Akhir-akhir ini, dimulai dari medio Juni hingga Desember 2007, kalender pemerintah untuk urusan sumber daya energi cukup disibukkan dengan konversi Energi dari Minyak Tanah ke LPG (Liquid Petroleum Gas). Hal ini menjadi penting mengingat sumbangan subsidi pemerintah untuk pengadaan Minyak Tanah adalah mencapai 60% dari keseluruhan anggaran Subsidi BBM (40% sisanya terbagi ke dalam subsidi Premium, Solar dan Minyak Bakar). Bila dalam nilai rupiahnya adalah sebesar 54 Trilyun Rupiah telah di kucurkan setiap tahun untuk pengadaan Minyak Tanah apabila di asumsikan sesuai dengan harga Crude Oil saat itu sebesar USD 60 / Barrel. Dapat dibayangkan berapa banyak lagi Subsidi yang harus di gelontorkan apabila harga minyak bumi mentah di periode akhir tahun 2007 menembus angka USD 98 / Barrel.
Minyak Tanah, dalam bahasa Inggris sering disebut dengan Kerosene, sejatinya adalah bahan bakar untuk moda transportasi Pesawat Terbang. Jika untuk moda kendaraan darat dikenal Premium untuk jenis kendaraan biasa/umum dan Pertamax / Pertamax Plus untuk jenis kendaraan kelas atas, maka di dalam dunia Penerbangan-pun dikenal pembagian seperti di atas. Sehingga untuk Kerosene adalah diperuntukan bagi Pesawat Terbang dengan mesin Baling-Baling / Propeller / Turboprop, maka Avtur sendiri dipergunakan bagi Pesawat Terbang dengan mesin Jet / Turbojet / Turbofan.
Di dunia, penggunaan Minyak Tanah / Kerosene yang notabene adalah bahan bakar Pesawat Terbang, namun dipergunakan sebagai sumber energi bagi masyarakat umum untuk memenuhi kebutuhan pangannya, hanyalah ada di Indonesia dan India. Dengan semakin menipisnya sumber daya mineral, lebih baik di daya gunakan demi menambah devisa Negara karena intinya dari devisa Negara yang diperoleh nantinya juga akan dipergunakan bagi kesejahteraan masyarakat pada umumnya.
Maka, dari tabel di bawah dapat diperlihatkan, betapa banyak rupiah yang sebenarnya dapat di hemat oleh masyarakat kita.
Tabel Perbandingan Jenis Energi dengan Nilai Rupiah yang dikeluarkan dalam Konsumsi Rumah Tangga Sehari-hari Masyarakat Kita.
No | Uraian | Jenis Energi |
Elpiji 3 Kg | Elpiji 12 Kg | Minyak Tanah (liter) | Briket Batubara (Kg) |
1. | Pemakaian : Kg atau Liter/hari | 0,6 | 0,6 | 1,5 | 6 |
2. | Harga (Rp) / Kg | 2.800,- | 2.500,- | 4.000,- | 900,- |
Rupiah / Hari | 1.680,- | 1.500,- | 6.000,- | 5.400,- |
3. | Perawatan Kompor / Tabung | mudah | mudah | sulit | mudah |
4. | Distribusi | mudah | mudah | langka | langka |
NB :
Untuk tabung 3 Kg adalah dengan harga Rp.14.000,- / tabung. Asumsi pemakaian adalah untuk 5 hari penggunaan.
Untuk tabung 12 Kg adalah dengan harga Rp. 52.250,- / tabung. Asumsi pemakaian adalah untuk 21 hari penggunaan.
Eceran minyak tanah untuk warung / toko dengan harga Rp. 4.000,- / liter. Asumsi pemakaian untuk 1 hari adalah 1,5 liter
Eceran briket batubara dengan harga Rp. 900,- / Kg. Asumsi pemakaian untuk 1 hari adalah 6 Kg.
Dapat dilihat dari tabel diatas bahwa untuk program pemerintah dengan ukuran tabung 3 Kg, disesuaikan dengan harga resmi yang juga telah diberikan subsidi adalah menjadi Rp. 4.250,- / Kg , sehingga harga jual resmi sebenarnya adalah Rp. 12.750,- / tabung. Namun dalam prakteknya, harga jual di tingkat eceran menjadi Rp. 14.000,- s/d Rp. 15.000,- / tabung.
Sedangkan untuk tabung ukuran 12 Kg, harga subsidi yang diberikan pemerintah adalah Rp. 4.350,- / Kg. Alhasil untuk penjualan eceran adalah berkisar antara Rp. 52.250 s/d Rp. 55.000,- / tabung, walaupun dalam prakteknya lebih banyak terjual dengan harga Rp. 55.000,- / tabung sedangkan di Gerai Indomaret sendiri terjual dengan harga Rp. 52.250,- / tabung.
Terlebih lagi, di awal tahun 2008 ini, untuk ukuran 12 Kg akan diterapkan harga baru dengan pemberian subsidi lebih kecil lagi yaitu sebesar 15% menjadi Rp. 6.000,- / Kg , maka untuk ukuran tabung 12 Kg tak ayal lagi akan mencapai Rp. 72.000,- / tabung. Walaupun nanti dalam prakteknya akan berkisar diharga Rp. 75.000,- / tabung.
Namun tak pelak lagi bahwa dari tabel diatas akan jelas terlihat bahwa penggunaan Gas LPG tetap lebih ekonomis nilai rupiahnya di bandingkan dengan Minyak Tanah yang saat ini untuk harga pasar bebas / Internasional dapat mencapai Rp. 6.500,- / liter, yang jauh lebih mahal jika dibandingkan dengan harga Pertamax / Pertamax Plus bersubsidi saat ini.
Hanya saja nilai ekonomis ini tidak diimbangi dengan sosialisasi dan edukasi yang layaknya seharusnya sudah diterapkan dari awal. Kemudian untuk daerah yang sudah Zero Minyak Tanah, pelayanan distribusi tabung ukuran 3 Kg harus dengan konsekuen di jalankan dimana jangan sampai terjadi kelangkaan untuk stocknya. Sedangkan penarikan Minyak Tanah dari masyarakat harus dilakukan secara bertahap dengan terlebih dahulu dilakukan penyuluhan tentunya.
Trims ...