Don't judge the book by it's cover, begitu ungkapan dalam Bahasa Inggris. Artinya kurang lebih, jangan menilai isi sebuah buku dari sampulnya. Lain lagi, William Shakespeare. Pujangga Inggris itu membuat selarik kalimat dari opera drama Romeo and Juliet yang amat terkenal itu, "What's in a name?". Begitulah, Juliet berkata kepada Romeo, apa artinya sebuah nama, nama hanya artifisial dan tidak berarti apa-apa.
Tapi kalau soal judul film Maaf, Saya Menghamili Istri Anda karya sutradara Monty Tiwa yang merupakan produksi SinemArt, apakah salah bila banyak orang yang langsung memberi penilaian sesaat setelah membaca judulnya? Judul yang pasti dipilih oleh produser film tersebut, untuk menarik perhatian masyarakat, sehingga ingin menonton film itu.
Namun, kalau yang terjadi sebaliknya, setelah membaca judul itu orang lantas berkata, "Maaf, saya tak mau menonton film Anda", rasanya tak bisa disalahkan juga. Sama bebasnya dengan pembuat film yang membuat judul film walaupun menimbulkan kontroversi, sebebas itu pula masyarakat menentukan pilihannya, menonton atau tidak menonton film itu.
Judul film itu memang kontroversial. Pastilah didorong keinginan untuk menarik perhatian masyarakat. Walaupun mungkin ada saja yang menganggapnya, judul itu kurang mendidik. Bukankah menghamili istri orang, merupakan perbuatan kriminal yang melanggar undang-undang, baik yang tertulis maupun etika moral yang tak tertulis.
Lalu, kenapa sih dibuat film seperti itu? Ya, namanya juga produser film. Tentu maunya unik, menarik perhatian, dan banyak yang menontonnya. Soal disebut kurang mendidik, apakah juga harus menjadi perhatian? Bisa saja dikatakan, "Kalau mau bicara soal mendidik, ya lebih baik ke lembaga pendidikan saja. Ini ‘kan film yang sifatnya menghibur." Mudah-mudahan ini hanya kalimat khayalan yang tak pernah diucapkan siapa pun.
Namun yang pasti, film Maaf, Saya Menghamili Istri Anda yang dibintangi oleh Ringgo Agus Rahman, Mulan Kwok, Shanty, Eddie Karsito, dan sejumlah pemain film lainnya, memang bisa digolongkan termasuk genre film komedi. Tak heran, bila unsur komedi dicoba digali dan ditampilkan dalam film itu. Berhasilkah? Tentu saja penilaian yang terutama adalah dari mereka yang sudah menontonnya.
Namun perlu pula dicatat, film itu sempat mengundang kontroversi lain, ketika sekelompok warga asal Batak, Sumatra Utara, memprotes keberadaan film tersebut. Keluarga besar Simamora se-Jabodetabek, memprotes adanya tokoh yang diberi nama Lamhot Simamora dan mempunyai istri bernama Mira, yang memang benar-benar dalam kehidupan nyata ada tokoh Lamhot Simamora yang merupakan suami dari Mira.
Namun kontroversi itu dapat diredam, setelah pihak SinemArt yang diwakili oleh produsernya, Leo Sutanto, meminta maaf secara terbuka dan menghilangkan nama marga Simamora dalam film itu. Permintaan maaf itu dilakukan sebelum gala premier film itu di bioskop XXI, yang terletak di pusat perbelanjaan Senayan City, Jakarta Selatan, beberapa waktu lalu.
Jadi film ini memang penuh "maaf", dan bagi yang telah menontonnya, apakah Anda merasa puas atau juga memohon maaf, telah menghabiskan uang saku untuk menonton film yang tidak memuaskan? Sekali lagi, hanya penonton yang berhak menilainya. Maaf pula, bila tulisan ini justru membuat Anda kesal, karena kurang bermutu. Maaf, ya.
Foto: SinemArt.