Beberapa waktu lalu, saya mendapat SMS dari saudara di Sumatra, bertanya perihal telepon atau SMS layar merah. Telepon dan SMS tersebut ada hubungannya dengan angka 666 (angka syetan). Mulanya, saya mendiamkan aja. Lama-lama, tertarik juga untuk mencari tahu. Setelah tanya sana tanya sini, browsing beberapa saat, barulah saya paham apa yang dimaksudkan dengan telepon layar merah atau SMS layar merah.
Kabarnya, jika SMS atau telpon tersebut diterima, akan menyebabkan si penerimanya sakit bahkan mati. Kabar lain mengemukakan bahwa sudah terbukti beberapa korban di Sumatra. Membaca lebih lanjut soal korban, ternyata kejadiannya begini:
Sang suami bercerita tentang telpon layar merah kepada istrinya, istrinya jadi ketakutan. Beberapa saat kemudian, istrinya menerima telpon dari nomor yang belum tercatat di handpone-nya. Perempuan tersebut langsung pingsan.
Jika itu benar terjadi, bukan gara-gara telpon layar merah kan? Logisnya si istri ketakutan atas cerita suaminya. Ketakutan sama saja dengan tekanan psikologis. Hal ini sama seperti diagnosa dokter: tekanan psikologis. Jadi, bukan karena telpon layar merah (tapi karena isu telpon layar merah, benar). Tidak perlu dibesar-besarkanlah.
Cerita lain pula, telepon dan SMS tersebut berhubungan dengan operator baru, AXIS (soal yang ini saya benar-benar tidak tahu). Bersamaan dengan itu, ada juga cerita tentang santet. Soal santet lewat SMS, Ki Gendeng Pamungkas mengatakan mungkin saja, tapi yang bisa cuma dia. Jadi, kalau ada yang disantet lewat SMS, tinggal minta pertanggungjawaban Ki Gendeng Pamungkas aja, kan cuma dia yang bisa (dan mungkin)?
Kemudian, ada analisis lain, WHO (melalui Kepdik Prof. Dr. Blanca Lochar, cerita lain melalui Kepdik Prof. Dr. Adi Mok) menyatakan bahwa itu radiasi infra merah yang dipancarkan secara berlebihan. Ini tidak mungkin terjadi, seorang yang mengerti elektronika berujar: sebelum infra red yang begitu besar sampai ke HP kemudian ke pemiliknya, BTS-nya akan hancur duluan. Buktinya tidak ada BTS yang rusak karena infra red.
Setelah melacak lebih lanjut, saya menemukan kenyataan: WHO tidak pernah mengemukakan pernyataan soal infra red tersebut. Mereka juga tidak mempunyai anggota (baik tingkat regional maupun internasional) yang bernama Prof. Dr. Blanca Lochar atau pun Prof. Dr. Adi Mok seperti yang diberitakan.
Soal infra red ternyata bohong besar yang lain di antara kebohongan-kebohongan yang lain. Yang mungkin benar hanyalah: Beberapa orang pingsan dan mungkin meninggal gara-gara ketakutan setelah mendengar isu bohong telpon dan SMS layar merah, kemudian disingkat menjadi Beberapa Orang Menjadi Korban Telpon dan SMS Layar Merah. Sesuai dengan judul tulisan ini, yang meminta korban adalah isunya bukan telpon atau SMS-nya.
Isu terakhir yang saya dengar, BBM akan naik. Yang ini juga tidak benar karena BBM memang akan naik, bukan cuma isu, karena Pak Wapres sendiri udah bilang: NAIK.***