Ambisi China meraup gelar sebanyak mungkin di turnamen Super Series di negerinya sendiri akhirnya gatot. Selain diwarnai kelicikan hakim garis terhadap pasangan Korsel (yang akhirnya memutuskan WO), China juga dituding mengatur siapa pemain yang perlu dikerek dan siapa yang harus dikorbankan. Ini karena China benar-benar mendominasi bulutangkis dunia saat ini.
Kegagalan China pertama dituai ketika pebulutangkis putri Malaysia Wong Mew Choo berhasil menjungkirkan keperkasaan putri-putri China. Di final, kekasih pebulutangkis Lee Chong Wei ini berhasil menggebuk andalan tuan rumah Xie Xing Fang melalui permainan karet tiga set 21-16, 8-21, dan 21-16 melalui pertarungan selama lebih dari sejam.
Kekasihnya, Lee Chong Wei, yang berambisi memadukan gelar untuk pertama kali gagal menekuk pemain tuan rumah spesialis runner-up Bao Chun Lai, setelah takluk dua set langsung 21-12 dan 21-13. Namun, Chong Wei patut diacungi jempol karena ia tetap bertanding hingga tuntas sekalipun dicurangi wasit dan hakim garis lebih dari 3 kali, yang akhirnya memang merusak permainannya.
China akhirnya cuma merebut dua gelar melalui tunggal putra dan ganda putri sedangkan dua ganda lainnya direbut anak-anak Cipayung, melalui Markis Kido/Hendra Setiawan dan Nova Widiyanto/Lilyana Natsir. Di final, Kido-Hendra menekuk pasangan tuan rumah Xie Xongbo/Guo Zhendong 21-12 dan 21-19. Sementara Nova-Butet mengalahkan pasangan kejutan asal Thailand Sukhet Pratakamol/Sarale Thongtungkam dengan skor 15-21 21-18 21-11.
Atur Pertandingan
China harus diakui sedang merajai semua nomor di bulutangkis dan sering melakukan pengaturan pertandingan untuk memuluskan pemain atau pasangan guna mendapatkan poin lebih tinggi. Upaya ini terus terang jauh dari sikap fair play olah raga, namun belum ada aturan yang melarang akal licik yang diatur oleh komandan mereka yang mantan pemain ganda terkemuka Li Yong Bo.
Selain itu, acara curang mencurangi juga menjadi kebiasaan baru dalam dunia bulutangkis, terutama ketika pertandingan digelar di Korea atau China. Kabarnya, kelakuan hakim garis dan wasit China di Super Series ini merupakan balasan atas kelakuan serupa yang dilakukan oleh Korea Selatan terhadap pemain-pemain asing --terutama China-- pada Asian Games di Busan beberapa waktu lalu.
Kalau otoritas badminton dunia tidak segera mengambil sikap terhadap kecenderungan ini, bukan tidak mungkin nilai-nilai sportivitas akan terus digerogoti dan bulutangkis kehilangan pesonanya.