernah rela jika dia seterusnya seperti itu...
sy ga kan pernah ninggalin dia...
terus mendukung dia..
saya menerima dia.. tapi... saya terus berharap dia kembali...
ga da yang mustahil kan dimata TUhan..




Minggu, 28-03-2010 11:09:38 oleh: ohoi

Setuju dg Anwariansyah.
Penanaman paham bahwa persoalan lesbi/homo ini sbg persoalan orientasi sex diharapkan dapat memberikan pengalihan mindset agar mereka tidak dianggap menyimpang.
Alasan yang dibangun, bahwa prilaku yg berbeda karena orientasi sexnya tidak menimbulkan gangguan jiwa selama yg bersangkutan hepi-hepi saja.
Hal ini sama saja dengan orang yg selama mengikuti hawa nafsunya meski itu perbuatan dosa kalau tidak menimbulkan keresahan hati atau penyesalan maka itu jangan diperkarakan. Kalau perlu pelakunya dilindungi bahkan difasilitasi.
Bahkan para psiater yang berani melakukan terapi kepada mereka dapat diancam dengan atauran2 baru yg dianggap sebagai 'kemajuan bidang hukum'. Jadi harapan mereka hukum tidak hanya merestui hubungan 'pernikahan sejenis mereka' tetapi juga ancaman hukuman bagi para psikolog/psiater yang memberikan therapy mengembalikan orientasi sex-nya sesuai fitrah manusia.
Sungguh hal yang sangat menjijikkan... Yaa Tuhan lindungi umat manusia dari hal yang demikian ...
Sesungguhnya mereka yang mengajak 'pembebasan dari-Mu' hanya mengajak kepada 'penghambaan hawa nafsu sendiri' dan karena itulah membuat kami lemah.




Rabu, 25-08-2010 02:06:32 oleh: yudie

mungkin emang bener ada turunan gen, tapi lingkungan juga bisa berpengaruh untuk menjadikan seseorang menjadi homosexsual...
dulu gw juga ngerasa gw beda dari org lain, gw ngerasa aneh dgn diri gw sendiri yang menyukai sesama jenis... tapi gw coba tutupi dan coba untuk tidak di rasa kan...
hingga akhir nya gw kenal dengan yg namanya friendster, dgn mengenal org2 yang emang coming out dgn dirinya yang gay...
dan akhir nya gw terbawa arus mereka...
awal saling mengenal, ketemuan, hingga akhir nya gw punya pacar pria...
dan akhir nya juga gw menerima penyimpangan ini...

tapi sekarang, gw pengen berubah tapi susah....
what should i do????




Minggu, 21-11-2010 11:30:41 oleh: sukmin

terimaksih dok atas artikelnya saya sependapat dengan anda ttg bagaimana cara kita memperlakukan kaum gay walau bagaimanapun mereka adalah manusia kita tidak boleh menzolimi mereka. hendaknya kita semua bersyukur karna tuhan menjadikan kita terlahir sebagai seorang yang normal coaba anda bayangkan jika kita berada di posisi mereka. buat para gay bersabar dan terus berusaha yakilah pasti banyak hikamah yang dapat di petik atas ini semua jangan pernah menyesal karana terlahir sebagai seorang gay namun tetap bersyukur



Kamis, 14-07-2011 13:28:26 oleh: ANI

Pak Leo,

Saya mau bertanya , saya mempunyai seorg adik lelaki yg uda berumur di atas 28 thn, tetapi herannya kami tak pernah melihat dia berpacaran dengan seorg perempuan semenjak di bangkuk SMA hingga selesai kuliah, bila ditanya selalu alasan belum mapan , tunggu kumpulan duit dulu baru ada rencana berumah tangga.

Baru-baru ini kamu mengetahuinya dia telah putus cinta , tetapi dengan lelaki atau perempuan , itu tak jelas. Lucunya dia menangis terseduh-seduh disebabkan hal ini layak seorang wanita yg telah patah hati. Kecurigaan kami bertambah setelah kami coba menghubungi teman dekatnya yg seorang pria mereka terkesan jua menutup-nutupinya. Untuk mengetahui jelas apakah benar adek saya seorang gay bagaimana caranya. Dari segi fisik dan penampilan bisa dibilang seorang pria. Dia tidak pernah terbuka dengan kita sebagai anggota keluarga nya tentang hal ini. Bagaimana kamu boleh mencari tahu kebenarannya tanpa menyakit perasaan dan harga dirinya. Kami tidak pernah tau dengan siapa dia bergaul selama ini. Salah satu teman adek ky yg bisa dihubungi telah berpindah ke tempat lain.

Mohon saran Bapak agar saya sebagai seorg kakak jua tau bagaimana membantunya.

Untuk dapat konsultasi mengenai penyimpangan seks ini kemana kita harus berkonsultasi.




