Ibu : "Hanung … kok masih saja mainan mobil–mobilan, kan ibu sudah bilang dari tadi kerjakan PR mu sebentar lagi kan sudah mau les Bahasa Inggris"
Hanung : "Sebentar bu … lagi asyik ni … kenapa sih harus les Bahasa Inggris segala. Hanung masih ingin main. Nanti malam saja mengerjakan PR nya kan masih bisa, sekarang pokoknya aku mau bermain!"
Sepenggal percakapan diatas menunjukkan bahwa anak–anak sangat senang bermain dengan mainannya. Mereka sangat menikmati waktu bermain walaupun hanya sendiri sehingga sampai sering lupa makan, lupa mengerjakan PR, lupa belajar. Apalagi bila ada saudara atau temannya datang maka semua jadwal dan rencana bisa berubah. Saya sebagai ibu atau orang tua harus berteriak, marah untuk menyuruh anak berhenti bermain untuk mengerjakan PR atau belajar karena hari selanjutnya akan ada ulangan walupun orang tua sudah marah, kadang-kadang anak-anak masih asyik bermain dengan mainannya.
Para guru juga mengeluh siswa–siswi akhir–akhir ini banyak yang suka bermain di dalam kelas waktu guru menyampaikan materi atau siswa sedang mengerjakan soal. Kadang untuk anak tertentu sering tidak selesai mengerjakan soal atau menulis catatan karena waktunya digunakan untuk bermain di kelas. Hal ini seringkali menyebabkan orang tua menganggap bahwa anaknya malas belajar dan maunya bermain saja.
Benarkah anak sekarang lebih banyak menghabiskan waktunya untuk bermain? Jika saya amati dan bandingkan lebih cermat dengan anak–anak masa sebelumnya (era 1970–1980) sebenarnya justru terlihat anak–anak sekarang lebih banyak menghabiskan waktunya untuk belajar. Kalau saya ingat dulu waktu saya masih kecil pada era 1980 an, saya begitu bahagia menjalani masa kanak–kanak saya. Saya sekolah sampai jam 12.00, pulang sekolah saya langsung bermain sampai sore atau kadang–kadang bila malam bulan purnama saya juga masih bermain di malam hari, setelah mau tidur saya baru pulang ke rumah. Tetapi anak sekarang saya perhatikan justru waktu untuk bersosialisasi dan mengembangkan hobby atau bakatnya serta bermain sangat kurang. Anak sekarang sebagian besar waktunya terpakai untuk kegiatan–kegiatan belajar demi mengejar prestasi akademik di sekolah.
Saya tahu betul murid-murid saya kelas I setiap pulang sekolah orang tuanya sudah menunggu dengan membawa tas lain untuk les, seperti les kumon, sempoa, menggambar, balet, piano, komputer, sakamoto, dan lain-lain. Selain sekolah dan les anak juga harus mengerjakan PR dari guru di kelasnya dan PR dari tempat anak tersebut les. Selain mengikuti sekolah dan les, waktu belajar anak sekarang dengan anak dulu lebih panjang waktu belajarnya. Bila saya perhatikan sekarang ini ada sekolah–sekolah untuk anak–anak mulai dari 1,5 tahun. Banyak TK menekankan kurikulum yang mengajarkan anak untuk membaca, menulis dan berhitung bukan lagi sekedar bermain–main. Anak TK pun porsi untuk bermain sangat sedikit. Waktu yang ada digunakan untuk mengajarkan membaca,menulis dan berhitung agar anak yang sudah lulus dari TK sudah lancar membaca,menulis serta pandai berhitung agar bisa diterima di SD favorit yang menjadi pilihan orang tuanya.
BERMAIN
Papalia (1995) seorang ahli perkembangan manusia dalam bukunya Human Development mengatakan bahwa anak berkembang dengan cara bermain. Dengan bermain anak–anak menggunakan otot–otot tubuhnya untuk menstimulasi indra–indra tubuhnya, mengeksplorasi dunia sekitarnya, menemukan seperti apa lingkungan yang ia tinggali dan menemukan seperti apa diri mereka sendiri. Lewat bermain fisik anak akan terlatih kemampuan kognitif dan kemampuan berinteraksi dengan orang lain akan berkembang. Bermain tentunya merupakan hal yang berbeda dengan belajar dan bekerja.
Menurut Hughes(1999) seorang ahli perkembangan anak mengatakan harus ada 5 unsur dalam suatu kegiatan yang disebut bermain. Kelima unsur tersebut adalah:
1.Tujuan bermain adalah permainan itu sendiri dan si pelaku mendapatkan kepuasan karena melakukannya (tanpa target)
2.Dipilih secara bebas. Permainan dipilih sendiri, dilakukan atas kehendak sendiri dan tidak ada yang menyuruh ataupun memaksa.
3.Menyenangkan dan dinikmati
4.Ada unsur khayalan dalam kegiatan
5.Dilakukan secara aktif dan sadar.
MANFAAT BERMAIN
Manfaat bermain antara lain:
1. Anak semakin pintar. Kepintaran yang hanya berhubungan dengan kemampuan akademik membaca, menulis, dan berhitung) dapat dipelajari dengan belajar. Tapi dalam kehidupan sehari–hari ,kepintaran bukan hanya sekedar membaca,menulis dan berhitung. Ada hal lain yang penting dan dibutuhkan misalnya kemampuan untuk berkomunikasi,memahami cara pandang orang lain dan bernegosiasi dengan orang lain tidak bisa didapat hanya dengan belajar. Perasaan senang,menikmati, bebas memilih, dan lepas dari segala beban karena tidak punya target juga tidak bisa didapat dari kegiatan belajar.
