Tontonan Mamamia yang disiarkan Indosiar, tengah naik daun. Saya berkesempatan menjadi satu dari seratus juri Vote Lock. Yang membuat saya terkagum-kagum adalah Frisha, seorang gadis tunanetra yang bersuara emas. Frisha menyanyi sempurna dalam keterbatasan inderanya.
Sebelumnya, saya tak pernah melihat tontonan ini secara langsung, baik di tv maupun di panggung. Saya bahkan tak hapal satu per satu nama-nama kontestannya, apalagi mama-mamanya. Sesekali memang menonton iklannya di Indosiar. Tapi menyaksikannya secara langsung di panggung membuat saya sedikit terhenyak.
Dari sepuluh kontestan yang tampil pekan itu (17 Juli 2007), ada satu atau dua yang mencuri perhatian saya. Pertama adalah Ajeng, yang katanya adalah seorang pengamen jalanan. Suaranya padat solid, dan ia meniti nadanya dengan cermat.
Tapi yang lebih mencuri perhatian adalah seorang kontestan tunanetra, bernama Frisha. Semula saya tak terlalu perhatian dengan penampilannya, yang malam itu muncul sebagai penampil ketiga atau keempat. Ketika dia berjalan menuju panggung diiringi dua pendamping, saya bertanya pada seorang juri lain di bangku sebelah, apakah dia tidak bisa melihat. Benarlah demikian!
Saya masih belum terpikat saat itu, kecuali menyadari betapa bersyukurnya saya yang bisa melihat sempurna. Ia lalu berdiri agak mematung persis di tengah lingkaran yang ada di panggung.
Gayanya sangat beda dengan kontestan lain yang sudah tampil sebelumnya. Penampilannya sangat-sangat sederhana, baju rok warna hitam dengan tali putih melingkar di pinggul. Sepatunya tidak menjulang tinggi seperti Ribka atau Anti. Namun begitu melantunkan lagu, saya merasa anak ini benar-benar memiliki suara emas. Cara dia meniti nada, mengambil napas, dan mengolah lagu sesuai dengan karakter suara dia, benar-benar menunjukkan kemutiaraan anak satu ini.
Berkali-kali saya membatin, Tuhan menunjukkan kebesaranNya pada anak ini. Ia menyatakan keagungan dan keadilanNya pada gadis kecil ini. Saya melirik beberapa juri yang tersentuh dengan penampilannya, dan sebagian berbisik satu sama lain. Mungkin memujinya, tapi bisa jadi juga ada rasa iba di dalamnya.
Satu-satunya yang tidak terlihat dari anak ini adalah kehidupan atau gaya keartisannya. Artinya, anak ini benar-benar masih polos secara gaya. Secara penampilan panggung hiburan, anak ini benar-benar masih lugu. Dengan dipoles lagi suara dan diasah secara benar mentalnya, ia pasti akan menjadi salah satu ikon hiburan Indonesia di masa depan. Berkali-kali saya teringat Stevie Wonder ketika mendengarkan lebih teliti lagi lagu yang dibawakannya, tetapi lalu bayangan sang lelaki ajaib itu pudar karena menyaksikan Frisha yang masih terlalu lugu untuk tampil "ngartis" dan dibandingkan secara penampilan dengan dengan penyanyi negro itu.
Saya meramalkan, setidaknya Frisha akan mencapai 5 besar di kontes Mamamia kali ini. Dan kalau ia masuk di 5 besar, potensi untuk menjadi yang terbaik terbuka lebar.