Tahun Baru 2008 sudah di depan mata. Aneka kegiatan dan hiburan sudah banyak ditayangkan di media massa. Tahun Baru selalu identik dengan pesta dan kegembiraan. Namun di penghujung tahun 2007 ini, masihkah perlukah kita berpesta? Kalau kita melihat kembali lembaran peristiwa sepanjang tahun 2007, bencana demi bencana sering menghampiri rakyat Indonesia. Mulai dari bencana akibat ulah manusia, seperti kecelakaan transportasi, baik udara, laut dan darat. Lalu bencana banjir dan longsor , karena pembabatan hutan seenaknya, ataupun pergembangan hutan beton di kota tanpa memperhatikan aspek lingkungan.
Di bidang ekonomi, naik dan langkanya BBM merupakan pukulan berat bagi rakyat kecil.Transformasi dari minyak tanah ke gas elpiji pun belum mulus. Belum lagi soal keadilan dalam iklim berusaha. Pengusaha kecil mesti berhadap-hadapan dengan pemodal asing dengan modal kuat. Pasar tradisional mesti gulung tikar karena kalah bersaing dengan Carrefour, Giant. Sampai penjual cabe di pasar Ciledug pun mesti menganggur, gara-gara kalah murah dengan harga di Carrefour, yang berdiri dengan angkuh di depan pasar Ciledug.
Para pengusung aliran neoliberalisme pun bersorak-sorai sampai berkata “Salah sendiri kenapa modalnya kecil, ini bisnis Bung, selama bisa meraih untung sebesar-besarnya, kenapa tidak?” Mungkin para pengusaha modal kuat ini tidak pernah membaca petuah dari Sidharta Gautama, bahwa keserakahan manusia adalah salah satu penyebab kesengsaraan dan akan ada balasan menunggu di kehidupan setelah mati.
Kemiskinan dan ketidakadilan masih dan terus bertumbuh di negeri. Aku tidak mau masuk dalam perdebatan antara Wiranto dan SBY soal berapa besar angka kemiskinan di negeri ini. Tapi di mana pun kita tinggal, mau di apartemen tingkat 40, mau di kawasan elite di Jakarta, hanya selemparan batu, kita bisa lihat kok kemiskinan. Kecuali kalau kita mempunyai mata hati yang buta, pasti tidak melihat apa-apa.
Tahun 2007 memang bukan tahun yang sangat buruk. Tapi masih banyak penderitaan di sepanjang tahun ini. Maka rasanya tidaklah pantas bila kita berpesta dan menari-nari di atas kesengsaraan orang lain. Mungkin lebih baik kita syukuri atas segala nikmat yang diterima sepanjang tahun 2007, paling tidak kita masih bernafas sampai detik ini.
Dan jangan lupa, banyak prediksi (bukan ramalan ya) tahun 2008 adalah tahun yang sulit. Apa itu? Harga BBM dunia akan terus naik. Lalu perubahan iklim, dengan diikuti bencana alam (banjir,longsor, angin topan) sudah diprediksi masih akan berlangsung. Tertembaknya Benazir Butto di Pakistan, tawuran antar kampung di Lombok, adalah indikasi ekskalasi kekerasan di masyarakat akan terus meningkat.
Akhir kata, Selamat Tahun Baru 2008, mari kita lewati tahun ini dengan tawakal!