2. Anak bisa berimajinasi dan mengeluarkan ide yang ada dalam dirinya Ketika bermain anak akan bisa berandai–andai tentang apa yang ada dalam pikirannya secara bebas. Dia bisa mengekspresikan rasa ketakutan, kegembiraan,kesedihan dan lain sebagainya. Bahkan lewat permainan (terutama bermain pura-pura atau role playing) orang tua dapat menemukan kesan–kesan dan harapan anak terhadap orang tua dan keluarga. Bermain pura–pura menggambarkan pemahamannya tentang dunia dimana ia berada.
3. Kreativitas anak semakin berkembang Bermain akan meningkatkan atau mengembangkan kreativitas anak karena ide ide original yang keluar dari pikiran anak–anak.
4. Dapat membantu anak untuk lepas dari stres Tidak hanya orang tua yang mengalami stres, anak-anak juga bisa mengalami stres. Stres pada anak dapat disebabkan oleh beban pelajaran sekolah dan rutinitas harian yang membosankan. Dengan bermain akan membantu anak melepaskan diri dari stres.
5. Sebagai komunikasi dengan teman sebaya. Bermain bisa menjadi sarana komunikasi dengan teman terutama teman sebaya. Dengan bermain anak bisa bersosialisasi dengan lingkungan sekitarnya sehingga ia bisa merasa diterima di lingkungannya khususnya lingkungan teman sebayanya.
Apa yang sebaiknya dilakukan orang tua? Apakah anak perlu bermain? Tentu saja sudah jelas jawabannya bahwa anak perlu bermain. Mengapa anak sering bermain waktu belajar di kelas? Menurut analisis saya melihat padatnya jadwal anak-anak sekarang ini anak cenderung bermain–main waktu belajar karena anak memang sedang pada tahap bermain dan anak sekarang tidak mempunyai waktu untuk bermain di rumah.
Beberapa hal yang sebaiknya dilakukan oleh orang tua untuk membimbing anaknya dalam bermain sehingga benar-benar berguna bagi anak tersebut diantaranya adalah sebagai berikut:
1. Aturlah jadwal anak–anak sehari–hari dengan bijaksana. Pastikan Pastikan masih ada waktu luang yang cukup untuk anak bermain.
2.Sekali–sekali orang tua ikut bermain dengan anak sehingga bisa memahami diri anak (kegembiraan,ketakutan, dan kebutuhannya). Mungkin dengan ikut bermain bersama anak orang tua memahami perasaan anak sehingga tidak lagi menjadi orang tua yang terlalu ambisius.
3.Orang tua mendukung kreativitas anak.
4.Orang tua membimbing dan mengawasi anak dalam bermain. Selain dengan memberikan waktu yang cukup untuk bermain pada orang tua perlu juga mempunyai cara supaya suasana belajar di rumah lebih menyenangkan.
Hal yang perlu diperhatikan adalah:
1. Anak cenderung meniru perilaku orang tua Anak cenderung meniru perilaku orang tuanya karena itu sebaiknya orang tua menjadi contoh untuk anaknya. Ketika menyuruh dan mengawasi anak belajar orang tua juga perlu terlihat belajar (membaca buku, koran, dll). Jadi anak melihat bahwa orang tuanya sampai tuapun masih tetap belajar.
2. Pilih waktu terbaik Orang tua hendaknya memilih waktu terbaik untuk anak dalam belajar.Orang tua paling tahu kapan waktu paling cocok untuk anaknya belajar. Anak juga bisa diajak bermusyawarah untuk menentukan waktu belajarnya
3. Jadikan belajar sebagai rutinitas Anak butuh kepastian. Sepakati bersama dengan anak berapa jam dia harus belajar. Misalnya waktu untuk belajar 2 jam setiap hari yaitu pukul 17.00–19.00 maka pada jam tersebut harus digunakan untuk belajar kecuali ada alasan yang mendesak.
4. Kenali kemampuan anak untuk konsentrasi dalam belajar anak mempunyai daya konsentrasi yang berbeda–beda. Sebagai orang tuanya tentulah anda tahu berapa lama anak anda dapat berkonsentrasi. Bila anak anda mampu berkonsentrasi hanya 30 menit maka belajarlah selama 30 menit, setelah 30 menit berikan waktu istirahat 10–20 menit. Setelah istirahat, belajar bisa dilanjutkan kembali.
5. Hendaknya orang tua menemani ketika belajar. Orang tua hendaknya menemani anak dalam belajar. Dengan menemani anak dalam belajar orang tua bisa membantu anak belajar bila anak mengalami kesulitan sekaligus memberi dukungan agar anak lebih semangat dalam belajar karena merasa diperhatikan oleh orang tuanya.
DAFTAR PUSTAKA
1.Reni Akbar–Hawadi. (2001).Psikologi Perkembangan Anak Jakarta: Grasindo
2. Lighter Dawn.MA. (1999). 50 Cara Efektif Menanamkan Tingkah Laku Positif Pada Anak.Yogyakarta: Kanisius
3. Rimm Sylvia.Dr. (2003). Smart Parenting Mendidik Dengan Bijak.Jakarta: Grasindo
DITULIS OLEH: VERONIKA RETNA YUNIATI