Jumat, 22-07-2011 20:08:31 oleh: Leonardo Paskah S

Dear Sdr.Ani yang baik,
saran saya, cobalah bicaralah dari hati ke hati dengan adik Anda, lebihlah banyak mendengar dari dia, jgn menghakimi. Lagipulah selama ini barulah hanya kecurigaan semata bahwa ia adalah seorang homoseksual.Jika pangkal masalah ketemu, konsultasi dengan psikiatri khusus gangguan psikoseksual dapat dilakukan.
Dukungan sosial sangat penting dalam pendekatan terhadap individu semacam ini, karena umumnya mereka menutup diri dikarenakan ketakutan akan tekanan sosial.

Smga membantu




Tambahkan komentar anda
* Nama lengkap:
* Email:
tidak ditampilkan untuk umum
  • Hal-hal yang perlu diperhatikan :
  • - Berilah komentar yang relevan dengan topik warta ini. Bacalah semua dari warta maupun komentar-komentar lain, sebelum memberi komentar.
  • - Tidak membuat komentar yang bernuansa SARA, pornografi, menyerang pribadi, menyebarkan kebencian dan kekerasan maupun pendapat yang melanggar hukum.
  • - Tidak beriklan di kolom komentar ini.
  • - Gunakan bahasa yang santun dan beri respek pada semua pendapat meskipun berbeda pendapat.
  • - Gunakan nama asli dan bila Anda sudah menjadi anggota Wikimu, upayakan login member terlebih dahulu. Bila belum menjadi anggota, email yang Anda cantumkan di kolom email, tidak akan dimunculkan.
* Komentar:  
captcha Silakan tulis kode disamping ini untuk melanjutkan.

PALING BERGUNA (bulan ini)

TERBANYAK DILIHAT (minggu ini)

TERBARU

50 TAG / LABEL TERPOPULER

 

Link Wikimu


Mau pasang link Wikimu di blog/situs Anda? copy link ini

TESTIMONI PRODUK

Minuman Sereal Baru ENERFILL

Jumat, 05-06-2009 18:04:42 oleh: Rina Linda

Bosan dengan yg biasa??? Minuman sereal ENERFILL, di setiap porsinya mengandung kombinasi 8 Vitamin, Protein, Kalsium & mineral lainnya yg dibutuhkan tubuh. Kombinasi rasa yg nikmat dengan sensasi baru BUTIRAN OATS PADAT di dalamnya bikin ENERFILL sebagai minuman penambah energi dengan kenikmatan rasa yang mudah tersaji. Cukup disajikan dgn 150 ml air panas ke dlam gelas, rasakan sensasi rasa baru coklat atau vanilla. ENERFILL, minuman penunda lapar yang lengkap, enak, lebih mengenyangkan & sehat untuk penambah energimu



Testimoniku:
Fajar Setyo Hartono: Minum Sereal Baru ENERFILL bila disajikan dalam minuman panas dalam gelas kita dapat merasakan sensasi rasa baru coklat atau vanila dan bisa menambah energi setelah minum .

Testimoni selengkapnya... (4 komentar)



Testimoniku Terbaru:
Sergio   pada  Pocari Sweat
David   pada  Momogi Snack
Latif Nur Hidayah   pada  Yakult...Bisa untuk Obat Diare??

SUARA KITA

Simpati Kirim SMS Iklan Seenaknya

Sabtu, 21-02-2009 12:22:33 oleh: Eko Nurhuda
Saya pengguna Simpati sejak pertama kali bisa beli hape di tahun 2002. Sampai sekarang saya masih setia dengan Simpati karena alasan coverage area. Namun belakangan ini kesetiaan saya terganggu karena Simpati suka seenaknya mengirim SMS berisi iklan layanan yang tidak saya butuhkan (dan sering!). Sungguh menyebalkan..!

Suaraku:
melfa: Saya memakai simpati dari thn 1993 waktu itu blm ada kartu hallo suafu saat saya miggrasi ke hallo sampai 2010 tiba2 diputus sama mereka tanpa alasa,saya mohon aktifkan nmr saya itu kembalia



Suara kita selengkapnya... (18 komentar)



Suara Kita Terbaru:
melfa   pada  Simpati Kirim SMS Iklan Seenaknya
gdwmnv   pada  Hutan Pantai Jakarta Dibangun Pemukiman
pjkhfge   pada  Hutan Pantai Jakarta Dibangun Pemukiman

DARI ADMIN

Rekan-rekan,

Wikimu juga mempunyai PUBLIC PROFILE di Facebook jika anda ingin menjadi Fans silahkan kunjungi kami. Jangan ketinggalan kami mempunyai lomba komentar di Public Profile setiap hari Senin dan Kamis. Nantikan terus artikel yang menjadi topik dalam lomba komentar.

Untuk pertanyaan dan masukkan, silahkan email ke

info@wikimu.com

salam,

21 April 2009

Admin.

Masukan, pertanyaan, kritikan terhadap kami silakan kirim email ke info@wikimu.com atau telp : 021-56165522 Senin-Jumat (08.00 - 17.00 WIB)
COPYRIGHT ©2006 WIKIMU.COM - Jurnalisme Publik (Citizen Journalism). All Rights Reserved | PRIVACY POLICY